
Not Edited!
Matahari tampak meninggi di atas langit, Embusan angin dari ufuk Selatan, membawa aroma tak sedap—berasal dari barisan para monster yang memenuhi sisi Utara benua [Horus].
Aurum, Sophie dan Amylia … berdiri termenung menatap kota yang telah hancur.
Setelah gempa berakhir, monster-monster itu mulai merusak kembali seluruh properti kota, tanpa memedulikan kondisi mereka yang telah penuh dengan luka, mereka menceracam segala yang menghalangi laju jalan mereka, menuju ke istana negara.
Bahkan salah satu di antara mereka, mulai memukul-mukul pohon kehidupan demi merubuhkan pohon dengan lebar ±200 km² lebih itu.
Pohon kehidupan yang berdiri kokoh di tengah kota, mengisi setengah dari keseluruhan kota, dari bagian tengahnya.
Ibu Kota [Lebia], yang memiliki lebar ±600 km², saat ini, jika di lihat dari jarak cukup jauh, hanya terlihat seperti pot bonsai, yang menghiasi pohon di dalamnya.
Dari atas ‘Menara Diana’, tak ada seorang pun yang berani berbicara untuk mengomentari kondisi mereka saat ini.
Kubu masyarakat, saat ini terbagi menjadi dua golongan, entah itu golongan yang mereka hanya menatap ke bawah ibu kota dengan wajah cemas, atau golongan yang menatap langit dengan wajah takjub.
Untuk Amylia, Aurum, Sophie, dan Helena. Mereka berada di golongan yang menatap bawah ibu kota, dengan wajah cemas. Namun hal yang mereka cemaskan bukan hanya dataran kota, tetapi hal yang mereka juga cemaskan adalah kondisi Arley saat ini.
“Apakah dia akan baik-baik saja …?” tanya Sophie dangan alisnya yang mengkerut ke atas.
“Entahlah … Arley adalah orang yang bebas, kita tidak tahu kondisinya sedang bahagia atau sedih, walaupun ia sedang tersenyum manis,” jawab Aurum.
Menggembunglah pipi Sophie mendengar ucapan Aurum. “Kalau hal itu aku juga sudah tahu! Kan aku yang lebih lama mengenal dia!”
“Mengenal dirinya lebih lama bukan berarti lebih mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya bukan?”
Lantas, suasana persaingan yang panas, merebak dari lokasi dimana Aurum dan Sophie berdebat.
“Hey, kalian! Ini bukan waktunya berdebat … tidakkah kalian cemas dengan kondisi Arley?!” tegas Amylia, memisahkan mereka berdua.
Mendengar ceramah dari Amylia, kedua wanita itupun langsung terpukul dengan kata-katanya. Apa yang Amylia sebutkan adalah sebuah kebenaran. Pundunglah tubuh Aurum dan Sophie sembari mereka menyesali perbuatannya.
“Jika kalian ada waktu … sebaiknya pergunakan waktu itu untuk berdoa, tidak untuk hal yang negatif,” cakap Amylia, sembari ia memeluk Aurum dan Sophie.
Menangislah keduanya di pelukan sang tuan putri dari negeri [Atargatis] itu.
***
Pada sudut Selatan, tempat di mana Lenka sedang dalam kesusahan.
Ketika itu … tangan kirinya telah digigit kuat oleh Monster bertubuh kadal yang sering di sebut ‘Lizardman’ pada literatur monster dan makhluk mitologi.
Lenka tidak berteriak kesakitan ketika tangan kirinya hampir putus sebab gigitan yang kuat itu, tetapi fokus pada dirinya malah teralihkan dengan apa yang kala itu Arley sedang perbuat.
“A-Arley?! Apa yang kau lakukan?!” ucapnya sambil menendang Manusia Kadal yang menggigit tangannya, dengan sol sepatu.
Arley yang ketika itu berdiri di depan patung Marlin dan Setven, atau lebih tepatnya lagi, di belakang Lenka. Ia hanya tersenyum sembari merogoh sesuatu daru dalam selah baju dasarnya.
Ketika itu, tertarik sebuah kain hitam—menyelimuti sebuah tongkat sihir, yang sempat Marlin berikan kepada Lenka. Dan pada akhirnya, kain hitam itu Lenka berikan pada Arley, sesuai perintah dari Marlin.
“Ah, itu kan … pemberian dari Marlin …?” gumam Lenka dalam hatinya.
Dikeluarkanyalah tongkat sihir itu dari dalam kain hitam tersebut. Tampak sebuah tongkat sihir yang sangat lurus, bahkan tanpa bengkokan sedikitpun di bagian batangnya, dengan selipan strip kaca, pada bagian batang tongkat tersebut.
Begitu indah dan elegan.
Tongkat putih yang terbuat dari batang pohon, Aethernum kuno, yang umurnya lebih dari 20.000 tahun.
Dikatakan bahwa: pada awalnya pohon Aethernum adalah sebuah pohon yang berwarna Hitam pekat, tetapi … karena termakan oleh waktu, batang pohonnya mulai berubah warna menjadi putih, sebab keburukan dan keserakahan umat-umat terdahulu, membuat jantung pohon menjadi keras.
Serta ada mitos yang mengatakan bahwa: bibit pohon Aethernum, adalah satu-satunya bibit pohon yang Adam bawa dari taman surga.
Di Era [Hubert] saat ini, jika ada orang yang berbicara tentang pohon Aethernum, maka mereka akan di tertawakan, sebab legenda pohon Aethernum adalah kisah dongeng yang di peruntukan untuk anak-anak, agar diri mereka termotivasi untuk bertani dan membatu orang tua mereka.
Padalah, pohon Aethernum bukanlah mitos belaka. Hanya saja, pohon ini memang sudah punah saat perang besar, antara kaum yang tak di ketahui, melawan umat manusia.
Saat ini, hanya makelar dan pasar gelap saja yang menjual bahan kayu ini. Harganya pun sangat fantastis. Jika tidak berhati-hati, bisa saja pembelinya ditipu oleh para makelar yang tak bertanggung jawab.
***
“Ultimo Libro, Transferendum : The Last Book, of, The 7 Book's of God. Vol 6 : Protocol."
"Adeptum Regio!”
Sebutnya dengan suara pelan, sebelum pada akhirnya, Arley berteriak kencang saat ia merapalkan mantra sihir terakhirnya.
Bumi kembali bergetar hebat, ujung tongkat sihir yang Arley genggam, langsung memancarkan cahaya kehijauan yang sangat amat gemilang.
Seluruh monster yang berada di hadapan Arley, saat mereka melihat cahaya itu, mereka semua langsung lari terbirit-birit, mencoba menjauh kembali ke sisi selatan dan keluar dari ibu kota [Lebia].
Lenka pun terselamatkan berkat mantra sihir Arley. Monster Kadal yang menyerangnya, ikut berlari sebab cahaya hijau yang menyilaukan mata itu.
Namun, Lenka masih terpelongo melihat kejadian ini. Ia menatap ke atas langit, yang ketika itu … seluruh dedauan pada pohon kehidupan, juga memancarkan cahaya yang serupa. Bahkan dengan waktu kilauan yang identik dengan kilap cahaya pada ujung tongkat Arley.
Ketika radiasinya meredup, maka seluruh daun yang ada di pohon kehidupan ikut meredup, dan ketika cahaya pada ujung tongkat sihir Arley bersinar terang, maka dedauanan pada pohon kehidupan juga memancarkan sinar yang lebih terang.
Tampak seperti, Pohon Kehidupan itu, adalah Amplifier resonasi dari mantra sihir yang Arley rapalkan.
Gelombang cahaya yang keluar dari pohon kehidupan, lantas merambat di atas permukaan bumi [Soros]. Bahkan sampai batas ujung benua [Horus].
Ketika itu, setiap Monster yang terkena radiasinya … langsung berubah menjadi pasir dan debu. Sangat berbeda dengan mantra Sihir Marlin dan Steven.
Dalam sekali kejapan mata, seluruh monster yang memenuhi ufuk Selatan benua [Horus]. Langsung rata menjadi pasir yang menutupi rerumputan pada benua manusia ini.
Tidak butuh waktu yang lama, dengan hanya lima belas menit … seluruh agresi militer ini langsung tuntas, dan bersih tanpa menyisakan satu monster pun.
“A … Aku selamat …,” gumam Lenka yang melihat seluruh kejadian itu. Matanya tak berkedip saat ratusan juta monster, berubah menjadi debu dalam sekali kejapan mata. “K-Kita berhasil … hey … kita berhasil! Arrlleeeyy!” pekik Lenka, dirinya langsung bangkit dan ingin memeluk Arley yang saat itu berada di belakangnya.
Namun, ketika dirinya hanyut dalam kesenangan. Kala itu … Lenka hanya melihat tubuh Arley yang telah tergeletak lemas di depan patung Marlin dan Steven.
“Arley …?—” sebut Lenka, dengan wajahnya yang mengkerut cemas.
Apakah yang terjadi dengan Arley?! Sudahkah pertempuran ini berakhir?!
Bersambung! ~
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -