
Not Edited !
Kembali ke tenda penginapan. Saat ini, terdapat dua orang yang tengah tidur di dalam tenda, sedangkan Arley dan Varra, mereka berdua menunggu di depan tenda bersama dengan si pria yang tadi di serang oleh Diamon Bear.
Arley duduk di atas sebuah batu yang cukup besar untuk di jadikan sebuah kursi, sedangkan Varra, dirinya terlihat mengobati luka, dari pria yang berambut jigrak, dan berpakaian serba merah itu.
Percikan api menemani mereka pada malam hari ini, suaranya menjadi lagu tersendiri, layaknya penenang bagi mereka yang nyawanya sempat hampir lepas dari tubuhnya.
Arley terus mengamati wajah si pria berbaju merah itu, tampak dari raut wajahnya, jika orang itu masih dalam kondisi trauma. Si remaja pun membuka omongan untuk mencairkan situasi. “Kalau boleh tahu, siapa nama kakak?” tanya Arley kepada pria yang lebih dewasa dari si remaja berambut merah.
Menolehlah sang pria, lalu ia melihat Arley dengan senyuman lesunya. “Rogue, Dyu Rogue,” ucap pria bermakna Rogue tersebut.
“Apakah, kau bermarga Rogue?” Arley cukup tertarik dengan nama pria satu ini.
“Tidak, aku tak memiliki marga … dahulu, saat aku diasuh oleh orang tua angkatku, mereka menamai diriku ini dengan nama mereka berdua. Ayahku bernama Dyu, dan ibuku bernama Rogue. Begitulah kisahnya.” Jelas Rogue kepada Arley.
“Nama yang bagus, kalau begitu, bisa kah aku memanggilmu, kak Rogue?” tanya Arley.
“Ka-kakak? Ahaha … jangan terlalu formal denganku, panggil saja Rogue,” ucapnya dengan suara yang parau.
“Baiklah kalau begitu, Rogue. Salam kenal, namaku Arley, Arley Tomtom, dan sahabatku, Hannya Varra.” Ketiak itu, Arley memperkenalkan dirinya, beserta Varra.
“Hanya Varra?” tanya Rogue. Tampaknya ia bingung dengan nama panjang Varra.
“Hahaha, kau bingung ya? aku dulu juga sempat bingung, tapi sekarang aku sudah memahaminya. Nama asli wanita ini benar-benar menggunakan kalimat Hannya, dan nama panjangnya, Hannya Varra.” Jelas Arley kepada Rogue.
Mendengar pembicaraan absurd kedua pria itu, Varra pun menekan luka Rogue yang sudah ia perban, menjeritlah Rogue sebab apa yang Varra lakukan. Tampaknya Varra tak suka namanya jadi bahan pembicaraan.
“M-maafkan aku,” tutur Rogue kepada Varra. Namun, Varra tak menjawab permintaan maaf Rogue, ia hanya melanjutkan pekerjaannya sampai benar-benar tuntas.
“Ngomong-ngomong, Varra.” Panggil Arley kepada si remaja wanita. “Apakah nama Varra, adalah margamu?”
“Tidak, aku tidak memiliki marga.” Kali ini Varra mau menjawab pertanyaan Arley. Rogue pun agak sedikit terasingkan di dalam lingkaran pembicaraan ini. “Sama seperti pria ini, nama yang aku gunakan, adalah nama dari orang yang dahulu sempat merawatku. Mereka dua-duanya adalah wanita, yang satunya bernama Hannya, dan yang satunya Varra. Demikian aku di kenal sebagai Varra, sampai saat ini.”
Arley sejenak terdiam, ia tampak berpikir keras terhadap pemberian nama atas orang-orang yang tak memiliki keluarga.
“Maafkan aku bertanya seperti ini, tetapi, apakah hal ini wajar untuk di gunakan? Maksudku, menggunakan nama orang yang mengasuh kalian untuk menjadi nama asli …,” ucap Arley, yang melontarkan pertanyaan.
“Aku rasa, ya, demikian.” Varra menjawab pertanyaan Arley. Lalu, kali ini Varra yang melontarkan pertanyaannya, kepada Rogue. “Kau pasti dulu tinggal di distrik Slump juga, kan?”
“He? kau juga dari Distrik Slump? Wah, ini sebuah kebetulan, aku sempat tinggal lama di sana, dan baru sekitar lima tahun belakangan ini, aku bisa tinggal di pusat kota.” Demikian, jawaban dari Rogue, berhasil mencairkan situasi menjadi lebih encer.
Tersenyumlah Arley, sebab ia berhasil membuka tembok penghalang di antara mereka bertiga.
“Baiklah, sekarang aku ingin ke pertanyaan utama.” Saat Arley melontarkan perkataanya tadi, suasana kembali memanas. Tetapi tak ada kecanggungan di antara mereka bertiga. Berdirilah Arley, da ia duduk di depan Rogue, yang ketika itu berada di bawah tanah. “Bisa kah kau menjelaskan kepada kami, mengapa kalian bisa di serang seperti tadi?” tanya Arley, dengan wajah merunduk—menatap ke lantai.
Rogue awalnya hanya terdiam, ia menatap api, sembari berusaha mengingat, kejadian menyeramkan yang baru saja ia lalui.
“Kami bertiga … awalnya hanya berencana untuk menantang diri kami sendiri, untuk mengasah kemampuan, agar bisa menjadi individu yang lebih hebat dan kuat,” tutur Rogue sambil ia melamun menatap kobaran api. “Dahulu, kami adalah Adventurer yang bekerja sendiri-sendiri, dan karena suatu kebetulan, kami bertiga dipertemukan, sampai akhirnya, kami bertiga memilih untuk membentuk Party.”
Sejenak Rogue menghela napasnya, dan ia pun kembali bercerita.
“Baru-baru ini, kami berhasil naik kelas, menjadi, Class D Silver Adventurer. Karena itulah, kami bertiga sepakat untuk mengambil Quest yang cukup sulit, yaitu: Subjugate Diamond Bear.” Merunduklah Rogue. “Aku kira, Party ini mampu mengalahkannya. Tetapi, karena kepemimpinannku yang ceroboh, dan pemikiranku yang sangat tidak dewasa, anggota Party-ku pun menjadi terkena imbasnya … ini semua terjadi, sebabnya karena salahku.” Rogue pun meneteskan air matanya, ia begitu merasa bersalah atas terlukanya kedua rekan Party.
“Tidak, aku rasa kau adalah Party Leader yang sangat baik.” Lantas, Arley langsung memberikan tanggapannya dengan jujur. “jika kau tidak berteriak kencang seperti tadi, dan hanya mementingkan keegoisanmu, aku rasa kalian tidak bisa berada di sini sekarang. Juga, kau rela mengorbankan nyawamu, hanya untuk melindungi kedua sahabatmu. Itu adalah hal yang sangat bijaksana, Rogue.” Bertubi-tubi Arley memberi semangat kepada Rogue.
Rogue pun termenung saat Arley memberikan komentarnya dengan cara yang unik. “Ahahaha! Aku tak pernah di puji sepanjang ini sebelumnya. Kau benar-benar anak yang aneh, Arley.” Sambil tertawa lepas, Rogue memberi rasa syukurnya kepada orang yang menyelamatkan nyawanya, juga kedua rekan Party-nya. “Tapi, sekali lagi, terima kasih. Aku benar-benar berhutang budi padamu!” Merunduklah Rogue, lalu ia memeluk Arley, yang duduk di hadapannya. Padahal ia belum selesai di obati oleh Varra.
“Tidak, aku hanya melakukan apa yang aku bisa,” ucap si remaja berambut merah.
Ketika itu, Varra yang melihat Arley di peluk oleh Rogue, langsung menggembungkan kedua pipinya. Tampaknya, Varra sedikit cemburu atas perbuatan, si pria berambut jigrak itu, terhadap Arley. Seketika itu juga, Varra menjolak Rogue dan memisahkan keduanya.
“Jangan peluk-peluk Arley sesukamu! Dasar bodoh! Booodooohh!” teriak Varra yang masih terilah cemburu.
“V-vara? Apa yang kau lakukan?” Arley pun sedikit terkejut atas perbuatan Varra.
“Wa-Waadaaaaaaaw!!” Untuk Rogue, kali ini luka pada wajahnya bertambah satu. Dan itu di sebabkan oleh dorongan Varra kepadanya.
“Hmph!” Varra tidak menghiraukan Rogue, ia hanya memluk Arley sambil menghapus kembali, perasaan cemburunya kepada pria satu itu.
“A … hahahaha~” Arley pun sedikit tertawa lepas atas kondisi mereka saat ini. Kedekatan di antara mereka bertiga pun bertambah menjadi semakin erat.
***
Varra sudah selesai mengobati Rogue, ketika itu, ia di perintahkan Arley untuk mengobati kedua orang lainnya, yang berada di dalam tenda.
Tak membantah perintah dari Arley, Varra pun langsung menjalankan tugasnya tanpa pikir panjang. Sedangkan Arley dan Rogue, mereka berdua duduk bersebelahan, bersender pada batu, dan menikmati hangatnya api unggun.
“Arley, kalau boleh tahu, bagaimana caramu mengalahkan monster beruang itu? Kok bisa, senjatamu menembus kulit kerasnya itu?” Perbincangan mereka berdua pun, lanjut. Ketika itu, Rogue mengangkat pedang raksasanya, dan ia menunjukkan sisi tajam dari Great Swordnya itu. “ini, bahkan pedangku sampai tumpul sedemikian rupa.”
Arley yang cukup tertarik dengan pedang raksasa itu, lantas ia mengecek seluruh bagian dari padanya. Pedang yang cukup massive, sisi gagangnya sangat panjang, dan terbuat dari besi murni. Bilahnya sendiri, terbuat dari besi Oycore, yang hanya di bisa di tempa, saat melawan gajah Oycore.
Gajah Oycore, adalah gajah yang hidup di dalam gunung berapi. Mereka memiliki kulit yang amat tebal, juga keras, yang bahkan lebih keras dari pada besi, dan sedikit lebih lembut dibandingkan Mytrhil.
Sedangkan Mythril, memiliki kadar kekerasan yang lebih lembut dibandingkan Diamond. Hal ini lah yang menjadi pertanyaan, Rogue, kepada Arley.
“Wah, benar … pedangmu sampai penyok-penyok seperti ini,” respon Arley.
“Bolehkah aku melihat pedangmu?” Ketika itu, rasa penasaran Rogue membuat dirinya sangat tertarik dengan rahasia di balik kekuatan Arley. Apakah itu senjatanya, atau memang orangnya sendiri yang sangat kuat.
“Ya~ silahkan.” Tanpa rasa ragu, Arley kemudian memberikan pedang Mythril itu kepada Rogue.
Diambillah pedang itu dari tangan Arley, lalu, Rogue menginspeksi setiap sisi dari pedang yang Arley miliki itu. Di mulai dari sisi gagangnya, lalu ia melihat bilah pedang tersebut, bahkan sampai pengaman dari pedang tersebut pun, ia perhatikan dengan sangat Detail.
“Heem, itu pedang Mytrhil biasa kok, aku baru mendapatkannya di toko besi, Otot Kembar.”
“HEE?! Otot Kembar?! Toko yang menjual barang-barnag langka itu?! Di mana kau menemukan toko itu?!” ujar Rogue yang terlihat begitu terkejut.
“H-he? sebegitu hebatnya kah toko besi itu?”
“Tentu saja! Itu adalah toko legendari yang pernah berdiri, di kota [Dorstom!]. Aku sudah mencari toko itu bertahun-tahun, tapi sampai sekarang, aku tak pernah menemukannya!” ucap Rogue yang sangat ekspresionis.
“A-ahahaha … aku rasa … aku hanya kebetulan saja menemukan toko itu.” Sedikit telah menyadari betapa hebatnya toko milik Foss itu, Arley memilih untuk merahasiakan toko itu, agar keributan tak di perpanjang.
“Apakah kau masih ingat lokasinya di mana?!” Dengan penuh paksaan, Rogue ingin mengetahui dimana lokasi toko itu berada, bahkan ia sampai menggoncang punggung Arley, menggunakan sedikit kekuatannya.
Sayangnya, Arley menjawab dengan hanya menggelengkan keplanya, dan ia mengunci mulutnya rapat-rapat.
“Be-begitu ya … maafkan aku, tampaknya aku teralalu berlebihan di sini.” Rogue pun merumputkan rasa gemparnya, dan di sinilah Arley baru menyadari, jika Rogue merupakan orang yang amat Polos. Tetapi Arley tak menyadari, jika dirinya lebih polos di bandingkan Rogue. “Tampaknya, isu yang beredar mengenai toko itu, ada benarnya.”
“Isu? Mengenai toko besi itu?” Kali ini, Arley yang sedikit membalikkan pertanyaan.
“Ya. Ada yang berkata, jika kalian pernah sekali kesana, maka toko itu akan berpindah tempat, ke sisi lain dari kota [Dorstom].” Jelas Rogue.
“T-toko apa itu? kok terdengar mengerikan? Seperti rumah hantu …,” gumam Arley dalam benaknya sendiri.
“Jadi, pedangmu hanya pedang Mytrhil murni ya?” tutur Rogue yang kembali ke track awal.
Menanggapi pertanyaan itu, kali ini Arley memasukkan kembali bilah pedangnya, ke dalam sarung besi yang juga memiliki bahan yang sejenis, dengan pedang berwarna putih kebiru-biruan itu. “Ya, ini hanya pedang Mytrhil.”
“Jadi, rahasia kekuatanmu, berada di dalam dirimu sendiri?” Rogue tampak masih belum menyerah untuk membongkar rahasia kekuatan Arley.
“Aku pun tak mengerti, Rogue.” Arley termenung sejenak. Kali ini, dialah yang melamun menatap kobaran api, sambil menikmati hangatnya temperatur, ia juga menyodok-nyodok tumpukan arang, supaya geliat api bertambah besar. “Saat itu, aku hanya berpikir, jika aku tidak cepat menghindar, maka serangan beruang itu akan mengenai diri ini. Dan di saa aku sadar, aku tiba-tiba berada di atas kepala beruang itu,” jelasnya dengan ringkas. “sungguh, aku tak mengetahui apa-apa. Tapi, di saat yang sama, segalanya terasa begitu lamban, dan ketika aku menebaskan pedang ini di kepala beruang itu, rasanya seperti, aku sedang memotong mentega batangan, dengan spatula masak. Benar-benar perasaan yang unik.”
Rogue mendengarkan penjelasan Arley dengan sangat seirus. Dan dirinya menyadari, jika yang hebat itu adalah orangnya sendiri, bukan senjata yang di gunakan. Tersenyumlah Rogue, dan ia sudah puas dengan penjelasan yang dirinya dapatkan. “Aku paham, akan aku ingat betul apa yang kau kisahkan tadi, Arley. Aku berharap, di kemudian hari, aku merasakan apa yang kau rasakan saat membunuh monster itu.”
Sampai di sini, percakapan mereka berdua pun usai. Kemudian, Varra pun keluar dari dalam tenda, dan ia bergabung bersama Arley kembali. Karena tugas Varra sudah selesai, Arley memperbolehkan Varra untuk beristirahat, tetapi, Varra malah lebih memilih untuk membersamai Arley, sampai pagi menjemput.
Demikian, ketiga orang ini, hanya duduk berdiam diri, menikmati unggun, sampai sinar matahari memasuki horizon.
.
.
.
***
.
.
.
Pagi telah menjemput. Tampak Rogue sudah terlelap, tak sadarkan diri, di atas tanah, dekat dengan Api unggun. Sedangkan Varra, ia berada di dekat Arley, atau lebih spesifiknya, ia menggunakan pangkuan Arley, sebagai alas bantal untuk dirinya bisa tertidur.
Kala itu, hanya Arley seoranglah yang tersadar penuh. Tak ada rasa kantuk sedikitpun pada matanya, ia hanya diam dan memandang ufuk timur, untuk melihat matahari terbit.
Saat ini, tangan kanan Arley sudah mulai bisa di gerakkan kembali. Dan Arley pun sudah tahu, jika yang menyebabkan tangan kananya lumpuh secara sesaat, adalah karenakan beradunya pedang Mytrhil Arley, dengan kulit Diamond sang beruang hitam.
“Sepertinya sedikit lagi, bisa berfungsi secara normal,” gumam Arley, sambil ia menjulurkan tangan kanannya, ke sela-sela pepohonan yang sebentar lagi akan di sinari oleh mentari pagi.
Sinar yang di tunggu pun muncul. Dari sela-sela jari Arley, masuklah cahaya matahari, yang menandakan jika waktu pagi telah tiba. “Baiklah, waktunya menyelesaikan Quest tiba.” Dengan tibanya pagi hari, Aktifitas baru pun akan di laksanakan.
Bangunlah semua orang, sebab cahaya segar menanti mereka semua, dan ini juga termasuk kedua orang yang tertidur di dalam tenda. Keempat orang yang sempat terlelap, secara bersamaan bangkit dari tempat tidur mereka, untuk menyelesaikan apa yang sempat tertunda.
Bersambung !
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------