
Not Edited!
Terbentang luas … pada pandangan mata seorang remaja berambut merah, dan bermata hijau … melihat ladang rumput yang tergelar luas tanpa akhir … layaknya perjalanan ia saat ini.
Matanya tampak menatap kosong pada garis ufuk horizon, yang tak jelas akan membimbingnya untuk pergi ke mana.
Dirinya teridam menatap indahnya matahari senja, sebelum akhirnya terbenam pada hamparan indah tersebut.
Dalam sepinya sore hari itu, terdengar perkataan sang remaja … berbicara dengan nada yang sangat parau dan sedih.
“Aku … siapa ….”
Gumam sang remaja, sembari ia kembali berjalan … menyusuri hamparan rumput, untuk mengejar matahari yang tenggelam.
.
.
.
***
.
.
.
Tiga hari sebelum terjadinya ledakan pada pemakaman umum ….
Kondisi kota sangatlah porak poranda. Pemakaman baru saja dilakukan, akan tetapi, masyarakat tak tahu harus berbuat apa … sebab Raja mereka tak kunjung pulang.
Rumah-rumah mereka telah rata dengan tanah, perlahan mereka membongkar reruntuhan rumah untuk memisahkan benda yang masih bisa di gunakan, dan yang tak bisa di gunakan.
Lenka terduduk diam di pinggir kolam yang menghubungkan antara daerah istana negara, dengan pemukiman masyarakat.
Sebuah kolam berbentuk bulat, dengan lebar lima meter dan kedalaman setengah meter. Ada pancuran air dari bagian tengahnya, biasanya masyarakat datang ke kolam ini untuk berkumpul bersama orang yang di kasihi mereka, juga menjadi tempat menunggu orang yang akan pergi keluar kota, atau berlibur di taman kota.
Dari kejauhan, Eadwig dan Rubius melihat Lenka tengah melamun menatap tanah tanpa tahu harus berbuat apa.
Mendekatlah mereka berdua untuk mengetahui kondisi Lenka yang sekarang.
“Tuan Lenka … anda baik-baik saja?” panggil Eadwig yang kala itu matanya masih lebam, akibat airmata yang baru saja berhenti. Tetapi, ia memaksakan diri untuk bergerak karena dirinya tahu pasti, berlarut-larut dalam kesedihan tidak akan menghasilkan apapun.
Dilain pihak, Rubius hanya berdiam diri, sembari ia mengikuti Eadwig kemanapun ia pergi. Ketika ia menyadari bahwa Arley telah tiada, Rubius hanya meneteskan air matanya sebentar saja, shock yang ia derita lebih besar dibandingkan apa yang ia dua. Demikian air matanya telah berhenti keluar karena RUbius tengah dalam kondisi bingung saat ini.
Mendengar suara sang pangeran dari negeri [SImbad], Lenka langsung berdiri dari duduknya dan membasuh wajahnya yang bergelimpangan air mata.
“A-ah … maafkan aku … tak seharusnya aku menampilkan wajah ini di depan kalian,” ujar Lenka sembari ia tersenyum pahit.
Ketika itu, Eawdig melihat ke sekitarannya, ia memandang ada banyak orang yang tengah memperhatikan Lenka, dengan wajah terheran-heran. Sesekali Eadwig mendengar bisikan mereka mengenai Lenka.
“Itu … bukankah ia tuan muda Lenka …?” tanya salah seorang wanita kepada suaminya.
“Eh …?! Bukankah tuan muda Lenka, seharusnya telah meninggal?! Tidak mungkin orang itu adalah tuan muda Lenka …,” jawa sang suami.
“T-tapi … wajahnya sangat mirip degan yang dahulu kita lihat … hanya saja, tubuhnya sudah tampak besar …,” tunjuk si wanita ke arah Lenka.
“K-kau benar juga …,” Lalu, si suami mengelus-elus dagunya sembari ia menatap tajam ke arah Lenka.
Eadwig tersenyum tipis melihat keharmonisan warga di kota [Lebia]. Walaupun mereka sedang dalam kesusahan, tetapi, tingkah laku setiap warganya masih bisa membawa kebahagiaan bagi orang di sekitarnya. Ini adalah bukti, bahwa raja yang sedang memimpin negara ini, adalah seorang raja yang bijaksana.
“Tuan Lenka … apakah kau mendengar ucapan mereka?” tanya Eawdig sembari berjalan ke samping Lenka, lalu ia duduk di pinggiran kolam, seperti apa yang Lenka lalukan tadi.
Lantas, Lenka ikut duduk di sebelah Eadwig sambil ia memandang wajah sang pangeran sebelum ia menjawab pertanyaannya. “Mendengar ucapan …?” Kemudian, Lenka melihat sekitarannya, saat fokus pemikirannya terpecah dan ia mulai memandang sekitarannya, saat itu lah Lenka bisa mendengar suara masyarakat yang memandang heran ke arahnya.
“Ah … benar! Itu tuan muda Lenka! Aku tidak mungkin salah! Lihat warna matanya!” teriak salah seorang kakek dengan kupluk yang terpakai di kepalanya.
Lalu, seluruh orang mulai bergerombol di sekitaran Lenka sembari mereka membicarakan kebaikan Lenka, yang dahulu pernah ia perbuat.
“Kau mendengarnya?” ujar Eadwig sembari ia tersenyum.
Mata Lenka berseri-seri melihat penantian seluruh warga terhadap dirinya. Kembali air matanya terjatuh sebab rasa syukurnya kepada seluruh komponen masyarakat yang menanti dirinya, kembali ke tanah air tercinta.
“Tuan muda Lenka, kami tidak menyangka jika diri anda ternyata masih hidup … dengan keberadaan anda saat ini, kami sangat bersyukur … sebab, kepemimpinan anda sangatlah kami tunggu-tunggu,” ujar sang kakek yang mengenakan kupluk tadi, sembari ia melangkah mendekati Lenka.
Sang kakek hanya tersenyum sembari ia melihat gerombolan masyarakat.
“Lihatlah mereka, tuan muda Lenka … yang di sebelah kiri sana, ada pemilik toko Spageti … dulu anda sering melarikan diri dari istana demi memakan maskan dia bukan? Lalu yang di tengah sana, ada pemilik bar yang sering anda utangi, sebab uang jajan anda di tahan oleh yang mulia Alexander. Serta, tuan Apricot ini,” Sang kakek menepuk punggung seorang pria muda, yang tampak gemuk dan kemayu. “dia ini adalah anak dari sang pemilik kedai susu, yang dahulu anda sering bermain dengan ayah dari anak ini …,” jelas sang kakek sembari ia tersenyum lebar.
Mata Lenka masih berkaca-kaca dengan perasaan nostalgia yang merebak dalam hatinya.
“M-maafkan aku … aku tak tahu harus berbuat apa … dahulu, aku sering bolos bersekolah saat pelajaran tata negara diberlangsungkan …,” ucap Lenka yang sebenarnya tahu apa maksud sang kakek mengenalkan warga kota kepada dirinya.
Saat ini, Kota [Lebia] sangat membutuhkan sosok seorang pemimpin untuk membimbing jiwa mereka semua, dan sosok itu belum juga kembali sampai saat ini. Demikian mereka semua merasa senang ketika melihat cucu dari sang Raja yang belum kunjung kembali, membersamai diri mereka di tengah kekacauan ini.
“Tuan muda Lenka … Kami tidak butuh ilmu tata negara untuk engkau memimpin kami semua … Kami hanya butuh kehangatan dirimu yang dahulu … untuk mempersatukan jiwa kami semua, demi membangun negeri ini menjadi seperti sedia kala,” ucap sang kakek, yang ketika itu, dirinya langsung menepuk tangan kanan sang pangeran kerajaan [eXandia], dengan tepukan harapan.
Lenka yang menatap wajah sang kakek, saat itu ia langsung teringat ucapan sang kakek, ketika dirinya masih kecil. Kenangan itu masuk ke dalam benaknya, layaknya sebuah riak air yang kembali berdetik.
“Lenka … dengarkan ucapan kakek baik-baik …,” Teringat dalam kenangan Lenka, ucapan sang kakek yang pernah menceramahi dirinya, saat ia masih berumur sangat muda. “Sebuah negara itu … bukanlah bendera yang berkibar, atau tahta seorang raja, bukan juga pakaian yang dikenakan, bukan mahkotanya, ataupun bukan anak dan cucu keturunannya ... ingat baik-baik kalimatku ini, Lenka. Sebuah negara itu … adalah masyarakat yang terus menjaga sesamanya, dan saling bahu membahu, untuk menciptakan sebuah keharmonisan.”
Ketika Lenka mengingat kembali ucapan sang kakek, saat ini barulah ia mengerti arti dari kalimat tersebut.
“Negara … adalah masyarakatnya … ya, aku paham itu sekarang, Kakek Alex,” gumam Lenka, sembari ia menatap sekitarannya dengan pandangan yakin.
Ketika masyarakat bergerombolan di sekitaran Lenka, tiba-tiba, tanpa sengaja Michale Evancho, orang yang menjadi pemandu acara saat tournament persahabatan antar negara, dan seleksi masuk kesatria dan penyihir, lebat di belakang kerumunan masyarakat itu tanpa mengetahui apa yang sedang berlangung.
“Hm? Ada apa ini?” ucap Michale, yang kemudian ia mencoba masuk ke bagian terdepat dari kerumunan. Susah payah ia bergerak untuk menggeser orang-orang yang menghalangi jalannya, tapi pada akhirnya, ia sampai juga di depan kerumunan. Matanya hampir keluar, saat dirinya melihat sahabat karib yang telah lama hilang. “AAAaaa! Leenkaaaa?!” teriak Michale dengan suaranya yang besar.
Lenka pun terkejur saat melihat Michale. Lantas, Lenka langsung mendapatkan ide, cara untuk menyatukan jiwa masyarkat untuk sekali lagi menjadikan kota ini, sebagai pusat dari negara [exandia].
“Michale! Kau datang di waktu yang tepat!” ucap Lenka, yang kala itu ia langsung mengapit leher Michale di ketiak kanannya.
“He?! aku kira kau sudah mati! Bagaimana mungkin kau terlihat sehat sepert ini?!” jawab Michale.
“Bodoh! Aku hanya melarikan diri saja saat itu!”
“Tapi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Saat peti matimu dikuburkan di Pemakaman Pahlawan!”
“A-ah … itu hanya peti kosong …,” jelas Lenka sambil menggaruk wajahnya yang tak gatal.
“Heeeeee?! Aku menangisl loh! Aku menangis saat peti itu di kubur! Aaaa beraninya kau membuang-buang air mataku yang sangat berharga!—” Namun, saat Michale ingin berontak kepada Lenka, ketika itu Lenka langsung merubah topik pembicaraan, kepada hal yang lebih serius.
“Tunggu Michale … Aku butuh butuh bantuanmu … ada hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu, dan tanpa bantuanmu, hal ini akan menjadi sulit ….”
Wajah Michale yang menatap ekspresi serius Lenka, langsung menyadari jika kali ini Lenka akan melakukan suatu hal yang sangat penting untuk negara [eXandia].
Bersambung!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -