
not edited!
Kabut hitam yang amat tebal tampak berputar liar di hadapan Rubius, sedangkan Eadwig kala itu fokusnya telah teralihkan pada pihak lain.
Dengan begitu beraninya Eadwig membalas tantangan Korfe secara kontan. Wajah korfe yang awalnya terkejut ketika mengetahui jika ada makhluk lain yang mampu melawan intimidasinya, langsung berubah menjadi sebuah ketertarikan secara individu.
Tangan Eadwig yang mengeram kencang sepatu boots yang terbuat dari kulit hewan, berwarna hitam tersebut, sontak Korfe langsung mengeramkan keempat jari pada tangan kiriya, kecuali jari telunjuk.
Berubahlah kuku pada jari telunjuk Korfe menjadi panjang dan juga runcing. Kala itu, Korfe menebaskan kuku pada jari telunjuk sebelah kirinya tersebut, untuk melepaskan genggaman tangan kiri Eadwig pada sepatu boots-nya.
“Menarik!” ucap Korfe sembari ia menggerakkan tangan kirinya dengan cepat—tepat menuju ke pergelangan tangan kiri Eadwig.
Nyaris, ketika kuku panjang Korfe hampir mengenai pergelagan tangan Eadwig yang saat itu mengeram kencang sepatu boots sang pria naga, kala itu Eadwig secara refleks menarik kembali tangan kirinya dan langsung menggerakkan seluruh otot tubuhnya demi menjauhkan diri dari sang naga hitam.
Eadwig melompat ke arah belakangnya dengan sigap. Kala itu tak lupa dirinya menarik baju pada pundak belakang Rubius untuk membawanya juga pergi menjauh dari posisi mereka saat ini.
Melesat Rubius dan Eadwig ke posisi Utara mereka saat itu dengan begitu lugas. Terpaut jarak sekitar sepuluh meter dari letak mereka berdiri dengan lokasi di mana Korfe berdiam diri.
Keringat mengucur deras pada tubuh Eadwig, napasnya tersengal-sengal ketika diri mereka sudah pada kondisi yang lumayan aman.
Dilain pihak, Rubius masih terpaut pada imajinasinya sendiri, ketakutan yang amat pekat membuat pola pikirnya menjadi berkabut. Rubius hampir tak bisa bergeras sebab ketakutannya itu.
“Meneydihkan …,” ucap Eadwig yang melirik sedikit memandang wajah aneh Rubius. Eadwig tampak kesal dengan ekspresi yang Rubius tampilkan. Sontak, ketika itu juga Eadwig langsung memukul pipi sebelah kiri Rubius sampai dirinya kembali terpental menghantam bangunan yang ada pada posisi kanan mereka berdiri kala itu.
Lagi-lagi satu bangunan runtuh akibat hantaman badan Rubius mengenai padanya. Eadwig terlihat puas dengan tindakannya. Terbeset seringaian lega dari wajah tampan sanf pangeran negeri[simbad].
“Sudahkah kau tersadar dari ilusimu sendiri, wahai Rubius Zu Vermitrax!?” teriak Eadwig kepada Rubius yang terduduk diam di dalam bongkahan bangunan yang telah runtuh itu.
Sekilas, sang iblis naga terlihat cukup terkejut saat dirinya mendengar nama yang Eadwig ucapkan. “Vermitraz …?” gumam Korfe dengan nada yang begitu rendah, bahkan dirinya sendiri hampir tak mendengarkan suaranya kala itu.
Kabut putih yang tercipta akibat runtuhnya bangunan mulai memudar. Tampak tubuh Rubius yang terdiam melihat ke arah Eadwig dengan wajah terkejut. Sontak, dalam waktu beberapa saat kemudian ia kembali tersadar jika semua ini bisa ia atasi jika dirinya berusaha memberanikan diri.
“M-maafkan aku … Eadwig. Betapa lemahnya diriku ini sampai bisa termakan ilusi seperti itu …,” gumam Rubius yang ketika itu merundukkan kepalanya sambil menggigit sedikit bibir sebelah kirinya, bahkan sampai mengeluarkan sedikit darah.
Eadwig tersenyum lebar. Ia cukup puas dengan kondisi Rubius kala itu. Bangkitlah Eadwig dari duduknya, kemudian ia menatap lagsung wajah tampan Korfe, tanpa menampakkan ketakutan sama sekali.
“Sekarang … mau pertarugan seperti apa yang ingin engkau lakukan wahai tuan naga …!?” Sembari Edwig mengucapkan kalimatnya itu, dengan sigap dirinya mengeluarkan kedua bilah pedang kembarnya dari dalam dua sarung pedang yang tersemat pada kedua belah pinggangnya.
Lantas Eadwig melangkan dengan ringannya menuju ke tempat Korfe saat ini berdiri.
Lagi-lagi Korfe menunjukkan senyuman ketertarikan dirinya kepada Eadwig. Saat itu, terlihat Korfe seperti merapalkan sesuatu menggunakan bibir tebalnya kala itu.
“Pausa”
Ucapnya sembari menunjuk ke belakang tubuhnya dan seperti menggambarkan garis lurus dari samping kanan sampai ke sebelah kirinya.
Selepas ia merapalkan sebuah mantra, Korfe kemudian ikut melangkah maju untuk menghadapi tantangan Eadwig. Saat ia beranjak pergi dari tempatnya berdiri saat itu, Kabut hitam di belakangnya tak mengikuti Korfe sebab matra yang ia ucapkan tadi.
Perlahan mereka berdua berjalan saling berhadapan. Dari berjalan, mereka mulai melakukan maraton, dari maraton mereka kemudian berlari degan kecepatan tinggi.
Sontak, adu kekuatan terjadi saat itu juga. Kedua beliah pedang Eadwig menahan kuat serangan kuku tajam Korfe yang kala itu tiba-tiba terlihat memanjang.
Kelima kuku korfe memanjang dan ia kuncupkan menjadi satu, tampak seperti mata tombak yang amat runcing nan tajam.
Dorong-dorongan terjadi di antara kedua belah pihak. Eadwig dengan susah payah menahan kejangan serangan yang di lakukan Korfe.
“Oh … bahkan kau bisa menahan serangan fisikku …?” cakap Korfe yang semakin tertarik dengan pertarungan ini.
Eadwig hanya tersenyum-senyum pahit ketika mendengarkan kalimat yang Korfe lontarkan tadi.
Dalam posisi yang cukup sengit, Korfe tiba-tiba menaikkan kedua sikutnya sampai rata-rata pundak. Lalu, dengan kekuatan penuh Korfe mengibaskan kedua tangannya ke posisi terbuka lebar. Tangan kirinya kembali terbuka ke sebelah kiri dengan posisi lurus tegap ke samping, begitu juga dengan tangan kanannya.
Guncangan angin langsung datang juga berhembus begitu kencang menerpa tubuh Eadwig yang berdiri di hadapan Korfe.
Tak kuasa menahan serangan yang Korfe lontarkan, Eawdig terpental kembali pada posisi sebelumnya. Ia berdiri kembali ketempat dimana ia memukul Rubius sebelumnya.
“Eadwig!” pekik Rubius dengan perasaan begitu cemas.
Eawdig mendengar panggilan itu, kemudian ia melirik sedikit kesebelah kanannya. Tampak Rubius berdiri dengan tegap tanpa segores luka sama sekali. “Tubuh apa yang kau miliki, Rubius …,” gumam Eadwig yang tak menyangka jika pukulan kuatnya tadi tak memberikan luka sama sekali pada kulit Rubius.
Setelah merasa lega dengan kondisi sahabatnya, Eadwig kemudian kembali fokus pada musuh yang berdiri di hadapannya.
Eadwig kembali memasang kuda-kuda tempur. Kaki sebelah kanan ia majukan satu meter di depan kaki sebelah kiri, sedangkan tangan kanannya ia hadapkan ke depan, lalu tangan kirinya ia arahkan ke depan tubuhnya yang menghadap posisi timur tempat ia berdiri saat itu.
Korfe hanya menatap apa yang akan Eawdig ingin lakukan saat itu. Namun, kali ini Korfe benar-benar tak dapat memprediksi apa yang Eadwig ingin lakukan.
Terpejamlah mata Korfe untuk sejenak. Lalu, saat ia membukanya kembali, tiba-tiba saja tubuh Eadwig sudah berada di depannya.
“Apa!?” Ketika itu, Korfe yang sengaja menurunkan pertahannya, tak menyangka jika pergerakan Eadwig akan setajam ini.
Dalam hitungan seperdetik itu, tubuh Korfe bereaksi dengan sendirinya, ia melangkahkan kaki kirinya mundur kebelakang. Namun serangan yang Eadwig lepaskan kepada dirinya masih sangan frontal dan akan sangat fatal jika mengenai sasaran yang Eadwig incar.
Ketika itu, Pedang yang Eadwig genggam dengan tangan kirinya, dengan cepat melesat menuju kepala Korfe tanpa jeda.
Bagaikan waktu berjalan dalam kondisi yang lamban. Korfe yang sedang dalam kondisi terdesak, tiba-tiba melihat laju pedang yang Eadwig kibaskan kepada dirinya tampak bergerak begitu stagnat.
Korfe bisa melihat kilatan cahaya yang di pantulkan oleh bilah pedang Eawdig. Kemana pedang itu akan melaju mengenai kulitnya, Korfe bisa memandang itu semua.
Tiba-tiba seringaian jahat terpampang jelas pada wajah Korfe. Bibirnya tersenyum lebar, bahkan gigi-gigi runcingnya tampil begitu mencekap di hadapan Eadwig.
Kelopak mata Eadwig langsung terbuka lebar. Ia tak menyangka jika hal ini akan terjadi dalam kehidupannya.
Bilah pedang yang ia luncurkan menuju kepala sang iblis naga. Persis di hadapan wajah sang pangeran negeri [simbad] kala itu, dalam satu kali gigitan yang amat begitu kuat, langsung menghancur bilah pedang yang Eadwig selalu gunakan bagaikan kerupuk yang di pukul dengan genggaman tangan.
Terlihat cetusan wajah tercengang Eadwig dalam serangan terakhirnya ini. wajahnya kembali pucat bagaikan mayat yang bisa berjalan. Matanya terbelalak lebar tak menyangka jika hal ini benar terjadi.
Bisakah Eadwig mengalahkan Korfe? Apakah Eawdig bisa bangkit dari keterpurukan ini?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------