The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 125 : Permintaan Tolong



    Menatap dengan tajam. Sang Monster mendelikkan matanya sembari melihat ke arah Amylia dan Michale—ia tampak seperti tengah kebingungan akan suatu hal.


    Namun kondisi Amylia dan Michale sangatlah kaku, tubuh mereka perlahan mendingin. Tatapan mata sang Monster membuat tubuh mereka berdua membeku layaknya tatapan Medusa terhadap mangsanya.


    Menyeramkan—kondisi seperti inilah yang ditakutkan oleh Michale. Ingin ia mengucapkan rasa penyesalannya, namun kata-kata itu tak dapat keluar dari kerongkongannya—maka dari itu, ia telan kembalilah kalimat yang ingin ia keluarkan tadi.


    Mata Aurum mulai meneteskan air, tampaknya ia sangat takut sampai-sampai tubuhnya ikut tak bisa bergeras layaknya Amylia dan Michale.


    Lantas, Amylia tak mau tinggal diam, ia munculkan rasa berani pada dirinya demi menyelamatkan Aurum dari cengkraman sang monster.


    Perlahan—tubuh Amylia dapat bergerak kembali.


    Dijulurkannyalah tangan Amylia yang tengah menggenggam tongkat sihir menuju ke arah sang Monster, lalu ia memekikkan Mantra sihir yang terpintas pertama kali di benaknya. Dengan suara yang begitu lantang, Amylia mencoba untuk memunculkan kembali rasa berani dalam dirinya.


    “AERIAL BREAK DOWN!"


    Seketika itu juga, terciptalah pusaran angin—bercampur dengan air, berputar secara horizontal—lalu menghantam tubuh sang Monster dengan kekuatan yang cukup dahsyat.


    Lagi-lagi sang Monster terkejut akan serangan dadakan yang datang begitu cepat—langsung menghantam kuat dirinya kala itu.


    Terjungkal-lah sang Monsters sampai dirinya terhempas menabrak tembok bagian Utara. Seketika itu juga Aurum terlepas dari cengraman sang monster, dan mengakibatkan tubuh Arurm terkapar di lantai arena pertarungan.


    Pergerakan Michale dan Amylia pun kembali menjadi normal. Lantas, mereka berdua langsung membopong Aurum—utuk lari dari tempat terjadinya perkara dan bersembunyi di tempat yang lebih aman.


    Tetapi nampaknya Amylia mempunyai cara lain untuk melawan sang monster. Kala itu juga, ia menyerahkan Aurum kepada Michale, dan menyuruh Michale untuk membawa Aurum ke tempat yang lebih aman.


    “Michale! aku serahkan Aurum kepadamu!” ucap Amylia sembari melepaskan panggulan Aurum dari punggungnya ketika itu.


    “Hey! rencan gila apa lagi yang ingin kau lakukan!?” bentak Michale terhadap Amylia, namun ucapannya tidak di gubris. Amylia tetap saja berlari menuju ke tengah arena pertandingan.


    Michale haya terpaku memandang Amylia yang mulai menjauh dari hadapannya. Dengan sangat beraninya, Amylia tetap berusaha menghentikan pergerakan sang Monster—yang bahkan mereka tak pernah tahu kekuatan maksimal sang Monster.


    Sejenak perhatian Michale kembali kepada Aurum, ia pun kembali berlari menuju ke lokasi yang dikiranya lebih aman dibandingkan tempat sebelumnya.


.


.


.


***


.


.


.


    Dengan beraninya Amylia berdiri sendirian di tengah lapangan pertandingan. Ia sodorkan ujung tongkat sihirnya ke arah sang monster—sembari menunggu pergerakan selanjutnya dari apa yang akan sang monster lakukan di kemudian waktu.


    Tampak ada sedikit pergerakan dari tempat dimana sang monster menabrakkan dirinya—sebab mantra sihir yang Amylia lontarkan sebelumnya.


    Bertemulah pandangan mereka berdua, kali ini tubuh Amylia tidak terkejut seperti sebelumnya, ia hanya mengeluarkan sedikit keringat dingin sebab tensi pertarungan yang mulai memanas.


     Pada saat itu juga Amylia merapalkan mantra yang paling ia ampuhkan, dibandingkan mantra sihir lainnya—yang telah ia kuasai.


    “Frozen Throne!”


    Suhu udara pun langsung berubah drastis, sekeliling Arena tampak dipenuhi kabut akibat terjadinya perubahan suhu ruangan yang terbilang sangat mendadak.


    Sang monster terheran-heran melihat kondisi ini terjadi, ia melirik ke kiri dan kekanan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


    Sekilas—sebelum kabut benar-benar mengepul dan menutup pandangannya, sang monster menatap keberadaan Amylia yang berada tepat di tengah Arena pertandingan.


    Melompat lah ia dengan kecepatan penuh, terbelahlah kabut udara tersebut akibat terpaan angin yang sang Monster ciptakan.


    Akan tetapi, benturan keras pun terjadi. Kepala sang monster menghantam keras tembok es yang tercipta di hadapannya.


    Ia menoleh ke langit, terlihatlah kastil berukuran medium—yang tiba-tiba saja terbangun di tengah-tengah arena.


    Sang Monster menatap bingung bangunan tersebut, kepalanya miring ke sebelah kiri sembari ia mencoba melihat sudut bangunan tersebut dari perspektif  yang berbeda.


    Kala itu, sang Monster mencoba untuk menyentuh bangunan tersebut—dengan telapak tangannya. Sejenak sang monster bisa merasakan hawa dingin yang sangat mencekam.


    Dari atas kastil tersebut—Amylia memandang turun ke arah sang monster, “Aku rasa bangunan ini bisa memperlambat pergerakannya yang seperti anak kecil itu,” ya, Amylia menyadari jika sosok Monster itu adalah sosok yang memiliki pola pikir seperti seorang anak kecil.


    “Baiklah ... sekarang aku tinggal menunggu tiga orang bodoh itu untuk mengalahkan satu monster gila ini.”


    Mundurlah Amylia sebanyak tiga langkah, lalu ia merapalkan sebuah mantra yang mampu menciptakan benda apapun yang terbuat dari es.


    Rapalnya untuk menciptakan tembok Es demi menutupi balkoni ruangan yang sedang ia tempati.


    “Okay, sepertinya ini sudah cukup,” cakap Amylia sembari memalingkan tubuhnya kebelakang—untuk berjalan ke sudut ruangan yang satunya.


    Akan tetapi, suatu hal yang diluar rencana Amylia terjadi secara tiba-tiba, “APA!?” pekik Amylia akibat terkejut.


    Menolehlah Amylia menghadap ke arah belakangnya. Lantas tembok es yang tadinya terbangun dengan begitu kokohnya—seketika itu juga hancur menjadi puing-puing tak beraturan.


    Amylia dikejutkan oleh kedatangan Monster bertubuh putih itu.


    Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya, jika Amylia melawan monster itu secara terang-teragan, tentu saja nyawanya akan segera lepas dari tubuhnya.


    Ia berpikir dengan sangat keras—mencari cara agar monster yang ada dihadapannya itu bisa ia alihkan perhatiannya, atau bahkan bisa di kalahkan.


    Melangkahlah Amylia mundur ke belakang secara perlahan, satu demi satu kakinya ia jejakkan mundur demi menghindari kontak langsung dengan sang Monster.


    Mata sang Monster melirik dengan sangat cepat, ia seperti tengah memindai sekelilingnya untuk menemukan target yang tengah ia cari.


    Sampai akhirnya, bertemu kembalilah mata sang Monster dengan mata Amylia—yang kala itu, ia langsung terbujur kaku selepas memperhatikan mata berwarna emas dari kedua bolamata sang monster—yang terlihat sangat unik tersebut.


    Badannya kembali tak bisa bergerak, suhu udara yang semakin mendingin di dalam ruangan itu—membuat kondisi Amylia semakin memburuk.


    “Sial! kenapa harus di waktu yang segenting ini!?” curhat Amylia didalam hatinya sendiri.


    Lantas, sang monster melangkah maju dengan kecepatan yang cukup tinggi, ia langsung berhenti tepat di hadapan Amylia—hanya dalam sekejap mata.


    Dengan sendirinya kepala Amylia menandang ke atas—untuk melihat tubuh sang monster, yang kemungkinan besar tingginya mencapai dua meter lebih.


    Ya, diakibatkan masuknya partikel ke dalam tubuh Misa, tubuh Misa yang tengah diambil alih oleh sang monster pun—mengalami perubahan bentuk fisik. Demikianlah yang menyebabkan tubuh sang Monster bisa mencapai dua meter lebih.


    Saat itu juga—tubuh Amylia secara mendadak tak bisa digerakkan. Sekujur badannya menggigil bergetar layaknya orang yang tegah terkena hypotermia, kepalanya pusing dan perutnya terasa mual.


    Pucatlah wajah Amylia yang tengah diteror oleh rasa takut yang begitu mencekam.


    Apakah Amylia takut akan kematian? tidak—Amylia bukan takut akan mati, namun Amylia takut akan rasa ketidak tahuannya.


    Ia malah lebih memilih mati saat itu juga—daripada ia harus menanggung rasa ketidak tahuan yang terus menghantui pikirannya.


    Kala itu, sang monster membungkukkan tubuhnya untuk melihat secara langsung wajah dari Amylia yang tampak begitu menawan dan indah.


    Sang Monster lalu mengelus kulit wajah Amylia degan punggung tangannya, matanya berubah menjadi sayu ... tampak seperti sang Monster tengah mengagumi kecantikan yang Amylia miliki.


    “To~lo~ng …,” terdengar dari dalam tenggorokannya, suara ganda sang monster yang kali ini terdengar begitu sayu—merambah masuk, ke kedua kuping Amylia.


    “EH …!?” seketika itu juga, Amylia langsung merasa sangat bingung dengan kalimat yang baru saja ia dengar.


***


----------------------------------------------


 


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!