The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 181 : Sisi Gelap Ilmu Sihir.



Not Edited!


Bagi mereka yang melihat kejadian itu, mau itu kaum Iblis, Manusia, atau pun kaum lainnya ….


Pandangan mereka menjadi sangat silau, genangan darah yang terbentang pada sudut horizon, memantulkan radiasi matahari yang perlahan turun pada sisi sebelah barat ibu kota.


Seluruh monster telah tewas. Mantra sihir Marlin dan Steven, berhasil menutup hari dengan kesenyapan.


Lenka yang telah sampai di atas langit istana kerajaan [eXandia], tak sengaja melihat kejadian bersejaharah itu, tepat di depan matanya. Mantra sihir yang hanya bisa dirapalkan oleh Marlin dan Steven, berhasil memusnahkan puluhan juta pasukan musuh, dalam hanya hitungan menit.


Matanya melotot lebar, tubuhnya bergetar tak karuan. Lenka tak yakin jika dirinya bisa melakukan hal yang sama, jika ia berada di posisi yang serupa dengan Marlin dan Steven.


“A-apa yang baru saja telah aku lihat …?” cakap Lenka dengan segala ke absurban yang terjadi.


Mantra yang Marlin dan Steven lantunkan, adalah sebuah mantra sihir yang akan membunuh seluruh musuh mereka, dengan hanya menatap pada horizon yang tertuju. Demikian, secara instan, ketika sihir itu bereaksi dengan sebuah getaran yang serupa dengan renyut Ultrasonic, seketika itu juga, musuh yang di tuju akan hancur berantakan.


Ketika Marlin dan Steven meluncurkan serangannya, Lenka melihat riak resonasi gelombang berwarna merah, meledak dari tempat di mana Marlin dan Steven berdiri. Seluruh musuh yang ada di dekat mereka berdua, langsung terpecah bagaikan balon berisi air tinta.


Resonasi itu terus bergerak mengarah ke sisi Selatan benua Horus, dan tidak tahu akan berakhir sampai di mana, resonasi itu akan berhenti.


Lantas, pembayaran yang harus di tunaikan untuk merapalkan mantra sihir ini adalah … nyawa sang pengguna, dan harus membutuhkan dua orang untuk bisa membayar denda yang di tanggung.


Inilah sisi gelap ilmu sihir, selalu ada timbal balik yang akan terjadi demi mendapatkan kekuatan yang setimpal.


.


.


.


***


.


.


.


Matahari telah tenggelam … malam baru saja tiba. akan tetapi, dari ufuk horizon bagian Selatan, terdengar suara huru-hara yang tidak asing di telinga Lenka.


“Tampaknya gelombang kedua akan segera berlangsung …,” gumam Lenka, yang saat ini berdiri tepat di depan pintu masuk bunker.


Mendengar suara yang tak asing di telinga mereka, Eadwig dan Rubius langsung membuka pintu bunker demi mengundang masuk, sang pemilik suara.


“Tuan Lenka, sudah saya duga anda akan segera sampai …,” ucap Eadwig dengan senyuman pada wajahnya. “Hm ...?! Bukankah itu Arley!? Mengapa dirinya bisa sampai seperti ini …?!”


“Arley …?!—” Tiba-tiba, ketiga orang lainnya keluar secara serempak, dari dalam pintu masuk bunker tersebut.


Eadwig dan Rubius yang kala itu sedang berdiri di depan pintu bunker, yang dalam kondisi setengah terbuka, langsung ditolak jatuh, tersungkur memandang lantai.


Tampak Aurum, Sophie, dan Amylia … tengah memasang raut wajah cemas mereka, selepas ketiganya menyadari jika Arley tengah dalam kondisi yang fatal.


“Ya Tuhan! Apa yang terjadi padamu, Arley?!—” Terkejut bukan main, Sophie dan Aurum langsung berlari mendekati sang remaja berambut merah tersebut, sembari mereka mulai bersedih hati.


“Kenapa harus kamu lagi yang menjadi seperti ini … Arley …,” ucap Sophie setelah dirinya melihat sekujur tubuh Arley.


Lenka yang menyadari jika mereka semua ini adalah sahabat dari si remaja ceroboh itu, langsung menidurkan Arley di bawah lantai.


“Kalian semua … tampaknya kalian semua mengenali Arley …,” tanya Lenka kepada mereka berlima.


Lantas, tiba-tiba Misa keluar dari dalam bunker, ia melirik ke tubuh Arley yang sudah dalam kondisi berantakan. Ketika itu, Misa mendengar pertanyaan Lenka. Juga, ia menyadari jika ada serangan lanjutan akan datang menghancurkan kota ini.


“Kami semua mengenalnya …,” ucap Misa dengan tegas. Meliriklah seluruh sahabat Arley memandang Misa dengan sinis. Tetapi, Misa tidak memedulikan mereka semua. “Bukankah ada hal yang mesti kau selesaikan?” tanya Misa kembali, kepada Lenka.


“Hmm, menarik … instingmu ternyata cukup pekat, sampai kau bisa mendengar huru-hara itu walaupun jaraknya masih cukup jauh,” puji Lenka kepada Misa yang terlihat lebih matang di bandingkan kelima sahabat Arley.


Namun Misa memilih diam, sembari ia menatap luka pada sekujur tubuh Arley. Berjalanlah Misa mendekat ke arah Arley.


Ketika itu, Lenka memilih meninggalkan sang remaja berambut merah, bersama teman-temannya. Namun, tiba-tiba Arley tersadar dan ia langsung bangkit dari tidurnya.


“Kakek Steven! Marlin!” pekik Arley yang seperti baru terbangun dari mimpi buruk. Menolehlah ia dengan liar ke sebelah kiri dan kanan. Namun dirinya tak menemukan orang yang sedang ia cari.


“Arley!” pekik Sophie dan Aurum serempak, setelah mereka merasa tenang menyadari jika Arley telah tersadar dari pingsannya.


Sejenak, Arley menatap seluruh wajah sahabatnya, lalu ia melihat ke pundak Lenka yang hendak pergi dari lokasi mereka saat itu.


“Tunggu!” panggil Arley kepada Lenka.


Berputalah haluan si pria berbadan bongsor itu, yang kali ini mulai berjalan menghadap ke tempat Arley terbaring. Ia kemudian duduk di samping Arley, sambil mulai mencari akal, bagaimana caranya agar dirinya bisa menyampaikan pesan yang Marlin telah mandatkan kepada dirinya, untuk di sampaikan kepada Arley, dengan kalimat yang tak menyakiti sang remaja.


“Bagaimana kondisimu saat ini, Arley?” cakap Lenka untuk memulai pembicaraannya.


Arley hanya terpanah bingung, menatap wajah Lenka yang hampir tak terlihat sebab cahaya malam.


“Glow,”


Misa yang menyadari jika pandangan mata Arley tengah terhalang oleh kurangnya cahaya, dirinya langsung merapalkan mantra yang mampu menghidupkan ujung tongkat sihirnya, bercahaya seperti obor darurat.


Terang dan terlihat jelaslah, pandangan mereka semua, pada malam hari itu.


Tampak wajah Lenka, yang perawakannya sangat mirip dengan Arley, walaupun ada beberapa titik yang tak sesuai dengan ciri-ciri sang remaja.


“K-kau?! Mengapa kau sangat mirip denganku?!” tanya Arley, dengan perasaan yang cukup terkejut sebab penampilan Lenka.


Tersenyumlah Lenka ketika ia mendengar ucapan dari sang remaja, lalu dirinya tertawa tipis sambil menutupi mulutnya dengan sopan.


“Aku tak menyangka, ungkapan pertamamu tentang diriku adalah itu,” cakapnya, sembari Lenka mengelus kepala Arley dengan penuh perhatian. “Hey, Arley … untuk saat ini, ingatlah siapa saja yang kau miliki. Di dunia ini … kau tidak sendirian ….”


Ketika Arley mendengar ucapan dari Lenka, dirinya sama sekali tak tahu apa maksud dari kalimat tersebut. Namun, Arley hanya diam dan menatap Lenka dengan tatapan bingung.


“Steven dan Marlin … mereka berdua mengorbankan segalanya hanya untuk negeri ini … ingatlah Arley, walaupun mereka sudah tiada … namun, jasa mereka masih tetap bersama kita,” ujar Lenka, yang ketika itu, dirinya langsung merogoh sesuatu dari kantungnya. kemudian, ia menggeletakkan kantung tersebut di dada Arley, dan ia langsung membisikkan segala hal yang harus dirinya sampaikan kepada Arley, sebab Mandat yang dirinya terima dari Marlin.


“Kau paham itu kan …? Wahai, Arley Gormik?” ucap Lenka, sebagai penutup dari perbincangan mereka berdua.


Berdirilah Lenka yang kala itu langsung meninggalkan Arley bersama teman-temannya.


“Lavitation,”


Tanpa memandang ke belakang, Lenka langsung melesat dengan kecepatan penuh, terbang menuju sisi Selatan Ibu Kota, untuk menghentikan gelombang kedua dari penyerangan benua [Horus].


Arley yang memandang pergi sang pria bernama Lenka, seketika itu juga meneteskan Air matanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“A-Arley?!” Aurum dan Sophie langsung panik ketika mereka melihat air mata sang remaja berambut merah itu.


Lalu, di dalam larutnya malam, terlihat gemilap ledakan dari sudut Selatan ibu kota [Lebia]. Di malam yang sunyi itu, Arley merasakan penderitaan yang kembali terulang, setelah kejadian tujuh tahun yang lepas, terasa bagaikan hal itu terjadi kemarin sore.


Saat itu, hanya sebuah kalimat terucap dari mulut sang remaja bermata hijau ….


“Ah … Kenapa bukan aku saja yang tewas ….”


Ucapan sang remaja kala itu, langsung membuat keenam orang yang berada di sampingnya menjadi sangat terkejut, dan cukup takut dengan kondisi, si rambut merah.


Apakah hal yang diceritakan Lenka kepada Arley? dan bagaimana semua kerusuhan ini akan teratasi?


Bersambung! ~


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------