The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 124 : Gelora Cemas.



    Bergelora. Rambut sang Monster yang berwarna putih—tampak berkibar layaknya seperti tertiup angin. Namun kondisi di dalam Arena Pertandingan saat ini, sama sekali tidak tampak jika ada angin yang berkeliaran di sekitar sang Monster.


    Michale, Aurum dan Amylia tampak begitu tercengang dengan kondisi mata mereka yang mendelik hapir keluar.


    Mereka menatap tubuh sang Monster—yang saat ini sudah sangat beruba dan berbeda, dengan kondisi Misa sebelumnya.


    Tetapi pergerakan sang Monster tampak tenang, cukup berbeda dengan kondisi Misa sebelumnya—yang terus bergerak agresif dan ambisius.


    “Apakah benar Monster itu adalah Misa?” tanya Michale kepada Amylia dan Aurum.


    Tetapi, tidak ada satupun diantara mereka berdua yang mampu menjawab pertanyaan Michale.


    Dalam kondisi seperti ini, mereka bertiga hanya terdiam tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya—sembari menatap Misa dengan penuh kecemasan.


    Lalu, secara tiba-tiba—terdengar teriakan seseorang dari sudut Selatan Arena.


    “Michale! pasang sihir kacamu untuk menutupi langit Arena ini!” pekik Arley sembari ia memegangi tangan kirinya yang masih terasa sakit—sembari ia berusaha menyembuhkannya dengan bantuan tim medis.


    Sontak Michale menyadari akan satu hal. Tubuh sang Monster tidaklah menginjak bumi. Kala itu, Micale melihat kaki sang Monster—tampak agak sedikit mengambang dari atas lantai Arena Pertandingan.


    Seketika itu juga Michale menyodorkan tongkat sihirnya ke langit—dan ia meneriakkan mantra sihirnya dengan lantang.


    “Chamber of Miror!”


    Rapalnya dengan fasih. Seketika itu juga, muncul dengan secara mendadak—kaca yang biasanya dipakai sebagai lobi oleh para peserta—menutup langit-langit stadion pertandingan dengan begitu rapat.


    Michale kemudian memandang Arley dengan sendirinya, tampak diwajah Arley senyuman yang menandakan bahwa—apa yang Michale lakukan seusai dengan yang ia perintahkan.


    Lalu, relfleks—Michale mengalihkan pandangannya ke arah sang Monster, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sang Monster tengah menatap diri Michale dengan mata yang bersinar emas.


    “APA!?” sontak Michale langsung melangkah mundur dengan sendirinya, nalurinya mengatakan bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya—bakal menimbulkan musibah yang lebih ganas dari sebelumnya.


    Akan tetapi, dengan beraninya Amylia dan Aurum mengarahkan tongkat sihir mereka ke arah sang Monster, demi menahan pergerakan sang Monster—sampai kondisi Arley, Eadwig dan Rubius dapat kembali beraksi.


    “Kalian gila!?" terlihat jelas jika Michale tak setuju dengan rencana Aurum dan Amylia.


    "Ledakan amarahnya saja sudah bisa mementalkan aku dan membuat lobang sebesar ini!? bagaimana mungkin kalian bisa menahan keganasan makhluk itu!” cegah Michale terhadap Amylia dan Aurum.


    Mereka berdua pun tersenyum, tekad mereka berdua telah bulat demi mengulur waktu yang ada.


    “Mungkin apa yang kau katakan ada benarnya Michale. Kami mungkin tak akan mampu mengalahkannya,” sejenak Amylia memandang Michale dengan pandangan yang begitu yakin, “tetapi ada tiga rekan kami yang pasti bisa mengalahkannya!” cakapnya dengan tegas.


    Lalu Michale menampilkan wajah yang berbanding terbalik dengan Amylia, dia tak percaya degan apa yang Amylia telah ucapkan barusan. Tanggapannya tentang—apa yang Amylia ucapkan, adalah rencana gila yang tidak teruji samasekali.


    “Tidak-tidak! aku tidak akan mengijinkan kalian melawan makhluk itu!” marahlah Michale untuk mengendurkan semangat bertarung Amylia dan Aurum.


    Namun dari sebelah kirinya Michale, Aurum menjelaskan—jika apa yang Michale katakan adalah sebuah kesia-siaan.


    “Pak Michale ... aku baru mengenali Amylia beberapa hari—tapi aku mengetahui satu hal tentang dirinya,” kali ini Aurum yang tengah tersenyum, menolehkan pandangannya terhadap Michale, “Amylia adalah orang yang keras kepala!” terang Aurum sembari melirik sedikit ke arah Amylia.


    Lantas Amylia membalas lirikan Aurum dengan memicingkan mata sebelah kanannya—tanda jika ia setuju dengan apa yang Aurum katakan.


    “HA!?” tentu saja Michale tidak mengerti apa yang kedua orang gadis ini tengah bicarakan.


    Karena pembicaraan mereka tak berujung restu, saat itu juga Amylia dan Aurum langsung melompat masuk kedalam Arena Pertandingan—untuk melawan Misa yang telah berubah menjadi Monster putih.


    Sontak Michale yang belum selesai berdebat dengan mereka, langsung berdetak kencang jantungnya—sebab apa yang ia inginkan tak sesuai rencananya.


    “AAAAaaa!! aku tak bertanggung jawab lagi dengan apa yang akan terjadi!” gumam Michale dengan penuh rasa jengkel. Lantas, ia akhirnya mengikuti jejak langkah Amylia dan Aurum, untuk menghentikan pergerakan Monster putih tersebut, sebisa mungkin.


.


.


.


***


.


.


.


    Debu mengepul dengan tebalnya, tatapan Monster tak bermulut itu menusuk sampai ke lubuk hati yang paling dalam.


    Tampak seperti apa yang terpancar dari matanya, mampu melihat isi hati orang yang sedang ditatap olehnya.


    “Kau yakin akan melawan Monster ini?!” tanya Michale sekali lagi kepada Amylia.


    Wajah mereka bertiga mengucurkan keringat dingin yang cukup lebat, mereka sendiri sebenarnya tak tahu harus berbuat apa, namun mereka tetap dalam posisi kuda-kuda tempur—demi menati serangan yang Monster itu akan lontarkan kepada mereka bertiga.


    “Jika kau tak yakin—kau boleh pergi dari sini Michale, serahkan segalanya kepada kami berdua,” ujar Amylia dengan sedikit penekanan—agar Michale merasa seperti sedang ditantang.


    “Ucapan-mu pandai sekali wahai Putri dari Negeri『Atargatis』, jika rencanamu itu untuk membuat aku tetap membersamai kalian—maka selamat, aku akan tetap berada di sini walau nyawaku terlepas.


    Tertawalah Aurum dan Amylia dengan gelak tawanya yang manis. Tetapi kebersamaan mereka tidaklah memakan waktu yang lama.


    Tiba-tiba saja, Monster berwarna putih tersebut membungkukkan tubuhnya ke arah Aurum, Amylia dan Michale. Lalu dalam satu kali kejapan mata—hilanglah monster tersebut dari pandangan Aurum dan Michale.


    “EugH!” tersedaklah Amylia ketika tangan sang Monster mencengkeram lehernya, dan kala itu juga—terdoronglah tubuh Amylia sampai membentur tembok tribun penonton.


    Seketika itu juga, tubuh Amylia tertanam di dalam tembok tersebut.


    “AMY!” teriak Aurum sembari ia menoleh ke tempat dimana Amylia terdorong.


    Kecepatan larinya memang luar biasa, pergerakan Monster putih itu—benar-benar tak mampu di lihat oleh mata kosong.


    Aurum dan Michale tak mampu bereaksi untuk mengantisipasi serangan sang Monster, alhasil serangan sang Monster dapat berhasil menghujam telak tubuh Amylia—yang tengah menjadi sasaran empuk bagi sang monster.


    “Chain Repulsion!”


    Rapal Amylia dengan putus asa, beruntungnya mantra yang ia lontarkan langsung mengenai Monster tersebut.


    Secara bertubi-tubi, dari ujung tongkat sihir yang Amylia genggam. Tertembaklah ribuan peluru air yang mampu melontarkan tubuh sang Monster—sampai terhempas ke sisi seberang—dimana Amylia berada sekarang.


    Lantas, tubuh Amylia terjatuh ke lantai setelah sang Monster melepaskan genggamannya—akibat terkejut akan serangan dadakan yang Amylia lantunkan terhadap diri sang Monster.


    Bergegaslah Michale dan Aurum menghampiri Amylia untuk melihat kondisinya.


    “Kau tak apa-apa?!” ucap Michale sembari mendudukkan dirinya di samping kanan Amylia.


    Sedangkan Aurum langsung memutarkan tubuhnya, demi melihat pergerakan sang Monster yang bisa saja saat itu, secara tiba-tiba—sang Monster kembali menyerang mereka.


    “Ya, aku hanya tercekik saja …,” cakap Amylia dengan suara yang serak, lehernya tampak memerah sebab cengkeraman yang cukup kuat dari serangan sang Monster.


    Sontak Aurum menjerit ketika sang Monster tampak bangkit lagi dari keterpurukannya.


    “Dia datang!” pekik Aurum untuk memperingatkan kedua temannya yang berada di belakang.


    Seketika itu juga—tubuh Aurum langsung tercengkeram kembali seperti halnya yang terjadi pada Amylia. Tertanamlah tubuh Aurum di dinding tribun, tepat di sebelah lubang dimana Amylia tertanam sebelumnya.


    “Aurum!” teriak Amylia dan Michale bersamaan.


    Saat itu juga mereka berdua menjulurkan tongkat sihir mereka ke arah sang Monster. Lantas, Amylia dan Michale secara spontan—merapalkan mantra sihir yang mereka anggap mampu melumpuhkan pergerakan sang Monster.


    “Water Repulsion!”


    Terlontarlah gumpalan air sebesar satu meter—menghujam ketubuh sang Monster.


    “Dead Shot!”


    Kemudian Michale menembakkan bebatuan yang ada di sekitarnya untuk melontarkan tubuh sang Monster jauh dari sisi mereka.


    Tetapi rencana mereka gagal.


    Tiba-tiba, sang Monster menjulurkan tangannya ke arah Amylia dan Michale, dan ia memekarkan genggamannya demi membuat hentakan udara.


    Hancurlah serangan sihir yang Amylia dan Michale coba lontarkan kepada sang Monster.


    Setelah melihat serangan yang mereka rapalkan berhasil diremukkan seperti kerupuk, wajah sang Monster langsung memandang kosong ke arah Amylia dan Michale,


    “Tubuhku!?” Ucap Michale.


    “Aku tak bisa bergerak!” tampak Amylia mulai menjadi panik.


    Pada momen inilah—Amylia, Aurum dan Michale sadar, jika mereka bertiga tengah berada di depan pintu kematian.


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!