The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 164 : Mayat Hidup.



Not Edited!


 


 


Meledak bagaikan letupan bom atom yang begitu maha dahsyat. Ledakannya lebih besar di bandingkan dengan apa yang Alrye sempat ciptakan sebelumnya.


 


 


Seluruh makhluk hidup yang berada di dekatnya akan langsung menguap menjadi debu. Tak terkecuali bangunan dan bebatuan yang akan melebur oleh sebabnya.


 


 


Misa sudah terbang jauh di udara dengan mantra sihir udara yang pernah ia pelajari. Sedangkan Aurum dan Helena tengah berada di sisi pusat kota dalam misi mencari rekan-rekannya yang lain.


 


 


Akan tetapi, ketika ledakan dahsyat itu terjadi, tak ada satu matapun yang tak melihat kejadian itu. bahkan ledakannya sempat menyentuh sangkar yang menutupi atap-atap ibu kota lebia.


 


 


“Dasar wanita bodoh … lihat apa yang sudah kau perbuat …,” gumam Misa yang tampak begitu kesal dengan apa yang Lubrica sudah perbuat .


 


 


Perlahan ledakan itu mengecil setelah satu menit menghidupkan gelombang ledakan apinya. Kawah yang sempat Arley ciptakan, saat ini berubah menjadi lebih dalam di bandingkan sebelumnya.


 


 


Misa cukup tercengang dengan kejadian itu, tampak mengucur keringat dari pori-pori wajahnya. Merasa cukup aman dengan kondisinya saat ini, menelan ludahlah Misa untuk meredakan detak jantungnya yang terpacu sebab ledakan yang sempat terjadi.


 


 


“Ah iya … apakah tubuh wanita itu sudah tiada …?” sejenak Misa mencari patung tubuh Amylia yang sebelumnya berada di dalam kawah.


 


 


Namun, dengan kondisi tanah yang telah berubah menjadi magma saat itu, Misa cukup pesimis jika jasad Amylia akan selamat dari dentuman maha Dahsyat sebab distorsi lubang hitam yang ter pecah.


 


 


Tampaknya pertarungan belum selesai. Sekilas Misa melihat Lubrica berniat untuk kabur dari pertempuran di antara mereka berdua.


 


 


Lubrica dengan begitu sempotyongannya mencoba untuk terbang menuju tembok Selatan kota [lebia].


 


 


Merasa cukup kesal dengan sang iblis, Misa lagsung terbang cepat demi mengejar sang ratu succubus. Dengan kecepatan kencang Misa akhirnya sampai tepat di depan tubuh Lubrica yang saat ini sudah tidak dalam mode seramnya lagi.


 


 


“Hiii!” terkejut bukan main ketika Lubrica menyadari jika dirinya tertangkap lagi oleh Misa.


 


 


Seketika itu juga Misa merapalkan mantra sihir untuk mendorong Lubrica kembali ke dalam kawah yang dirinya ciptakan itu.


 


 


“Water Canon~”


 


 


Ucapnya sambil menembakkan bola air berukuran dua meter tersebut ke tubuh sang iblis wanita. Sontak, tertebaklah tubuh Lubrica kembali ke tengah-tengah kawah yang dirinya sendiri ciptakan.


 


 


Demikian Misa juga langsung terbang ke tempat di mana Lubrica berada saat ini.


 


 


Dengan begitu perlahan Misa menjejakkan kakinya di atas permukaan tanah kawah. Untungnya sebab air yang menggelinang hasil dari mantra sihir Misa, seluruh sisi yang terkena olehnya sudah berubah menjadi keras kembali.


 


 


Berdirilah Misa di bagian tanah yang sudah mengeras itu. sembari ia menatap sinis ke arah Lubrica, Misa masih memiliki sejumlah pertanyaan yang ingin ia persoalkan kepada sang iblis lucah.


 


 


“H-hentikan …! Aku masih ingin hidup!” tampak Lubrica memelas ampun kepada Misa.


 


 


Namun, ekspresi wajah Misa tak juga berubah. Ia hanya memandang kesal kepada sang iblis yang sempat menculiknya delapatn tahun yang lalu.


 


 


“Jawablah pertanyaanku …,” terang Misa sambil ia menyodorkan kembali tongkat sihirnya mengarah kepada sang iblis succubus itu.


 


 


“A-apa yang ingin kau tanyakan!? Aku akan menjawab segalanya!” terlihat begitu tersudut, Lubrica tampaknya akan menyerahkan dirinya demi keselamatan nyawanya.


 


 


Sejenak Aurum terdiam melihat gerak-gerik si iblis wanita. Dirinya tak begitusaja mempercayai Lubrica setelah apa yang sang iblis lakukan pada dirinya.


 


 


Ternyata benar prasangka Misa. saat dirinya hampir lengah, Misa hampirsaja terkena serangan lansgung dari si succubus.


 


 


Lubrica dengan liciknya langsung menyodorkan tongkat sihirnya ke kepala Misa dan seketika itu juga ia merapalkan mantra yang bisa membunuh sang lawan.


 


 


“Mors Momentum!”


 


 


Melecut gelombang cahaya berwarna hitam tak stabil dari ujung tongkat sihir Lubrica. Untungnya Misa bisa megelak secara refleks sebelum mantra sihir itu benar-benar mengarah ke kepalanya.


 


 


Setelah dirinya berhasil menghindar. Misa lagsung merapalkan mantra sihir yang juga bisa membunuh lawannya. Ia melakukan itu secara refleks juga.


 


 


“Water Concentration!”


 


 


Dari ujung tongkat sihir Misa, Meluncur gelombang air super tipis dan cepat, yang bahkan mampu memotong besi jika secara lama di arahkan padanya.


 


 


Tentu saja tekanan air itu langsung menusuk tubuh sang iblis wanita. Tertembuslah pundak Lubrica akibat terkena serangan dari Misa.


 


 


“Aaggk!” lagi-lagi Lubrica harus menderita sebab kelakuannya sendiri. kali ini tongkat sihirnya terjatuh. Tentu dirinya sudah tak bisa melakukan apapun.


 


 


Nafasnya tersengal-sengal, tetapi wajahnya tak menunjukkan kekalahan. Benar-benar lawan yang sangat sulit.


 


 


Misa berjalan mendekati tongkat sihir Lubrica. Seketika itu juga Misa menginjak dan mematahkan tongkat sihir tersebut.


 


 


Lanjut misa membidik tubuh Lubrica kembali dengan tongkat sihirnya.


 


 


“Kau ini tidak ada kapok-kapoknya. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan datang ke kota ini …?” Misa sudah cukup capek meladeni tingkah laku licik sang succubus.


 


 


Tiba-tiba Lubrica tertawa begitu lantang saat dirinya berada dalam tekanan yang beigtu tinggi.


 


 


“Aduh~ Jika aku memberi tahu kamu  sekali pun, dirimu tak akan tahu sebab kami melakukan semua hal ini.” Sontak Lubrica melihat ke arah Selatan. Sudut Selatan di mana pada bagian tersebut tidak terkena ledeakan. “tapi jika anak itu yang menanyakannya, mungkin dirinya akan mengerti maksud dari tujuan kami.”


 


 


Wajah Misa langsung terkejut, ia menyadari jika orang yang di maksud Lubrica adalah Arley.


 


 


“Apa hubungannya anak itu dengan tujuan kalian datang kemari?!”


 


 


Lagi-lagi Lubrica hanya menyengir lepas, tetapi kali ini ia tidak tertawa heboh seperti sebelumnya.


 


 


“Baiklah, aku akan menjelaskannya kepadamu.” Perlahan Lubrica merubah posisi tubuhnya menjadi duduk.


 


 


“Hey!” bentak Misa yang tak suka tingkah laku Lubrica.


 


 


Kala itu, Lubrica mengangkat kedua tanganya ke udara seperti seorang tawanan. “Kalau kau mau langsung membunuhku pun tak apa-apa. Tapi aku yakin kau pasti tidak akan bisa mendapatkan informasi ini dari siapapun.”


 


 


Terdiam seribu kata, Misa hanya memandang Lubrica dengan air keringat yang mengucur pada pori-pori wajahnya.


 


 


“Cepat katakan alasan kalian melakukan semua hal ini …!” kala itu, Misa menjorok kepala Lubrica dengan ujung tongkat sihirnya.


 


 


 


 


“Tch! Baiklah-baiklah! Akan aku jelasan!” Sambil menggerutu, Lubrica akhirnya menjelaskan sebab kedatangan mereka ke ibu kota lebia.


 


 


Namun pembicaraan mereka begitu panas sampai-sampai Misa tak memperhatikan sekitarnya.


 


 


.


.


.


***


.


.


.


 


 


Dari kejauhan, tampak Aurum kembali ke lokasi kawah, bersamaan dengan Helena. Mereka berdua ingin mengetahui sebab utama mengapa ledakan itu bisa terjadi.


 


 


“H-helena … bisakah kau melihat semua ini …?!” tanya Aurum yang ketika itu sudah merasa lebih baikan di bandingkan sebelumnya.


 


 


Muncullah Helena keluar dari dalam jubah kuning yang Aurum kenakan saat itu. tampak jubat kuning tersebut sudah terlihat robek di beberapa sisi, tetapi masih bisa di bilang layak pakai.


 


 


 


 


Sambil terbang tinggi ke atas udara, Helena juga berpendapat hal yang sama dengan apa yang Aurum ingin ungkapkan.


 


 


“ini gila nanon … Helena tak bisa memikirkan ada makhluk lain yang mampu melakukan hal semengerikan ini kecuali sebabnya adalah Lubrica nanon …,” jawab Helena yang kala itu langsung terbang kembali mendekat ke arah Aurum.


 


 


Saat itu, tak sengaja Aurum melihat ke tengah kawah. Di sana terdapat Misa dan Lubrica yang tengah berbicara suatu hal.


 


 


“M-Misa … aku tidak menyangka akan di selamatkan olehnya ….” Aurum merasa sedikit bersalah ketika dirinya di selamatkan oleh Misa.


 


 


“Mengapa demikian nanon …? Helena rasa, Misa adalah orang yang baik nanon,” cakap Helena mengenai perasaan dan instingnya.


 


 


“Entahlah … Misa yang aku kenal tidak sebaik itu. Mungkinkah dirinya jahat sebab sihir pencuci otak yang Arley jelaskan?”


 


 


“Tunggu Aurum nanon, sepertinya mereka berbicara mengenai sesuatu nanon!”


 


 


“Apa yang mereka bicarakan ya …?!”


 


 


Beberapa saat kemudian, Pembicaraan Misa dan Lubrica pun berakhir. Wajah Misa tampak begitu terperanga dan lansung marah. Marah sejadi-jadinya.


 


 


***


 


 


Wajah Misa memerah padam. Setelah apa yang ia dengarkan dari Lubrica, Misa ingin saja langsung mengancurkan musuh di depannya dalam satu kali rapalan mantra.


 


 


“Kalian benar-benar makhluk yang tidak memiliki belas kasih!” cerca Misa kepada sang iblis.


 


 


Bukannya marah mendengar percakapan Misa, Lubrica malah senang dirinya di panggil seperti itu.


 


 


“Ohh~ terima kasih sekali,” ujarnya sambil sedikit merunduk. “pujian Misa Albertus dalah merupakan penghargaan tertinggi untukku.” Terlihat jika Lubrica sengaja memancing emosi sang penyihir berjubah hitam.


 


 


Dan apa yang lubrica inginkan benar terwujud. Amarah Misa sudah sampai pada batas tiada ampun.


 


 


Saat itu juga Misa langsung menggenggam keras tongka sihirnya sembari ia menggeratkan gigi akibat kebenciannya terhadap Lubrica.


 


 


“TUTUP MULUT KOTORMU ITU IBLIS LUCAH! DAN JANGAN PANGGIL NAMAKU LAGI!” Bentak Misa dengan begitu geramnya, sampai akhirnya ia mencoba untuk membunuh sang iblis.


 


 


Namun, tiba-tiba tanah yang berada di belakang Misa bergerak.


 


 


Ya, gundukan tangah yang ada di belakang Misa bergerak seperti ada zombi yang akan keluar dari dalamnya.


 


 


Misa cukup terkejut akan hal itu, matanya sepat melotot dan ingin sekali ia melihat ke arah belakangnya. Tapi dirinya tidak bisa melakukan hal itu karena jika Misa melihat ke belakangnya, maka bisa saja Lubrica kabur dari sergapannya.


 


 


Benar saja. Tiba-tiba muncul sebuah tubuh yang sudah hampir tak berkulit lagi, keluar dari dalam tanah secara tiba-tiba.


 


 


Misa hanya bisa melihat ekspresi Lubrica. Tetapi Lubrica pun sama terkejutnya dengan Misa.


 


 


“K-kau!? Aku kira kau sudah mati!? Kenapa kau masih bertahan hidup setelah segala hal yang terjadi di kawah ini!?” Termundurlah si Succubus ketika melihat tubuh dari sang makhluk yang tak di ketuahui tersebut.


 


 


Misa yang begitu penasaran, apakah ia akan memutarkan kepalanya untuk melihat sang makhluk?!


 


 


Siapakah makhluk itu?! dan apa reaksi Aurum serta Helena mengenai kejadian ini!?


 


 


Bersambung!~


 


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!


 


 


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -