The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 80 : Seleksi Tahap 2 (Babak 1).



Udara yang segar terhirup masuk kedalam hidungku~ Ahh betapa segarnya udara di pagi hari ini!


Masyarakat berlalu-lalang di sekitar Stadion sambil menikmati suasana Festival. Demikian sebelum aku masuk kedalam Arena untuk berlatih, aku menyempatkan diri untuk membeli roti kesukaanku!


Yups! Roti Bismon!! Roti dengan tekstur renyah pada bagian luarnya dan empuk pada bagian dalamnya~ Nyam. memikirkannya saja sudah membuat perutku bergetar.


Tak butuh waktu yang lama untuk menemukannya. Lokasi berjualan mereka ada di dekat pintu masuk Stadion, pada sisi bagian selatan.


Betapa ramainya kerumunan orang-orang di Arena ini, beberpa dari mekereka ada yang membawa keluarga untuk berlibur. Ada juga yang menggandeng kekasihnya untuk memadu kasih.


Memandang itu semua aku hanya tersenyum sambil mengunyah roti Bismonku sembari berjalan menuju pintu masuk Arena.


Langkah kakiku bergerak sambil menikmati harmonisnya kondisi kota. Sudah lama sekali aku tidak menyatu dalam keramaian seperti ini.


Beberapa instrumen musik bergulir mengikuti alur nada yang begtitu indah, demikian tidak ada bagian yang hampa pada festival kali ini.


Ketika kita melihat langit, maka kita akan mendapatkan betapa banyaknya burung-burung merpati yang terbang membentuk formasi. Kadang mereka turun untuk meminta makan pada warga yang berlalu-lalang.


Yap, sangat tenang dan damai. Dalam kehangatan ini terhembuslah angin yang melambai tudungku, hampir saja tudungku tersingkap ke belakang. Namun dengan menggunakan tangan kiri, aku menarik ujungnya dan menahan lambaian angin dengan perasaan bahagia.


***


Pintu masuk Arena masih tertutup rapat. Namun untuk kami para peserta, kami diperbolehkan untuk masuk ke dalam Arena melalui pintu peserta dan panitia.


Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 AM. Tinggal satu jam lagi sebelum pertandingan tahap 2 dimulai.


Sembari menunggu waktu berputar, aku duduk di ruang tunggu peserta. Kondisinya sangat sepi dan sunyi. Hanya beberapa orang saja yang datang kemari untuk melakukan pemanasan dan memperbaiki peralatan tempur mereka.


Jika dilihat-lihat lagi, ternyata ruangan ini cukup besar. Jelas saja jika kemarin ruangan ini terasa sangat padat. Bagaimana tidak? 2000 peserta dipaksa masuk kedalam ruangan ini dan menunggu panggilan panitia dalam kondisi saling senggol menyenggol.


Euh … memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Sudahlah mari kita mengganti topik pembicaraan kita saat ini.


Kertas berwarna coklat yang tengah kupegang ini akhirnya kubuka kembali. Didalamnya terdapat sepotong roti Bismon yang masih belum tersentuh. Aku mengambil roti tersebut lalu aku memakannya denngan begitu lahap.


Ahh, siapa jenius yang meracik roti ini sedemikian rupa, sampai-sampai roti ini bisa menjadi begitu nikmat? Aku akan memberikan apresiasi terbaikku untuk sang pencetus resep roti ini!


Potongan terakhir roti pada genggamanku dengan perlahan aku melahapnya dan mengunyahnya dengan santai. Kantung kertas yang kupegang akhirnya aku keremas dan aku gulung sebelum aku membuangnya ke bak sampah.


Berjalanlah aku menghampiri tong sampah yang ada di dekat pintu masuk ruangan pentagon ini. setelah aku membuang sampah tersebut, lalu aku berjalan menuju sisi lain dari ruangan ini untuk menghampiri meja yang di atasnya terdapat air minum gratis.


Tenggorokanku terasa begitu kering sampai-sampai aku sangat menginginkan menenggak segelas air yang dingin. Sesampainya aku dimeja tersebut, aku langsung mengambil cawan yang terbuat dari kayu dan mengisinya dengan air putih pada tabung granit yang berisi air mineral.


Aku taruh cawan itu di bawah tabung tersebut. Tepat di bagian bawah tabung tersebut ada sebuah pipa kecil yang terbuat dari kayu. Nah dari pipa tersebutlah air mineral akan keluar. Kemudian aku pencet tombol yang ada ditabung granit tersebut.


“Psssssh!” terdengar percikan air mengalir ke cawan kayu yang aku taruh pada moncong pipa kayu tersebut. Beberapa saat kemudian, gelas airku sudah terisi penuh dengan air mineral yang rasanya tampak begitu segar dan dingin!


Dengan nikmatnya aku menenggak air tersebut. Tenggakan demi tenggakan masuk kedalam kerongkonganku. Selepas itu aku sudah tidak merasakan dahaga sama sekali.


“Baiklah waktunya latihan …” Ucapku untuk memantapkan resolusi!


Lalu aku pergi menuju Arena pertandingan yang ketika itu masih lah terlihat sangat kosong. Begitu juga dengan tribun penonton. Kursi-kursi para penontonnya tidak ada yang menepati, aku sedikit canggung ketika melihat kondisi ini.


Aku melihat sekeliling Arena sambil mencoba mengingat kejadian kemarin. Namun tentu saja hal yang dibicarakan oleh Lily, sekecil apapun itu tidak dapat aku mengingatnya ….


“Kak Lily berkata bahwa pada saat aku bangkit dari keterpurukan … aku mengambil pedang milik Eadwig dan mulai bertingkah aneh ….” Gumamku sambil melihat telapak tangan yang terlihat sangat pucat.


Kugelengkan kepala ini untuk menghilangkan pola pikir negatif tadi. Kemudian aku menarik pedang yang terpasang dipinggang sebelah kiriku.


Kutarik pedang itu dari dalam sarungnya. Lalu aku angkat pedang itu kelangit sembari melihat setiap detil yang terukir dengan indah pada bagian pemisah antara bilah pedang dan gagang pedang.


Ukirannya begitu indah, ada lapisan berwarna emas yang terpasang membalut bagian perak dari ukiran tersebut. Lalu pada bagian tengahnya ada butiran mutiara kecil yang berwarna merah.


Lalu aku putar pedangku menuju ke tanah, kemudian aku fokus melihat pada bagian bawah gagang pedang itu.


Pada bagian bawahnya terdapat mutiara yang lebih besar dari pada bagian pemisah handle dan bilah pedang.


Mutiaranya mungkin sebesar dua buah jari jempol yang salingi dilekatkan. Batu mutiara itu memiliki warna yang sama dengan batu yang tertempel diukiran pemisah antara gagang dan bilah pedang.


Lalu, aku perhatikan bilah pedang yang tampak begitu mengkilau ini. Sejenak aku berfikir, aku mengingat ketika pertama kali aku menarik pedang ini dari dalam tumpukan pedang-pedang berkarat itu.


Kondisi bilah pedangnya sangat lah parah, bahkan seluruh lapisan luar bilah pedang ini terselimuti oleh karat yang meradang.


Namun lihatlah sekarang pedang ini! bentuknya begitu gemilang dan tampak elegan! Mungkin tidak akan ada yang percaya jika aku mendapatkan pedang ini secara cuma-cuma.


Setelah puas menatapnya. Lalu aku mengayunkan pedang itu menggunakan tangan kananku. Aku tebas pedang itu memotong angin yang hampa.


Ringan, sangatlah ringan! Aku tidak menyangka pedang yang tampaknya berat ini terasa begitu ringan ketika digoyangkan ke berbagai sisi!


Beberapa tebasan dan ayunan pedang sudah praktekkan. Sekarang aku menjadi lebih sedikit serius untuk berlatih sembari menguras waktu.


Aku tarik pedang itu dan dengan cepat mata bilahnya mengarah ke belakangku. Lalu aku menatap lurus ke-arah barat dari arena ini, dan secepat angin aku melompat ke depan, kemudian dengan sangat semangat aku menebaskan pedang ini dalam sekali tebasan.


“Bwush~!” Terbeset udara dari ujung bilah pedang ini. Demikianlah aku berhasil mengaktifkan skill “Gale Wind” yang telah aku latih saat aku berada di Universitas Kependetaan dahulu kala.


Okay, sekarang mari kita coba tes kelincahan tubuhku yang sudah lama tak pernah latihan pedang~


Kali ini aku menyilangkan bilah pedang ini dihadapanku. Kemudian aku berlari dengan kencang sambil melompat kesana kemari, sembari menyabetkan pedangku dengan lincah.


Sesekali aku melompat salto kebelakang sambil berputar 160 deraja, juga menebaskan pedang ini pada posisi yang susah untuk dilakukan. Hal ini untuk mengetahui apakah kelincahanku masih ada atau sudah mulai rapuh akibat tak pernah dilatih.


Namun dalam sekali percobaan, aku berhasil melakukannya! Salto kebelakang sambil berputar 160 derajat dan menebas pedang beberapa kali dalam kondisi tersebut! Yups~ aku masih bisa bermain pedang.


Usai sudah pemanasan yang aku lakukan, aku rasa waktu sudah berjalan cukup lama. Tubuhku mulai berekringat dan aku tidak akan melanjutkan latihan ini karena dapat menggangu staminaku saat bertarung nanti.


Akhirnya aku memilih untuk kembali masuk kedalam ruang tunggu peserta, agar aku bisa beristirahat sejenak sembari mengumpulkan energi yang hilang saat aku pemanasan tadi.


.


.


.


***


.


.


.


Sesampai nya aku di dalam ruang tunggu peserta. Ternyata sudah banyak orang yang berkumpul ditempat ini.


Ketika aku melihat ke jam yang tertempel di tengah ruang tunggu. Jam menunjukkan pukul 11.50, itu berarti dalam waktu 10 menit lagi pertandingan akan segera dimulai.


Berjalan aku ke meja yang menyediakan minuman gratis tadi. Lalu aku mengambil cawan kayu yang sebelumnya sudah pernah aku gunakan untuk minum.


***


Waktunya telah tiba. 10 menit telah terlewatkan dan saat nya kami semua masuk kedalam Arena pertandingnan.


Saat ini hanya tersisa tinggal 300 orang yang lolos masuk kedalam babak selanjutnya. Namun tampaknya yang hadir di seleksi tahap 2 kali ini tidaklah sebanyak itu.


Tampaknya ada beberapa orang yang dengan sengaja mengundurkan diri untuk tidak mengikuti seleksi tahap kedua ini. dan salah satunya adalah Maximus beserta ketiga temannya.


Sampai saat ini aku tidak dapat menemukan Maximus juga kawan-kawannya itu. Sudahlah, hal ini tak usah dipikirkan lebih lanjut.


Tribun penonton menjadi sangat ramai. Satu-persatu kami para peserta keluar dari dalam ruang tunggu menuju ke atas Arena.


Padat dan sangat riuh. Ahh aku mengingat keriuhan ini kemarin, dan hari ini aku mendengarkan hal yang sama lagi.


Setibanya kami semua di atas arena. Sepintas aku melihat Eadwig dan ke empat kawannya berdiri di pojok kanan Arena pertandingan.


Sedangkan representative dari negara lainnya mengambil tempat yang cukup terpencar. Namun sejauh ini aku melihat, tidak ada satupun diantara mereka yang anggota timnya gagal dan tertinggal pada seleksi tahap sebelumnya. Mereka semua berhasil masuk ke tahap kedua ini.


Yaah, aku sudah melihat kekuatan dari timnya Eadwig, jadi aku rasa pantas-pantas saja untuk menyebut kekuatan mereka setara dengan kesatria kelas kakap.


Tiba-tiba dari langit-langit arena muncul kaca transparan. Ini sudah menjadi sebuat tanda bahwa Michale akan segera hadir pada seleksi tahap kedua ini.


“Boom!!~” muncul bom asap yang berwara merah jambu secara mendadak tepat di atas layar kaca tersebut.


“Haaii para hadirin sekalian!! Kembali lagi bersama saya! seorang pembawa acara yang super ganteng dan nyentrik! Yapp!! Itulah diri saya, Michaleeee EEeeevancho!!!!” Teriak Michale yang datang secara tiba-tiba untuk membuka seleksi tahap kedua.


“Baiklah para hadirin sekalian, dalam seleksi tahap kedua ini, kelima raja kita tidak dapat menghadiri acara kali ini karena ada suatu sebab yang sangat amat penting untuk mereka kerjakan. Tetapi!!! kabar baiknya adalah kita dapat menyaksikan pertandingan ini lebih cepat dari jam yang seharusnya!!” Michale mulai berputar-putar serta berdansa sendiri di atas langit sana. Ia memberikan pertunjukan yang cukup menarik.


“Heyy kalian para peserta sekalian!! Selamat untuk kalian yang telah lulus masuk ke babak selanjutnya. Nah kali ini aku akan menjelaskan sistem seleksi di tahap kedua ini!.” Ucap Michale sembari merogoh kantung bajunya untuk menarik suatu benda.


Keluarlah seutas kertas dari kantung bajunya tersebut, lalu dengan lantang ia menjelaskan apa yang tertulis pada secarik kertas kecil tersebut.


“Yak! Seleksi tahap kedua adalah pertarungan antara Peserta melawan peserta, dengan kata lain ini hanyalah pertarungan 1 Vs 1. Pertandingan ini akan di bagi menjadi 5 Babak, dimana setiap babaknya akan menyaring setengah dari setiap peserta yang ada saat ini!.” Micahle menjelaskan segalanya dengan cara yang menarik. Kemudian ia melanjutkan penjelasannya.


“Dengan kata lain!~ pada seleksi tahap ke dua kali ini! kalian akan langsung terpotong menjadi lima besar pada tahap selanjutnya!! Itu berarti kesempatan kalian di babak kali ini hanyalah sekali!! Ingat!! Hanya sekali! Jadi gunakanlah kesempatan emas ini untuk lolos pada setiap babaknya! Kalian mendengar itu cecunguk sialan?!” Hujat Michale kepada kami. Walaupun demikian kami tahu jika ia hanya sedang bercanda.


“Okay, baiklah! Langsung saja kita melihat seleksi tahap kedua pada babak pertama ini. Yak!! Pada babak pertama ini, temanaya adalah Magic Vs Mele! Ohhh!!?! Kenapa bisa demikian?! Aku pun juga terkejut ketika melihat hal ini! Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, namun!! Peserta tahun ini terbagi menjadi dua kubu, yaitu 50% Penyihir dan 50% kesatria! Maka dari itu kami memilih tema yang paling ambigu yang pernah kami buat. Yapp!! Penyihir Melawan Kesatria!!!” Michale menjelaskannya dengan sangat semangat bahka air liurnya muncrat tak terkontrol.


“Kalian tahukan maksudnya?! Sudah berabad-abad lamanya kita tidak pernah mengetahui siapa yang paling kuat diantara penyihir dan kesatria. Maka dari itu!! pada malam hari ini!! aku berharap kita semua bisa mengetahui siapa yang paling hebat diantara kedua unit paling berpengaruh pada militer negara!!” Michale berputar mengelilingi Arena sambil memeriahkan festival.


“Okay lah! Mari kita langsung saja lihat tabel peserta yang akan bertanding pada hari ini!” Michale lalu menyodorkan tongkat sihrinya ke-arah kaca yang ia pijak.


Lalu dari kaca tersebut muncul table akar yang menunjukkan siapa melawan siapa. Perlahan aku mencari namaku. Dan tak butuh waktu yang lama, akhirnya aku langsung menemukan nomorku pada bagian paling atas ditabel akar tersebut.


Hal ini menandakan bahwa, aku adalah orang pertama yang akan bertanding dalam laga seleksi tahap dua babak pertama ini!.


“Untuk peserta pertama yang akan bertanding, tetaplah tinggal di atas arena. Dan untuk peserta yang tidak berkecimpungah dipertandingan pertama ini, harap untuk bergegas naik ke atas layar kaca sekarang juga!” Terang Michale dengan tegas.


Lalu secara tiba-tiba, kaca yang berada di atas kami, menurunkan setengah bagiannya melandai turun ketanah. Para peserta yang lainnya dengan cepat menaiki kaca tersebut, begitu mereka semua telah naik ke atas kaca transparan tersebut. Saat itu juga setengah kaca itu terbang naik ke atas arena dan menutup sempurna seperti semula.


Yang tersisa di Arena pertandingan ini hanyalah aku dan lawan tandingku yang merupakan seorang penyihir.


Ketika kondisi menjadi netral, pria yang akan menjadi lawan bertarungku terkejut ketika ia menyadari baha lawan tandingnya adalah seorang anak remaja.


“Ha?! Hei ini serius? Lawan tandingku adalah anak ini?! dek kau sudah meminta izin kedua orang tuamu kan untuk mengikuti seleksi ini?! ” Sang pria lalu tersenyum legah ketika ia mengetahui bahwa lawannya hanyalah seorang bocah berumur 13 tahun.


Tak menjawab perkataannya, aku hanya menarik bilah pedangku keluar dari sarung pedangnya. Seketika itu juga orang-orang terkagum dengan pedang yang aku genggam.


Bahkan penyihir di hadapanku ini, sejenak terlihat kaget selepas aku mengeluarkan pedang ini dari sarungnya.


“H-Hee … kau punya pedang yang cukup bagus, tapi apakah kau bisa mengalahkanku dengan hanya sebilah pedang itu saja?!” ucap sang penyihir pria dengan nada yang canggung.


Seketika itu juga sang pria mengeluarkan tongkat sihir yang tersemat dari dalam bajunya. Dengan sigap ia melompat mundur untuk mengatur jarak antara aku dan dirinya. tampak nya ia akan melakukan serangan jarak jauh dan bermain aman.


Tentu dugaanku benar, sang pria dari jarak yang cukup jauh merapalkan mantranya untuk memukul mundur diriku.


“Water Needle!! ”


Teriak sang pria dengan kencang. Secara tiba-tiba partikel air mengumpul dihadapan pria tersebut, lalu dengan sangat cepat, air yang terkumpul banyak itu menyerbu ke-arahku bagaikan peluru yang di tembakkan oleh pistol mesin.


Ribuan peluru air dengan cepatnya berupaya menghujani tubuhku yang terlihat ringkih ini.


Namun aku hanya berdiri tegap menatap semburan air yang akan menghantamku dalam waktu beberapa detik lagi.


Dengan secarik senyuman bahagia, kemudian aku berlari menggunakan sepertiga dari kekuatan lariku.


“Bats!~” dengan kecepatan udara, aku menghilang dari posisi dimana aku berdiri tadi.


“H-Ha!? Diaman bocah itu? A-apa!!?-“ terkejut bukan main. Sang penyihir pria langsung melirik kesebelah kirinya.


Tepat di hadapanya, aku sudah siap memukul kan pedang tumpulku telak ke-arah pinggang sang pria. Sekilas aku mengetahui jika mata sang pria melihat ke-arah bibirku yang tengah tersenyum dengan lebar ini.


Kemudian aku menatap ke arah mata sang pria, persis dari pantulan mata sang pria, aku bisa melihat senyuman kejamku terukir dengan jelas disana. Lalu mata hijauku terlihat bersinar dibalik tudung putih yang selalu aku kenakan ini.


“Keuh!! S-sial!!-“ seketika itu juga sang pria penyihir mencoba menahan seranganku dengan kedua tangannya. Namun segalanya sudah terlambat.


Saat itu juga seranganku masuk dan mengenai kedua tangan sang pria yang mencoba melindungi dirinya dari serangan pedang tumpulku ini.


Bagaikan karung jerami yang terpukul kuat, sang pria terhempas cukup kencang sampai ia terlempar keluar dari dalam arena. Tubuhnya menghantam tribun penonton sampai-sampai tepat di bebatuan bekas hantaman tubuh sang pria, terlihat ada retakan yang tercipta akibat kuatnya benturan yang tengah terjadi.


Sejenak aku terdiam di tempat. pikiranku masih mencerna tentang kejadian apa yang baru saja berlansung.


“-Prittt!!” bunyi peluit terdengar berdering dari atas arena. Kepalaku langsung mengarah ke atas dan melihat ke sumber dimana peluit itu di tiupkan.


Ternyata yang meniupkannya adalah Michale, demikian ia langsung mengumumkan pemenang dari pertandingan pertama di seleksi kedua pada babak pertama ini.


“Pemenangnya adalah!! Arley Benedict!!” Ucap Michale dengan tegas dan keras.


Walaupun peluit sudah ditiupkan, namun tak ada satu orangpun yang menyadari bahwa pertandingan baru saja selesai, begitu juga dengan diriku sendiri.


“T-tunggu dulu … ini sudah berakhir? Hanya seperti ini …? ” tanyaku kepada Michale.


“Sudah selesai! Hey Bocah, cepatlah naik! Pertandingan selanjutnya akan segera di mulai!” Michale tampak marah kepadaku


Lalu keriuhan langsung mengguncang Arena setelah Michale memberikan jawabannya yang sedikit sarkas.


“Heeee!!????” Dengan perasaan yang masih tak puas, aku berteriak sembari berjalan menuju tangga yang melandai turun sehabis peluit ditiupkan.


Demikian lah babak pertama telah selesai dengan gampang dan anti Klimaks.


***