
Not Edited!
Berdiri tegap, seorang pria dengan ciri-ciri yang mirip persis denegan Arley. Rambut merah darah, dan retina mata berwarna hijau. Kedua hal tersebut, benar-benar mirip dengan ciri-ciri Arley.
Namun, Kultinya tidak sepucat kulit Arley, bahkan kulitnya terlihat putih bagaikan salju.
Kala itu, Rubius dan Eadwig terpelongo heran dengan sosok sang pria yang saat itu tengah berdiri di hadapan mereka berdua.
“A-Arley …?!” ucap Rubius dan Eadwig secara bersamaan.
“Ahh … kalian mengira aku Arley ya … haha, tentu saja kalian mengira demikian.” Ketika itu, sang pria mengalihkan pandangannya menuju ke sumber serangan yang sedang ia tahan, lalu degan wajahnya yang berubah 180 derajat, sang pria langsung berubah serius secara instan. “Maaf, tunggu sebentar. Biarkan aku selesaikan nyawa iblis yang satu ini.”
Tiba-tiba, dengan sekali ayunan serangan, Cahaya ungu tersebut langsung membal, kembali menyerang kepada Korfe, sebagai makhluk yang menciptakan serangan tersbut.
Diluar dugaan, serangan yang Korfe lontarkan kepada Rubius dan Eadwig, hanya seperti sebuah permainan, bisa di pentalkan kembali hanya dalam satu kali ayunan tangan.
Meledaklah cahaya berwarna ungu tersebut, ketika serangan itu mengenai Korfe kembali. Terdengar teriakan yang begitu membahana dari arah Korfe berdiri. Secara perlahan suara itu menghilang dan setelah kabut yang diakibatkan serangan itu pudar, benar saja, tak tapak lagi jasad Korfe di hadapan mereka.
“Haah, betapa bodohnya dia … padahal kalau dirinya ingin mati, dia tinggal menembakkan saja serangannya itu ke tubuhnya sendiri,” ucap sang pria misterius sembari ia memutarkan badannya menghadap ke arah RUbius dan Eadwig.
“Ma-maksudnya …?” tanya RUbius yang terheran-heran.
“Mmm, perumpamaannya seperti ini; Jika ada tombak yang terkuat di dunia, lalu di adu dengan tameng yang terkuat di dunia, maka siapakah yang akan lebih hancur duluan?” tanya sang pria misterius kepada Rubius dan Eadwig.
Kala itu, Eadwig dan Rubius langsung saling memandang dengan ekspresi kebingungan.
“Err … keduanya hancur?” Jawab Rubius dengan logika polosnya.
“Benar! Lihat, tidak begitu sulit bukan?” kata si pria misterius sembari ia merunduk ke arah Edwig dan Rubius.
Sedangkan Rubius dan Eadwig masih belum mengerti maksud dari pertanyaan dan jawaban sang pria misterius. Beberapa saat keheningan terjadi, Eadwig dan Rubius memikirkan hal tersebut beruang kali, sampai akhirnya mereka berdau mengerti maksud sang pria misterius.
“Ah! Aku paham!” ucap mereka berdua secara serempak.
Namun, ada pertanyaan lain yang Eadwig ingin sampaikan kepada sang pria misterius.
“Ehm … maafkan aku menanyakan hal ini sebelumnya. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Edwig dengan penuh keseriusan.
“Hmm …,” Sang pria mengelus dagunya seperti sedang berpikir keras. “Ah! aku ingat! Kau adalah pria yang terpingsan di gereja perpustakaan kan?! Ya-ya! haha! Syukurlah kau baik-baik saja!” Dengan cerianya sang pria misterius memukul pundak Eadwig.
“Ternyata benar …,” gumam Eadwig yang ketika itu telah puas dengan salah satu pertanyaannya. “Maafkan aku lagi, tapi aku memiliki pertanyaan nomor dua …,” ucap Eadwig, kembali dengan wajah seriusnya. “Sebenarnya kau ini siapa …?”
Mendengar pertanyaan tersebut, sang pria langsung tersenyum tipis, sebelum akhirya ia menunjukkan gigi-gigi putihnya yang indah.
“Pertanyaan yang bagus …,” jawab sang pria berambut merah. “aku ini adalah ….”
Dari kejauhan, tampak wajah RUbius dan Eadwig terpelongo lebar, bahkan lebih terkejut dibandingkan serangan Korfe yang hampir membunuh mereka berdua ….
Sebenarnya siapa pria misterius ini …?
.
.
.
***
.
.
.
Jauh di sudut Selatan. Tepatnya di pintu masuk utama, Ibu Kota [Lebia]. Berjuta-juta monster, menyerobot ingin masuk dan menghancurkan kota sebab perintah raja iblis.
Marlin dan Uskup Steven, dengan begitu menggelegar—mereka masih mempertahankan seluruh yang tersisa dari ibu kota, dengan mempertaruhkan nyawa mereka.
Di lain sisi, Arley yang jaraknya hanya berkisar satu kilometer dari tempat di mana Marlin dan Uskup Steven terbang, masih berdebat panjang dengan Ifrit serta Zorman.
Kala itu, Ifrit dan Zorman ingin sekali melarikan diri dari tempat di mana mereka berdiri saat itu. mereka menyadari jika kekuatan mereka berdua tidak akan mampu mengalahkan Arley bagaimanapun caranya.
“Hey … apa yang sembunyikan dariku … siapa wanita di dalam karung beras itu …?” tanya Arley dengan nada mengintimidasi.
Namun, dari satu jam yang lalu, tidak ada pertanyaan yang di jawab oleh mereka berdua ….
***
Satu jam yang lampau.
“Jadi … apa yang kalian berhasil menyelesaikan misi kalian …?” tanya Arley kepada Ifrit.
“Heh … aku tak perlu menjawab pertanyaanmu itu!” di lain sisi, Zorman menjawab pertanyaan Arley.
Melirklah Arley menatapi wajah Sang succubus biru bernama Zorman tersebut. “Ahh … jadi kalian berhasil …,” ucap Arley yang menjawab pertanyaannya sendiri.
Menyadari jika Arley memiliki mantra sihir yang Absurd, Ifrit langsung memperingatkan Zorman untuk berhenti berbicara.
“Zorman! Jagan berbicara sepatah katapun! Ini perintah!” dengan keringat dingin, Ifrit melirik ke sana dan kemari untuk kabur dan melabuhi Arley dari kejarannya.
“Hoo … ingin kabur ya?” tanya Arley kembali.
Namun, kali ini mereka berdua tidak mejawab pertanyaan Arley, mereka hanya mencari sela untuk segera kabur dari ibu kota ini.
Tersenyumlah Arley sambil membidikkan tongkat sihirnya menghadap ke kepala Zorman. “Jika kau tidak menjawab pertanyaanku, maka aku akan meledakkan kepalamu itu, wahai iblis biru.” Ancam Arley sembari ia membuka kelopak matanya lebar-lebar.
“Hii!” Zorman ketakutan ketika melihat ekspresi Arley. Namun, setidaknya Zorman mengeluarkan suara dari tenggorokannya.
“Ohh~ begitu ternyata. Hmm, setelah kalian mendapatkan target kalian, maka kalian di perintahkan langsung mundur oleh yang mulia … betapa liciknya bangsa iblis …,” gumam Arley yang mengetahui apa yang Zorman pikirkan.
“Sudah aku duga! Anak ini memiliki mantra pembaca pikiran!” gumam Ifrit dalam benaknya. “ini tidak baik, aku harus segera keluar dari negeri ini, atau semua rencana kami akan ketahuan!” Demikian, Setelah kesadarannya dengan mantra pembaca pikiran yang Arley miliki, semenjak itu, seluruh pertanyaan Arley tidak di jawab kembali oleh Ifrit ataupun Zorman.
Setelah itu, satujam berlalu dengan cepat.
***
Kembali ke waktu saat ini ….
Ifrit dan Zorman masih tidak menjawab pertanyaan Arley, lantas cara terakhirpun Arley lancarkan untuk mengetahui siapa orang yang kedua iblis ini culik.
Mengarahlah tongkat sihri Arley menghadap ke kepala Zorman, lalu secara cepat Arley menanyakan pertanyaannya.
“Hey … Siapa orang yang ada di dalam karung itu …,” dengan nada dingin, Arley menanyakan pertanyaan tersebut. Lalu, dengan cepat dan akurat, Arley menembakkan bola api, tepat dan sengaja untuk meleset di samping kiri, dari kepala Zorman.
“Hii!” Lagi, Zorman tak sengaja mengeluarkan sepatah kata.
Dengan demikian, Arley langsung mengetahui siapa sebenarnya orang yang sedang di culik oleh mereka berdua.
Mata Arley melotot, jantungnya berdebar kencang, juga emosinya bergejolak. Keluarlah pertanyaan Arley yang terakhir, yang akan menentukan nasib kedua iblis tersebut.
“Hey … ini pertanyaan terakhirku,” dengan suara yang begitu dalam, Arley merundukkan kepalanya sedikit. “kalian berdua … apakah ini perintah raja kalian, untuk menculi Lily?”
Terkejut bukan main, Ifrit dan Zorman tak menyangka jika penculikan yang mereka lakukan akan menimbulkan amukan orang yang paling berbahaya di dunia ini.
Apakah yang para iblis itu inginkan sampai mereka ingin menculik Lily?! Dan akankan niatan mereka itu terkabul?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------