
Angin malam mulai berhembus dengan kencang.
Koran-koran bekas dan beberapa plastik rumah tangga tampak berserakan di tengah jalan akibat terhempas oleh angin yang cukup kencang.
Rumah-rumah warga sudah tak ada lagi yang menyisakan cahaya lampu pada kaca-kaca rumah mereka.
Kondisi sepi dan sunyi, tampak menghantui ibu kota『Lebia』pada malam hari ini.
Kecuali di satu tempat.
Ya, hanya di satu tempat inilah suara yang begitu meriah dan menggelegar dapat didengarkan dengan jelas pada malam hari.
Terdengar teriakan jutaan umat manusia yang saat ini tengah meninggalkan rumah-rumah mereka, demi menyaksikan suatu pertunjukan yang hanya tampil dalam kurun waktu setahun sekali.
Bergema dan menderu, bahkan tempat dimana orang-orang tersebut memijakkan kaki mereka, sesekali bergetar akibat menggelegarnya suara yang mereka teriakkan dengan lantang dan semangat.
Tetapi hal yang semacam itulah yang mereka senangi.
Kegembiraan mereka meluap-lupa saat para peserta pertandingan mengadu kekuatan juga ilmu sihir mereka, demi mencari siapa pemenang di pertarungan yang sedang terjadi saat ini.
Sesekali mereka juga mendapatkan perasaan takut karena serangan-serangan para peserta pertandingan bisa saja mengenai diri mereka.
Tetapi sekali lagi di ingatkan, hal yang semacam inilah yang mereka cari.
***
Riuh dan berisik, demikianlah lantunan latar belakang yang menghiasi keberlangsungan pertandingan yang tengah berjalan.
Tepat di atas arena pertandingan, terdapat dua orang wanita yang saling menatap tajam.
Dari sudut Barat ada Aurum yang berdiri dengan kokoh.
Juga di tribun Timur ada Paroki yang diduga oleh Arley sebagai Misa.
Peluit pertandingan akhirnya dibunyikan, lantunan peluit yang Michale tiupkan terdengar begitu nyaring sampai membuat kepala orang yang mendengarkannya menjadi pusing dan bising.
Sontak Aurum langsung saja berlari menuju Paroki yang kala itu hanya terdiam membisu diatas tempat ia berdiri.
Sembari Aurum berlari, kemudian ia menyodorkan tongkat sihirnya ke depan lawannya sembari ia meneriakkan mantra sihir yang kiranya akan menggerakkan Paroki dari tempat ia berdiri.
"Pound Rock!"
Rapal Aurum dengan kencang. Lalu ia mengayunkan tongkat sihirnya kebawah, kemudian ia menariknya kembali ke posisi atas.
Bergeraklah bebatuan yang Paroki jejaki saat ini, bagian lantai lapangan pertandingan yang awalnya hanya berbentuk datar, kali ini berkibar layaknya terpal yang di hempaskan dengan kencang untuk menghilangkan debu dari atasnya.
Sejenak Paroki cukup terkejut dengan apa yang Aurum lakukan pada dirinya, lantai yang ia pijak tiba-tiba saja bergerak dan menggesernya ke pinggir arena.
Mendadak Paroki melompat tinggi ke arah depan untuk mengelak dari serangan yang di lancarkan oleh Aurum kepada dirinya itu.
Namun ternyata serangan Aurum belumlah selesai.
"Bed Rock!"
Rapal Aurum dengan tenang. Dihempaskannya bebatuan dari dasar lantai menjulang tinggi ke arah Paroki yang kala itu ia tampak tak bisa menghindari serangan Aurum.
Namun di luar dugaan, Paroki ternyata mampu menghindari seluruh serangan bebatuan yang dilotarkan oleh Aurum terhadap dirinya.
Berputarlah ia secara elegan saat tengah berada di uadara, demikian tak ada satu batu pun yang menyentuh tubuh Paroki.
Seusai ia berhasil melewati segala serangan yang Aurum lontarkan, kembalilah Paroki di atas lantai Arena.
Karena terkejut, Aurum terdiam pada kedua langkah kakinya, jarak mereka sangatlah dekat, mungkin sekitar sepuluh meter.
"Ternyata kau cukup tangguh," puji Paroki terhadap Aurum dengan suara yang cukup pelan, namun masih bisa didengarkan oleh Aurum yang jaraknya terbilang jauh darinya.
"Tentu saja, tetapi aku tak menduga jika kau mampu menghindari semua seranganku," tampak pesimis, Aurum memuji balik Paroki sembari ia mencoba mencari jalan keluar dari pertandingan yang sedang ia hadapi.
Sejujurnya Aurum sudah menemukan jawabannya, lawan tandingnya yang satu ini, bukanlah orang biasa. Dan Aurum sudah sangat yakin, jika ia tidak akan bisa mengalahkan Paroki dengan kekuatan sihirnya semata.
"Hey, namamu yang sebenarnya adalah Misa, bukan?"
Kembali Aurum menyodorkan tongkat sihirnya kearah Paroki, lalu Aurum mencoba menggali informasi lebih lanjut tentang orang bernama Paroki itu.
"Bukan, aku adalah Paroki—kau salah orang," dari balik tudungnya, Paroki kemudian menarik turun, ujung tudungnya tersebut untuk menyembunyikan wajahnya terhadap Aurum.
"Aku tak percaya kalimatmu, kau pasti Misa!—Arley sudah menyampaikan segala yang ia tahu kepadaku tentang asal usulmu, dan mengapa kau menyimpan dendam terhadapnya!"
"Dendam? Arley? apa yang kau katakan ...," berlagak bodoh, Paroki tak mau mengakui apa yang Aurum katakan.
"-Tch, apakah dia berusaha menyembunyikan jati dirinya?" gumam Aurum didalam hatinya sendiri.
"Kalau kau sudah lelah, sekarang giliranku yang akan menyerangmu," mendadak Paroki mengangkat tongkat sihirnya menuju ke arah Aurum, lalu ia melontarkan mantra sihir yang sangat dahsyat.
"Cyclone Wave~"
Paroki merapalkan mantra sihirnya. Tiba-tiba muncul pusaran angin tornado yang berputar begitu kencang dari ujung tongkat sihir Paroki, meluncur menuju arah Aurum, yang kala itu, tampaknya ia belum siap menerima serangan tersebut.
"Kyaa!" terpentallah tubuh Aurum ke atas langit.
Lalu, beberapa saat kemudian, tubuh Aurum kembali jatuh ke bumi dan menghantam lantai arena pertandingan dengan suara yang sangat keras.
Untungnya yang menghantam semen terlebih dahulu adalah bagian pinggang Aurum, demikian ia terhindar dari kecelakaan fatal.
"Agh!" namun tetap saja rasanya tetap sakit jika terjatuh dari ketinggian 13 meter.
Sekuat tenaga Aurum mencoba untuk menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya dengan mengusapkan tangan kanannya pada pinggangnya yang kala itu terasa sakit.
Setelah Aurum merasa bahwa dirinya masih baik-baik saja, ia pun bangkit dan kembali menjulurkan tongkat sihirnya, mulai lah ia membuka kuda-kuda tempurnya lagi agar tak terjadi hal yang sama untuk kedua kalinya.
"Kau terlalu percaya diri Misa, aku bukanlah orang biasa yang sering kau lawan itu," sontak Aurum kembali berlari.
Namun kali ini ia berlari ke arah samping. Tujuannya untuk mencari titik lemah—dimana Paroki tidak dapat membalas serangan yang akan Aurum lontarkan kepada dirinya.
"Fire Dart!"
Rapal Aurum sembari berlari menuju sisi utara arena lapangan. Namun tentu saja Mantra receh seperti itu tak mempan terhadap Paroki.
"Water Shield"
Muncul dari ujung tongkat sihir Paroki, sebuah gelombang air yang tiba-tiba menipis dan berubah menjadi tameng pelindung transparan.
Peluru-peluru api yang ditembakan oleh Aurum, seketika itu juga padam setelah menyentuh tameng air tersebut.
"Tch!?" seketika itu juga Aurum kembali berhenti berlari.
Terlihat jelas jika Aurum sangat marah terhadap Paroki. Lantas, seketika itu juga ia berniat untuk mengeluarkan salah satu mantra andalannya.
Dari sudut Utara, Aurum melangkah mundur sebanyak 10 langkah, lalu ia menjulurkan tongkat sihirnya terhadap Paroki.
Sontak, muncul gelombang api dari pucuk tongkat sihir Aurum.
"-Hm!?" Paroki cukup terkejut selepas ia melihat kejadian hal ini. Terlintas di benak Paroki, "Bagaimana mungkin sebuah sihir bisa aktif sebelum mantranya di rapalkan."
"Grave of Durandal!"
Seketika itu juga, barulah Paroki menyadari jika lawannya kali ini bukanlah sembarangan orang.
Sebuah gelombang api muncul dari ujung tongkat sihir Aurum, lalu gelombang tersebut menjalar ke dalam lantai arena, kemudian meresap bagaikan air yang tertelan tanah.
Sontak keluarlah magma yang begitu panas dari dalam lantai arena, bagikan sebuah ombak tsunami yang tiba-tiba saja muncul dari dalam bumi.
"Eugh!?" ucap Paroki sembari menahan panas. Akhirnya ia beranjak dari tempat ia berdiri.
Berlarilah Paroki menuju sudut Utara lapangan sembari ia membidikkan tongkat sihirnya menuju ke arah Aurum.
Setelah jarak mereka cukup jauh, diucapkannyalah mantra sihir yang pernah Paroki rapalkan pada babak pertama.
"Ice Age!"
Dalam waktu yang sangat cepat, setengah lapangan telah berubah menjadi es yang begitu dingin.
Tetapi mantra sihir Aurum tak kalah hebat dari Mantra sihir Paroki. beradulah kedua sihir tersebut sampai menciptakan ledakan-ledakan kecil akibat temperatur suhu yang berubah secara mendadak pada bagian tengah lapangan pertandingan
Saat itu juga, terciptalah suatu fenomena pemandangan yang begitu menakjubkan dari dalam lapangan pertarungan. Seluruh penonton yang melihat kejadian ini, langsunglah berdecak kagum sembari bertepuk tangan dengan meriah.
Namun, dibalik kemeriahan pertandingan yang sedang berlangsung, ternyata Aurum sudah tak tahan melanjutkan pertempuran yang ia tengah hadapi saat ini.
"-Luar biasa ...! dia ini memang benar-benar hebat!" ucap Aurum dalam hati, " -Eugh! aku sudah tak sanggup menahannya!" seketika itu juga, tubuh Aurum terasa begitu lemas.
Tampaknya『Mana』yang Aurum keluarkan semakin lama semakin menipis, dan saat dimana energi itu habis pun tiba.
Akhirnya, terputuslah serangan Aurum yang saat itu telah kalah duel dengan serangan yang dilontarkan Paroki terhadapnya.
"Aaaa!" tak mampu menahan intensnya serangan Paroki yang tak kunjung berhenti, Aurum langsung berteriak kencang sebelum pertandingan usai,
Terhentilah gelombang magma yang dirapalkan oleh Aurum, dan saat itu juga, gelombang es yang dirapalkan oleh Paroki, berhasil membekukan seluruh permukaan arena pertandingan.
Termasuk tubuh Aurum yang kala itu tampak seperti ingin menahan serangan Paroki. Terlihat jelas jika di dalam es raksasa tersebut terdapat tubuh Aurum yang membeku tak berdaya.
Sontak Peluit kemenangan pun ditiupkan oleh Michale.
Tanda bahwa pertandingan telah usai.
Lantas, dari atas ruangan lobi kaca. Saat itu juga—Arley, Eadwig, dan Ruby, terdiam membisu dengan ekspresi wajah mereka yang terlihat begitu terkejut.
Mereka tak menyangka pertandingannya akan berakhir secepat ini.
"Pemenangnya adalah peserta Paroki!" teriak Michale untuk menutup pertandingan.
Sorakan meriah dari para penonton pun pecah, menggema ke seluruh penjuru lapangan.
Seketika itu juga, Arley merasa tertampar dengan kehebatan yang Paroki miliki. Dan saat itu juga Arley baru mengingat suatu hal.
Ya, Arley baru ingat jika Paroki alias Misa, telah diberi sebuah kelebihan. Yaitu skill yang dapat membuat energi『Mana』pada tubuh Misa tidak akan pernah habis.
***
----------------------------------------------
Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuh support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan menyumbangkan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!
Always be Happy
And Happy Reading Guys!