The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 246 : Alan Lapis, The Thief (Part 2)



Tujuh belas tahun yang lalu.


Alan Lapis … saat itu, pria ini baru saja menginjak masa dewasanya, ia baru saja menginjak umur dua puluh tahun. Dan selama masa hidupnya, Alan terlahir tanpa kasih seorang ibu, yang dirinya dibesarkan sendiri oleh sang ayah.


Namun, pada malam dimana ia baru saja menginjak masa jenjang kedewasaannya. Sang ayah memberikan kabar, bahwa mereka akan memiliki keluarga baru dan seorang adik perempuan.


Alan yang pada malam hari itu tak pernah merasakan kasih seorang ibu, apalagi seorang adik perempuan, mendapatkan sebuah perasaan baru di dalam hatinya.


Ia merasa begitu senang, karena pada akhirnya, ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, dan cinta seorang adik.


Hidup pada keluarga Lapis, berjalan sangat berbahagia. Selama lima tahun bersama ibu dan adik tirinya, Alan pun akhirnya mendapatkan tiga orang adik laki-laki yang gagah berani seperti dirinya.


Hidup Alan sangat sempurna, dan penuh dengan kebahagiaan bahkan sampai melimpah ruah.


Hangatnya malam, meriahnya pagi, kebahagiaan di musim dingin, kebersamaan di musim semi, bahkan, keceriaan di musim panas.


Alan lewati tanpa pernah terpikir olehnya, jika mimpi buruk itu bisa datang secara tiba-tiba, dan merubah bentuk hidup Alan, sampai titik penderitaan terpedih selama dirinya hidup di dunia ini.


***


Lima belas tahun yang lalu.


Di kota tempat Alan tinggal … kota yang cukup damai nan makmur, walaupun tak begitu besar juga tak seberapa indah.


Pada saat itu, Alan yang menjabat sebagai perajurit penjaga kota, sedang berdinas malam, untuk berpatroli mengelilingi sudut utara Kota [Azurat Zlanat]. Sebuah kota, yang berdiri pada sisi paling pojok bagian tenggara, pada benua horus.


Kota yang bertemu langsung dengan lautan lepas, dan pemutus antara dunia luar dengan dataran dalam.


Kota ini tak begitu indah, karena kurang baiknya politik di sana dan kasus rasis yang begitu kental pada bangsawan terhadap masyarakatnya.


Walaupun demikian, kota ini tetap harmonis, karena masyarakatnya saling membantu satu dengan yang lainnya, dan saling melindungi diri mereka dari kekejaman para bangsawan yang rasisme.


Di malam hari menjelang pagi itu … Alan baru saja pulang dari dinas malamnya. Tubuh yang lelah, dan pikiran penat, bergabung menjadi satu—membuat sebuah perasaan tak nyaman di lubuk hati terdalamnya.


Alan yang baru saja duduk di sebuah kursi pada meja makan rumahnya, tak sengaja mendengar suara tangisan dari dalam bilik kamar sang adik paling bungsunya.


Tangisan itu memicu Alan untuk mengetahui, apa yang membuat adik paling bungsunya bisa menangis sampai tersedu-sedu seperti ini.


Rumah keluarga Lapis, memiliki empat kamar utama pada bagian dalamnya, satu ruangan tamu, satu dapur, dan satu ruangan tengah.


Ketiak itu, Alan berada di sisi ruangan tengah, tempat di mana makan bersama keluarga selalu di lakukan. Dan kamar tempat seisi keluarga ini beristirahat, tinggallah beranjak menuju sisi utara dari rumah sederhana tersebut.


Tiga kamar saling berjejer pada sisi barat, dan satu kamar orang tua Alan, berada di sisi timur dari koridor pemisah ruangan itu.


Alan memiliki ruangan paling sudut dari rumah ini, dan adiknya perempuannya yang bernama Loise Lapis, memiliki ruangan di tengah dari ketiga ruangan pada bagian barat tersebut.


Dengan kata lain, ruangan ketiga adik lelakinya Alan, adalah bagian paling pertama, dari posisi ruang tengah.


Demikianlah Alan bisa mengintip, apa yang sebenarnya membuat sang adik, bisa sampai menangis sampai seperti itu.


Sejenak Alan memanggil nama adik bungsunya … tetapi, sang adik tak juga menjawab panggilan sang kakak pertamanya.


Lantas, Alan yang merasa sangat penasaran, dengan begitu mudahnya membuka pintu kamar ketiga adik lelakinya itu. Dan di saat ia membuka pintu tersebut … matanya langsung membesar dan ekspresi wajahnya langsung berubah 180 derajat.


Tubuh Alan merasa begitu lemas, ia tak menyangka, jika pada seluruh sisi lantai pada ruangan itu, telah tergenang dengan air kental berwarna merah, dan berbau busuk layaknya besi.


Otot kakinya terlemas, bokongnya pun terhantam keras menyentuh lantai kayu dari rumah sederhana tersebut.


Beberapa kata ingin ia ucapkan, tetapi kerongkongannya tak bisa mengeluarkan suara … rasa di dalam lekumnya begitu serat dan seperti di cekek oleh sesuatu hal.


Celana hitam yang Alan kenakan pun sudah bersimbah dengan cairan tersebut. Pada Akhirnya, air asin pada kedua kelopak mata Alan, tak dapat bisa di bendung lagi. Saat itu juga, Alan menangis sambil mencoba melontarkan teriakannya yang tak kunjung keluar dari kerongkongannya.


Ya … tepat di depan mata Alan … tubuh sang ayah, dan ketiga adik bungsunya, telah terkapar. Bahkan, beberapa ada yang terlepas dari posisi aslinya.


Di saat ini, suara tangis sang adik paling bungsu sudah tak terdengar kembali. Matanya tampak pucat, layaknya tubuh yang tak bernyawa.


Setelah dirinya melakukan itu, barulah Alan bisa bersuara sedikit. Ia mulai menjerit dan meminta pertolongan dari orang sekitarnya. Tetapi tak ada satu orang pun yang membatu Alan, karena mereka tahu, jika orang yang melakukan semua ini, adalah salah seorang bangsawan yang begitu bejat juga tak berperikemanusiaan.


Memang pada dasarnya, seluruh anggota masyarakat pada kota [Azurat Zlanat] adalah orang yang baik dan sangat harmonis, tetapi, jika kasus itu berhubungan dengan salah seorang bangsawan yang terkenal akan ke kejiannya itu, maka mereka harus memejamkan matanya dan memikirkan nasib masing-masing.


Alan yang pada saat itu menyadari, jika tubuh dari Adik perempuan dan ibu tirinya tidaklah bersama dengan ayah beserta ketiga adiknya yang lain. Seketika itu juga, Ia berusaha mendesahkan napasnya dengan sangat intens, dan mencoba untuk kembali berdiri, demi segera keluar melaporkan kejadian itu pada atasannya.


Namun, sebelum ia berhasil keluar dari rumahnya, secara kasat mata, Alan melihat ada sebuah kertas yang tertulis dan ditempel sengaja, pada belakang pintu keluar rumahnya.


Tulisan yang tercantum pada pintu keluarnya saat itu, menjelaskan bahwa, ibu beserta adik tirinya, sedang ditahan di sebuah kasino, yang baru saja dibuka beberapa bulan yang lalu.


Mengetahui lokasi di mana keberadaan kedua keluarganya, Alan yang masih menaruh harapan kepada keluarganya yang tersisa, langsung saja berlari sekuat tenaga untuk mengejar sang dalang penculik dan pembunuhan keluarganya ini.


Ia berteriak sekencang-kencangnya, saat dirinya berlari menuju Kasino tersebut.


Selama setengah jam Alan berlari menuju Kasino milik seorang bangsawan korup tersebut, dan setibanya ia di sana, si pria yang memiliki pekerjaan sebagai seorang prajurit itu pun langsung mendobrak pintu kasino, dan melolong bagaikan orang gila di dalamnya.


Akan tetapi, sesaat setelah ia melihat apa yang berada di dalam kasino tersebut, teriakan Alan langsung berhenti seketika itu juga, dan wajahnya langsung pucat layaknya orang mati.


Ketika itu … tepat di depan kedua bola matanya, Alan menyaksikan dengan pasti, seorang anak bangsawan dari keturunan Jianno, tengah bermandi keringat dengan kedua orang yang dirinya sangat kenal.


Bahkan, yang lebih buruknya lagi … Alan melihat kejadian itu, pada saat seluruh member di Kasino tersebut, menunggu giliran kapan mereka juga bisa ikut bermain bersama kedua wanita itu.


Di kala matahari pagi terbit secara perlahan … seorang pria menangis dengan begitu gerunya, menumpahkan segala emosi, pada setiap butiran air mata yang tak terbendung lagi.


Anehnya, saat sang kesatria yang terkenal akan gagah beraninya itu tengah menangis, sekelompok orang malah tertawa terbahak-bahak, sambil menikmati momen mengerikan ini.


.


.


.


***


.


.


.


Kembali ke waktu saat ini….


Tubuh Alan sudah terbujur kaku di atas tanah yang keras. Di lain sisi, Arley masih tersenyum lebar pada kedua bibirnya, namun, sebuah sobekan pada wajahnya menandakan, bahwa pertarungan kali ini, bukanlah hasil yang mudah diraih oleh sang remaja berambut merah itu.


“Ah …! Ka-kau … kau cukuk hebat, wahai anak berambut merah!” ucap Alan, yang juga pada wajahnya, masih menyisihkan rasa senang walaupun dirinya berhasil di kalahkan.


“Kau juga lawan yang tangguh, wahai paman berponi panjang,” balas Arely, yang ketiak itu melirikkan matanya ke arah Alan.


Lantas, Arley pun tersadar, jika kereta kuda yang membawa lari Melliana, sudah berada di posisi yang cukup jauh, dan hampir menghilang dari pandangannya.


“Ah! Aku bisa kena marah paman Radits, jika Melliana berhasil diculik!” teriak Arley, sambil melunturkan senyuman pada pipinya.


Sejenak Arley terlihat panik, namun, setelah ia menghembuskan napas panjangnya, Arley pun bisa berpikir jernih kembali, sambil merencanakan taktik selanjutnya.


“Baiklah~ Sepertinya, membawa dirimu akan mempermudah segalanya.”


Lantas, si remaja berambut merah itu langsung melihat ke arah tubuh Alan, dan seketika itu juga, Arley memukul perut Alan, sampai membua Alan tak sadarkan diri.


“Ugh! S-sial …,” gumam Alan, sebelum dirinya terpingsan.


Tak mau membuang waktu lebih lama, ketika itu, Arley langsung saja menggendong Alan pada pundaknya, dan mengejar kereta kuda tersebut dengan seluruh kekuatannya.


Bisakah Arley mengambil kembali Melliana dari tangan para penculik ini?!