The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 58 : Vanilla.



Dalam kondisi termenung, aku merencanakan hal yang aku harus lakukan selepas kekuatan ku pulih.


Mengejar sang Boss kah? Atau menyelamatkan anak gadis itu? Hmmm aku harus memikirkan hal ini secara matang-matang.


Sambil melihat pijaran api yang melahap segala yang ada di dalam gerobak tersebut, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menyelamatkan sang gadis terlebih dahulu.


Urusan ku dengan sang Boss, aku yakin kami akan bertemu kembali dikemudian hari, yap. Kriminal seperti dia bukanlah tipe orang yang suka berdiam diri di waktu yang lama … Boss, tunggu pembalasanku nanti ….


“Baiklah, waktunya menyelamatkan wanita itu, Ah! Aku bisa berbicara, perasaan ini cukup aneh … tapi syukurlah … ini berarti tenaga ku sudah mulai pulih kembali.”


Dengan terkumpulnya [Mana] di tubuh ini, perlahan aku bisa merasakan jasad ini mengalami penyembuhan secara berkala.


Baiklah aku sudah siap untuk menjemput sang gadis yang di culik tadi.


Sesaat aku mencari tongkat sihir yang aku selipkan di kantung celana sebelum aku terpingsan, kemudian aku pergi terbang menjemput anak gadis dari pria yang bernama Lucas Novolski.


“Gale Ventum !”


Dengan kecepatan udara aku tebang bagaikan peluru yang di hempas mesiu, aku terbang tinggi ke langit untuk melihat dan memantau posisi sang Client yang membawa anak gadis tersebut.


Dari ketinggian di malam hari ini, aku dapat melihat sebuah kereta kuda yang tampak mewah berjalan menyusuri jalan tanah menuju arah timur.


Namun aku cukup terkejut, posisi ku saat ini berada di hutan yang rindang, jika aku melirik ke arah utara, maka aku bisa melihat tembok ibu kota yang menjulang tinggi ke langit.


sepertinya jalan setapak ini bisa menghantarkan kami menuju ibu kota. Jika begitu, sebaiknya aku membuntuti kereta kuda ini sampai menuju lokasi mereka akan berhenti.


***


Waktu berjalan cukup lama, sekitar dua atau tiga jam aku membuntuti kereta kuda yang saat ini sedang berusaha masuk ke kota [Lebia] melalui jalur pintu gerbang timur.


Tampaknya ibu kota [Lebia] memiliki Sistem yang cukup unik dalam menerima orang yang akan masuk ke dalam kotanya.


kemarin malam aku masuk dari pintu selatan dan aku tidak di perbolehkan masuk, kali ini mereka masuk dari pintu timur dan dengan sigap mereka di biarkan masuk bagaikan Bangsawan ..., tidak, aku rasa mereka ini memang benar seorang Bangsawan, perlakuan para prajurit tersebut terlihat terlalu hormat untuk pria kaya biasa.


Prajurit yang menjaga pintu gerbang timur juga berbeda dengan prajurit yang menjaga pintu gerbang selatan, Pakaian dan perlengkapan dinas mereka cukup berbeda dengan prajurit yang menjaga pintu gerbang timur.


Baiklah aku akan mempelajari hal ini di lain waktu. saat ini mari kita buntuti sang bangsawan yang menculik anak gadis pak Lucas Novolski. Ntah siapa bapak itu tapi penculikan bukanlah hal yang baik.


Melesat aku terbang tinggi melintasi awan dengan niatan untuk melabuhi tembok gerbang kota [Lebia], jika kita masuk lewat pintu depan itu sama saja dengan bunuh diri.


Untuk mencapai pucuk tembok aku menghabiskan wakut sekitar sepuluh menit, ini sangat mencengangkan, aku rasa tembok ini sebenarnya memiliki tinggi yang melebihi perkiraan ku, mungkin sekitar 1 kilometer ke langit?


Akhirnya aku sampai di pucuk tembok, dan tentu saja aku lupa jika di pucuknya ada besi parabola yang menutupi kawasan langit kota [Lebia].


“Tch, aku salah prediksi, aku tidak bisa masuk jika parabola ini tidak dapat di buka, apakah sebaiknya aku membuat lobang saja di jaring-jaring ini ….?”


Namun belum selesai aku membuat keputusanku, tiba-tiba bagaikan benda cair, besi dan jaring-jaring parabola ini bergerak membuka lobang yang cukup besar untuk aku bisa masuk kedalamnya. aku sangat terkejut mengapa benda aneh ini bisa terpasang di atas langit kota, untuk apa benda ini berada di atas sini jikalau benda ini bisa bolong seperti ini … benar-benar kota yang aneh ….


Pengintaian aku mulai kembali, di atas tembok ini tidak ada yang menjaga jadi aku bisa leluasa turun ke dataran untuk mengintai kembali bangsawan yang menculik anak gadis tadi.


Tidak butuh waktu yang lama sampai aku bisa menemukan kereta kuda yang tadi. Itu dia, kereta kuda berwarna coklat dan berkuda putih, eh tapi tunggu sebentar, tampaknya anak gadis itu telah sadar dari pingsannya.


Kemudian kereta kembali berjalan di kerumunan masyarakat yang padat, aku rasa masyarakat berusaha untuk tidak melihat kejadian itu, hmmm, apakah mereka takut berurusan dengan Bangsawan?, nah … aku terlalu banyak berfikir.


***


Perjalanan terus berlanjut sampai akhirya mereka memasuki kota bagian dalam dan tiba pada sebuah rumah yang sangat amat besar. Sangat pantas jika di bilang rumah para Bangsawan.


Berdecit kencang besi-besi di kereta kuda tersebut, perlahan kereta itu berhenti pada pekarangan rumah yang sangat luas dan lebar.


Namun hal heboh terjadi kembali, saat kuda sudah berhenti total, seketika itu juga sang gadis keluar melarikan diri dari dalam kereta kuda tersebut.


Sang gadis berlari dengan sekuat tenaganya menuju pintu gerbang rumah yang ku rasa milik dari sang bangsawan, tetapi malangnya nasib sang gadis, belum sempat ia sampai ke pintu gerbang yang masih terbuka lebar tersebut, beberapa prajurit yang mengenakan baju zirah perang menghentikan langkahnya.


“Lepaskan aku! Aku ingin kembali pulang ke rumah papa!”


Terdengar jelas sampai ke kupingku teriakan sang gadis berambut perak yang tampak ketakutan tersebut.


Saat ini jarakku dengan dataran hanya berkisar 20 meter, namun kondisi malam membuat keberadaanku sedikit sulit untuk di lihat, ini adalah situasi yang menguntungkan bagi ku.


“Hentikan 'Vanilla ' ... saat ini kau adalah tawanan ku. jika kau tidak ingin mati sebaiknya kau ikuti perintah ku dan jadilah umpan untuk kehancuran papa mu itu ….”


“Kenapa kau melakukan hal ini paman! Bukan kah papa sudah menganggap mu sebagai saudaranya sendiri, terlebih aku sudah menganggap mu sebagai bagian dari keluarga ku sendiri! Mengapa kau tega melakukan hal ini kepada keluarga kami paman Pastel?!”


“ … Sebuah kesalahan akan mengabaikan segala kebaikan, seharusnya kau bertanya sendiri ke papa mu mengapa aku sampai melakukan hal ini. jika dia tidak merebut Rose dan benda itu dari genggaman ku … aku tidak akan melakukan hal ini padamu Vanilla, jadi diam lah dan sekarang juga ikut dengan ku sampai papa mu memberikan apa yang aku mau!”


Pintu gerbang itu tertutup, pupus sudah harapan sang gadis untuk melarikan diri. namun dari matanya terpancar api yang menandakan bahwa gadis bernama Vanilla ini masih belum menyerah.


“Aku tidak mau tahu masa lalu mu dengan Mama ku, atau benda yang papa ambil darimu sampai kau jadi seperti ini. Bagaimana pun itu aku tidak akan menyerah begitu saja sampai nyawa ku ini terlepas dari tubuh ku paman! ”


“… Kalau begitu … aku akan mewujudkan apa yang kau inginkan.”


Pria berbadan kekar dan berkumis tebal tersebut mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang yang tersemat di pinggang kirinya.


“... kehilangan satu atau dua kaki mu bukan lah hal yang merugikan ku saat ini, jangan salahkan aku, semua ini kau yang memintanya.”


Tanpa segan-segan sang pria menghunuskan pedangnya ke paha sang wanita dengan kekutan penuh, namun sebelum mata pedang itu mengenai kulit sang wanita aku menghentikan semua itu untuk terjadi.


“Parvus Coruscare !!!”


Muncul gelombang api dari ujung tongkat ku bagaikan bola api yang di lontarkan menggunakan pistol.


Api yang amat panas kemudian melesat cepat ke arah tubuh sang pria tua bernama Pastel itu.


Tetapi entah bagaimana caranya sang pria ternyata mampu menghindar dari serangan yang ku lancarkan secara diam-diam. ia menghidar dengan cara melompat jauh ke belakang. Tampaknya paman ini bukan orang biasa, aku harus lebih waspada.


“Hey paman! sebaiknya paman jangan melakukan hal yang bisa membuat diri paman sendiri menyesal di kemudian hari! ” Perlahan aku turun ke dataran dan berdiri tepat di depan gadis bernama Vanilla.


Yeah! Aku datang ke panggung pertempuran! Dengan wajah menyeringai seram dan bahagia akan pertarungan, aku berusaha untuk sebisa mungkin mengatasi masalah ini dengan solusi yang tepat. Solusi apa itu? Aku sendiri juga belum tahu!


***