
Didalam sebuah ruangan yang sangat amat besar, mungkin tingginya sekitar 20 meter dan lebarnya sekitar 20x30 meter, aku terduduk heran melihat begitu banyaknya buku-buku yang tersusun rapih di setiap rak-rak kayu yang berjajar di ruangan ini.
Didalam ruangan ini juga ada sebuah kursi yang amat sangat besar. Kalian tahu kursi raja? Ya kursi ini memiliki tekstur yang amat indah layaknya kursi raja.
Terdapat ukiran-ukiran cantik di kayu penyanggah tangannya. bantalan juga terlihat hangat dan mungkin rasanya begitu empuk. serta bagian kaki kursi ini terlihat kokoh juga elegan.
Namun dari semua bagian tersebut ada satu bagian yang sangat luar biasa besarnya.
Bagian yang paling unik tersebut adalah bagian sandaran kursi yang tampak tinggi nan cantik.
Jika di hitung-hintung mungkin tingginya bisa mencapai lima meter lebih.
Selain itu di tempat ini juga banyak buku yang berserakan di lantai.
Juga tampak di tengah ruangan ini ada sebuah set meja ruang tamu yang penuh dengan berkas-berkas yang tidak aku mengerti.
.
***
.
.
.
“... - Hey, Arley? Kau mendengar ucapan ku? Haloo Arley? ” ucap kakek yang aku belum tahu siapa namanya ini.
“A-ah! Maaf kan aku kek, bisa kakek ulangi ucapan kakek barusan?”
Kemudian wajah sang kakek menjadi cemberut layaknya anak kecil yang tidak di berikan uang jajan.
“Haahh, Tolong dengarkan aku jika sedang berbicara kepadamu Arley, aku tadi mengatakan bagaimana kondisimu saat ini, apakah ada bagian yang masih terasa sakit?”
Dengan memahmi apa yang sang kakek ucapkan, kemudian aku menggerakkan punggung ku layaknya seorang atlit yang sedang melakukan pemanasan sebelum latihan.
“Kalau dari punggung ku … tidak ada kek! aku merasa normal dan sama sekali tidak ada rasa sakit”
Sesungguhnya aku sangat terkejut, luka di tubuhku seluruhnya hilang tanpa bekas. Bahkan luka lama ku yang sempat menyisakan bekas di tempurung kaki kanan saat ini telah tersamarkan dengan warna kulit ku yang terlihat pucat bagaikan mayat.
“Normal kek, aku sudah sembuh total, namun … entah kenapa kepalaku masih terasa sedikit pusing seperti orang yang kekurangan darah ….”
“aah … kalau itu aku tahu sebabnya, mari ikut dengan ku sekarang juga!”
“He? Aku mau di bawa kemana kek ….?”
Tak berlama-lama, kemudian sang kakek menggiringku berjalan keluar dari ruangan tersebut.
.
.
.
Perlahan kami berjalan melintasi sebuah lorong yang cukup besar dan tampak kuno, hmmm layaknya sebuah kastil? Ya, menurutku seperti kastil kuno.
Kami terus berjalan sampai akhirnya kami berhenti pada sebuah taman yang sangat amat rimbun dengan berbagai tanaman yang cantik nan indahnya.
“Huwa …! Apa ini?! … belum pernah aku melihat yang seperti ini sebelumnya, indah sekali kek ….!! ~”
Mataku tak bisa lepas dari pemandangan yang ada di hadapanku, pemandangan ini benar-benar seperti memberi tahu nalar ku bahwa sebenarnya aku benar sedang berada di dunia lain.
Kalian pernah lihat bunga yang berkelopak krystal? Atau pohon yang buahnya berbentuk pyramid? Atau dedaunan yang terlihat seperti lempengan emas murni!?!
Luar biasa indah! Aku lagi-lagi di buat terkejut oleh hal yang tampak mustahil bagiku sebelum berada di dunia ini!
Semua yang aku sebutkan di atas! segalanya benar-benar nyata di tempat ini!
Ekosistem yang berada di hadapan ku ini membuat aku tak dapat mengedipkan mata.
Hingga akhirnya sang kakek berjalan ke hadapan ku dan melakukan duduk simpuh untuk mensejajarkan kepalanya dengan kepala ku.
“Hey Arley … aku ingin meminta maaf kepadamu, ini mengenai kejadian pada saat aku meninggalkan mu saat itu ….”
Wajah sang kakek tiba-tiba berubah menjadi sedih.
Ucapku dengan wajah yang riang. Namun berbanding terbalik dengan wajah sang kakek yang tampak semakin sedih dan merenung.
Tiba-tiba sang kakek memelukku dengan hangat, dekapannya sangat kencang, namun begitu hangat sampai aku hampir menikmati kondisi ini.
“Terima kasih Arley …! Terima kasih!!”
Beberapa saat kemudian terjadi keheningan.
Lalu sang kakek melepaskan dekapannya yang mungkin berlangsung beberapa menit ini dengan wajahnya yang saat ini sudah kembali ceria. Hehe, Syukurlah.
“Nah! Sekarang kesini lah Arley.” Ucap sang kakek sambil menggenggam tangan kananku.
“E-eh?! Kemana kek!?”
Sang kakek menarikku ke tengah taman yang isinya penuh dengan ekosistem yang tidak secuil kuman pun aku memahaminya.
“Taman ini memiliki nama [Hall of Mana]. Dimana tepat di bawah lokasi kita berdiri saat ini terdapat batu [Mana] murni yang di ciptakan oleh raja pertama kita, yang mulia Exandia.
Kemudian kakek itu kembali menatapku dan wajahnya menjadi serius.
“Arley, aku akan perkenalkan diriku … seperti yang ku janjikan kepadamu saat kita masih berada di luar sana, saat ini adalah waktu yang tepat. Dengarkan baik-baik Arley, nama ku adalah Marli-“
Belum selesai dia mengucapkan namanya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang lantang memanggil sang kakek.
“—Kepala Sekolah Marlin!!”
Seketika itu juga wajah sang kakek berubah menjadi terkejut dan murung bagaikan anak kecil yang permen nya jatuh ke tanah. hahaha hancur sudah Image dermawan sang kakek di hadapanku.
Tapi tunggu … he!?! MARLIN!?!!
“Kepala sekolah Marlin! yang mulia Lucas sudah tiba dan sekarang beliau menunggu anda di dalam ruangan kantor. Ah!~”
Dari dalam lorong kastil tempat kami masuk tadi, tampak dua orang wanita yang rasa-rasanya aku pernah melihat mereka berdua.
Sejenak tak sengaja mata kami saling bertemu.
Ah! Mereka berdua kan!?
Yap mereka berdua adalah orang yang bertengkar dengan Misa saat berada di depan kantor polisi.
Err lebih tepatnya memisahkan aku dengan Misa.
“kalian ternyata, Yufi dan Nina? Hmm terimakasih karena sudah menginformasikan aku, baiklah aku akan menemui Lucas sekarang juga, jadi tolong kalian berdua temani Arley sambil menunggu aku kembali kesini.”
Tanpa berlama-lama sang kakek meninggalkan aku di taman ini.
“T-tunggu kek, kau mau meninggalkan aku dengan mereka berdua!? Hey! Mau jadi apa tempat ini sesaknya jika mereka berdua di tinggalkan bersamaku, Ah! Kek!! tunggu aku!!”
Tentu saja sang kakek bernama Marlin tersebut meninggalkan aku berdua bersama wanita yang aku tak kenal ini … uhhh kau tega kek!! tegaa!!
Sesaat kemudian, tampak dari pundak kedua wanita tersebut pancaran aura ungu yang berkobar layaknya pertanda buruk untuk ku.
Sekejap mata mereka bersinar layaknya kucing di malam hari, lalu dari bibir mereka tampak seringaian seram yang membuat buku kuduk ku merinding.
“hehehe~ Hayy Arley! Salam kenal dari kami berduaa!!”
Langkah kaki mereka berdua perlahan mendekat ke arahku layaknya harimau betina yang sedang memandang lapar daging yang empuk nan segar.
“E-ehh!? Kak!! kakak berdua mau berbuat apa?! Aaa!! Tidak!! lepaskan aku!! Tiiiddaaaaakkk!!!!”
Lalu dengan rakusnya mereka mencengkramku dengan kedua lengan mereka seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan barunya!
“Aaahh!! Betapa lembutnya!!” ucap wanita berambut abu-abu tersebut sambil menggosokkan pipinya ke pipi ku.
“Yufi!! Gentian dengan ku!!” sebut wanita berambut ungu yang kemudian merampasku dari pelukan wanita bernama yufi ini.
“A-Aaaaa!!!! Tiiidaakkk!!! LEPASKAN AKUU!!!”
Wajahku kemudian memerah akibat ulah mereka yang tak karuan ini, ya, hari ini aku ada di ambang batas surga dan negara. Haahh~ hari yang aneh ….
****