
Not Edited!
Gemuruh suara terdengar dari luar Istana. Dari sebuah ruangan yang terbangun di lantai tiga Istana [Exandia], tampak Amylia, Misa, Aurum, Sophie, dan Helena sedang terduduk di kasur mereka masing-masing.
Mereka mereka berlima berada di ruangan yang jendelanya langsung menghadap ke arah Selatan Ibu Kota. Seluruh pemandangan dapat di lihat dari jendela tersebut. Akan tetapi, pemandangan yang terlihat jelas saat ini hanyalah pohon Kehidupan yang begitu rindang dan besar.
Situasi di dalam ruangan itu sangatlah keruh, sebagian dari mereka hanya menangis di atas kasur, dan yang lainnya melamun tak mengerjakan apapun.
“Haah … aku bosan …,” gumam Amylia sembari ia menatap ke luar jendela. Lantas, Amylia memalingkan wajahnya demi melihat sekitaran dirinya.
Terlihat Aurum tengah terduduk di atas kasurnya dengan wajah masam, dirinya di temani Helena yang duduk di atas pundak kirinya. Sedangkan Sophie tampak tidur tengkurap dengan suara tangisan yang terdengar jelas. Bantal tidurnya terlihat begitu basah dan becek.
Di lain sisi, Misa tampak menuliskan sesuatu pada kertas putih yang asik dirinya coreti.
Melihat perangai Misa yang mencurigakan, Amylia lalu berjalan mendekati Misa dengan diam-diam.
“Apa yang sedang kau tuliskan …?” tanya Amylia kepada Misa, yang saat itu masih menuliskan sesuatu di atas kertas putih itu.
Berhentilah Misa dari aktifitasnya, lalu ia melihat ke samping kanannya untuk berbicara dengan Amylia.
“Aku sedang membuat surat pendaftaran untuk masuk ke sekolah penyihir …,” jawab Misa dengan serius. Wajahnya sangat datar dan susah untuk di tebak oleh Amylia.
“He? kau masih ingin bersekolah? Padahal ilmu sihirmu lebih hebat dariku … kau sangat teladan,” puji Amylia kepada Misa.
Lantas, Misa terdiam sembari ia menatap kertas yang tengah ia tuliskan tersebut. “Aku … ingin menjadi seorang guru …,” jelasnya kepada Amylia.
Tersenyumlah Amylia, yang saat itu telah mengetahui apa yang Misa telah rencanakan. “Ah … kau butuh sertifikatnya ya?” tutur Amylia sembari ia menepuk punggung Misa. “Kalau kau mau, aku bisa buatkan kau sertifikat, dengan kualifikasi tingkatan Master, di kampung halamanku … aku memiliki seorang kakak yang dirinya dalah kepala sekolah—” belum selesai Amylia berbicara, Misa memotong pembicaraannya dengan tegas.
“Terima kasih, tapi aku tidak membutuhkan itu … kalau aku tidak mendapatkannya dengan kekuatanku sendiri, itu sama saja sia-sia. Aku akan mencapai tingkatan itu dengan usahaku sendiri,” jelas Misa, yang kala itu dirinya mulai kembali menuliskan surat untuk kedua sahabatnya.
Lagi-lagi Aurum tersenyum saat dirinya melihat tingkah laku Misa. “Ngomong-ngomong … usiamu sudah berapa tahun, Misa?”
Saat dirinya sedang serius menuliskan surat pendaftaran tersebut, tiba-tiba pertanyaan yang tabo bagi diri Misa terdengar di telinganya. Saat itu juga, tanpa di sengaja tubuh Misa bereaksi dengan sebuah kejutan pada tubuhnya. Tercoretlah lembaran kertas yang ada di atas meja tersebut.
“U-Umur …?” tutur Misa dengan nada enggan. Lantas, ia memutarkan kepalanya demi menghadap Amylia dan menyoroti wajah Amylia dengan pandangan kesal.
“A-ah! maafkan aku … jika itu menyinggung perasaanmu, aku rasa kau tak perlu menjawabnya,” ucap Amylia sembari ia melangkah mundur—tampak takut dengan wajah sang wanita berambut hitam.
Terhela sebuah napas panjang dari paru-paru Misa. Dirinya mulai berpikir, dan menghitung waktu yang telah lepas selama tujuh tahun terakir.
“Saat itu … umurku sekitar lima belas tahun …,” gumamnya sembari menatap langit. “sekarang umurku sekitar dua puluh dua tahun,” jelasnya kepada Amylia.
Kala itu, Amylia langsung terkejut setelah dirinya mengetahui umur Misa yang sebenarnya. “E-eh?! Dua puluh dua tahun?!” ucapnya dengan nada tinggi. “A-aku kira kita seumuran ….”
“Memangnya, umurmu berapa, wanita?” tanya Misa kepada Amylia.
Ketika itu, Amylia memandangi wajah Misa dengan serius. “Oh iya … kami semua belum pernah memperkenalkan diri kami kepadamu, ya, Misa?” cakap Amylia dengan ekspresi terlupa. “Perkenalkan, Namaku, Amylia Tsovinar Poseidon, Putri keempat dari Raja kerajaan [Atargatis].”
Lantas … Misa yang menyadari jika orang yang berada di depannya adalah seorang putri suatu kerajaan, langsung bangkit dari kursinya dan duduk di lantai.
“Maafkan diriku atas ketidak sopananku ini, yang mulia …,” ucap Misa dengan nada datar, juga ekspresi datarnya. Walaupun demikian, ia masih menampilkan rasa hormatnya kepada sang keturunan bangsawan.
“Ehh?! Kau tidak perlu formal seperti itu!” bentak Amylia yang langsung menarik tubuh Misa berdiri kembali. “Aku tidak suka hal-hal yang berbau formalitas seperti itu, aku lebih suka bebas, dan menjadi masyarakat normal!” Dengan semangatnya, Amylia menunjukkan jiwa petualangnya.
Menjulurlah tangan Misa, yang ketika itu juga ingin memperkenalkan dirinya secara benar. Amylia yang melihat itu, ia langsung menjabat tangan Misa dan menyambutnya dengan hangat.
“Perkenalkan, namaku Misa Albertus. Umur dua puluh dua tahun, tapi masih berjiwa lima belas tahun,” jawabnya dengan ekspresi serius.
Sontak, Amylia yang mendengar perkataan itu, lagsung terbahak-bahak dalam tawanya.
“L-lima belas tahun dalam jiwa? Pfft! Ahahaha!—” Ketika itu, Amylia tak bisa menghentikan tawanya yang terus menggema di koridor istana.
Ketika itu, terdapat seorang pelayan yang tengah melewati pintu kamar mereka, lantas, saat ia mendengar tertawaan Amylia yang membahana, dirinya langsung lekas pergi dan meninggalkan kamar itu sebab rasa takutnya.
Terus dan terus Amylia tertawa lepas, bahkan Misa yang masih memegangi tangan sang tuan putri, sampai memiringkan kepalanya sebab rasa bingung yang ia pendam.
“Aku suka! Aku suka dengan dirimu! Kau imut!” peluk Amylia yang ketika itu merasa senang dengan kepribadian Misa.
Didekapnyalah Misa dengan begitu Erat. Lalu, ia kembali tertawa terbahak-bahak mengingat perkataan Misa yang tadi.
Mendengar tertawaan Amylia yang tak kunjung berhenti, Aurum dan Sophie pun jadi tertarik dengan pembicaraan mereka berdua. Bangkitlah mereka berdua untuk mendengar apa yang sedang Amylia dan Sophie diskusikan.
“A … apa yang sedang kalian bicarakan …?” tanya Sophie dengan wajah lebam sehabis menangis
“Hey, dengar-dengar! Kalian bertiga, cepat duduk di sini!” panggil Amylia kepada ketiga sahabatnya kala itu. Sophie, Aurum, dan Helena pun langsung bergerak menuju kasur yang terjajar di samping meja tulis Misa. Dalam kondisi malas-malas mereka dua akhirnya duduk di kasur tersebut.
Saat ketiganya telah duduk di atas kasur tersebut, lantas, Amylia kembali menceritakan apa yang ia dan Misa perbincangkan tadi.
Ketika itu, saat mereka mendengarkan kisah yang Amylia ceritakan secara rinci kepada mereka bertiga. Tiba-tiba gelak tawa mereka ikut pecah, seisi ruangan itu pun langsung dipenuhi dengan keceriaan yang cukup instan.
“Apakah aku mengatakan hal yang salah …?” Kembali, tanya Misa yang masih tak tahu di mana letak lucu dari kalimatnya tadi.
Mendengar jawaban lugu Misa, seketika itu juga Sophie, Helena, dan Aurum langsung memeluk Misa dengan hangat.
“AAa! Kau sangat lucu, Misa! aku jadi gemas dengan dirimu!” ucap Aurum yang mulai kembali ke dirinya yang terdahulu.
“Ahahaha! Aku suka! Aku suka nanon! Kau orang yang menarik nanon!” cakap Helena yang tampak kembali ceria.
“Uuuu, aku tidak menyangka jika ada manusia yang selucu dirimu, Misa,” gumam Sophie, sembari ia mengelus-elus rambut Misa. Kala itu, Sophie sempat melupakah dua hal yang membuat hidupnya cukup sulit, dan hal ini cukup baik untuk dirinya. Sebab berlama-lama dalam kesedihan hanya akan menyusahkan jalan hidup.
Demikianlah kebahagiaan kecil ini tercipta di dalam sebuah kamar. Ternyata, gelak tawa pun bisa di cari, walau kondisi susah dan penat dalam hati, masih terasa sakit.
Segala kunci hati … ada pada sebuah tali … tali putih yang bernama: Persahabatan.
Demikian, tali persahabatan kelima wanita ini mulai terjalin dengan indah. Menanti masa depan mereka yang fana, demi mengubah takdir kehidupan mereka yang kelam.
Ketika mereka semua hanyut dalam canda tawa, tiba-tiba terdengar teriakan suara yang mereka kenal.
Bersambung!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -