The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 134 : Regu Penyelamat!



Cemas? Siapa yang tak pernah merasakannya? Kalian juga pasti pernah merasakan hal tersebut.


Hal ini adalah apa yang sedang dirasakan oleh teman-teman Arley, seusai mereka mendengarkan hipotesis—bahwa kampung halaman mereka telah musnah diserang oleh Agresi Monster.


Wajah mereka menampakkan kecemasan yang begitu dalam. Bahkan tubuh Amylia bergetar hebat seperti ia tak mampu membayangkan apa yang telah terjadi pada kerajaan—di mana ia dibesarkan.


“T-tidak …! Tidak mungkin! Kau berdusta!” teriak Amylia demi membantah ucapan Arley sebelumnya. Namun ia tahu betul apa yang sebenarnya Arley ucapkan—adalah sebuah kondisi yang cukup masuk diakal.


Rubius, Aurum, dan Eawdig. Mereka bertiga tampak begitu gelisah dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


Akan tetapi, secara tiba-tiba—Amylia memilih suatu tindakan yang terbilang cukup absurd.


“Perry! Kita pulang saat ini juga!” pintanya terhadap sang asisten, yang kala itu, ia tak paham ingin pulang lewat jalan mana.


Dengan kondisi bingung, Perry menjawab permintaan majikannya kala itu, “T-tetapi tuan Putri … sebelumnya maafkan hamba. Namun … lewat jalur mana kita bisa pulang …?” ucapnya sembari ia menunjuk ke arah Selatan perbatasan kerajaan, yang terlihat begitu dahanam akibat pertarungan yang sedang berlangsung.


Seketika itu juga langkah Amylia langsung terdiam membeku. Kepalanya merunduk ke bawah, sembari poninya yang panjang menutupi wajah takutnya—akan sebuah kenyataan.


Arley merasa sangat bersalah. Sekilas ia berpikir: apakah sebaiknya ia tidak mengatakan hal yang sejujurnya, jika hal ini yang akan terjadi? Semua ini di luar kendalinya. Kepercayaan dirinya untuk menolong paman Albion langsung menciut selepas mereka melihat gempuran musuh yang sangat masif.


Tak mau larut dalam kecemasan yang mendalam, Arley langsung menyungsangkan pola pikir negatifnya, menjadi sebuah api keberanian.


Menggeramlah kedua telapak tangan sang remaja. Tampak jika dirinya masih belum menyerah untuk melawan situasi—yang bisa dibilang sebagai “bencana” ini. Perlahan Arley bangkit dari duduknya. Lalu ia berjalan menuju Rubius, untuk meminjam tongkat sihir sang sahabat.


“Hey, bolehkan aku meminjam tongkatmu sekali lagi?” pinta Arley kepada Rubius, yang terlihat kebingungan dengan keadaan saat ini. Ragu-ragu ia memberikan Arley, tongkat sihir berlapis tulangnya itu.


“Untuk apa Arley?” ujarnya dengan wajah curiga.”


Lalu Arley mengambil tongkat sihir Rubius. Kemudian ia merapalkan mantra sihir yang tak pernah ia gunakan sebelumnya.


“Maximus Remedium~”


Lantas, tiba-tiba percikan api muncul dari telapak tangan Arley. Dan seketika itu juga—tongkat sihir Rubius langsung terpental ke sudut Barat, Kaca Terbang.


Arley terkejut kesakitan, tangannya memar akibat luka bakar yang terjadi.


“Arley!?” pekik keempat sahabatnya kala itu.


Sontak Sofie langsung menghampirinya dan melihat telapak tangan Arley yang tampak berdarah.


“Bodoh! Apa yang ingin kau lakukan?!” Bentak Sofie sambil ia merobek kain rok berwarna putihnya, dan ia langsung mengikatkan telapak tangan Arley dengan kain tersebut.


“Aku lupa jika tongkat sihir Rubius—tak bisa merapalkan sihir cahaya!” Kala itu Arley menjelaskan sebab mengapa hal ini bisa terjadi.


Dalam kegaduhan yang terjadi, ledakan demi ledakan semakin terdengar rimbun dari sudut Selatan. Keheningan sempat terjadi di atas Kaca Terbang, sebab para tim medis tengah melakukan sanitasi terhadap luka Arley.


Tak ada satu orang pun yang berbicara di dalam keadaan seperti ini. Arley perlahan memandang ke arah mereka, lalu ia sedikit tersenyum sembari ia bergerak menuju Rubius.


“Hey Rubius, bolehkan aku meminjam tongkat sihir yang hasil hadiah?” pinta Arley, yang kala itu telah selesai dirawat oleh Dokter Hasyim.


“Tidak! Kau ingin melakukan apa lagi Arley?!” Jelas Rubius tak mau memberikan tongkat sihirnya kepada Arley, ia cemas Arley akan melakukan hal gila lainnya.


“Tenang saja, kali ini aku tidak akan ceroboh seperti tadi,” jelas Arley sembari ia menepukkan kedua tangan, sebagai tanda permintaan tolong.


Ragu-ragu Rubius menarik tongkat sihir berwarna cokelatnya itu dari dalam celana. Lalu sebelum ia memberikannya kepada Arley, Rubius sekilas menatap wajah Eadwig yang memperhatikan pembicaraan mereka.


Menggelenglah kepala Eadwig, tanda bahwa ia tak setuju jika Arley menerima tongkat sihir yang Rubius akan pinjamkan kepadanya.


Namun sudah terlambat, sebelum Rubius mengurungkan niatnya, Arley langsung mengambil tongkat sihir tersebut.


“Ah!? Arley-“ teriak Rubius yang sempat terkejut.


Lantas, Arley langsung melompat mundur tiga langkah. Dan ia membidik Rubius dengan tongkat sihirnya.


“Arley?!-“ panggil Rubius yang terheran-heran dengan perilaku aneh sang remaja berambut merah itu.


Tersenyumlah Arley kepada mereka berempat. Kemudian Arley mengangkat tongkat sihirnya ke atas langit, dan ia merapalkan kembali mantra sihir yang ia sempat rapalkan sebelumnya.


“Maximus Remedium!”


Ucap Arley dengan suara cukup lantang. Lalu, muncul gelombang Aurora dari atas langit. Seketika itu juga, secara serempak, orang-orang yang berada di halaman depan kerajaan—serentak menengadah ke atas langit untuk melihat gelombang cantik nan indah tersebut.


Mereka bergumam sembari terpukau melihat mantra sihir yang Arley rapalkan barusan. Perlahan tapi pasti, kecemasan yang menghinggapi di hati mereka, lambat-laun sirna dengan ketenangan dan kenyamanan yang merambah diri.


Begitu juga orang-orang yang ada di atas Kaca Terbang. Amylia, Eadwig, Rubius, dan Aurum. Mereka berempat, yang sebelumnya sempat terpukul akan hipotesis Arley sebelumnya, berangsur-angsur hati mereka menjadi tenang.


Maximus Remedium: adalah mantra sihir yang memulihkan segala kondisi manusia, dari hal yang bernada negatif—berubah secara perlahan ke arah yang positif.


Jika ada manusia yang terluka, maka dirinya akan sembuh secara berkala—sebab mantra sihir yang satu ini.


Kemudian jika ada orang yang merasa cemas, gelisah, atau bimbang—maka Mantra yang satu ini akan merubah sifat negatif tersebut menjadi pola pikir yang lebih positif.


Setelah dirinya tenang, Amylia kemudian memalingkan wajahnya dari atas langit, menuju ke arah Arley. Namun tiba-tiba Arley melangkah mundur sambil tersenyum hangat, menatap keempat sahabatnya itu.


“Arley?! Kamu mau ke mana-“ Seketika itu juga, sebelum Amylia membereskan narasinya. Arley langsung melompat turun dari atas Kaca Terbang yang Michale rapalkan.


Dalam keadaan terjun bebas, Arley langsung merapalkan mantra sihir yang sudah sangat familiar di benaknya.


“Gale Ventum!”


Teriaknya sembari mengarahkan tongkat sihirnya ke arah bawah.


Lantas, pusaran Angin langsung tercipta dan berubah bentuk menjadi benda solid. Demikian Arley langsung terbang dalam kecepatan tinggi menuju ke tempat Kakek Marlin dan Uskup Steven tengah bertarung.


Sejenak Amylia ingin mengejar Arley. Dirinya merasa amat bersalah setelah apa yang ia lakukan kepada Arley, tanpa alasan jelas, beberapa waktu yang lalu. Akan tetapi—Eadwig menangkap tangannya dengan kencang.


Wajah Amylia tampak panas, ia merasa kecewa dengan Eadwig yang mencegah dirinya untuk menyelamatkan  Arley.


“Kau ingin meninggalkan Arley pergi sendirian ke sana!?” bentaknya sembari mencoba melepaskan genggaman Eadwig.


Namun Eadwig masih memegang keras tangan Amylia, ia punya alasan mengapa ia melakukan hal tersebut.


“Dengar kawan-kawanku sekalian! Aku yakin kita punya pemikiran yang sama dengan apa yang Amy sedang pikirkan sekarang!” terang Eadwig kepada Rubius, Amylia, Sofie, Lily, Perry, dan Michale.


“Ingat! Lawan kita adalah pasukan Monster! Hal ini tidak bisa dianggap remeh …! Sebab itu …,” sejenak Eadwig terdiam menatap ke bawah, “sebab itu, kita harus membentuk Regu Penyelamat!” Seketika itu juga—Eadwig menunjuk ke bawah kaki mereka, untuk menunjuk beberapa orang yang sudah mereka sangat kenal.


Paras Amylia, Eadwig, dan Aurum, langsung berubah menjadi gembira. Sedangkan Rubius hanya menatap sinis kepada empat orang yang ia benci.


“Kalian tidak melupakan rekan-rekan yang kita bawa dari kampung halaman bukan!?” Terang Eadwig sembari ia menggeram telapak tangannya dengan Adrenalin yang bergejolak hebat.


Tepat dari bawah Kaca Terbang, ada empat regu yang berisi empat orang. Mereka adalah tim yang Eadwig, Amylia, Aurum, dan Rubius bawa dari negara mereka masing-masing.


Ya, mereka adalah bala bantuan yang akan melindungi kerajaan ini dengan tulang dan darah mereka!


Tampillah senyuman yang terpapar lebar dari kelima belas orang tersebut. Tampak jika mereka telah siap membasmi monster yang ingin menghancurkan negeri seribu cahaya ini!


Lalu, bagaimana dengan kondisi Arley, Uskup Steven dan Kakek Marlin?


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!