
Not Edited!
Dari yang awalnya terasa begitu sepi sunyi, perlahan suara menggema yang tak tertahankan, menciptakan bahana yang sangat amat dahsyat.
Kondisi barat ibu kota [lebia], saat ini hampir tak tersisa sedikitpun. Seluruh bangungannya rata dengan tanah. Sedikit kawah tercipta akibat ledakan yang terbentuk sebab mantra sihir ‘Total Destruction,’ bahkan sampai menyentuh batas tembok pertahanan bagian Barat.
Perlahan, radiasi ledakan mengecil hingga lenyap dari permukaan bumi[Soros].
Dari atas langit, Rubius terjatuh bagaikan daun yang patah dari batang pohonnya. Dengan begitu cepat tubuhnya ditarik gravitasi. Kesadaran Rubius hampir hilang saat dirinya terjun bebas dari ketinggian sepuluh kilo meter di atas permukaan ibu kota [Lebia].
Badannya terombang-ambing tak karuan—menerpa debaran angin yang mencoba menghalangi posisi jatuhnya.
Adrenalin Rubius benar-benar terpompa keluar hingga membuat dirinya beberapa kali kehilangan kesadaran.
“S-sial … aku akan mati jika hal ini terus berlanjut …!” gumam Rubius dengan suara yang serak. Pita suaranya sangat perih untuk digunakan, namun jika Rubius tidak mengalihkan pikirannya, maka dirinya akan kembali kehilangan kesadaran.
Posisi jatuh yang sangat lama, membuat Rubius sudah beberapa menit bergelantungan di atas langit. Semakin lama ia terjatuh, maka semakin cepat masa laju tarikannya oleh gravitasi.
Dengan begitu tenang Rubius mencoba berpikir jerni. Tangan kirinya sedang memegang tongkat sihir, perlahan Rubius mengkondisikan dirinya untuk mengabaikan jika dirinya saat ini sedang terjatuh dari ketinggian.
Rubius membentangkan tubuhnya dan menghadapkan dirinya ke atas permukaan ibu kota [Lebia], untuk melihat seberapa jauh batas dirinya saat ini dengan permukaan tanah.
Betapa terkejutnya Rubius, ketika ia melihat permukaan Ibukota yang saat ini sudah porak poranda, hancur tak beraturan. Kota yang memiliki luas wilayah ± 600 kilometer itu, saat ini hampir berubah menjadi puing-puing reruntuhan yang tak berarti.
Menyadari kerusakan yang begitu parah, hal ini membangkitkan kesadaran Rubius untuk melindungi semua orang yang saat itu tengah menyelamatkan diri, bersembunyi di istana kerajaan, yang posisinya berada di sisi Utara ibu kota.
Rubius membidikkan tongkat sihir yang ia genggam, mengarah ke bagian bawah tubuhnya. Lalu Rubius merapalkan mantra yang sebelumya sempat ia gunakan untuk melarikan diri.
“Wind!”
Ucapnya sambil mengayunkan pelan tongkat sihir hitamnya itu ke bawah bumi[Soros]. Akan tetapi, Hanya ada pusaran angin kecil yang tercipta, sebab energi[Mana] yang Rubius miliki saat ini, tidaklah mencukupi manifestasi dari apa yang ia pikirkan untuk menciptakan pusaran angin yang besar.
Jarak tubuhnya semakin dekat dengan dataran tanah, kali ini Rubius mencoba kembali menenangkan dirinya. Ia menghirup udara di sekitarnya demi mengumpulkan Energi[Mana] yang berada di sekitar dirinya saat itu.
Setelah ia menghela napas beberapa kali, Rubius mulai mengeram tangan kanan, untuk merapalkan mantra sihirnya sekali lagi.
Ia arahkan tongkat sihirnya itu menuju permukaan bumi[Soros], lalu ia meneriakkan sihirnya sekali lagi dengan seluruh tenaganya yang tersisa.
“WIND!”
Pekik Rubius dengan tenggorokannya yang kala itu sedang luka. Darah kembali keluar dari kerongkongannya, tapi ia tidak mempedulikan hal tersebut. Begitu cepat pusaran angin terkumpul di depan pandangan Rubius. Bagaikan pusaran topan, Rubius berhasil menciptakan gejolak udara yang mampu menahan berat jatuh tubuhnya.
Walaupun daya jatuhnya mulai melamban, akan tetapi, memang tak bisa di pungkiri jika tubuh Rubius masih dalam kondisi yang begitu fatal jika dirinya saat ini terjatuh dalam kecepatan yang sedemikian laju.
“Gaaa! BERHEEENNTTIII!” pekik Rubius yang Adrenalinnya kembali terpacu ganas. Pusara Angin topan yang ia ciptakan—berputar dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Seluruh energi[Mana] yang ia miliki, langsung dirinya tumpahkan dalam mantranya yang terakhir tersebut. Terlihat sebuah reaksi positif yang Rubius ingin capai, tubuhnya mulai melamban dan tertahan sebab putaran angin yang tengah menghambat lajut tubuhnya.
Jarak antara dirinya dengan tanah bumi[Soros], hanya tersisa sepuluh meter saja. Terjatuhlan tubuh Rubius di atas permukaan tanah yang saat itu telah kosong melompong dari bangunan yang sempat memenuhi sekitarannya.
Tubuh Rubius terhantam dalam kondisi yang lumayan kuat, suara jatuhnya terdengar begitu nyaring, namun nyawanya terselamatkan. Walaupun … kala itu, beberapa tulangnya patah, sebab ia terjatuh dalam posisi yang kurang tepat.
Terpental-pental tubuh Rubius tak karuan, juga sempat dirinya berguling di atas tanah yang masih terasa hangat akibat radiasi ledakan yang dirinya sempat ciptakan.
Sakit yang Rubius rasakan, menghambat perputaran napasnya. Matanya berputar ke belakang saat dirinya tengah menahan sakit yang tak dapat di tahan. Tak ada suara yang keluar sebab rasa sakit yang dirinya rasakan saat ini.
Selain karena pita tenggorokannya yang sedang dalam kondisi gering, juga karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Kala itu, Rubius untuk pertama kalinya merasakan perasaan sakit yang tiada duanya.
Matanya melotot lebar, mulutnya terbuka tampak ingin menghirup udara segar, namun lara yang ia derita malah menambah sakit yang Rubius rasakan.
“Aagg!” ucapnya gelagapan demi menghirup sebongkah udara.
Beberapa menit Rubius berguling-guling di tanah, sampai pada akhirnya, rasa sakit yang ia derita, perlahan berubah menjadi kebas.
Terhela napas segar masuk kedalam paru-parunya. Kali ini, Rubius mampu menatap lagit dengan jelas.
“Aku … apakah diriku ini sedang bermimpi … apakah semuanya ini nyata …?” gumam Rubius, berharap segalanya hayalah mimpi di siang bolong, walaupun demikian, semua ini adalah sebuah kenyataan yang pahit.
Merasa puas berbaring di atas tanah yang kering, Rubius kemudian bangkit dari tidurnya yang sebentar. Memandang atanya menjelajahi Ibu Kota [Lebia] yang saat ini sudah beruah menjadi puing-puing bekas perang.
Sepanjang matanya memandang, Rubiu haya melihat tanah kosong yang menguapkan panas akibat mantra sihirnya.
“Apakah semua ini karena mantra sihirku …?” Tampak menyadari betapa gilanya mantra sihir ‘Total Destruction’ Rubius bersumpah untuk tidak menggunakan mantra sihir yang satu ini, jika dirinya tidak dalam kondisi yang darurat. “Aku harus mengingat kejadian ini … atau aku akan membuat kerusuhan yang lebih parah … pengalaman adalah guru terbaik, mungkin kalimat yang Kakek ajarkan kepadaku, ada benarnya juga …,”
Bangkitlah Rubius berdiri pada kedua kakinya, kemudian ia berjalan menuju sisi Utara Ibu Kota untuk mencari tubuh sahabat karibnya, Eadwig of Simbad.
Rubius berjalan dalam kondisi yang tertatih-tatih. Tidak bisa di pungkiri jika tubuhnya sedang dalam kondisi yang abnormal, Rasa kebas yang ada dalam dadanya membuat dirinya merasa aneh untuk menerima denyutan yang tak nyaman ketika getaran terjadi saat Rubius melangkahkan kakinya.
“Ahh … aku berharap ada orang yang bisa menyembuhkan lukaku ini …,” Lagi, Rubius berbicara pada dirinya sendiri untuk memalingkan perhatiannya.
Namun, Tiba-tiba terdengar suara lambaian udara berdesir di belakang tubuh Rubius. Langkah kaki sang remaja berambut hitam tersebut, secara instan langsung terhenti. Matanya kembali melotot dan keringat dinginnya mulai bercucuran kembali.
“T-tidak mungkin …!?” Ketika itu, Rubius langsung memutarkan tubuhnya demi melihat kecurigaan yang sedang melanda pikirannya.
Benar saja, gumpalan daging yang entah dari mana asalnya, mulai menyusun kembali sel-sel pada dirinya tersebut, dan membentuk sebuah postur tubuh yang tampak Rubius kenali.
Ya, Postur tubuh yang tinggi, sekitar tiga meter, dan merupakan seorang pria tua.
“Mustahil …!” teriak Rubius yang sudah kehabisan akal.
Dengan kondisi tanpa busana, secara instan tubuh Korfe terbentuk kembali. Dan dengan sekali jentikan tangan, baju yang Korfe sempat gunakan sebelumnya, langsung terpakai kembali dengan sempurna. Kondisi tubuh Korfe, pada Akhirnya sudah kembali seperti sedia kala!
Namun, Raut wajahnya tidak menunjukkan sebuah ekspresi kesenangan, melainkan Korfe menunjukkan ekspresi penyesalan, kesal, dan putus asa.
Ia melihat sekujur tubuhnya dengan saksama. Kemdian ia menghela napas dalam-dalam, dan mulai menggenggam kedua tangannya dengan perasaan amat kesal.
“Sepertinya … tidak ada cara lain kecuali menghancurkan segalanya …,” ucap Korfe dengan kerutan urat yang tertempel pada wajahnya.
Tubuh Rubius kembali bergetar, napasnya keluar dengan tidak beraturan. Ingin sekali Rubius menganggap jika semua ini hanyalah sebuah mimpi, tapi rasa nyeri pada tubuhnya menghambat pemikirannya yang absurd tersebut serta menariknya pada kenyataan.
Korfe kemudian menatap Rubius dengan sinis, ia sudah tak ingin bermain-main lagi dan ingin secepatnya menamatkan segala hal yang ada pada benak sang naga hitam tersebut.
Menjulurlah tangan kanan Korfe, dan jari telunjuknya mengarah menuju tubuh Rubis. Jarak mereka hanya berselisih tujuh meter dari tempat di mana mereka berdiri.
“Selamat tinggal, anak manusia …,” cakap Korfe dengan tatapan tajam dan menusuk.
Ketika itu, Korfe tampak merapalkan sebuah mantra dengan kedua pasang bibirnya. Akan tetapi, Rubius tidak mampu mendengar sepatah kata pun dari sang naga hitam.
Lantas, dari ujung jari telunjuk sang naga hitam, muncul sebuah cahaya berwarna ungu yang semakin lama semakin membesar. Dan ketika cahaya itu sudah membulat menjadi sebuah bola ungu yang amat terang, saat itu juga bola ungu tersebut terpecah dan menembak bagaikan laser.
Percikan cahaya yang amat panas menjalar memotong udara, serta merambat dengan begitu cepat menuju kepala Rubius.
Kala itu, Rubius sudah sangat yakin jika dirinya akan tamat di tempat tandus ini. “Ahh … mungkinkah ini akhir dari hidupku …?” Kalimat itu berdenging pada pikirannya.
Dan tiba-tiba pandangan Rubius menjadi gelap gulita.
Apakah Rubius bisa melewati masa kritisnya?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------