
*****
.
.
.
Menggelora! api itu dengan cepat berputar di dalam ruangan ini tanpa berhenti, tidak ada yang mampu menghentikannya.
Trimol telah di kalahkan, sedangkan Arley terbujur lemas di lantai, dan entah bagaimana kondisinya saat ini.
Dengan kalah nya Trimol di pertarungan kali ini, setiap gorong-gorong yang di tutup olehnya terbuka lebar.
Lalu dengan cepat api menjalar keluar lewat gorong-gorong tersebut. Ada yang menghempas keluar dari sisi sungai, ada juga yang menyembur keluar dari lempengan besi lubang got di tengah jalan.
Beberapa lempengan itu terpental ke atas langit di iringi dengan semburan api yang dahsyat.
Masyarakat sekitar terpelongo melihat kejadian itu, beberapa dari mereka berteriak dan ada yang berlari ketakutan.
Kepolisian lalu segera menyelidiki hal ini dengan mengirim personilnya untuk memasuki setiap gorong-gorong yang ada di ibu kota.
Sampai akhirnya mereka menemukan jasad Arley tergeletak pingsan di ruangan yang sudah porak-poranda dalam gorong-gorong kota [Lebia].
Begitu juga dengan tubuh Trimol yang saat itu masih bernyawa, namun ia tampaknya berada dalam kondisi Koma.
Bagaimana dengan Misa? Ya, Misa juga di bawa oleh kepolisian untuk di rawat di rumah sakit setempat.
.
.
.
Saat itu kondisi sangat ramai di sekeliling Sungai kota, kepolisian menarik garis kuning agar masyarakat tidak mendekat ke gorong-gorong yang menjadi lokasi perkara.
Tubuh Misa di angkat dan di keluarkan dari dalam gorong-gorong lalu di masukkan kedalam kereta kuda yang memang di sediakan untuk mereka yang membutuhkan pertolongan medis.
Begitu juga dengan tubuh Trimol yang penuh dengan luka bakar dan rambutnya telah habis menjadi botak, ia juga di bawa masuk ke dalam kereta kuda medis tersebut.
Tak lama kemudian, tubuh Arley keluar dari dalam gorong-gorong, kondisi tubuhnya penuh dengan luka, terutama luka paling mendalam terlihat dari punggungnya yang bolong akibat serangan yang di luncurkan oleh Trimol.
“Tunggu sebentar ….” Saut seorang pria.
Belum sempat di masukkan kedalam kereta medis, seorang pria yang memiliki rambut perak menghampiri tubuh Arley yang penuh dengan luka.
“Hmmm … anak ini … tampaknya aku kenal dengan anak ini ….”
Pria tersebut mengenakan baju yang sangat rapih layaknya seorang Bangsawan, atau orang penting di kota ini.
“Benarkah demikian yang mulia tuan Lucas Novolski?”
“Ya, anak ini yang menyelamatkan anak ku kemarin … mengesankan, apakah anak ini yang mengalahkan Trimol ….?”
“Belum terkonfirmasi tuan, yang kami tahu hanya mereka bertiga saja yang berada di dalam ruangan dan tidak ada orang lain selain mereka bertiga di sana, tapi … kami melihat ada tanda-tanda orang lain yang berhasil melarikan diri dari tempat kejadian perkara tersebut. bisa di lihat dari bercak darah dan telapak sepatu yang berserakan di dalam ruangan tempat anak gadis itu kami temukan.”
“Bagus … lanjutkan penyelidikan dan tolong pisahkan anak ini dari mereka berdua … bawa dia kerumah ku ….”
“Siap laksanakan Tuan!”
Kemudian bergegas pihak kepolisian dan pihak medis menyelesaikan tugas mereka dalam mengungkap kasus perkara ini.
“Anak yang aneh … setiap kali ada dia, titik hitam di kota ini mulai muncul dan segera menghilang bagaikan kabut ….”
Ucap pria yang bernama Lucas tersebut, ya, Pria ini adalah ayah dari Vanilla yang merupakan Bangsawan dari Kerajaan [eXandia]. Jabatannya adalah Kepala kepolisian Ibu kota [Lebia]
Lalu tak lama kemudian, muncul seorang pria tua yang secara tiba-tiba datang menggunakan sihir teleportasi.
“Lucas …? Bagaimana permasalahan kasus ini, apa ada hubungannya dengan organisasi itu!?”
“Ya Tuhan !! Ahh … ayah, kau mengejutkan ku saja ….”
Sejenak raut wajah Lucas memucat namun beberapa saat kemudian kembali bugar.
Lalu sang pria tua melihat ke arah Arley yang masih tergeletak di lantai untuk menunggu kereta keluarga Novolski datang dan menjemputnya.
“Hmm?! Anak ini ....!!”
Tiba-tiba wajah sang kakek menjadi pucat dan ia langsung menyadari siapa Arley sebenarnya.
“Ayah mengenali anak ini!?!”
“Ya!! Beberapa waktu yang lalu aku melakukan perjalanan bersamanya untuk kembali ke [Lebia]. Namun karena ada panggilan yang sangat penting, aku meninggalkannya, dan saat aku kembali, ia telah menghilang dari tempat lokasi aku meninggalkannya!”
Seketika Lucas menjadi semakin tertarik dengan Arley, anak yang menyimpan beribu misteri.
“Hmm … aku tidak menyangka sang ‘Master Marlin ‘ bisa mengakui keberadaan anak ini … aku semakin tertarik dengan bocah berambut merah ini ayah.”
“Tunggu, biarlah aku yang membawanya ke lab, aku akan segera menyembuhkan luka anak ini sekarang juga!”
Sesaat Lucas tampak tak rela dengan pilihan yang Marlin ucapkan, namun dia tidak memiliki pilihan lain karena ia tahu Marlin adalah dokter terbaik di benua ini.
“… Baiklah ayah, namun setelah aku membereskan segala hal di sini, aku akan bergegas menuju lab mu untuk mengetahui siapa anak ini sebenarnya.”
Marlin pun lalu menganggukkan kepalanya untuk memberi kode bahwa ia setuju dengan saran dari Lucas.
Setelah percakapan ini selesai, Marlin lalu menggendong tubuh Arley dan dalam sekali kejapan mata, Marlin dan Arley langsung menghilang dari hadapan Lucas.
“Anak yang aneh … hmm aku jadi tertarik dengannya” Ucap Lucas dengan senyum yang hangat.
.
.
.
***
Saat itu … aku hanya melihat secercah cahaya yang sangat terang, lalu tanpa ku sadari aku membuka kedua mata ini dan yang pertama kali ada di hadapanku adalah sebuah jendela kamar yang sangat amat besar.
Uh … aku ada di mana ….?
Tubuhku masih terasa sangat berat, namun mataku bisa bergerak bebas, sesekali aku mengedipkan mata untuk menetralkan cahaya yang ada di hadapanku.
Beberapa saat kemudian aku baru sadar bahwa sinar matahari telah naik tinggi di langit.
Beberapa burung bisa aku lihat berada di luar jendela sana, mereka sedang menghinggap di ranting pohon yang telah kering dan rontok dedaunannya.
“Aku … masih hidup ….?”
Ucapku dengan kedua bibir ini untuk memastikan bahwa aku sedang baik-baik saja.
Lalu sebuah pintu yang amat lebar terbuka dengan sendirinya, masuk seorang kakek tua yang aku sangat kenal siapa kakek itu.
“Ah!! Kakek!!”
Wajah sang kakek terkejut dan ia langsung tersenyum lebar kepadaku.
“Ohh!! Kau sudah bangunt ternyata!!”
Dengan cekatan ia berlari ke arah ku sambil membawa baskom berisi air dan handuk.
Ya, kakek ini adalah kakek yang menghilang beberapa hari yang lalu setelah kami melakukan perjalanan bersama menuju ibu kota [Lebia !!].
.
.
.
Dengan demikian, muncul senyum hangat Arley dengan sendirinya, ia tampak lebih riang dibandingkan hari kemarin.
Ya, Seketika itu juga, Bongkahan es di dalam hati Arley hancur dan menguap bagai debu yang tertiup angin.
*****