
not Edited!
Tergengam sebilah pedang hitam legam di kedua tangan Arley. pedang dengan desain unik, yang penuh dengan ukiran pada bilah besinya. Tampak begitu kuno dan bahkan terbilang antik.
Gagangnya terlilit sebuah kulit yang tampak bersisik, layaknya kulit ular. Sedangkan pada bagian, Cross Guard-nya, terlihat cukup besar dan membentuk bulat, juga ada lubang di tengah-tengahnya. Pada bagian bilah pedang hitam itu, terlihat potongan tajam pada besinya, potongan itu membentuk gerigi yang sepertinya sengaja di buat untuk memberikan karakteristik pada senjata satu ini.
Sebuah senjata artistik, yang tiada duanya.
Mata paman Radits langsung melotot lebar. Ia tak menyangka jika dirinya akan melihat senjata itu lagi, senjata yang dikisahkan memiliki kutukan untuk orang yang menggunakannya. Sebagai pertukaran untuk mendapatkan kekuatan lebih, maka nyawa dari sang penggunanya akan di tumbalkan sebagai denda dari pertukaran tersebut.
Melompatlah kepala paman Radits langsung menatap wajah Foss. Mereka berdua saling melotot saat Arley membawakan pedang itu kepada mereka.
“Jangan … hentikan,” ucap paman Radits yang mengetahui apa yang Foss pikirkan. Namun, saat itu juga sang pria berwajah gorila itu langsung melompat dari kursi kasirnya dan mendarat tepat di depan Arley berdiri.
Terkejut melihat pergerakan cepat Foss, paman Radits langsung mengeluarkan pisau kecilnya dari sarung pisau, yang sengaja ia sematkan di tali pinggang sebelah kanan, untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi. Saat itu juga ia menaruh Emaly di lantai agar sang balita tak terjatuh dari atas meja.
Foss sudah berdiri di depan Arley, tentu saja Arley tak tahu menahu mengapa Foss dan paman Radits terlihat begitu kalut. Sang remaja memasang wajah terkejut saat Foss berdiri di hadapannya.
“H-He? Ada apa ini?” gumam Arley, sambil ia memiringkan kepala untuk melihat paman Radits.
Akan tetapi, tiba-tiba paman Radits sudah berdiri di hadapannya dengan kuda-kuda bertaham. Arley tambah terkejut saat diriya melihat kejadian ini, tentu saja Varra pun langsung terhenti dari langkahnya, saat dirinya berjalan menuju meja kasir.
“Mundur Arley!” teriak paman Radits dengan wajah kesal. Tak pernah melihat reaksi kesal dari sang paman, dan baru kali ini ia mendengar suara tinggi dari pria paruh baya itu, tentu saja Arley langsung termundur dari berdirinya, menjalankan perintah dari sang paman. “Foss, hentikan! Anak ini tak tahu apa-apa mengenai hal itu, jangan renggut masa depannya hanya gara-gara hal bodoh seperti ini.”
“Hal yang bodoh? Bagaimana jadinya kalau anak ini memiliki niat buruk. Kau tahu sendirikan akibatnya, seandainya senjata ini digunakan oleh orang yang salah?” Tiba-tiba Foss menggeramkan tangannya untuk mengejangkan setiap otot pada lengannya.
Paman Radits langsung mendecakkan bibirnya saat ia melihat pergerakan dari foss. “Aku tahu anak ini! dia adalah anak yang sangat baik, dan mustahil jika anak ini akan berbuat jahat. Aku sendiri yang akan menjaminnya! Atas namaku dan persahabatan kita, akan aku pastikan masa depan anak ini baik-baik saja!” teriak paman Radits sambil menyilangkan kedua tangannya seperti kuda-kuda seorang Assasins.
“Terlambat, Tom! Pedang itu sudah ia pegang, dan tampaknya dia memiliki kecocokan yang sangat luar biasa dengan pedang ini. Dengan kata lain, pedang terkutuk itu sudah memilih pemilik barunya, tidak ada cara lain kecuali membunuh anak ini sebelum kejadian yang serupa terjadi lagi pada Benua ini.” Telah hilang nada gemulai dari suara Foss, kali ini ia terlihat begitu macho dan garang. Benar-benar seperti Gorila yang tengah marah besar.
“Omong kosong, Foss! Kita tidak tahu bagaimana masa depan akan menghampiri kita, jagan seenaknya memasukkan pemikiranmu kepada anak ini!”
“Kau terlalu lunak, Tom! Tidakkah kau ingat kejadian dua puluh tahun yang lalu?! Ingat apa yang telah pedang terkutuk ini lakukan kepada orang itu?! Ooo aku masih mengingat kejadian itu, tampak begitu jelas layaknya kemarin sore!” ucap Foss sambil ia mengepal kedua tinjunya, dan merenggeramnya untuk menjentikkan setiap sendi pada jarinya. “Maaf, Tom! Tapi aku masih menaruh dendam dengan pedang ini! Jangan kau membuat pengorbanan orang itu menjadi sia-sia!”
Meluap amarah yang begitu luar biasa dari dalam tubuh Prinatalia Fosseys, tampak aura merah mengambang dari sekujur tubuhnya, seperti gas yang membumbung tinggi naik ke udara. Sontak, baju yang ia kenakan langsung koyak sebab otot pada seluruh tubuhnya mengembang layaknya balon. Terlihat otot-otot super kekar itu dari setiap sisi tubuhnya.
Mendengar ucapan Foss, Arley langsung terkejut saat ia menyadari jika pedang yang ia genggam saat itu adalah pedang yang terkutuk. “Ini adalah pedang terkutuk?!” gumam Arley dalam hati. Lantas, ia langsung berniat untuk membuang pedang itu lepas dari tangannya. Ia buka kedua telapak tangannya, namun, entah kenapa pedang itu malah tidak dapat terlepas dari kulitnya, seperti ada sebuah perekat di antara pedang itu degan tangan Arley. “Sial, mengapa pedang ini tak dapat terlepas dari tanganku?!” dengan berat hati, Arley mencoba berbagai hal untuk melepaskan dirinya dari pedang itu.
Foss menyadari tindakan Arley, lalu ia langsung menunjuk sang remaja berambut merah itu dengan telunjuk tangan kanannya, sembari ia berjalan mendekat ke arah Arley. “Lihat … kutukannya sudah bereaksi secepat ini. Sekarang, tidak ada cara lain kecuali membunuhnya. Caraku tidaklah salah … ini adalah pilihan yang paling terbaik.” Setelah Foss mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba Foss menghilang dari hadapan paman Radits.
“Sial?! Orang ini masih memiliki kemampuan yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu!” gumam paman Radits sambil ia memutar tubuhnya ke arah belakang. Menyadari jika Foss sudah bersiap meluncurkan pukulan pertamanya, tentu saja paman Radits ingin melindungi Arley dari segala gangguan yang akan terjadi.
Tetapi, sebelum paman Radits sempat memutarkan penuh sekujur tubuhnya menghadap ke arah Arley, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang begitu besar, sumbernya berasal dari tempat di mana Arley berdiri.
“H-He?!” tutur paman Radits yang menyadari jika tubuh Foss sudah menghilang kembali dari pandangannya. Sekilas ia sempat melihat Foss berdiri di belakangnya, namun, entah mangapa, dengan kecepatan yang cukup dahsyat, tubuh sang pria berwajah gorila itu telah menghilang dari sudut pandangnya. Juga tampak jika Arley menaikkan satu kakinya.
Menghelalah napas panjang dari mulut Arley. “Mohon maaf, Paman Foss. Jika pedang ini tidak bisa aku miliki, aku berniat untuk mengembalikannya,” jelas Arley, yang saat itu ternyata sudah menendang Foss, dan membuat si pria berwajah gorila itu terjungkir dan menghntam tembok, di dalam tokonya sendiri.
“A-anak ini luar biasa, aku tahu dia adalah orang yang kuat, tapi aku tak sadar jika dirinya bisa menyamai kekuatan Foss.” Tertelan ludah kering pada ternggorokan paman Radits. “Bahkan dalam masa primanya, Foss adalah pejuang yang mampu melawan seribu prajurit, seorang diri.” gumam paman Radits dalam hati, sambil ia terdiam pada kedua kakinya.
Varra tampak semakin bingung dengan apa yang terjadi. Menyadari jika kondisi akan berbuah menjadi semakin keruh, sang gadis langsung berlari dan meninggalkan barang belanjaannya di lantai, untuk pergi menuju Emaly, dan memeluknya serta melindungi sang balita dari pertarungan mendadak ini.
“K-kak Varra …! Emaly takut,” ucap Emaly sambil ia menangis. Kala itu, saat Vara telah sampai padanya, ia langsung memeluk Varra dengan tubuh yang gemetaran.
“Tenanglah, ada kakak di sini! Kakak akan melindungi Emaly, apa pun yang terjadi!” Seketika itu juga, Varra langsung menggendong Emaly, dan membawanya pergi keluar dari toko tersebut.
Di saat Varra dan Emaly telah berhasil keluar dari toko besi itu, bangkitlah Foss dari keterpurukannya. Ia bangkit dengan kondisi yang semakin marah. Tubuhnya penuh dengan urat dan aura kemerahan, tampak semakin pekad di pandangan Arley dan paman Radits.
Namun Arley tiba-tiba melepaskan genggaman tangan paman Radits, dan malah dirinya menjolak paman Radits dari hadapannya. “Awas Paman!” teriak Arley, yang ternyata ingin menyelamatkan sang paman dari amukan sang pria berwajah gorila. Dalam kejadian itu, sang Gorila melompat kencang, ingin menghantamkan tubuhnya ke arah Arley. Tetapi, jika Arley saat itu membiarkan paman Radits menggenggam tangannya, dirinya menyadari jika paman Radits akan tertimpa serangan yang Arley akan derita.
“Arrleeeyy!” Dengan wajah yang memerah padam, paman Radits menyaksikan sendiri, tubuh Arley terhantam kuat, atas serangan yang Foss lakukan kepadanya. Urat di wajah paman Radits langsung tumbuh, dan seketika itu juga ia langsung melompat dengan tujuan membunuh Foss menggunakan bilah pisaunya. “Dasar Siaalaaan!” teriak paman Radits, yang ketika itu menggemakan seluruh amarahnya pada amarahnya kali ini.
Tubuh paman Radits bergerak dengan kecepatan yang tidak biasa. Kecepatannya tidak mampu di baca oleh kasat mata, dalam hitungan kurang dari satu detik, sang paman sudah berlari sampai tiga puluh meter, dan tiba di belakang badan sang pria berwajah gorila—siap menancapkan pisaunya, di kepala Foss.
Foss yang kala itu menghancurkan dinding temboknya, dan menanamkan Arley pada dinding puntih tersebut, terlambat menyadari jika paman Radits telah berada di belakangnya. “Apa?!” ucap Foss yang ketika itu langsung memasang tangan kanannya untuk memukul wajah paman Radits, demi menghentikan serangan dadakannya
Namun, tiba-tiba sesuatu hal yang lebih cepat dari pada keduanya, datang dan langsung menahan serangan paman Radits kepada Foss, dan pukulan Foss kepada paman Radits. Sang sosok menangkan pangan paman Radis dan mencengkramnya dengan kencang, seketika itu juga paman Radits merasakan sakit yang tiada taranya.
“AAaagh!” teriak paman Radits, kala itu, ia tak sadar jika tubuhnya sudah terbanting ketanah.
Sedangkan Foss, tiba-tiba tangan kanannya patah entah sebab apa, dan sama dengan paman Radits. Tubuh Foss juga telah terbaring di tanah dalam keadaan babak belur. Bahkan ada bekas memar pada setiap sisinya.
“Gyaaa!” teriak Foss menahan sakit pada sekujur tubuhnya.
“Dasar bodoh! Apa yang kalian lakukan, Hah?! Aku baru saja meninggalkan toko sebentar, dan saat aku kembali, aku melihat ada dua orang gadis sedang menangis di depan pintu. Aku kira ada perampokan di dalam toko. Eh, tapi ternyata, hanya dua orang tua yang bodoh, sedang bertengkar layaknya anak kecil!” bentak seseorang dengan nada yang cukup tinggi, layaknya seorang wanita. “Ahh! Ini melelahkan!”
Telah berdiri di antara Foss dan Paman Radits, seorang wanita dengan rambut terkuncir dua. Wanita yang kemungkinan berumur sekitar tiga puluh tahun, dengan warna rambut yang begitu putih layaknya salju di musim dingin.
Perlahan mata Arley terbuka. Lantas, saat dirinya pertama kali melihat kondisi sekitar, ia malah melihat sang wantia tengah melipat kedua tangannya di bawah dadanya, dengan ekspresi yang begitu marah. “S-siapa …?” gumam Arley dalam hati. Dan saat si remaja ini melihat ke lantai sekitarnya, ia malah menyaksikan tubuh Foss dan paman Arley sudah terbaring di lantai—tampak tak berdaya melawan sang wanita. “Huh!?” ucap Arley dengan keras.
Menolehlah sang wanita, melihat ke arah Arley, lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Arley, dan saat itu juga ia menyentil kening Arley dengan jari telunjuknya. “Kembali tidur!” ucapnya sembari ia merealisasikan apa yang ia kehendaki. Sontak, Arley terpingsan untuk ketiga kalinya, untuk hari ini.
Siapakah wanita misterius ini?! dan mengapa ia bisa mendominasi paman Radits, Foss, juga Arley?! juga apa yang tersembunyi di balik pedang hitam terkutuk itu, beserta kejadian dua puluh tahun yang lampau?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------