The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 63 : Pertarungan Sengit.



Suara tikus sesekali terdengar berdecit di sekitar gorong-gorong ber-aroma busuk ini.


Setelah aku membalas ejekannya, tak tampak lagi senyuman jahat dari pipi Trimol yang keras penuh dengan otot itu.


Perlahan aku bangkit dari duduk dan ku lepas tangan yang memegangi dada sebelah kiri ku, memang aku sengaja melakukan hal itu untuk menghibur Trimol.


Dengan kata lain, aku hanya menggoda nya saja.


"M-mustahil!? Mengapa kau masih hidup, seharusnya sihir ku sudah mengenai jantung mu!?!"


Dengan senyuman jahat yang masih tertempel di wajah, kemudian aku me-nonaktif kan sihir yang sebenarnya selama ini sudah aku gunakan untuk melindungi tubuh ku jika sesuatu terjadi pada diri ini saat pertarungan terjadi.


Tampaknya sihir ini berguna juga.


Keluar dari sela-sela bajuku cairan air yang membalut seluruh sisi tubuhku kecuali bagian yang tampak dari luar.


Ya aku melindungi tubuh ku sama seperti aku membalut kedua tanganku ketika menggunakan Mantra "Percutiens Aquae".


"Trimol, aku tahu mengapa kau memilih gorong-gorong ini sebagai tempat persembunyian mu ...."


Trimol melangkah mundur kebelakang ketika aku mengucapkan kalimat itu, tampaknya kalimat ku tepat sasaran.


"Aku tahu rahasia mengapa kau takut untuk beroperasi sendirian di luar sana, dan sebab mengapa kau selalu mencari anak buah yang bisa kau manfaatkan seperti ini. "


Lagi, wajah Trimol menunjukkan ekspresi ketakutan.


Lalu dari balik baju ku, perlahan aku menarik keluar sebuah benda kecil yang tersangkut di sela-sela kain akibat terlipat kusut.


"Kau ke gorong-gorong ini agar kau bisa menggunakan benda ini kan Trimol!"


Aku keluarkan batu kerikil yang ukurannya sangat kecil, benar sekali, sihir yang Trimol gunakan adalah sihir yang dapat mengendalikan elemen tanah.


Namun kota ini seluruhnya sudah terbalut dengan semen dan keramik, jika Trimol secara paksa menggunakan sihirnya maka dia akan secara cepat tertangkap pihak yang berwenang.


Demikian ini adalah alasan mengapa Trimol membutuhkan anak buah agar tindakan jahatnya berjalan dengan baik.


"Lihat lah Trimol ... Bahkan batu kerikil pun bisa membuat mu tersandung, sama dengan paman Pastel yang sekarang berada di dalam Rutan nya. Hmmm bukankah sekarang adalah waktu mu untuk ikut bergabung dengannya, Trimol ....?"


"Cih!"


Tanpa ku sadari ternyata Trimol lebih pengecut dari yang ku perkirakan, ia berlari masuk ke dalam gorong-gorong untuk mencoba melarikan diri dari serangan ku.


"Hey! Tunggu kau sialan!!"


Aku juga tidak akan meninggalkan dia begitu saja, dengan cepat aku mengikutinya dari belakang, namun gorong-gorong ini lebih gelap dari yang aku bayangkan.


Hampir-hampir aku tidak dapat melihat sama sekali, jika bukan karena percikan langkah kaki Trimol yang berada di depan ku, mungkin aku akan tersesat saat ini juga!.


***


Aku terus berlari lurus, sudah beberapa menit suara langkah kaki Trimol tidak terdengar, namun aku yakin ia berada di depan sana, berlari untuk menghilangkan jejaknya.


Beberapa saat kemudian sebongkah cahaya tampak di hadapan ku, ujung dari gorong-gorong ini telah tampak.


Namun aku di kejutkan dengan penampakan yang sangat luar biasa mengerikannya.


A-Apa ini!?! Apakah Trimol yang melakukan ini semua!!?!"


Aku telah keluar dari gorong-gorong, langkah kaki ini terhenti pada ujung tebing yang terjal, tebing ini menghantarkan ku pada sebuah ruangan yang sangat amat luas, di tambah penerangan di ruangan ini sangatlah menyilau kan.


Kalian mau tahu apa yang aku lihat?


Didalam ruangan yang memiliki lebar 100 meter turun ke bawah ini, banyak mayat yang di selimuti dengan batu kerikil yang entah dari mana asalnya.


S-sial!! Dia menjebak ku!


Kemudian dari tengah ruangan tersebut tampak wajah Trimol yang kembali tersenyum kejam dampak berhasilnya ia menjebakku untuk sampai ke lokasi ini.


"Yah hahaha!!! Hei bocah! Selamat datang di gerbang kematian!"


Cakapnya dengan kencang sambil melebarkan kedua tangannya bagaikan pertunjukan sirkus.


Saat itu, gorong-gorong di belakang ku langsung tertutup dengan batu kerikil yang menumpuk rapat.


Aku telah di permainan oleh Trimol.


"Terus, apakah aku harus tercengang dengan semua hal ini Trimol?"


Ucap ku sambil mencoba mencari nilai positif dari situasi yang sedang ku hadapi kali ini.


"hmmm ... Kau ini anak yang cukup aneh, reaksimu tidak seperti yang aku inginkan, aku kira kau akan lebih terkejut, tapi sudah lah, selepas ini kau pasti akan menangis dan merengek meminta tolong pada ibu mu di rumah!"


"Aku tidak peduli dengan rencana apa yang akan kau mainkan kali ini, aku datang kesini dengan niat untuk menangkap mu dengan cara apapun!! Camkan itu Trimol!


Saat berada di udara aku kemudian mengeluarkan tongkat sihir dan ku arahkan kepada Trimol sambil merapalkan mantra yang dapat membakar tubuhnya.


"Ohh mau main polisi-polisian sekarang huh!?!" Ucap Trimol sembari ikut mengeluarkan tongkat sihir nya.


Dalam posisi terjun bebas, baju ini berubah warna menjadi merah seketika itu juga.


"Parvus Coruscare !"


Muncul bola api yang tertembak dari ujung tongkat sihir ku, lalu dengan cepat api itu menghujam tubuh Trimol.


Tetapi tampaknya Trimol tidak akan semudah itu untuk di kalahan, ia menarik bebatuan kerikil dari sekitarnya untuk melindungi tubuhnya agar tidak terkena bom api yang amat panas tersebut.


"Hahaha hanya itu saja kah kekuatan mu bocah?!"


Seketika api yang aku luncurkan ke arahnya menguap seusai menabrak bebatuan kerikil yang menjadi tameng untuk Trimol.


Namun tidak berhenti di situ.


Trimol kemudian melancarkan serangannya dengan mantra yang ia teriakan lantang.


" Sharp Gravel ! "


Seketika itu juga bebatuan kerikil yang melindungi tubuh Trimol menumpuk menjadi objek besar dan berubah menjadi bebatuan lancip.


bebatuan itu bergerak menggeliat bagaikan benda cair yang ujung nya terlihat sangat runcing.


Tidak pandang bulu, dengan cekatan bebatuan itu berusaha menyerang tubuh mungil ku saat berada di udara.


Syukurnya tubuh ini punya refleks yang bagus, saat terjatuh bebas di udara, aku bermanufer hebat untuk menghindari serangan-serangan jahat yang dapat membunuh ku saat itu juga.


Jika aku sedikit saja lengah dari setiap tikaman batu yang siap menghujam tubuh ku, maka saat itu juga tamat riwayat ku ....


Lalu kaki ini dengan selamat mendarat di bebatuan kerikil yang ada di lantai ruangan, namun tampaknya Trimol tidak akan membuatku rileks sedikit pun.


Bebatuan yang ada di bawah kaki ku bergerak dan mulai menarik kaki ini agar aku tidak dapat bergerak bebas lagi.


Ini tidak bagus! di darat aku di kunci, di udara aku di serang.


Tapi tidak ada cara lain, dengan lantang aku ucapkan sihir angin yang bisa menghempas tubuh mungil ini ke udara.


"Gale Ventum!"


Dari dalam bebatuan kerikil di bawah kaki ku, tercipta pusaran angin yang kencang lalu menghempas ku terbang ke udara untuk menyelamatkan diri ini dari serangan brutal Trimol yang tak terputus dan tak berhenti-henti.


"Hei Trimol! Serangan mu sangat monoton! Aku rasa kau akan kalah dalam 2 langkah lagi!"


"Tch!"


Lalu Trimol mulai gegabah dengan apa yang ia Lakukan.


Dengan wajah kesal ia mengucapkan Mantra lain.


"Fire Trigger !"


Kemudian bebatuan yang mengejar ku tadi berubah menjadi gelora api yang di dalamnya ada bebatuan tajam yang amat panas.


Jika kita lihat dari atas, tampak seperti air yang berwarna merah menggeliat dan mencoba untuk menyerang dan membunuh ku.


Kondisi menjadi semakin panas, tentu saja karena sihir api ini di keluarkan secara besar-besaran.


Kondisi ini sesungguhnya sangat berbahaya, aku harus menyelesaikan ini semua dalam dua langkah, atau aku yang akan hancur dalam dua langkah terakhir ini.


Dari atas langit-langit ruangan, kemudian aku memilih untuk mempertaruhkan nyawa ku dengan Mantra sihir yang mungkin akan aku gunakan terakhir kali pada hari ini.


Ya, sihir yang baru sekali aku gunakan untuk mengalahkan musuh yang kuat.


Baju ku lalu berubah warna menjadi biru muda, lalu aku ucapkan mantra itu dengan lantang.


"Agros Glacies !"


Aku memejamkan mataku saat aku lantunkan mantra itu.


Namun ... Kali ini pertaruhanku gagal total ....


Huh?! Apa!?! Sial! sihir nya tidak keluar!?!


Mala petaka pun terjadi pada malam hari ini ....


*****