
Not Edited !
Makan malam keluarga Tomtom pun usai. Walaupun waktu telah larut, banyak orang yang masih mengisi kursi-kursi pada bar, di penginapan. [Grabalt].
Kala itu, Paman Radits dan Emaly telah naik terlebih dahulu ke dalam kamar penginapan. Emaly yang sudah sangat mengantuk membuat paman Radits harus segera menidurkannya di dalam kamar, juga mengakhiri kegiatan hari ini dengan tenang.
Tersisalah Arley bersama Varra. Tampak Arley sedang mengelus-elus tongka sihirnya, sedangkan Varra sedang fokus memba buku tentang ilmu menyihir.
Saat keduanya sedang sibuk, tiba-tiba Janieta datang untuk membereskan piring-piring kosong beserta makanan yang tersisa.
“Bolehkah aku membereskan meja kaluia?” cakap Janieta sembari ia tersenyum kepada Varra.
“Tunggu sebentar, Janieta. Bolehkah aku meminta tolong untuk di bungkuskan sisa-sisa makanan kami saat ini?” ujar Varra.
“Baiklah, tunggu sebentar ya!” Lantas, Janieta memungut piring-piring yang sudah kosong, sedangkan piring yang masih berisi ia tinggalkan di atas meja untuk segera ia bungkus menggunakan kantung kertas.
Arley sedikit melirik ketika Varra meminta Janieta membungkuskan sisa makanan mereka kala itu. Timbul sebuah pertanyaan kasar pada benak Arley.
“Buat jatah makan tengah malam?” tanya Arley sambil ia melirik tipis ke arah Varra.
“Bukan!” ujar Varra yang tampak kesal. “aku tidak serakus itu sampai menyimpan makanan untuk di camili tengah malam!”
Ketika itu, Arley hanya melihat ekspresi Varra dengan saksama. Tiba-tiba Arley tertawa sambil ia membungkus kembali tongkat sihirnya.
“Aku temani ya,” tutur Arley sambil ia berdiri dari kursinya. Tampaknya Arley tahu tujuan Varra membungkus seluruh sisa makan malam mereka kala itu.
“K-kau tahu aku mau apakan makanan ini?” ucap Varra dengan wajahnya yang memerah.
“Untuk di bagikan ke, Distrik Slump, kan?”
“Eh?! Kok kamu bisa tahu!” Sedikit terkejut dengan analisis sang remaja berambut merah yang tepat sasaran, wajah Varra langsung terperangah takjub dengan sosok Arley.
Arley hanya tersenyum hangat, sembari ia ikut membereskan meja makan demi membantu Janieta, serta mempercepat waktu yang telah larut malam.
***
Lima belas menit pun lewat.
Saat ini, Arley dan Varra sudah berada di daerah Selatan kota [Dorstom]. Tinggal beberapa kilometer saja sebelum mereka sampai di Distrik Slump.
Tampak Arley mengangkut tiga buah kantung kertas berisi roti, juga beberapa daging sisa makan malam mereka saat ini.
Dari belakang sang remaja berambut merah itu, terlihat si wanita berambut hitam kemerah-merahan tengah mengikuti Arley sambil menatap langit malam.
Berjuta-juta bintang terhampar di langit kota [Dorstom], cahayanya yang terang bahkan mampu menyinari pandangan malam yang seharusnya gelap gulita itu.
Dari depan, Arley sedikit melirik ke wajah Varra dengan mata hijaunya.
“Sangat indah …,” cetus Arley secara tak sengaja, ketika ia memperhatikan lentikan manis, alis mata Varra.
“Iya! Sngat indah bukan?” tutur Varra yang salah kaprah mengenai pertanyaan Arley.
Terhentilah Arley sejenak, dari posisi berjalannya. Ia terus memperhatikan wajah Varra tanpa mempedulikan sekitarnya. Akan tetapi, sebab Arley tak melangkahkan kakinya, Varra langsung menyadari jika orang yang berada di depannya melalaikan pekerjaan yang harus di tuntaskan secepat mungkin.
“Kenapa berhenti?” ujar Varra sambil memalingkan wajahnya, menghadap ke arah Arley.
Termenung Arley memperhatikan wajah Varra dengan sangat mendalam, sampai-sampai ia berani mendekati wajah Varra dengan sangat amat tipis jarak di antara keduanya.
“A-ada apa …?! Kenapa kau memperhatikan wajahku sedekat ini …?” Melihat sikat Arley yang agak aneh, Varra langsung melangkah mundur, sebari ia meninggikan pertahanannya.
Sang remaja masih tampak menatap fokus ke wajah Varra, bahkan kali ini lebih spesifik ke bola mata sang wanita berambut hitam kemerahan tersebut.
“Kamu … memiliki mata yang indah. Warna hitam dengan sedikit corak kemerahan … sangat menarik ….” Seperti tak memiliki rem, lagi-lagi Arley mengatakan apa yang ia pikirkan saat itu dengan cerobohnya.
Kulit wajah Varra langsung memerah, tampak jelas sebab cahaya bulan langsung menyinari mereka berdua tanpa filter dan awan penghalang.
Berputarlah tubuh Varra dari hadapan Arley. Ia tak tahu harus berkata apa di depan sang remaja pria. Jantungnya berdegub kencang, perasaannya seperti meleleh bagaikan mentega yang di panaskan, telinganya juga tampak memerah sebab tak mampu ia menahan perasaan sukanya terhadap Arley.
“A-Arley … apakah kau mengatakan hal tersebut ke semua wanita?” Dengan suara yang gemetaran, Varra langsung menembak pertanyaan tajam, kepada Arley.
Terdiamlah sang remaja berabut merah tersebut memikirkan jawaban yang akan dia berikan.
Namun, sebab tak ada jawaban langsung kepada dirinya, Varra memilih untuk mencuri-curi pandangan, pada wajah Arley.
Tampak Arley tengah menatap langit dengan wajahnya yang datar. Ketika Varra melihat hal tersebut, kali ini Varra-lah yang menatap wajah bingung Arley. Varra membalikkan badannya untuk melihat lebih jelas kondisi sang pria idamannya.
Terhela napas dalam dari mulut sang remaja. “Aku tak tahu, Varra … sepertinya kau adalah yang pertama. Ya, setidaknya … setelah ingatanku hilang, kau adalah orang pertama yang aku panggil deimikian.”
Wajah Varra tampak memerah, tapi kali ini ia bisa mengontrol perasaannya. “Apa yang kau rasakan saat ingatanmu hilang?”
“Aku …,” gumam Arley. Tampak ia merundukkan kepalanya untuk melihat ke wajah Varra. “aku … merasa bingung, teresat, dan, perasaan ini, sangatlah tidak nyaman …,” jawabnya dengan penuh kejengkelan.
Menggerat kedua tangan Arley saat dirinya terngiang kembali, hari di mana ia bangun dan melupakan segala hal.
“Maafkan aku … tak seharusnya aku menanyakan hal itu.” Merunduklah kepala Varra. Dirinya merasa menyesal telah menanyakan hal sensitive seperti demikian, dan kembali membuat perasaan Arley menjadi tak karuan.
Tersenyum Arely ketika ia melihat wajah sedih Varra, melangkahlah ia mendekati sang wanita untuk merubah suasana.
“Sekarang aku yang merasa bersalah, sebab telah membuatmu menjadi seperti ini.” ujar Arley, seraya ia duduk jongkok di hadapan Varra. Kepalanya mendongak ke atas untuk memperhatikan wajah Varra yang menatap lantai.
Terkejutlah Varra ketika Arley melakukan hal itu. Lantas, saat itu juga Varra menaruh kantung makanan yang ia genggam, tepat pada wajah Arley.
“Hey! Kita sudah terlalu lama di sini! Ayo kita kembali jalan!” ucap Varra yang terlihat salah tingkah.
Arley tampak bingung dengan prilaku Varra. Ia memiringkan kepalanya sembari berdiri untuk memulai langkah panjang demi mengejar Varra yang berjalan cukup cepat.
“T-tunggu!” Panggil Arley yang langsung mengejar Varra dari belakang.
Di malam yang amat indah tersebut, pundi-pundi cinta di antara keduanya mulai tumbuh secara pesat. Perasaan Varra terhadap Arley, semakin membesar layaknya balon yang terus di tiup secara perlahan oleh sang pujaan Hati.
Begitu juga dengan Arley. Walaupun saat ini ia tak mengerti perasaannya sendiri, namun ia merasakan sebuah fenomena yang ia tak sadari. Orang-orang menyebut fenomena ini dengan istilah, kasmaran.
Apakah Arley akan menyadari perasaannya di kemudian hari? Dan akan kah Arley memilih Varra sebagai pendamping hidupnya sampai mati? Bagaimana dengan Misa, Sophie, dan Aurum? Apakah kondisi mereka baik-baik saja saat ini?
Bersambung ! ~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------