
Not Edited!
Terbaring di atas lantai yang terlapisi oleh kasur tipis, perlahan mata Arley terbuka bagaikan kesadarannya mulai mengisi sekujur tubuh yang masih telentang lemas.
Mengangkatlah badannya untuk mrlihat ke sekitar ruangan tidurnya, namun kondisi sudah sangat terang layaknya pagi-pagi biasanya.
"Mmmh ... sudah pagi ...?" gumam Arley sembari ia menggosok mata kirinya dengan punggung tangan yang seposisi.
Jendela terbuka lebar, sinar mentari masuk bagaikan penerang utama untuk ruangan tersebut. Perlahan ia bangkit setengah sadar untuk melihat lebih detail kondisi kamar tidurnya.
Ia menoleh ke atas kasur utama, namun Varra tak ada di sana. Bantal beserta selimut, telah tersusun rapi seperti semula.
Sejenak Arley terdiam, sambil memikirkan kejadian semalam.
"Apakah wajahku semenakutkan itu ...?" ucapnya sambil melihat kedua telapak tangannya.
Terdengarlah suara candaan yang cukup keras, dari luar kamar tidur sang remaja, tepatnya dari ruang tamu--kamar yang keluarga Tomtom sewa pada penginapan ini.
Beranjak Arley menuju sumber suara, dalam kondisi sempoyongan, setengah sadar. Setelah tuas pintu di buka, tampak tiga orang, tengah asik berbicara sambil duduk di atas permadani besar, yang merupakan alas dari tempat duduk ruangan tersebut.
Terdapat meja kayu yang memiliki panjang dua meter, dan lebar satu meter, terpasang di tengah permadani itu. Paman Radits dan Emaly tengah duduk di sebelah barat dari posisi meja, sedangkan Varra berada di samping Selatan dari tempat si paman duduk.
"Oh?! Kak Arley sudah bangun!" teriak Emaly yang kala itu tampak sebagai orang pertama--melihat Arley keluar dari pintu kamarnya.
Menolehlah paman Radits ke arah sebelah kanannya, sedangkan Varra memutar tubuhnya ke belakang, untuk melihat ruangan kamar Arley.
"Selamat pagi," sapa Arley kepada keluarga Tomtom, juga Varra.
"Selamat pagi~ tumben sekali bangun jam segini? Biasanya bangun lebih pagi untuk membaca Grimoire yang kamu pinjam dari Litta?" ujar sang Paman yang kala itu tengah memangku Emaly dalam posisi bersila.
Arley kemudian berjalan mendekati meja tersebut, dan ikut bergabung dengan anggota keluarga yang telah terlebih dahulu bangun di bandingkan dirinya.
"Aku sudah menamatkan buku itu kemarin pagi, tapi sepertinya tidak ada yang bisa aku petik dari isi buku itu, untuk membantuku agar bisa menggunakan sihir." Sambil menguap, Arley membalas pertanyaan paman Radits. "Ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan? Tampaknya sangat menyenangkan, sampai suara tertawa Varra bisa terdengar, masuk ke dalam kamarku."
"E-eh?! Sebesar itu kah suara tertawaku?!" Varra terlihat cukup terkejut saat ia mengetahui jika gelak tawanya tadi, ternyata cukup besar sampai menyebrangi sekat antar ruangan.
Arley mengangguk sambil ia menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal. Rambut tidurnya terlihat berantakan, juga tampak begitu kumal.
Memerahlah wajah Varra sembari bibirnya bergetar ketika ia menyadari kecerobohannya tadi. Sedangkan paman Radits hanya tersenyum sambil mengeluarkan keringat bingung.
"Kami hanya berdiskusi kecil mengenai persiapan untuk mencari barang dagangan," ujar sang paman sembari melihat ke atas meja.
Terdapat kalender beserta pensil kayu, tergeletak di atas meja kayu tersebut.
"Sudah di tentukan jadwalnya?" tanya Arley yang melihat kertas kalender itu.
"Paling tidak, sekitar dua atau tiga minggu lagi, baru kita bisa melakukan perjalanan," jelas Paman Radits. "banyak perlengkapan yang harus di siapkan, seperti persediaan makanan untuk hari pertama, sampai obat-obatn jika kita masuk dalam kondisi darurat."
Termenunglah Arley, mengingat kejadian saat mereka sekeluarga di larang masuk kedalam kota, padahal saat itu, Emaly tengah sakit parah.
Kondisi pun hening sejenak, namun sang paman, tiba-tiba berdiri demi tidak membuang-buang waktu lebih lama lagi. Sedangkan Emaly, si paman gendong dalam dekapannya.
"Karena Arley sudah bangun, sebaiknya kita bergegas pergi ke destinasi pertama!" cakap sang paman dengan semangat.
"Pergi ...?" Arley yang tak tahu apa-apa, langsung saja memasangkan wajah bingungnya. Ia sejenak menatap Varra dengan lugu. Akan tetapi, sang gadis hanya tersenyum, sembari ia berlari masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Aku tunggu di bawah ya, jangan lupa kunci ruangannya setelah keluar!" ujar sang paman, yang ketika itu pergi terlebih dahulu menuju lantai bawah, bersama Emaly.
Lantas, kondisi ruang tengah menjadi sepi dan sunyi, hanya Arley seorang diri yang berada di situ.
"He ...?" gumam Arley, yang saat itu sudah tersadar betul dari tidurnya, tetapi malah di tinggal sendirian di ruang tamu.
.
.
.
***
.
.
.
Tampak keramaian memenuhi kota [Dorstom] seperti biasanya. Tempat Penginapan Arley bersama keluarga Tomtom, memang tak begitu jauh dari pusat kota. Lebih tepatnya, berada di sisi, Barat Daya, dari pusat kota.
Namun, kali ini mereka melakukan perjalanan yang sedikit lebih jauh dari biasanya. Mereka berempat berjalan menuju sisi Tenggara dari pusat kota, untuk menghampiri sebuah toko yang terbilang, cukup rahasia, dibandingkan toko-toko biasanya.
Sudah setengah jam lebih Arley dan Varra mengikuti langkah kaki paman Radits, tetapi sampai saat ini juga, mereka masih belum sampai ke lokasi tujuan.
"Apakah masih jauh, Paman?" ujar Arley yang berjalan di samoing kiri, sang paman.
"Yaah~ ikuti saja pokoknya." Dengan nada yang sedikit mencurigakan, si paman tidak terlalu meyakinkan Arley dan Varra, posisi tempat yang mereka tuju ada di bagian mananya kota [Dorstom].
Setelah percakpaan itu usai ... sekitar lima menit kemudian, Arley beserta Varra kali ini di bawa menuju daerah yang cukup gelap dan sempit.
Jalan yang hanya muat satu orang untuk menapaki gang tersebut.
Dari jendela kaca, tampak toples-toples kaca berisi organ yang tak satu pun Arley mengetahui dari makhluk apa organ tersebut berasal.
Menenggaklah Varra menggunakan liurnya, saat ia melihat toples-toples menjijikkan itu. Namun Arley yang berjalan di belakangnya, langsung mendorong Varra untuk tidak berlama-lama di lokasi mengerikan ini.
Setelah lima belas menit mereka melewati gang sempit itu, sampailah Arley beserta keluarga Tomtom, pada lokasi yang di tuju.
Sebuah rumah kotak ... dengan luas, tidak lebih dari lima meter persegi, tampak berdiri sendiri di tengah-tengah lapangan kosong pada akhir dari gang yang Arley lewati itu.
Lapangan kecil, yang terletak di tengah-tengah kawasan rumah warga, tampak tersembunyi dan cukup unik.
"Ini kah tempatnya? Kenapa tokonya kecil sekali?" Tampak Arley sedikit meremehkan kondisi dari toko yang terlihat cukup tua itu.
Menolehlah paman Radits, melirik ke arah Arley, dengan senyuman liciknya.
"Jangan lihat dari luarnya, Ayo kita masuk kedalam." Tanpa basa-basi lagi, sang paman langsung masuk ke dalam toko dengan memutar tuas pintu berbentuk bola tersebut.
Terbukalah pintu menuju ke dalam. Dengan santainya sang paman menjejaki ruangan itu, seperti dirinya sudah berkali-kali berada di tempat aneh ini.
"Selamat pagi!" teriak sang paman, yang saat ini sudah memasuki ruangan. Sedangkan Arley dan Varra, tampak ragu-ragu untuk memasuki rumah satu ini.
Menataplah Arley dan Varra, menuju papan nama yang tersemat di atas toko berbentuk kotak tersebut.
Tertulis dalam bahasa [Hubert], pada kayu tersebut: 'Toko Pandai Besi, Otot Kembar!' dengan tinta hitam yang tebal, juga rapi.
Setelah puas menatap nama dari toko itu, Arley dan Varra pun saling menoleh pada wajah di antara mereka berdua, sebelum akhirnya mereka memberanikan diri untuk memasuki rumah aneh tersebut.
Arley maju terlebih dahulu ... tetapi Varra masih cukup bimbang, apakah ia harus ikut masuk atau tetap berada di luar ruangan.
"A-Arley, t-tunggu!" panggilnya sambil menjukurkan tangan.
Lantas ... ketika dirinya tinggal sendirian di luar ruangan, Varra pun menoleh ke sebelah kiri dan kanannya sebelum pada akhirnya ia merasa ketakutan, dan melompat masuk ke dalam ruangan.
Dengan semangatnya ia langsung menjejakkan kaki pada lantai kayu, rumah tersebut. Namun, saat dirinya melihat isi dari ruangan tersebut, mata Varra langsung berbinar-binar tak percaya, jika rumah yang tadinya hanya memiliki luas lima meter persegi, saat ini ruangan tersebut terlihat begi luas dan lebar.
Sekitar tiga puluh meter persegi, dengan tersusunnya etalase-etalase berisi berbagai macam perlengkapan perang.
"Huwaaa!" Saking bahagianya Varra ketika menatap isi ruangan yang terlihat begitu benderang, tak di sadari suara kagumnya lolos dari kerongkongan sang gadis.
"Selamat datang ...." Akan tetapi, raut wajah Varra langsung mengkerut ketakutan, saat dirinya disapa oleh seseorang dengan tubuh yang begitu besar, kekar, dan tak memiliki rambut sama sekali, alias botak. Namun, wajahnya sangat mirip dengan Gorila yang lepas dari kebun binatang.
"G-Gorila?!--" Seketika itu juga, saat mata mereka saling bertemu, tiba-tiba tubuh Varra mengejang, dan dirinya langsung pingsan di tempat.
"V-Varra?!" Paman Radits yang terkejut akan kejadian itu, langsung berlari untuk menangkap tubuh Varra yang perlahan jatuh.
Tetapi dalam sekejap mata, Arley sudah berada di belakang Varra untuk menahan tubuh sang gadis, agar dirinya tidak terjatuh.
Dengan kedua tangannya, Arley langsung menopang tubuh mungil Varra, dan mendekapnya agar tak terbanting secara kasar.
"Owh~ ya ampyun!" ucap sang Gorila tak berbulu, saat dirinya melihat kejadian itu.
Mata Arley langsung melotot, dirinya tak menyangka jika hal itu akan terjadi. Lantas, seketika itu juga Arley ikut pingsan di tempat.
Suasanya menjadi hening, Paman Radits, Emaly, dan di gorila tak berbulu hanya memandang bingung kedua orang yang satu ini.
Apakah yang mereka lakukan di toko ini? Dan mengapa orang yang satu ktu terlihat seperti Gorila tak berbulu?!
Bersambung!?
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------