
Not Edited !
Terpencar ke sudut kota lainnya. Empat orang wanita tampak sibuk mencari sesuatu dari dalam sisi sungai yang mengaliri pinggiran kota[Lebia]. Mereka tetap berkumpul dalam satu kesatuan untuk menciptakan harmonisasi dalam tim yang majikan mereka sempat bentuk.
Ya, mereka adalah tim Blue Whale. Walaupun Amylia tidak membimbing mereka, tim ini adalah kelompok yang sangat mandiri dibandingkan tiga kontingen lainnya.
“Kemana iblis itu melarikan diri?!” tanya Hilme Claudy, kepada ketiga tekannya yang lain.
Hilme Claudy, wanita berparas cantik. Mirip degan ketiga temannya yang lain, rambut setengah bahu berwarna hitam kecoklatan menghiasi penampilannya yang cukup elegan.
“Tetaplah fokus, kita sedang berada dalam kawasan serangan monster itu!” Kali ini Perry memberi peringatak kepada ketiga temannya yang lain.
Perry Karlin, atau yang sering di kenal dengan sebutan Perry. Dia adalah pemain kunci, ketika Arley tengah menghadapi Misa kala Turnamen masih berlangsung. Wajahnya yang memiliki sedikit bintik-bintik menjadi penarik tersendiri pada parasnya. Juga rambut berkepang kuda tampak menghiasi kecantikan sang pemimpin tiga orang lainnya.
“Baik!” Jawab Amanda Hebilsen dan Kale Liliera secara serempak.
Amanda Heblisan, adalah wanita berparas sama cantiknya dengan ketiga rekan lainnya, rambut coklatnya membuat dirinya cukup di senangi oleh kaum adam.
Sedangkan Kale Liliera, merupakan wanita pendiam juga cukup misterius. Sikap misteriusnya itu membuat orang yang melihatnya akan tertarik. Terlebih poni panjang yang menutupi sebagian wajahnya membuat hawa misterius itu semakin mempesona.
Mereka berempat berdiri saling berlawanan arah, demi melindungi punggung satu dengan yang lainnya. Ketika itu, wajah mereka mengeluarkan keringat cukup deras sembari menunggu serangan lanjutan dari monster yang tengah mereka hadapi kali ini.
“Dia datang!” pekik Perry yang menyadari jika ada makhluk aneh mulai menampakkan dirinya dari dalam sungai di pinggir kota tersebut.
Kala itu juga, muncullah sesosok iblis berpenampilan cukup indah. Dirinya sangat mirip dengan logo yang di kenakan oleh keempat wanita yang ingin menyerangnya kala itu.
“Selamat sore, wanita-wanita cantik ~” gumamnya sambil bersender di pinggir sungai. Sebagian tubuhnya tampak seperti manusia. Namun, sebagian lainnya terlihat seperti ikan.
Ya, Iblis yang satu ini berasal dari ras Siren, atau yang sering di kenal dengan sebutan “Putri Duyung”
Bergeraklah Perry dan ketiga rekannya menghadap menuju arah sang Iblis siren. Mereka menyodorkan tongkat sihirnya sebari menjaga jarak agar tidak terkena serangan sang putri dutung.
“Oho ~ Menakutkan,” ucapnya sambil tiduran di pinggir sungai. Sang Siren, sama sekali tidak terlihat ingin bertarung dengan keempat orang tersebut.
“Menyerahlah sekarang, atau kami akan menggorengmu beberapa saat lagi!” Ancam Perry kepada sang duyung.
Menanggapi kalimat Perry, si Siren tertawa cekikikan tanpa henti. Mengguling-gulinglah sang wanita duyung seperti tak menduga kalimat itu akan dirinya dengar dari seorang manusia.
“Haduuh. Kalian benar-benar menggelitik perutku, Ahh … sangat di sayangkan perintah si perempuan itu harus kami turuti. Jika tidak, aku pasti akan membawa kalian pulang ke dasar laut untuk kujadikan selirku~” sesekali lidahnya keluar ketika menyebutkan kalimat tersebut.
Mendengar ucapan sang Siren, mereka bertiga melangkah mundur dengan bulu kuduk merinding. Tak mereka sangka jika makhluk yang mereka akan lawan adalah penyuka wanita.
“W-wanita ini sudah gila!” ucap Perry sembari menggenggam tongkat sihirnya dengan kedua telapak tangannya. “Tim Blue Whale! Posisi menyerang!” Seketika itu juga, Perry memerintahkan ketiga rekan lainnya untuk menghujani sang monster dengan mantra sihir mereka.
“Catastropich Wave!”
Secara serentak, mereka berempat merapalkan mantra sihir yang sama. Muncul pusaran air yang cukup dahsyat, memutari tubuh sang Siren dengan begitu hebatnya.
Sang siren melirik ke kiri dan kekanan untuk mengetahui apa yang sebearnya terjadi. Dari dalam gelombang tersebut, kemudian muncul serangan-serangan kecil yang akan melukai tubuh sang Putri Duyung berupa sabetan-sabetan air, yang mulai melukai kulit mulusnya dengan beribu serangan lainnya—tampak akan menyusul.
“GaaaAaaaAaaaaa!” teriak sang Siren dari dalam gelombang pusaran tornado air tersebut.
Mendengar pekikan histeris tersebut, Perry, Hilme, Amanda, dan Kale cukup senang karena mereka pikir serangan yang mereka lontarkan cukup efektif untuk mengalahkan sang iblis duyung.
Setelah beberapa saat kemudian, mantra sihir yang mereka luncurkan demi membasmi sang monster akhirnya kehabisan momentum.
Terlihat jasad si iblis terkapar mengambang di atas genangan air pada sungai pinggir kota tersebut.
“Apakah kita berhasil?!” tanya Amanda kepada ketiga rekannya yang lain.
Tak ada jawaban dari ketiga rekannya kala itu, mereka juga masih meneliti dengan pandangan mereka bertiga, apakah sang monster sudah tewas atau masih bernapas.
“Sepertinya dia sudah tiada …,” ujar Hilme dengan senyuman kecut pada wajahnya.
“Tunggu dulu! Belum selesai!” Kali ini Perry memberikan peringatan kepada ketiga rekannya yang lain. “Kalian semua! Kembali ke posisi siap bertahan!” pekiknya secara spontan. Lantas, seketika itu juga mereka saling membelakangi satu dengan yang lainnya sembari kembali merapalkan mantra sihir yang juga kembar.
Rapal mereka saat itu juga, demi melindungi diri dari serangan yang akan merek terima.
Tepat waktu! setelah empat lapis bola air tercipta untuk melindungi diri mereka dari serangan yang akan datang. Seketika itu juga tubuh sang Siren melompat dari dalam air, dan ingin menerkam keempat wanita itu dengan brutalnya.
“Kaaaa! Sakiittt!” pekiknya sembari mencakar-cakar tameng air yang keempat wanita itu ciptakan.
Tubuh sang iblis perlahan berubah bentuk menjadi sangat menyeramkan. Muncul Aura gelap menguap dari dalam dirinya. Perlahan sisik-sisik ikan mulai tumbuh dari kulit manusianya. Kemudian, rabutnya berubah menjadi duri-duri landak yang tajam dan menyaktkan.
Matanya mulai menajam dan berubah warna menjadi merah, giginya menaring dan menunjukkan indikasi metamorfosis yang tak natural.
“K-keuh!? A-apa-apaan iblis ini!” ujar Perry yang cukup ketakutan. Tapi dirinya pernah melihat monster yang lebih menyeramkan dibadingkan duyung yang satu ini, jadi rasa cemasnya masih bisa terbendung.
“Kalian semua! Jangan menyerah! Pertahankan sihir kalian!” Untuk memberi semangat kepada ketiga rekannay yang lain, Perry berteriak kencang untuk menghapus rasa cemas pada hati rekan-rekannya.
Seketika itu juga, Perry mencabut mantra sihir paling dalamnya, demi melontarkan mantra sihir serangan, untuk menjauhkan sang monster dari diri mereka.
Mengacunglah tongkat sihir Perry menghadap ke kepala sang monster, seketika itu juga ia merapalkan sihir seragan dari elemen air.
“Outbreak Waterfall!”
Sontak, Muncul ledakan air dari ujung tongkat sihir Perry, dibarengi dengan derasnya aliran air, mengucur berantai sehabis ledakan yang tercipta akibat mantra sihir sang wanita berbintik mempesona.
Seketika itu juga mantra sihir pertahanan yang ketiga temannya rapalkan hancur, tapi keuntungan yang merka dapat adalah, sang monster kembali terpental menuju sungai yang sempat dirinya terkapar di sana.
“Berhasil!?” tanya ketiga temannya Perry dari belakang pundak mereka.
Dengan intensitas serangan yang cukup masif seperti itu, seharusnya sang monste sudah berhasil di kalahkan.
Akan tetapi, kejadian aneh terjadi kembali.
“Ah ~ Bertarung dengan kalian sangan menyenangkan!” teriak sang monster, yang kali ini berdiri tepat di atas sugai dimana dirinya terlontarkan tadi.
“Kalau begitu, kali ini giliranku menyerang kalian bukan?” Secara insatan, tiba-tiba saja tubuh monster yang tadinya berada di tengah aliran sungai. Kali ini berdiri tepat di belakang Perry sembari sang monster memegang puggung sang wantia dengan jari-jari tangannya yang tajam.
“EH!?” terkejut akan hal tersebut, Perry tak bisa bergerak sedikitpun.
Apakan yang akan terjadi dengan Perry!?
Bersambung!~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!