
not edited!
Hitam pekat. Bahkan nyaris tak terbaca, segala kalimat yang terpampang di tabel status Misa, hanya beberapa hal saja yang bisa di catat dari hal tersebut.
---
Sta?us
Na*a : Misa Albertus.
HP : 99*9/9999
M# : ∞/∞
Str : **7*0
V&t : 9**7
Int : ****
Lu% : ****
Sk&*l : XXX, XXX, XXX, XXX,etc.
S.*@ill : Ice Age\, Inf*nite Ma*a\, XXX
Job : De*&n !#rd A*rantice
---
Distorsi, hampir tak terbaca.
Michale pun tampak pusing ketika ia melihat seluruh tulisan yang terpampang di [Apprasial Orb], karena kejanggalan yang terjadi.
Tiba-tiba saja Michale memegang kupingnya, saat itu, Michale mendapatakan pesan yang masuk lewat telepati. Sesekali Michael menangguk untuk mengiyakan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Baiklah, karena hal ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah seleksi penerimaan kesatria dan penyihir. Maka kami para panitia memperbolehkan peserta Paro-“ sejenak Michale berhenti, ia melihat ke tabel status yang ada di bola kristal tersebut untuk menemukan nama asli Misa, “Ehm, peserta Misa untuk masuk dan tercatat boleh ikut ke tahap selanjutnya.”
Dengan demikian, Misa langsung beranjak dari tempatnya menuju antrian para penyihir. Seketika itu juga, orang-orang yang ebrada di sampingnya merasa tak nayman dan ingin saja rasanya menjauhi Misa.
Tiba lah giliran Arley, Michale kembali mengabil papan namanya untuk melihat nama dari peserta terakhir, namun ia mengurungkan niatnya. Michale hanya mengambil papan tersebut agar tidak terlupakan di kemudiannya.
“Peserta Arley, silahkan” ucap Michale kepada Arley, yang tampaknya Michale sudah mengenal betul nama sang remaja berambut merah ini.
Berjalanlah Arley menuju batu kristal tersebut, tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering. Secara paksa, Arley menenggak ludahnya sendiri untuk meredakan rasa kering pada lehernya tersebut.
Saat ini, Arley berdiri tepat di depan batu kristal tersebut. Dengan ragu-ragu, ia julurkan lah tangan kanannya kearah batu raksasa tersebut.
Dengan sangat perlahan ia sentuhkan telapak tangannya kepada batu raksasa yang sensasinya ketika tersentuh kulit arelay adalah rasa dingin yang begitu sejuk.
Namun benar saja, hal yang begitu menggemparkan terjadi untuk yang kesekian kalinya.
Meledaklah cahaya yang begitu dahsyat dari dalam batu bundar tersebut. Cahayanya mencakar langit dan menembus sangkar yang menutup atap negara Exandia dengan begitu maha dahsyatnya.
Kali ini bukan hanya orang di luar stadion yang melihat kejadian tersebut, namun seluruh orang yang berada di benua [Horus] memperhatikan kejadian unik tersebut dengan begitu herannya.
Para petani yang sedang membajak sawah, nelayan yang sedang menangkap ikan di sungai, peternak yang sedang mengembalai sapinya, bahkan sampai ibu-ibu yang sedang memasak di dapur mereka. Dengan begtu terkejutnya mereka melihat pancaran cahaya yang begitu dahsyat dari arah negri Exandia.
Perlahan cahaya yang di lontarkan tersebut meredup dan menghilang layaknya tembakan leser.
Tak ada satu orang pun yang mengucapkan seutas kalimat. Jantung mereka terlalu terkejut untuk mencerna kejadian yang barusan saja terjadi pada otak mereka.
Mata merka semua menatap langit yang tengah bolong akibat ledakan cahaya tersebut, namun dengan sangat perlahan, langit yang bolong tersebut menutup akibat hilir angin yang berderu kencang di atas langit sana.
“Aw!” terlihat Arley merintih kesakitan.
Ternyata telapak tangannya sedang terbakar. Tampak kulitnya mengelupas, seketika itu juga tangan kanan Arley gemetaran akibat menahan sakitnya sambaran cahaya yang tadi hampir melahap dirinya.
“Arley!” teriak Eadwig dari belakang Michale.
Sotnak Michale yang tadinya menatap langit, langsung berubah haluan menjadi melihat kearah Arley.
“Peserta Arley!? apa yang terjadi!?” tanya Michale yang tak tahu apa-apa, “Medis! Tim medis!” panggilnya dengan sangat panik.
Datanglah dua orang tim medis ke tengah lapangan, “Yang mulia Arley!? anda tidak apa-apa?! Apa yang barusan saja terjadi yang mulia?!” ucapnya sang ketua tim medis yang menanyakan kesehatan Arley.
“-Eugh, sebentar …, berikan aku tongkat sihirmu,” pinta Arley kepada sang ketua tim medis.
“Eh?! B-baiklah!” tanpa membantah perintah Arley, ketua tim medis tersebut langsung saja memebrikan Arley tongkat sihir yang tersemat di lengan kirinya.
Diambillah tongkat sihir tersebut, dengan tangan kriinay yang gemetaran, Arley merapalkan sihir yang begitu menakjubkan mereka yang meliaht kejadian tersebut.
“Lux Sanator~”
Rapalnya dengan pelan, lalu muncul secercah cahaya dari ujug tongkat tersebut. Dengan sangat perlahan Arley menyentuhkan ujung tongkat tersebut ke tangannya yang tengan terluka parah tersebut.
Secara tiba-tiba saja, Arley merasakan sensasi dingin yang begitu sejuk, rasanya seperti air es yang secara tiba-tiba di tumpahkan ke telapak tangannya.
“Wah!” teriak orang-orang yang ada di sekitar Arley.
Mereka terkejut ketika melihat regenerasi kulit Arley yang secara tiba-tiba saja tumbuh kembali bagaikan tak pernah terjadi luka padakulit tersebut sebelumnya.
“Itu juga bahasa [Octo]?” tanya Eadwig kepada Rubius.
“Bisa jadi,” jawab RUbius dengan wajah tercengang.
Beberapa saaat kemudian. Seluruh luka yang membakar tangan Arley telah pulih seperti sedia kala. Dengan legahnya Arley berniat untuk mengembalikan tongkat sihir tersebut.
“Ah, syukurlah. Terima kasih ya pak,” ujar Arley sembari ia mengembalikan tongkat sihirnya.
Dalam benak sang ketua tim medis, sepat sekilas ia berpikir, “Apa sebenarnya yang anak ini lakukan? Kenapa ia bisa melakukan semua ini tampak seperti sedang bermain-main saja,” ujarnya dengan ekspresi tercengan.
Namun keriuhan yang sesungguhnya barusaja akan terjadi. Selepas Arley sembuh dari luka bakarnya, tiba-tiba saja ada suara ledakan kedua dari [Apprasial Orb yang tadi Arley sentuh]
Dentumannya cukup nyaring, Bagaikan suara Glester yang patah dari induknya dan menyebabkan dentuman hebat menggema langit.
“WAAaaaa!” teriak seluruh orang yang kala itu melihat isi dari batu bulat yang sudah retak tersebut,
“A-apa apaan lagi ini!?” teriam Michale yang lagi-lagi harus di hadapi permasalahan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Riuhnya teriakan masyarakan setelah meliaht tabel status tersebut, saat itu juga membuat seluruh masyarakat memilih Arley yang akan menjadi idola mereka di babak akhir ini.
Ya, mereka akan memilih Arley untuk menjadi pahlawan mereka pada festival tahun ini untuk mewakili negara Exandia pada pertarungan antar negara kali ini.
“Arley! Arley! Arley!” teriak mereka semua utntuk mendukung Arley.
Kala itu, jantung Arley berdegup kencang, tak pernah dalam hidupnya ia merasakan perasaan bangga seperti ini, ia memutarkan badannya untuk melihat sekeliling lapangan.
Saat itu juga tubuhnya yang dingin, perlahan berubah menjadi hangat. Datanglah Eadwig untuk merangkul leher Arley yang lebih pendek dari tubuh Eadwig kala itu.
“Bagaimana perasaanmu sobat? Saat ini kau sudah resmi menjadi perwakilan negara [Exandia] untu melawan kami.”
Tersenyum lebar Eadwig setelah melihat wajah Arley yang tampak legah dengan kondisinya saat ini.
Saat itu, terpilihlah Arley secara spontan karena statusnya yang begitu gila.
---
Status
Nama : Arley ******
HP : 10.390/ 11.000
MP : 79.291/ 100.000
Str : 6800
Vit : 4730
Int : 3028
Luk : 9872
Skill : הם גייל, שביתה מים, קבר. וכו '
S.Skill : אין שדות קרח
Job : הנביא
---
Karena retakan yang terjadi pada batu kristal tersebut, nama asli Arley dan beberapa status lainnya, tampak tertutup dan tak bisa di baca oleh orang-orang.
Namun cukup dengan nama Arley saja, para masyarakat sudah cukup puas mengetahui nama pahlawan mereka pada turnamen kali ini.
Rubius yang menyadari jika ada bahasa aneh yang ikut tercantum di tabel status tersebut, hanya bisa tercengang sembari mencoba untuk membacanya, amun tentusaja ia tak mengerti sama sekali bahasa apa yang ia lihat tersebut.
Tentu saja bahasa itu bukan bahasa [Okto], bahas itu adalah bahasa yang lebih kuno dibandingkan bahasa [Okto].
Mari kita lupakan hal itu sejenak. Apakah kalian menyadari satu hal?
Yak, Benar sekali. Saat ini, Sifat Misa dan Arley berbanding terbalik dengan yang terjadi pada 8 tahun yang lalu.
Dimana 8 tahun lalu, Misa-lah yang dipuji dan dipuja oleh masyarakat desa [durga], namun di ibu kota [Lebia] saat ini, Arley lah yang berada di tempat Misa pada kejadian 8 tahun yang lalu.
Demikian wajah Arley berseri-seri bangga akan hal yang Tuhan rahmati kepadanya. Kala itu, ia sedikit lupa dengan kejadian yang akan terjadi pada malam hari ini.
***
----------------------------------------------
Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!
Always be Happy
And Happy Reading Guys!