
Kondisi tiba-tiba hening, penculikan itu terjadi cukup cepat.
Yang tersisa hanya dua orang gadis dengan kondisi tergulai lemas di tanah.
Haa? Sepertinya aku pernah melihat mereka berdua ... Tapi di mana ya?
Dari kejauhan aku menerka-nerka siapa wanita yang terbujur lemas di lantai keramik tersebut.
Berlari aku sampai ke lokasi perkara, dan aku sangat terkejut dengan hasil yang aku temukan.
Wanita ini adalah wanita yang bertengkar dengan Misa saat di komplek kantor polisi tadi!
Jadi! Yang di culik tadi adalah Misa!?! Kenapa Misa bisa terlibat dalam penculikan ini?!
Tunggu, Misa menjadi korban penculikan ....?
Beberapa saat kemudian, terputar di memori ku tentang kejadian tadi siang.
Sangat menyakitkan dan membuat hatiku pilu kembali.
Aku ... Apa yang harus aku lakukan ....
Pikiran ku berkecamuk liar, batin ini masih bersiteru hebat antara egoisme dan niat baik.
Jika aku menolong Misa maka hatiku akan sakit kembali, jika aku membiarkannya maka akan ada sesuatu hal yang aku rasa diri ini tidak akan bisa menariknya kembali ....
Terdiam di antara kedua kaki, aku termenung memandang sepatu kain yang tampak usang dan robek pada ujungnya.
Dari sela robekan tersebut terlihat jempol kaki ku yang tampak mungil dan biasa-biasa saja, sesekali aku menggerakkan jempol ku keluar dari sela robekan tersebut.
Huft ... Bunda, apa yang aku harus lakukan ....
Aku kemudian memandang langit yang sudah sangat malam, tampak bintang-bintang berserakan di langit malam ini.
Lalu aku teringat prinsip hidup ku yang beberapa pekan ini aku sempat melupakannya.
"[Kejahatan harus di balas kebaikan, kebaikan akan menularkan kebajikan]"
Kemudian aku mengeramkan kedua tangan ku, begitu juga dengan gigi-gigi susu ini.
Dengan sigap aku membalikkan badan dan dengan lantang aku ucapkan Mantra yang sudah fasih aku rapal kan.
"GALE VENTUM!~"
Dengan kecepatan angin aku terhempas ke udara bagaikan anak panah yang terlepas dari tali busur.
Berhembus deru angin di kuping ini menggetarkan gendang telinga bagaikan bendera yang terkibas udara.
Aku menatap jauh menuju awan lepas agar bisa mencapai ketinggian yang dapat melihat secara lebar kemana para penculik itu pergi.
Beberapa saat kemudian aku terhenti di udara, lalu aku memindai segala hal yang ada di dataran tanah.
Perlahan aku lihat sela-sela rumah, lalu jalanan komplek, sampai semak-semak yang menjuntai tinggi di taman kota.
Namun akhirnya mata ku terfokus pada aliran sungai pemisah antara kota dalam dan kota luar.
Mereka di situ lagi?! Apa yang di pikirkan Trimol mengapa dia selalu kabur lewat selokan untuk mengelabuhi pihak berwenang!?!
Dengan kecepatan udara aku melesat kencang menuju gorong-gorong tersebut, dan dalam hitungan detik aku sudah sampai di pinggir sungai kota.
Perlahan aku kemudian turun menyentuhkan sepatu ini ke batu semen yang menyelaputi punggung sisi sungai kota.
Lalu aku berjalan sembari melihat gorong-gorong yang mirip seperti gorong-gorong yang kemarin.
bentuknya sama tetapi lokasinya berbeda, tunggu dulu ... Tampaknya aku menyadari sesuatu hal ....
***
Dalam ruangan yang gelap gulita, aku melangkah kan kaki ini ke genangan air yang ber-aroma kurang sedap.
Lalu terdengar pembicaraan liar beberapa orang yang tampaknya mereka sedang berdebat kusir.
"Sialaan!! Siapa wanita ini?! Hey Guchi, Kau yang menculiknya kan, Kenapa bisa-bisanya kau salah target seperti ini!!?!"
"m-maaf boss, aku kira wanta ini yang anda maksud."
Kemudian aku mengintip ke ruangan yang posisi nya sama persis dengan kondisi ruangan yang berada di lokasi gorong-gorong kemarin.
"Gyaaaa!!!"
Belum sempat aku menstabilkan pencahayaan di mata akibat sinar lampu yang amat terang, aku di kejutan oleh tumbang nya seseorang yang aku duga dia adalah anak buah barunya si Trimol.
Biadab, kenapa dia tega melakukan itu pada anak buahnya sendiri, terlebih mereka ini manusia, mengapa ia sanggup melakukannya sampai sekeji ini ....
Tampak ada sebuah luka pada kepala sang anak buah yang berambut hijau tersebut, tampilan nya seperti anak punk.
"haah, kalian semua tidak berguna ... Kalau begini kita harus kembali ke lokasi tempat anak-anak itu pingsan tadi, semoga saja mereka masih belum sadar ...."
Lalu Trimol berjalan ke arah ku, ya, tampaknya ia ingin keluar.
Syukurlah jika dia meninggalkan Misa di sana sendirian, aku bisa segera membebaskannya dan melaporkan ini semua ke kepolisian sebelum mereka sampai ke kampus sihir itu lagi!.
"ah, karena wanita itu tidak berguna, kalian boleh melakukan apapun padanya, menjualnya, bermain dengannya, terserah kalian ...."
Seperti sebuah tali yang terputus dari kebatannya, nalar ku tak dapat berkomunikasi baik dengan perasaan ini.
Tanpa aba-aba tubuh ini kemudian menyerang mereka semua sebelum mereka sempat menginjak kan kaki ke luar ruangan.
Baju ku berubah menjadi biru.
Bagaikan kibasan angin aku melompat ke arah mereka untuk memberikan unsur kejutan demi membekukan pergerakan mereka, Juga untuk membuat mereka tak dapat berfikir dengan jernih.
Pada moment itu lah aku akan melancar kan serangan ku.
"Haaa!!?! Siapa anak ini!!?"
Tepat seusai rencana, ke Enam orang yang ada di ruangan ini seluruhnya terkejut, bahkan Trimol memberikan ekspresi wajah ketakutan untuk sejenak.
Lalu tanpa pandang bulu aku membabat mereka dengan sebuah sihir yang belakangan ini sering aku gunakan.
" Percutiens Aquae!!"
Menggumpal, air yang ada di selokan ini membentuk bola air, kemudian aku sematkan pada kedua tangan ku ini.
Dengan keras aku memukul seorang anak buah yang berada paling dekat dengan ku.
Pukulan ini menghantam kuat ke kepala sang pria. lalu dengan sihir air ini aku guncang kan gelombang super cepat untuk menciptakan frekuensi getaran air yang cukup intens.
Dari getaran itu aku salur kan ke kepala sang pria dan membuat otaknya berguncang sampai akhirnya sang pria terpingsan seketika itu juga.
Sang pria terbanting ke belakang, sedangkan aku mendarat di tubuh sang pria yang tertidur lelap tak Sadar kan diri ini.
Belum selesai, masih ada lima pria lagi yang harus aku tuntaskan.
kemudian aku melompat lagi ke arah kanan ku. Di sana ada tiga pria yang sudah siap menyayat ku dengan pisau tajam mereka.
Namun dengan refleks aku menghindari serangan mereka.
Bagaikan angin, aku bermanufer di udara sambil memanfaatkan situasi.
kesempatan itu terlihat, aku mengajar wajah jelek pria yang berada di tengah, menggunakan punggung tangan kanan ku.
Belum selesai di situ saja, dengan rantaian serangan yang tak terputus, aku kemudian berputar di udara dan kembali menyerang orang yang berada di samping kanan dari pria yang barusan saja aku tumbang kan.
Namun dari samping kiri seorang pria sudah siap menikam ku dengan pisau nya, jika aku menghajar pria di sebelah kanan ini, maka pisau dari sebelah kiri akan mengenai tubuh ini.
Tak perlu risau, aku punya solusi nya, dengan kaki ku yang masih pendek ini aku menendang tangan sang pria yang memegang pisau, lalu dengan genggaman tangan yang menggeram kuat ini, aku hajar wajah pria yang ada di sebelah kanan.
Sang pria ikut tumbang, untuk sesaat aku bisa berdiri di lantai, namun pria yang tangannya aku serang tadi masih berusaha untuk menghentikan rantaian seranganku.
Lagi, aku dengan cepat memukul kuat perut sang pria ditambah gelombang getaran air yang aku ciptakan dengan sihir. Seketika itu juga sang pria kehilangan kesadarannya
Sisa dua pria lagi, Trimol dan seorang rekannya, namun tampaknya rekannya yang satu ini tidak memiliki nyali yang cukup kuat untuk melawan ku, dia berlari terbirit-birit menuju pintu keluar.
Tetapi belum sampai ke pintu keluar, ajal nya menjemput terlebih dahulu.
Ya, Trimol yang menghabisi pria tersebut dengan sihir nya yang aneh.
"Tck, ini sebabnya aku tidak mempercai siapapun di dunia ini kecuali aku dan diriku sendiri."
Wajah Trimol tampak kesal, dia memandang tajam ke arah ku seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"Hei bocah ingusan!! Bukan kah kau seharusnya sudah mati di gerobak itu!?!" Trimol mengacungkan jari telunjuknya pada diriku.
"Ahh aku paham sekarang ... jadi kau yang membuat keributan di rumah Client ku kemarin dan membuat nya berakhir di penjara, cih ... Tidak ku sangka pria itu jatuh hanya karena sebutir kerikil."
Kalimat Trimol barusan membuat darahku mendidih.
"... Kita lihat, kerikil ini bisa berbuat apa pada mu Trimol ...."
Aku menggertak Trimol dengan tongkat sihir yang sudah ku genggam erat di tangan kanan ku.
Sikap kuda-kuda sudah ku pasang, saat ini aku sangat siap untuk bertarung.
Namun tiba-tiba Trimol tersenyum jahat.
"Jleb!" seperti kejadian waktu itu, sebuah benda asing berhasil menusuk tubuh ku.
Perlahan aku memegang dada ku yang terasa seperti ada benda asing di sana.
Trimol kemudian menjulurkan lagi lidahnya yang panjang namun tampak tak normal.
"kau hanya kerikil, jika kau menghalangi jalanku, aku tinggal menendang mu jauh saja."
Seketika seringaian lebar tampak mantap di pipi Trimol, Kelihatannya ia cukup puas dengan konklusi yang ia dapat malam ini.
Aku terjatuh di antara dua kaki ku.
Dengan kencang aku menggenggam erat dada sebelah kiriku, namun bibir ini menyeringai jahat membalas senyuman Trimol yang sekarang tampak keruh.
"Benarkah demikian Trimol ....? “
Ucap ku dengan senyuman tipis dibalut mata sinis tiada ampun.
***