
Not Edited!
Langkah kakinya terhenti mendadak, mata sang kakek melotot ketika melihat sosok sang pria berbadan besar tersebut.
“K-Kau …?! Kau masih hidup?!” tegas Marlin, yang tidak menyangka jika sosok pria di hadapannya tersebut merupakan sosok yang telah lama hilang, dan kini telah kembali pulang.
“Aku baru saja kembali dari petualanganku … jangan-jangan, semua orang mengira kalau aku telah mati ya …?” ucap sang pria dengan mudahnya.
“P-petualangan!? Dasar bodoh! Negara ini hampir saja hancur gara-gara pola pikirmu yang bodoh itu, Lenka!” teriak Marlin yang terlihat begitu marah dengan pria bernama, Lenka tersebut.
Tersenyumlah Lenka dengan lepas, dirinya sangat bersyukur karena masih ada manusia yang mengingat namanya.
“A … haha … sudah lama sekali aku tidak di panggil begitu,” ucap Lenka sambil mengelus rambut bagian belakang. Lantas, tak sengaja ia melihat orang yang tengah Marlin pikul. “Ehm? Ini, jangan-jangan …?” tanya Lenka.
Marlin menganggukkan kepalanya sembari ia membenarkan apa yang Lenka tengah pikirkan. “Benar … anak ini adalah Arley. Tapi kondisi tubuhnya sedang dalam masa yang kritis, ia masih bisa sadar seperti sekarang ini karena adrenalinnya saja.”
Terdiamlah Lenka, lalu ia menatap Arley dengan pandangan menilai. Setelah beberapa detik ia melihat tubuh Arley yang tengah terkulai lemas, tersenyumlah Lenka dengan bibir tipisnya itu. Tetapi senyumannya itu tak bertahan lama, sesaat kemudian wajahnya menampilkan ekspresi murung.
“Marlin … aku sudah membereskan pertempuran di laut selatan. Namun … nyawa kakek tak terselamatkan …,” jelas Lenka sembari ia merunduk pundung.
Marlin sangat terkejut ketika ia mendengar informasi itu. Tak ada sepatah kata pun yang bisa ia keluarkan untuk menenangkan Lenka, juga dirinya.
“A-Alexander telah tiada …?!” gumam Marlin dengan bibirnya yang gemetaran.
“Bukan hanya kakek … tetapi beberapa Raja yang lainnya juga telah tewas. Yang tersisa hanya Raja [Atargatis] dan Raja [Regalis]. Ketika aku sampai di sana, kondisi itu telah berlangsung,” jelas Lenka sambil tertunduk lesu. “Marlin … maafkan aku.”
“Albion …?” ujar Marlin, dengan nada bertanya
“Eh …?—” Lenka sedikit terkejut ketika Marlin mengajukan pertanyaan tersebut.
“Apakah kau melihat Albion di sana …? Juga, bagaimana dengan kondisi Stalin?”
“Paman Albion … dia baik-baik saja, walaupun ia sengaja menyembunyikan diri dengan menggunakan Armor yang menutupi seluruh tubuhnya. Untuk kasus yang satunya, aku tidak melihat keberadaan Pama Stalin sama sekali …,”
Mendengar informasi yang sangat menyenangkan hati tersebut, membuat Marlin merasa jika dunia ini masih menyisakan harapan yang tak terduga. Senyuman Marlin terbuka lebar kembali.
“Baguslah …! Aku berharap si bodoh itu menghilang saja dari dunia ini!” tegas Marlin sambil ia menurunkan Arley dari pundaknya. “Lenka, tolong bawa pergi bocah ingusan ini. Kemudian, selepasnya aku serahkan seluruh urusan kerajaan kepadamu, dan Lucas.”
Lenka terdiam dengan ratapan sedih, dirinya menyadari jika waktu Marlin dan Uskup Steven tidaklah banyak.
“Apa kau yakin dengan semua ini …? Bukankah kau ingin membasarkan Arley seorag diri?”
“Ini adalah takdir dari hidupku dan Steven, wahai pangeran yang hilang ... tak ada cara mati yang lebih aku inginkan, kecuali mati untuk melindungi tanah air ini!”
Berjalanlah Marlin memunggungi Lenka dan Arley, sejenak ia kembali berhenti untuk mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Ah iya, Lenka …! Jaga anak itu baik-baik … aku dan Steven telah berhasil memecahkan teka-teki pada buku itu, dan bocah ini …,” sejenak Marlin terdiam, lalu mulutnya komat-kamit membisikkan sesuatu kepada Lenka. Kemudian, Marlin melemparkan suatu benda yang di bungkus kain hitam kepada si pria berbadan bongsor tersebut, sebelum akhirnya ia memberikan kalimat terakhirnya. “Jika apa yang aku lakukan berjalan baik … maka, tolong sampaikan semua hal itu kepada bocah ini,” jelas Marlin sembari ia tersenyum lepas.
Tercenganglah Lenka ketika ia melihat senyuman kebahagiaan sang kakek yang dahulu telah mengajarinya dasar-dasar ilmu sihir. Kala itu, memori kenangan di antara mereka berputar kembali—membangkitkan rasa sedih yang tidak terduga ….
Tak sanggup menahan air mata, Lenka meneteskan butiran kesedihannya dengan senyuman pahit.
“Ya … aku pasti akan menyampaikannya ….”
Lantas, pria berbadan besar itu langsung mengangkat Arley dan menaruhnya di pundak sebelah kiri, seperti apa yang Marlin sempat lakukan pada Arley sebelumnya.
Terkejut ketika orang lain yang mengangkat badannya, kesadaran Arley mulai kembali setelah ia melihat tubuh Marlin berada di hadapannya.
“A-aw, -ha ...? K-Kenapa Marlin bisa berada ada di sana?” gumam Arley dengan penuh kebingungan.
“Oh! Sudah bangun?” Lenka bertanya kepada Arley sembari ia mempercepat laju larinya.
Terkejut dengan sosok asing yang membawa dirinya lari, Arley langsung ingin memberontak dan kembali ke tempat Marlin berada.
“Siapa kau?! Lepaskan aku! Apa yang Marlin pikirkan …!? Jangan-jangan …?!—”
“Jika kau tahu lebih dari itu … nyawamu bisa terancam juga, wahai Arley.”
Kondisi sunyi kembali terjadi. Ledakan demi ledakan terdengar membahana dari sudur Selatan. Lantas, tepikan kaki Lenka tak berhenti bergerak, sebelum akhirnya ia merapalkan mantra sihir yang bisa menerbangkan dirinya menuju sudut Utara ibu kota.
“Lavitation.”
Rapal Lenka, sembari ia mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam jubah putih yang ia kenakan kala itu.
Bagaikan bersatu dengan angin, melesatlah tubuh pria berbadan bongsor itu menuju istana kerajaan [eXandia] demi mengungsikan Arley dan menyatukan sang remaja bersama teman-temannya yang lain.
“Marlin … apakah kau benar-benar akan menggunakan sihir itu …?” Ketika Lenka melesat dengan cepat menuju sudut Utara ibu kota, dirinya sekilas melirik ke sudut utara demi melihat kondisi terakhir dari Sang guru yang telah mengajarinya banyak hal.
Terhentilah laju terbang sang pria bongsor, betapa tercengangnya ia ketika melihat lingkaran sihir terbesar yang pernah hadir dalam kehidupannya.
“I-ini …?!” teriaknya dengan lantang, sebelum akhirnya Lenka memilih segera terbang menjauh agar dirinya tidak terkena serangan bunuh diri tersebut. “Mereka benar-benar melakukannya …!?” gumam Lenka dalam hati.
Lantas … lingkaran Sihir berwarna emas yang muncul dari atas langit Selatan ibu kota [lebia], berputar dengan begitu cepat, sebelum akhirnya turun menuju ke atas pijakan orang yang merapalkannya.
Dari kejauhan, Lenka mendengar pekikan suara dua orang pria yang tengah merapalkan mantra terakhir mereka. Sebuah mantra terlarang, yang mengakibatkan daya hancur mengerikan, serta pengorbanan yang hanya bisa dibayar dengan nyawa dua orang penyihir tingkat tinggi.
Ya … sihir ini adalah mantra sihir original yang diciptakan oleh kedua cucu generasi ketiga, Merlin Stuart Jelinton, sang penyihir legendaris yang telah menjelajahi benua [Horus] Secara total.
Kemudian … dengan mantra sihir ini jugalah, sebuah generasi akan berakhir … dari generasi revolusioner, yang telah dipimpin oleh keturunan Hubert, menjadi sebuah generasi baru, yang tak tahu masa depannya akan seperti apa.
“Marlin! Apakah kau siap?!” ucap Steven, yang ketika itu sudah berada di dalam kerumunan Monster.
“Tentu saja! Wahai adikku yang genius!” tegas Marlin, yang sudah berdiri di samping Steven.
Kala itu … berteriaklah mereka berdua untuk merapalkan mantra sihir terakhir mereka … sembari menatap sudut Selatan ibu kota [Lebia], yang tembok pertahanannya telah runtuh sebab berbagai macam perkara telah terjadi padanya. Terbukalah seluruh Horizon sudut Selatan benua [Horus] yang ketika itu tengah di penuhi oleh berjuta-juta monstery—datang untuk menghancurkan benuia suci ini.
“Quantum Magic! Code : Soul of The Remnant! Original Spell : SCARLET HORIZON!”
Ketika itu … teriakan Marlin dan Steven … adalah sebuah rintikan masa depan, yang tak akan pernah dilupakan oleh sejarah umat manusia, maupun umat iblis, juga umat lainnya.
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------