The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 34 : Kenyataan Pahit



***


Gema decakan sepatu berdentum di koridor kampus, Mereka berlari sambil terengah-engah, nafas mereka terasa berat, terlebih tubuh Misa sedang tidak dalam kondisi yang normal.


Tubuh manusia akan merasakan tekanan jika mereka mendapatkan informasi yang tidak mengenakkan secara tiba-tiba, itu lah yang di rasakan Misa saat ini.


Tujuan mereka adalah ruang kepala sekolah. Misa tertatih-tatih berlari di belakang Yufi.


Yang ia rasakan saat ini adalah seperti ia kehilangan setengah jiwa nya tanpa sebab pasti.


Jantung mereka berdegub kencang, pikiran mereka berkecamuk. Tanpa memikirkan lelah, mereka berlari di koridor sekolah secepatnya.


***


“-Ah ... lihat, itu dia anak nya, aku hanya bisa mengucapkan turut berduka cita untuk dirinya ....”


“Malang sekali dirinya, aku juga turut prihatin ….”


Misa terheran-heran dengan kondisi saat ini, ia melirik ke kiri dan kekanan, banyak siswa dan siswi yang saling berbisik satu dengan yang lain, seperti mereka sedang membicarakan dirinya.


***


Terhenti langkah kaki ini tepat di depan pintu yang amat besar.


Mereka telah sampai di depan ruang kepala sekolah. dengan terengah-engah mereka mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Tok-tok-tok!" Yufi mengetuk pintu dengan keras.


Misa masih bertanya-tanya di benaknya apa yang telah terjadi. sekali lagi ia mencoba bertanya kepada sahabatnya itu.


“Y-yufi … apa yang terjadi?”


Tentu saja Yufi tidak bisa menjelaskan hal tersebut, dia bukan lah orang yang tepat untuk menyampaikan hal sensitif seperti ini.


Yufi menjawab Misa dengan setengah hati. “-M-masuklah …” kemudian ia memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup memandang Misa.


***


Pintu ruangan kepala sekolah terbuka dengan sendirinya.


Berdecit kencang gema engsel pintu di koridor sekolah, deritannya sesekali membuat merinding bulu kuduk siapapun yang mendengarkan suara itu.


Melangkah kan kedua kakinya, Misa lalu masuk kedalam ruangan tersebut. di dalamnya terdapat seorang kakek yang sudah sangat tua.


Beliau duduk di kursi yang sangat amat besar, tidak ada orang lain selain dirinya di ruangan tersebut, ya, kakek ini adalah Marlin, The Grand Master of Sorcerer, kepala sekolah dari [Barbaron Magic University]


“-S-siap, pak kepala sekolah, s-saya datang atas panggilan anda.”


Misa terlihat sangat gugup, tangan dan kakinya gemeteran. Menggigil, layaknya orang yang sedang terkena demam.


Padahal kaki dan tangannya terlemas, tetapi ia memaksakan kehendak tubuhnya.


“… Misa ... Albertus, tenang kan dirimu, dan dengarkan baik baik ...”


Suaranya terdengar berat, di usianya yang sudah sangat tua ini, tidak terdengar suara bergetar atau suara seseorang yang sudah menginjak usia rentah.


“Gulp!” Misa menelan ludah dalam-dalam.


“… Misa, Kabar buruk datang dari desa [Durga]. "


Sang kepala sekolah terdiam sejenak, ia memilih kata-katanya dengan seksama.


"... Menurut informasi yang kami dapat.... Desa [Durga] telah habis rata terbakar dengan tanah, penyebabnya belum di ketahui dengan pasti."


Hening, bagaikan waktu terasa berhenti, Misa berusaha untuk mencerna perkataan sang kepala sekolah yang belum bisa ia terima begitu saja. Namun selepas ia bisa memahami kalimat tersebut, segalanya berubah menjadi hal yang tak dapat Misa bayangkan.


Berdetak tak karuan, dada Misa sesak, nafas nya tak terkontrol, teman-teman nya dapat mendengar dentuman jantung Misa yang berdegub sangat kencang.


Pandangan mata Misa menjadi gelap, mendengar kabar tersebut membuat kepala Misa seperti tersambar petir, ia Amat sangat terkejut setengah mati dengan informasi yang baru saja ia dengarkan.


"Jumlah kematian yang tercatat ... hampir Seluruh warga desa tidak ada yang terselamatkan, termasuk keluarga mu ....”


Kakinya yang sedari awal sudah tidak memiliki tenaga akhirnya menjadi lentur dan menjatuhkan tubuh Misa ke lantai, ia terduduk lemas di lantai seperti nyawanya sudah terlepas dari dalam jasadnya.


“MISA !!” teriak Nina dan Yufi serentak. mereka langsung memegangi Misa dengan kuat agar ia tidak pingsan di tempat.


***


Tega, betapa teganya kepala sekolah memberikan informasi yang mengecam hati begitu saja kepada Misa tanpa memperkirakan perasaan nya.


Yufi dan Nina sedikit geram dengan perilaku kepala sekolah, ingin rasanya mereka menarik Misa keluar dari ruangan itu, tapi jauh di lubuk hati yang terdalam, mereka tahu bahwa hal itu mustahil di hadapan pak Marlin.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Misa berusaha untuk mengorek sedikit Informasi yang setidaknya ingin ia dengarkan


“y-yang terselamatkan, adakah yang terselamatkan ….?”


“……” kepala sekolah hanya terdiam. “Maafkan aku ….” runduk diam sang kepala sekolah memberikan nada prihatin kepada Misa


Mental Breakdown, terasa hancur hati Misa berkeping-keping, ia menjadi histeris karena merasa di tinggalkan sendiri di dunia ini.


“Tidak-Tidak-Tidak!!!! TIDAAAAKKK!!!!” Misa meremas kepalanya, ia berontak, dia menolak semua hal ini, dan ia yakin jika ini semua adalah mimpi, tetapi hal itu hanyalah apa yang ia harapkan.


Teman-teman Misa terkejut dengan reaksi nya, mereka tidak pernah melihat sisi Misa yang seperti ini. ini adalah kali pertamanya bagi mereka, mereka bingung harus bersikap bagaimana.


“Tenang Ananda!! Hey Ananda!! -MISA ALBERTUS TENANGLAH!!!"


Bentak Marlin untuk menyadarkan kembali Misa dari mimpi buruknya.


Menetes deras dari kedua kelopak matanya, Misa tidak dapat membendung lagi emosi yang tertahan di jiwanya.


lalu Marlin kembali memberikan penjelasan kepada Misa.


"Dengarkan dengan baik Misa ... kami memastikan ada seseorang yang berhasil terselamatkan dari kejadian ini, dan sepertinya dia lah yang telah menguburkan seluruh masyarakat desa. Atau dia adalah dalang dari bencana ini."


Hening sejenak, kemudian Marlin melanjutkan statement nya


"Dari seluruh insiden ini, hanya dia dan dirimu lah satu-satunya orang yang terselamatkan dari Tragedi ini ...."


Bagaikan tertampar tepat di pipinya, Sekilas nyawa Misa seperti kembali kedalam tubuhnya.


Misa kembali ke posisi duduknya, ia masih belum bisa berdiri tetapi ia berusaha untuk mendengar perkataan dari Kepala Sekolah.


Sang kepala sekolah, menghelakan nafas nya, ia legah karena Misa bisa mendapatkan kembali kejernian berfikir nya.


“-Menurut informasi. seorang anak laki-laki berambut merah dan bermata hijau, berhasil melarikan diri dari Tragedi mengenaskan itu.”


Jantung Misa berdegub kencang, darahnya terpompa panas setelah mendengar informasi tersebut.


Mendengar hal tersebut membuat Misa dan Nina saling memandang satu sama yang lain. dari pandangan mereka, tersirat pemikiran yang sama. "(-Mungkinkan anak laki-laki itu ...!!?!) " mereka berdua lalu kembali memperhatikan Kepala sekolah Marlin.


"Dari informasi yang aku dapat, Hmm ... anak itu bernama ... Argog?~ apakah kau kenal siapa dia Misa? ”


Lagi dan lagi. seperti tersambar petir. Misa terkejut bukan main. mulutnya tercengang, matanya terbelalak, wajahnya pucat pasih.


“K-kau kenal dia Misa!?” ucap Nina bertanya sambil memegangi pundak Misa.


Misa, bukan hanya kenal dengan sang anak, tetapi sang anak itulah yang mereka bicarakan sejak dari tadi.


“N-Nina, itu dia orangnya Nina!! Argog itu nama cercaan yang di berikan warga desa untuk dirinya!! Nama Aslinya adalah, —Arley Gormik!”


“!!!!!!!?!”


Seisi ruangan langsung gempar hebat setelah mendengar kabar mengejutkan itu.


***