The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 85 : Wanita Berjubah Hitam.



~PoV Arley~


Tanganku terasa begitu panas, seperti baru saja ada api yang menyala tepat digenggaman tanganku!


“Aww!! S-sial ?! Apa yang barusan terjadi??!” rintihku dalam kesakitan. Tanganku memar dan terlihat ada sedikit luka bakar padanya. Namun bukan saatnya untuk mengeluh! Aku melirik ke-salah seorang tim medis yang posisinya saat ini tepat berada di samping arena.


“Hey Paman!! Lempar tongkat sihirmu sekarang juga!!” teriakku dengan nada suara bergetar.


“He?! B-baiklah Yang Mulia Arley!!” teriak sang paman sembari mematuhi perintahku. Saat itu juga ia melempat tongkat sihir yang tersemat pada lengan bajunya.


T-Tunggu sebenar?! apakah ia memanggilku Yang Mulia? err, jangan-jangan mereka ini mengenaliku ... aaa sudah lah! aku harus fokus kepada Aslan terlebih dahulu!


Tongkat itu terhempas dengan sangat cepat, aku dapat melihat laju lontarannya. Setelah posisinya sudah sangat dekat denganku, saat itu juga aku menangkap tongkat itu dan langsung aku genggam erat tongkat yang berwarna coklat ini. sekali lagi aku lontarkan mantra penyembuh yang sebelumnya gagal aku rapalkan.


“***LUX! SANATOR!\~***”


Rapalku dengan sangat putus asa! Seketika itu juga muncul cahaya putih dari ujung tongkat yang aku genggam. Syukurlah! Kali ini berhasil! lalu aku menempelkannya ke dada Aslan yang ketika itu sedang dalam kondisi taksadarkan diri.


Tak ada yang berani bersuara. Mulai dari Eadwig, Michale, Amy, bahkan Rubius beserta para penonton, juga para peserta yang berada di sampingku. Seluruhnya hanya mampu melihat sambil tertegun kaku di kedua kaki mereka.


Tertempellah ujung tongkat sihir yang bergelimang cahaya ini pada kulit dada Aslan. Perlahan cahaya itu masuk ke dalam pori-pori dan merambah mekar keseluruh sisi dari tubuh milik Aslan. Dengan sangat perlahan, kulit mati akibat terbakar pada tubuh Aslan berubah warna menjadi coklat kembali, tepat seperti warna kulit manusia pada umumnya. Cahaya itu menjalar keseluruh tubuh Aslan. Sampai-sampai pada akhirnya tak ada lagi bagian yang tak terselimuti oleh cahaya putih nan dingin tersebut dibagian tubuh Aslan.


Ya, dengan kata lain, nyawa Aslan terselamatkan.


“Huft, akhirnya selesai~” Jawabku dengan hati yang tenang. Saat itu juga aku melihat ke sekelilingku yang saat ini sudah di penuhi oleh seluruh peserta yang tersisa di seleksi tahap kedua ini.


“H-huwa!? Apa yang kalian lakukan disini?!” Aku sangat terkejut ketika melihat kerumunan orang yang sangat banyak ini.


“Ngh, apa yang telah terjadi …?” terdengar suara Aslan yang yang masih sangat payu. dengan sangat perlahan, Aslan mulai membuka matanya yang telah kembali normal.


“Ah, saat ini kau tidak boleh bangkit wahai peserta Aslan!” terangku sembari menjelaskan kondisi Aslan yang saat ini masih dalam tahap rekonstruksi dengan sihir yang aku rapalkan kepada dirinya.


“Begitu ya … dengan kata lain, aku kalah di pertandingan kali ini ?” ucap Aslan dengan wajah kecewa.


"Haah, jangan berkata seperti itu, kau bisa hidup sekarang saja adalah sebuah keberuntungan." Terangku kepada Aslan, sang pria yang kepala botaknya mulai di tumbuhi rambut lagi.


Lalu secara tiba-tiba, muncul seorang wanita dari dalam kerumunan peserta, dan ia langsung melompat kearah Aslan.


“Aslaaann!!!” teriaknya dengan wajah yang sangat sedih. “Aslan! Aslan! Aslaaann!! Jangan mati Aslaan!!” Wajah sang wanita tampak begitu sedih dan ia benar-benar menangisi pria botak ini.


Lalu dari dalam kerumunan itu juga, keluar tiga orang peserta yang mengenakan jubah kuning yang tampil sangat mirip dengan yang di gunakan Aslan dan wanita yang menangisinya.


“Elnara, hentikan tangisanmu itu. Kau membuat Aslan menjadi lebih sakit jika kau terus melakukan hal tersebut” Ucap sang wanita yang mengenakan tudung kuning untuk menutupi wajahnya.


Lalu sang wanita membuka tudungnya kebelakang, dan menampakkan wajahnya yang terlihat cukup cantik tersebut.


“Terimakasih karena sudah menyelamatkan rekan satu timku, wahai anak muda.” ucap sang wanita sambil menjulurkan tangannya kepadaku. “Perkenalkan namaku-“ belum selesai ia memperkenalkan namanya, aku langsung memotong pembicarannya dengan menyambut uluran tangannya tersebut.


“Aurum Stella Regalius, Demikian nama kakak, bukan?” ucapku kepada sang wanita yang terlihat begitu anggun tersebut.


“Ah! aku sangat tersanjung, terimakasih wahai …” Sejenak Aurum kembali terdiam, ia terlihat sedang memikirkan suatu hal. Namun aku tahu apa yang sedang ia pikirkan.


“Arley, Arley Benedict. panggil saja aku Arley.” Jelasku kepada Aurum sembari melepaskan jabat tangan kami berdua.


“Ah ya! Arley, terimakasih karena telah menolong sahabatku.” Demikian Aurum memberikan rasa terima kasihnya kepadaku.


“Tak perlu kak Aurum, aku hanya melakukan semua hal ini semampuku~” Jelasku dengan ekspresi datar. Lalu aku pergi dari tempat tersebut untuk mengambil tongkat milik Rubius yang terpental ke samping Selatan dari arena.


Setelah aku mengambilnya, aku lalu berjalan menuju Rubius untuk mengembalikan tongkat yang tampak sangat menyeramkan. Juga ada beberapa pertanyaan yang sangat ingin aku utarakan kepada Rubius yang saat ini masih terlihat sangat murung dan tampak sangat bersalah.


.


.


.


.


.


.


~PoV 3rd~


Kondisi sudah menjadi tenang, tubuh Aslan telah diangkat dan segera diantarkan kerumah sakit. Teriakan penonton mulai menggema kembali sembari menunggu pertandingan terakhir pada seleksi kedua, babak awal ini!


Namun dibalik ini semua ada beberapa pembicaraan yang terjadi antara Michale, Eadwig, dan Amy.


“Hey, bukankah bocah itu adalah Kesatria …? lalu kenapa ia bisa menggunakan sihir …” saat itu Michale berbicara pada dirinya sendiri dengan suara yang sedang.


“Aku juga memikirkan hal yang sama. Kukira ia hanya anak kecil biasa yang sedang coba-coba mengikuti seleksi ini.” Amy lalu masuk begitu saja pada ucapan Michale. Lalu Michale tampak tersentak ketika Amy masuk kedalam ocehan kosongnya tersebut.


“Kalian tidak lah salah, namun anak bernama Arley itu bukanlah bocah biasa. Kalian ingat insiden pada pertandingan pertama kemarin? Anak bernama Arley itulah pelakunya.” Eadwig kemudian membuat pembicaraan menjadi semakin pekat.


“Eh?! Maksudmu anak itu yang mebuat kerusuhan di seleksi tahap awal kemarin!? A-aku tidak mengetahuinya …” Mendengar ucapan Eadwig. Amy lansgung mengeluarkan keringat dingin pada pori-pori wajahnya.


“Benar, sebenarnya Arley lah yang menyelesaikan pertandingan pertama pada seleksi tahap awal kemarin. Namun entah kenapa, malah namaku yang tercantum menjadi pemenang di babak tersebut.” Kemudian Eadwig menatap tajam ke arah Michale. Demikian Amy mengikuti Eadwig karena ia juga tertarik mengapa hasil pada tahap awal kemarin bisa tertukar seperti itu.


“E-eh?! jangan melihat ke arahku!! aku hanya pembawa acara di arena ini. Lagi pula saat itu aku tidak punya wewenang untuk memilih siapa yang memenangkan pertandingan ... haah, anak yang sangat misterius.” Sejenak Michale terdiam pada kata-katanya, lalu ia menyadari akan suatu hal yang krusial. ”Hey, tapi apakah kalian menyadari akan suatu hal?” tanya Michale sembari menatap ke arah Eadwig dan Amy.


“Hm?! Apa itu?” Secara serentak Eadwig dan Amy mengucapkan kalimat tersbut, sejenak mereka saling tatap-menatapan. Namun dalam waktu yang cepat, fokus mereka beralih kembali ke Michale.


“Aku tidak tahu kalian bisa mendengarnya apa tidak. Tapi, bocah itu, entah sihir apa yang ia ucapkan, namun aku tidak memahaminya sama sekali. Seperti, mantra yang ia ucapkan adalah mantra dengan bahasa yang begitu aneh!”


Sontak Eadwig dan Amy terkejut setelah mendengar hal tersebut, terutama Amy yang ia mengetahui apa yang dimaksud Michale, karena ia juga merupakan seorang penyihir.


“B-benar! Jika aku ingat-ingat, mantra apa pun yang anak itu ucapkan! Aku tidak mengerti bahasa apa yang sang anak ucapkan!!” Lagi, kali ini Amy mengucurkan lebih banyak keringat dari sebelumnya.


"-Ehm, Aku juga melihat suatu hal yang aneh. sekilas aku melihat baju anak itu terus-terusan berganti warna. B-bukankah baju anak itu berwarna putih? ketika ia merapalkan mantranya, entah mengapa bajunya sempat berganti warna menjadi warna coklat, lalu biru, dan kembali menjadi putih kembali ..." Jelas Eadwig kepada mereka berdua.


Seketika itu juga Michale dan Amy secara tidak sengaja saling menatap, mereka seperti menemukan suatu hal yang menurut mereka berdua adalah suatu hal yang menarik.


"Mantra mengubah baju?" ucap Amy sembari menatap Michale. "Hihihi~ Ahahaha!!!~" demikian Amy tertawa mendengar ucapan Michale.


"Pfftt!! Ahahaha!!! Eadwig!! kau ini ada-ada saja!!! " Michale pun tertawa terbahak-bahak selepas mendengar keterangan dari Eadwig, namun tak berapalama kemudian ia memilih untuk menghentikan pembicaraan ini.


"~Ekhem! baiklah ... ayo kita kembali ke atas kaca. pertandingan selanjutnya akan segera dimulai! "Jelas Michale kepada Amy dan Eadwig.


Walupun dianggap bercandaan oleh Amu dan Michale, namun tampaknya Eadwih menganggap serius apa yang ia lihat tadi, tetapi karena ia tidak memiliki bukti yang kuat, untuk saat ini ia memilih diam.


Pembicaraan mereka akhirnya berhenti sampai disini. Sebenarnya masih banyak hal yang mereka ingin utarakan, namun karena keterbatasan waktu, mereka harus mengentikan pembicaraan mereka.


Lalu dari kejauhan, tampak ada seseorang yang mengenakan jubah hitam secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Amy, Michale, dan Eadwig. Dengan tatapan tajamnya yang penuh dengan dendam, orang itu menarik tudungnya untuk menutupi wajahnya yang sedari awal memang sudah tak kelihatan. Kemudian ia pergi menyelinap ke tumpukan peserta agar ia tak dapat dilihat oleh banyak orang.


“Tunggu aku wahai anak pembawa sial ….”


Demikian terdengar suara seorang wanita yang melantun getar dan sangat menyayat hati. Ia menatap kejam kearah punggung Arley yang saat itu sedang berjalan menuju tempat Rubius yang tengah terduduk lemas ….