
Semenjak sadarnya Melliana, dua hari telah beralalu dengan cepat. Rumah keluarga Polka telah rampung dibangun.
Walaupun modelnya telah berubah, namun, luas dan jumlah ruangan di dalamnya tetaplah sama.
Ketika itu, Jasmine beserta keluarganya telah kembali pulang ke rumah mereka sendiri, disusul oleh paman Radits dan keluarganya, mereka pun juga ikut kembali pulang ke rumah yang terbangung dari balok-balok kayu tersebut.
Saat ini, waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Itu berarti, sekarang adalah waktu dimana makan malam tengah diadakan.
Paman Radits dengan gembiranya menyuapi Emaly makan. Lalu, pada pihak Jasmine, ia tampak menyulangi Joshua dengan sendoknya. Sedangkan Melliana dan Varra, kedua orang ini duduk tepat di sebelah Arley dengan pandangan yang saling berlawanan.
Arley dengan canggung duduk di antara mereka berdua, dan dengan tenangnya, ia melahap makanan yang sudah tertata di atas piring logamnya kala itu.
“Kalian berdua? Tidak mau makan?” ujar Arley, yang tampak bingung dengan reaksi dari keduanya.
Mereka berdua tak menjawab perkataan Arley, wajah di antara keduanya seperti orang yang kesal dan saling bermusuhan.
“E-err … apa kah terjadi sesuatu di antara kalian …?” Sekali lagi, Arley mencoba untuk mencairkan suasana.
“Enggak!” Serempak keduanya menjawab.
Arley pun terkejut saat mendengar kalimat dengan nada tegas itu. Namun, karena dirinya tak tahu sebab mengapa hal ini bisa terjadi, saat itu ia hanya terdiam sambil menatap piring logamnya yang hampir bersih.
Dari kejauhan, paman Radits dan Jasmine, hanya menggelengkan kepalanya sebab rasa kasihan terhadap Arley.
Sang paman pun tak sengaja menatap Jasmine, dan ketika itu, mereka berdua tersenyum lembut sebab kejadian normal ini bisa terjadi lagi.
“Sudah-sudah, kalau kalian berdua tidak mau makan, bagaimana jika Arley yang menyuapi kalian berdua?” Pancing paman Radits, yang ketika itu baru saja selesai menyuapi Emaly makan.
“Ayah, aku ngantuk ….” Dan di waktu yang tepat, Emaly pun tampak lelah setelah bermain seharian dengan Joshua.
Melihat waktu ini sangatlah tepat, sang paman pun langsung pergi setelah mengucapkan kalimatnya.
Lantas, Varra dan Melliana langsung terkejut setelah mereka berdua mendengar ucapan sang paman. Mereka sangat setuju dengan ide itu.
“Aku mau!” ucap keduanya sambil membuka mulut.
“Eh?! Jangan berlaku aneh, kalian sudah besar, makanlah sendiri!” imbuh Arley, yang kemudian melahap suapan terakhirnya.
Namun, tiba-tiba Jasmine pun memberikan perkataannya yang terakhir, sebelum membawa Joshua yang juga tampak lelah.
“Arley, aku rasa sekali-sekali jadi anak kecil tidak apa-apa. Wanita selalu ingin di manja loh~” ujar Jasmine, yang ketika itu langsung pergi meninggalkan ketiga remaja itu pada ruang tengah.
Melihat Jasmine yang akan pergi meninggalkannya, ARley pun sempat menjulurkan tangannya. Namun, setelah Jasmine berhasil kabur dari ruangan tersebut, ARley langsung terdiam membeku seperti patung, sambil berpikir, apa yang harus dirinya lakukan.
“E-emm, apakah aku harus benar-benar menyuapi kalian …?” Sekali lagi Arley bertanya dengan nada rendah.
“Aaa!” gumam mereka berdua, sambil membuka mulutnya.
Arley pun menghelakan napas panjangnya. Dengan begitu pasrahnya, ia langsung saja mengambil piring kosong yang masih bersih, dan mengambil beberapa lauk beserta daging sapi yang telah dihidangkan tepat di depan mereka saat itu.
Piring pun tampak penuh, lalu, sendok pertama lagsung disuapkan Arley kepada Varra, Melliana pun terkejut, dan di sisi lain, Varra tersenyum menantang terhadap Melliana.
“Guh!” Dengan wajah kesalnya, Melliana tampak seperti tak terima apa yang dirinya dapatkan.
Namun, dengan cepat Arley juga langsung saja menyuapi Melliana. Hal ini pun merubah mood Melliana menjadi lebih baik.
Pada Akhirnya, mereka berdua menjadi lebih tenang dan merasa lebih baikan dari sebelumnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Kali ini, Arley bertanya dengan nada seirus.
Lantas, mereka berdua terdiam dan saling menatap di antara keduanya. Mereka lalu mengedipkan mata tepat di hadapan Arley, dan itu membuat ARley cukup bingung.
“He?” ucap sang remaja berambut merah, yang ketika itu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan sebenarnya … kejadian yang membuat kedua wanita ini marah, terjadi pada saat mereka sedang berduaan sendirian saat merapihkan kamar tidur Melliana yang baru ….
***
Pada siang hari … tepat di hari ketika keluarga Polka dan Tomtom telah kembali di rumah baru ini.
Saat itu, Melliana tampak begitu senang dan gembira. Ia bersama Varra, kali ini sedang sibuk merapihkan kamar mereka berdua, yang hanya akan digunakan pada malam hari ini, sebelum Varra kembali pulang ke kota [Dorstom].
Namun, di lain pihak, Varra tampak pundung dan sering melamun. Dan pada saat itulah Melliana menanyakan sebab mengapa Varra terlihat tidak bahagia seperti ini.
“Varra? Kamu kenapa?” ucap Melliana, sambil ia menaruh tangan kirinya di punggung kanan Varra.
Ketiak itu, Varra baru saja menyusun pot bunga sintetis di atas meja buku kecil milik Varra, yang ditaruh di sudut ruangan dari kamal kecil itu.
Menolehlah Varra melihat wajah Melliana. Lalu, ia menggelengkan kepalanya sabil tersenyum sedih, juga, ia memegang tangan kiri Melliana dengan lembutnya.
“Aku tidak apa-apa …,” ujarnya, sambil kembali melihat pot bunga sintetis.
Melliana yang saat itu tahu jika suatu hal terjadi pada Varra, tidaklah lagsung menyerah. Saat itu pun ia kembali bertanya dengan anda lembut, agar Varra mau membuka hati kepadanya.
“Wahai adikku yang manis, aku tahu kau sedang kesusahan. Ceritakanlah hal itu kepada diriku ini.” Dan dengan lembutnya, Melliana memeluk pinggang Varra dari belakang.
Sebab hal inilah, Varra tidak bisa lagi menutupi perasaan hatinya, dan saat itu juga, ia menumpahkan Air matanya dengan lebat, sembari menceritakan permasalahan yang dirinya pendam selama dua hari belakangan ini.
“Aku … aku mendengar ucapakan Kakak, dengan Arley, pada saat itu.” Tubuh Varra pun bergetar hebat, ia lalu menyenderkan tubuhnya ke belakang, dan menjadikan Melliana sebagai tempat sandarannya.
Melliana pun langsung tampak terkejut, dirinya tak menyangka, jika pembicaraannya dengan Arley, akan di dengar oleh orang yang sangat tak ingin ia beritahu pada saat itu.
“B-begitu, ya …,” gumam Melliana, sambil memeluk Varra dengan lebih dekap. “maafkan kakak, Varra. Tapi, pada saat itu, aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa sampai seberontak itu. Dan pada saat itu, kalimat yang Arley ucapkan tersebut … adalah kalimat yang memang aku tunggu-tunggu untuk dirinya ucapkan.”
“Jadi … memang hal itu sudah kakak rencanakan?” imbuh Varra, sambil ia merundukkan kepalanya, untuk melihat dimana tanggannya berada. Dan saat itu, tangan Varra sedang menggenggam punggung tangan Melliana, yang sedang memeluk perutnya.
“Tidak, aku tidak merencanakan itu. Hanya saja, kalimat itu adalah harapan yang aku ingin dengarkan dari mulutnya, dan secara ajaib, dirinya mengucapkan kalimat itu dengan tegas dan jelas.” Terseyumlah Melliana. “Aku tak menyangka, jika dia akan mengucapkan itu dengan tegas.”
Menolehlah Varra memandang Melliana.
“Jadi … kau akan benar-benar menikahi Arley …? Lalu, bagaimana dengan aku?”
Varra kembali meneteskan air matanya. Memori tentang dirinya yang akan hidup sendirian lagi, adalah hal yang paling ia benci pada saat itu. Dan Memori itu, dengan seenaknya kembali lagi merasuki pikiran Varra.
“Wahai adikku~ itu hanya kalimat manis darinya saja. Dan jika kalimat itu benar-benar ia anggap serius, tentu saja aku akan sangat senang. Namun, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.”
Setelah Melliana mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba ia terdiam sejenak. Pandangan Melliana pun menatap ke atas ruangan.
“Kalau begitu … seandainya hal itu benar-benar terjadi, bagaimana jika kamu menjadi istri keduanya?” ucap Melliana secara spontanitas.
“HA?!” Menanggapi kalimat itu, Varra langsung berdiri, dan wajahnya tampak kesal. “Tidak-tidak! Jika kita berdua harus menikahi Arley, seharusnya kakak yang menjadi istri kedua! Aku kan yang pertama kali bertemu ARley, jadi sudah seharusnya aku yang menjadi kekasih pertamanya!”
Menyikapi kalimat Varra, melliana langsung berdiri, dan ia memandang serius Varra.
“Wahai adikku, apakah kau tidak kasihan dengan diriku ini? Umurku sudah lebih tua, dan apa yang orang-orang akan katakan jika aku menjadi istri kedua?”
“Tidak-tidak! Aku tidak sudi jika hal itu terjadi!—”
Dan pertengkaran di antara keduanya pun terjadi begitu saja. Saat itu, Dari arah jendela kamar Melliana dan Varra … tampak Jasmine bersama paman Radits sedikit mengintip dan menguping perbincangan mereka berdua.
Saat itu, sang paman beserta Jasmie, hanya bisa tertawa atas apa yang mereka dengar.
***
Kembali ke malam di mana pertengkaran itu usai.
Arley telah selesai menyuapi kedu wanita manja itu. Dirinya pun segera pergi ke kamar tidur untuk beristirahat.
Namun, saat itu, pembicaraan penting tengah terjadi di ruangan dapur. Varra dan Melliana juga telah kembali ke ruangan mereka berdua, akan tetapi, paman Radits beserta Jasmine, tampak serius membicarakan hal ini.
Apa yang mereka berdua perbincangkan?!