
Not Edited!
Terdiam kaku. Tubuhnya mati rasa seperti baru saja mandi air es--yang sempat membakar kulit. Perry tak mampu menggerakkan tubuhnya walau hanya satu sendi sekalipun.
Sang monster yang tadinya berada di depan pandangan matanya, secara instan, kali ini dirinya berada tepat di belakang Perry.
“Ahh, kasihan sekali dirimu. Wanita cantik sepertimu tak seharusnya ketakutan seperti ini,” ucap si monster sembari menjulurkan lidahnya, dan melembai pipi sang wanita berwajah bintik itu.
Menyadari akan betapa berbahayanya sang monster, Amanda, Kale dan Hilme. Langsung berteriak untuk menyadarkan diri Perry dari jeratan intimidasi sang iblis.
“PERRY!” jerit mereka bertiga dengan lantang. Sontak, tubuh Perry terkejut sadar, selepas mendengar suara ketiga sahabatnya kala itu.
Akan tetapi sudah terlambat, keraman tangan sang iblis mencengkram kencang puggung Perry yang ingin melepaskan diri.
Seketika itu juga, sang iblis menggigit pundak Perry sampai mengucurkan darah yang cukup deras.
“GKHAAAAA!” Teriaklah Perry sekuat tenaganya. Rasa sakit itu merambah sampai kedalam ubun-ubunnya. Tak pernah seumur hidupnya, sang wanita berwajah bintik merasakan perih yang begtu mendalam seperti ini.
Ingin rasanya ia pingsan saat itu juga. Namun, rasa tanggung jawabnya meledak sembari mengingat ketiga sahabat yang sudah dirinya anggap sebagai keluarga kala itu, tengah menanti dirinya demi melawan sang monster dengan segenap kekuatan yang tersisa.
Menggeramlah tangan Perry yang kala itu memegang tongkat sihir. Lantas, saat itu juga Perry menujahkan tongkat sihrinya , tepat ke mata sebelah kiri sang monster dengan sekuat tenaganya.
Tertusuk tepat pada sasaran. Seketika itu juga sang iblis meronta kesakitan sambil memegangi matanya yang tak dapat melihat lagi. Terlepaslah gigitan taringnya pada pundak sang wanita berparas jelita itu.
“Siaalaaaaan! Siiaaalaaaan! AAAAAaaaa!” Sang monster terbang ke sana dan kemari tak beratran, tampak dirinya sedang menahan sakit yang begitu amat sangat tidak mengenakkan.
Lepas dari gigitan sang monster, Perry terbujur lemah di lantai sembari memegangi bekas gigitan sang iblis. Berlarilah Hilme, Amanda, dan Kale untuk mengambil sahabatnya kala itu, kemudian berencana untuk sembunyi dari seragan balasan sang iblis.
“Perry! Bertahanlah!” ucap Hilme dengan cemasnya.
Seketika itu juga Amanda dan Kale menggotong punggung Perry, kemudian langsung membawanya pergi tubuh Perry ke bawah jembatan yang berada cukup dekat dari posisi mereka saat ini.
“Bertahanlah Perry!” ucap Hilme sembari merobek jubah birunya, dan mengikat punggung Perry agar mengurangi pendarahan yang sedang terjadi.
“Kita tidak bisa bertahan di sini!” Amanda tampak cemas sembari menatap kelangit, untuk melihat pergerakan sang iblis yang tengah meronta kesakitan. “Ayo kita cari tempat bersembunyi yang lain!”
Lantas, Kale menunjuk sebuah gubuk kecil—terbangung cukup jauh dari posisi mereka saat ini, demi mengistirahatkan diri dan menyembuhkan tubuh lemah Perry.
“Ayo kita pergi ke sana!” ujar Hilme, sembari dirinya menyodorkan tongkat sihir ke arah sang iblis untuk berjaga-jaga.
Pergilah mereka berepat menjauh dari lokasi pertempuran. Perlahan tapi pasti, diri mereka berhasil mendekat dan masuk kedalam gubuh tua tersebut.
Setelah diri mereka masuk ke dalam gubuk tersebut, betapa beruntungnya mereka setelah melihat ada sebuah pintu yang mengarah ke dalam tanah—tampak seperti ruangan penyimpanan barang-barang pertanian.
Masuklah mereka berempat kedalam ruangan bawah tanah tersebut. Dan bergegaslah mereka mengobati luka Perry dengan mantra penyembuh.
Setelah pintu ruangan bawah tanah tersebut di tutup, Kale langsung merapalkan mantra sihir penyembuh, demi mengobati luka sang sahabat.
“Water Healing~”
Rapalnya dengan pelan. Seketika itu juga, muncul gelombang air dari ujung tongkat sihir Kale, dan gelombang air itu menyelimuti luka Perry yang tampak dalam.
Sesekali Perry mendesau menahan rasa sakit akibat dinginnya air penyembuhan tersebut. Walaupun tak secepat mantra penyembuh Arley, tapi mantra sihir satu ini cukup efektif untuk menyembuhkan luka luar.
Perlahan luka Perry kembali tertutup, akan tetapi bekas dari luka tersebut masih tertinggal di pundaknya.
Demikian mantra sihir ini memakan stamina sang pasien. Semakin besar luka yang aka di sembuhkan, maka stamina sang pasien akan semakin terkuras hebat.
Seusai dirinya menyembuhkan Perry, Kale mengelap keningnya akibat tensi pertarungan yang tampak semakin mendekat.
Sampai saat ini, tak terdengar lagi suara jeritan sang monster. Dirinya yang bisa terbang, membuat ketiga wanita tersebut cukup ketakutan karena tak mampu mendengarkan langkah kakinya yang semakin mendekat.
“Apakah kita aman sekarang?” tanya amanda kepada Hilme.
“Ssstt!” Akan tetapi, Perry yang kembali sadar langsung berdesis untuk menghentikan pembicaraan mereka berdua.
Terdengar suara pintu terbuka secara perlahan dari arah atas mereka berempat. Lantas suara barang berjatuhan mulai tercipta sebab kegaduhan sang pencipta suara.
Berbagai perkakas mulai di lemparkan ke sana dan kemari. Sampai akhirnya, tak terdengar lagi suara sang monster.
Bunyi pintu tertutup pun terdengar kembali. Selepas itu, menghela napaslah keempat orang tersebut, yang bersembunyi di bawah tanah.
Namun, tiba-tiba terbuka pintu yang tersemat di atas kepala mereka. Dan seketika itu juga wajah sang iblis tertera jelas padanya.
“Ketemu ~” dengan begitu menyeramkannya wajah sang ibilis masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum menyengkak layaknya rasa bahagaia melanda hati sang pemilik senyuman.
“KYAAAAA!” teriak lah keempat orang tersebut dengan sekuat tenaga mereka.
“HA!? Sialan!? Apa yang kau lakukan!?” Sang Iblis meronta dan menarik kembali kepalanya dari dalam ruangan tersebut.
Tubuh Perry yang terikut keluar dari dalam ruangan bawah tanah tersebut, langsung ikut terbang tinggi ke udara.
Hilme, Amanda dan Kale ikut bergegas keluar dari ruangan tersebut. Betapa terkejutnya mereka bertiga ketika melihat seluruh bangunan yang ada di sekeliling mereka kala itu, telah datar dengan tanah.
Tapaklah tubuh Perry dan si Iblis tengah pertempur di atas udara. “Perry! Lepaska tongkat sihirmu!” pekik Hilme memperingatkan sahabatnya yang sungguh sangat berani tersebut.
“Tak bisa! Jika kau lepaskan tongkat ini sekarang juga, maka kita semua akan mati dimakan monster ini!” sekilas Perry berbicara dalam benaknya sendiri.
Perry sudah melihat pertempuran yang Arley lakukan sebelumnya, dirinya merasa sangat kalah jauh dari sang remaja berambut merah. Demikian dirinya sudah tak punya arti kehidupan jika tak bermanfaat untuk majikannya.
Sepintas teringat pertandingan anatara Arley, Rubius dan Eadwig ketika melawan monster Misa. ingin dirinya bisa berdiri diantara kelima orang tersebut, dan jika dirinya tak bisa melawan monster satu ini. Maka ia merasa seperti dirinya tak akan memiliki kesempatan itu lagi.
“Ya, hanya inilah yang bisa aku lakukan …!” ucapnya dalam hati. Akan tetapi, lagi-lagi sang monster berhasil menerkam tangan sang wanita jelita.
“AAaaaaakh!” pekiknya sembari menahan sakit. Seketika itu juga, Perry merapalkan mantra sihir paling kuat, yang pernah dirinya pelajari.
“Wave! Bomber!”
Teriak Perry sembari ia merapalkan mantra sihirnya, dengan sisa[Mana]yang ia miliki. Seketika itu juga, membesarlah kepala sang Siren bagaikan balon, dan meletuslah balon tersebut bagaikan gelembung sabun.
Terjatuhlah tubuh sang siren dan bersamaan dengan Perry. Ketika terhentak ke atas tanah, Perry memutarkan tubuhnya ke atas tubuh sang iblis siren, lalu tubuh itulah yang pertama kali menghantam bumi. Dengan demikian Perry terselamatkan dari hantaman langsung ke atas muka bumi.
“Perry!” Kala itu, terdengar panggilan ketiga kawan Perry yang merasa sangat cemas dengan kondisi wakil kapten mereka.
Perlahan Perry berjalan menjauhi tubuh sang monster, sembari ia mendekati ketiga kawannya.
“Ah! kau berdarah kembali!” Kely menyadari luka pada otot tangan sebelah kiri Perry. Seketika itu juga ia menyodorkan tongkat sihirnya demi menyembuhkan luka tersebut.
Akan tetapi, seketika itu juga, Kely terkejut ketika melihat apa yang sedang berdiri di belang Perry kala itu. wajahnya memuca seperti tak percaya pada apa yang dirinya pandang.
“Kely?” tanya Perry sembari ia mulai melihat kebelakang punggungnya. Betapat terkejutnya Perry ketika melihat sang duyung ternyata belum juga tamat!
Tiba-tiba, muncul seseorangan dari belakang sang monster, dan kali ini, orang tersebut benar-benar memusnahkan sag iblis dalam sekali serangan terakhir.
Menguaplah tubuh sang iblis duyung seperti debu tertiup angin.
“Ya ampun nanon, betapa lemahnya Meresis sampai bisa berubah wujud seperti ini nanon.” Terdengar suara yang tak memiliki wujud. Akan tetapi, dari sumber suara tersebut, tampak seseorang dengan perawakan yang Perry tampak kenal.
“A-aurum …?” tanya Perry yang pandangannya mulai kabur sebab kekurangan darah.
“Kau tak apa-apa Perry?!” sahut Aurum yang langsung terbang landai menuju wanita berparas bintik.
Sesampainya Aurum mendekat ke arah Perry, seketika itu juga Perry kehilangan kesadaran.
Bagaimana nasib Perry kedepannya? Dan bagaimana bisa Aurum terbang tanpa menguasai mantra sihir udara?!
Bersambung!~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!