
not edited !
Mata Arley terbuka lebar, tapi senyumnya tak luntur dari wajah pokernya tersebut. Beberapa saat ia terdiam, sampai akhirnya ia mulai berbicara kembali.
“Ehm, jadi, apakah namamu Varra … atau, Hanya Varra?” tanya Arley yang ternyata terkejut bukan sebab umur, melainkan nama si Varra.
“He?” Lantas, Varra pun tampak terbingung dengan pertanyaan Arley, sejenak ia berpikir keras dari maksud pertanyaan Arley. “Y-ya, seperti yang aku bilang, namaku Hannya Varra …,” ujarnya sambil memiringkan sedikit kepala.
Berkeringatlah wajah Arley mendengarkan jawaban Varra. “Jadi … Hanya Varra …?” tanya Arley sekali lagi.
“Err … ya … Hannya Varra ….”
Kondisi Hening kembali terjadi, Arley masih tak paham apakah nama Varra itu menggunakan kalimat ‘Hanya’ sebagai namanya, atau kalimat ‘Varra’ saja yang melekat pada dirinya.
“Tunggu dulu … jangan bilang kau bingung dengan namaku? Pfft!” Ketika itu, Varra yang mulai mengerti apa yang Arley bingungkan, sontak tertawa lepas dan tak bisa menahan gelaknya yang lepas.
Arley yang masih memasang wajah pokernya, hanya memiringkan kepala dengan perasaan berkecamuk.
“Ahh … sudahlah, panggil saja aku Varra. Jadi, kalau aku boleh tahu, nama kakak siapa?” tanya Varra kepada Arley.
Meras jika tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan nama si Varra, Arley kemudian memperkenalkan dirinya dengan polos. “Arley … Hanya, Arley Tomtom, dan umurku … kalau tidak salah, empat belas tahun.”
Mendengar cara perkenalan Arley, sontak Varra tampak kesal dan merasa di permainkan. “Oi … kau tidak sedang mengejekku kan?” ujar Varra yang ia mengira Arley mengejek nama ‘Hannya’ nya.
Namun, Arley dengan polosnya hanya memiringkan kepala sembari ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Apakah aku salah mengucapkan sesuatu?”
***
Hari sudah semakin sore, Arley merasa jika dirinya harus segera pulang sebelum dirinya membuat cemas Paman Radits.
Akan tetapi, rasa khawatirnya kepada Varra, membuat Arley ingin membawanya pulang.
Menolehlah Arley melihat wajah Varra.
“Hey, apakah kau tinggal sendirian di sini …?” cakap Arley sambil ia mengambil koper hitamnya kala itu.
“Ya, Aku tinggal sendirian di sini!” jawabnya dengan wajah ceria.
“Apakah kau tidak kesepian?”
“He …? Tidak, malah aku senang tinggal di sini. Lihat! Tempat ini penuh dengan buku yang bisa aku baca sepuasku!”
Mendengar jawaban Varra yang jelas dan tajam. Rasa ceman Arley langsung menguap bagaikan embun pagi.
“Kalau begitu, sampai jumpa besok pagi” salam Arley sebelum ia berpisah.
Mata Varra memancarkan cahaya harapan. Ia tak menyangka jika Arley akan datang untuk esok hari juga.
“K-kau besok akan datang lagi …?” tanya Varra dengan wajahnya yang memerah.
“Ya, dan aku akan membawa makanan yang lebih banyak dari makan kita tadi.”
“Hee … jadi besok kau akan datang kembali ….” Gumam Varra sambil ia memainkan jari tangannya.
“Hm? Kau senang besok aku datang lagi?” dengan polosnya Arley menanyakan hal yang bodoh.
“T-tidak! Aku tidak peduli jika kau datang kembali atau tidak!” Dengan sifat pemalunya, Varra memutarkan badan dan menyembunyikan wajah merahnya dari pandangan Arley.
“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali datang ke tempat ini,” ujar Arley sembari ia berjalan melangkah keluar ruangan. “Selamat malam,” sapa Arley yang ketika itu mulai menutup pintu.
“Eum … jadi dia besok akan datang kembali …,” gumam Varra yang tersenyum sendiri di ruangan pengap itu.
.
.
.
***
.
.
.
Malam itu, Arley telah kembali ke penginapan [Grabalt], yang terletak di sudut, Barat Daya, dari pusat kota [Dorstom].
“Arley! Akhirnya kamu pulang juga!” ucap paman Radits, yang berada di meja makan sudut sebelah kiri bagian atas, dari depan pintu masuk.
Penginapan ini berhubungan langsung dengan bar. Lantai satu adalah bar yang sering dikunjungi oleh para petualang serta prajurid, dan untuk lantai dua digunakan untuk penginapan.
Melihat Paman Radits dan Emaly sudah memulai makan malam mereka, tanpa berlama-lama, Arley langsung bergabung bersama mereka untuk menyantap makan malam bersama.
“Jadi, apa yang sudah kamu beli, Arley?” tanya sang paman yang kala itu sedang mengunyah kentang rebus yang di lumuri telur setengah matang.
“Tidak banyak, hanya baju ini saja.” Lantas, Arley menaruh kopernya di atas meja dan dirinya mulai terduduk lemas setelah perjalanan panjangnya hari ini.
“Kamu terlihat lelah, Arley. Kemana saja memangnya hari ini?”
“Tidak jauh, hanya ke bagian selatan kota, lalu membeli beberapa makan siang dan beristirahat di perpustakaan.”
“Perpustakaan? Aku rasa di kota ini tidak ada perpustakaan ….” Mencoba mengingat tata letak kota, Paman Radits mulai menerka-nerka di mana lokasi perpustakaan yang Arley sebutkan, tapi tetap saja ia tak mendapatka jawabannya.
Makan malam pun berakhir dengan cepat. Saat itu, Arley memilih nasi goreng sebagai santapan utamanya, dan dengan cepat, koki penginapan ini membuat pesanan Arley dalam waktu yang begitu singkat.
Pada penginapan ini, disewakan sebuah ruangan yang bisa biasa ditempati oleh satu keluarga. Sebuah ruangan yang berisi satu ruang tamu, satu kamar mandi, dan dua kamar tidur. Walaupun biayanya lebih mahal di bandingkan kamar biasanya, tapi pelayanan di penginapan ini sangatlah baik.
Malam itu, Arley tertidur cukup pulas … tertidur tanpa mimpi yang tampak kosong juga singkat. Yang pasti, setiap kali Arley terbangun dari tidurnya, ia tidak mengingat apa pun. Dirinya hanya mengingat kejadian saat dirinya terbangun di hutan, dan kejadian yang telah bergulir sampai saat ini.
***
Ciutan burung terdengar begitu merdu. Kala itu, Arley masih tertidur pulas di atas kasurnya. Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan masyarakat yang membuat dirinya terbangun saat itu juga.
“Apa itu …? Kebakaran?” Terdengar suara beberapa orang yang saling bercerita di antara mereka.
Mata Arley langsung terbuka lebar layaknya robot, Arley langsung bangkit dari kasurnya, dan ia bergegas berlari menuju tempat yang ia curigai.
Bagaikan sambaran petir, perasaan tak enak langsung merebak dalam hati Arley, saat dirinya mendengar teriakan beberapa orang saat dirinya masih dalam kondisi tertidur.
Dengan liar ia berlari dalam kondisi masih menggunakan baju piyama dan tanpa alas kaki.
“Api …! Api!” teriak seorang wanita yang memandang ke sisi selatan kota. Tampak dari tempat mereka berdiri, sebuah kobaran api liar, dan asap hitam yang membubung tinggi, mewarnai pagi dengan kepanikan yang tak di segani.
Dalam larinya, sesekali Arley mendengar percakapan orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Kebakaran? Daerah Slump di bagian selatan telah terlahap api? Sumbernya dari Bangunan Bekas Perpustakaan?!” bincang dua orang pria yang mendapatkan informasi burung.
Mengetahui bahwasanya sumber utama kebakaran berasal dari bangunan perpustakaan, firasat buruk Arley langsung berkedik di dalam hatinya.
Dirinya menambah laju kecepatan lari, agar ia bisa cepat sampai pada lokasi yang dituding sebagai pusat kebakaran. Lantas, dalam waktu yang cukup singkat, Arley telah tiba di lokasi kebakaran.
Benar saja, saat Arley tiba di bangunan tua perpustakaan, dirinya langsung terbelalak ketika melihat kobaran api telah membakar seluruh bagian bangunan.
Tiba tiba dari bagian kanan bangunan, meledak sebuah dentuman yang tak di perkirakan. Orang-orang yang awalnya berkumpul di sekitaran bangunan, langsung lari dan berhamburan untuk menghindari hal-hal yang mereka tak inginkan.
“AAaaagkhh!” pekik Arley yang mulai terduduk di atas tanah. Padahal tak ada benda yang menyakiti tubuhnya. Serpihan-serpihan ingatan tampak mengalir di benak Arley, tetapi seketika itu pula, langsung menghilang tanpa bekas.
“O-oi!? Apakah kau baik-baik saja? Jangan jangan kau terkena serpihan ledakan?! Hey anak muda?!” tanya salah seorang pria tua yang berdiri di sebelah Arley.
“Lihat! Di sana masih ada seseorang!” tunjuk salah seorang warga ke lantai dua dari bangunan tersebut.
Tiba-tiba, saat Arley mendengar kalimat tersebut, mata Arley langsung menoleh ke lokasi yang di tunjuk oleh warga tersebut. Benar saja, siluet yang terlihat di balik jendela, adalah siluet dari, Hannya Varra.
“Varra!” teriak Arley, yang ketika itu langsung melupakan rasa sakit di kepalanya. Lalu, tiba-tiba tubuh Arley bergerak sendiri. Kakinya berlari dan memasuki bangunan yang sudah hampir rubuh termakan api tersebut.
“Oi! Anak muda! Itu sangat berbahaya!” pekik orang tua yang berada di sebelah Arley tadi.
Saat ini, yang ada di benak Arley adalah, menyelamatkan nyawa Varra, apa pun konsekusensinya.
“Varra! Bertahanlah! Aku segera menyelamantakmu!” gumam Arley, dengan ekspresinya yang berubah sangat serius.
Bersambung ! ~
.
.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
.
.
.
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
.
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
.
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
.
.
.
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
.
.
.
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
.
.
.
Baiklah!
.
.
.
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
.
.
.
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
.
.
.
Have a nice day, and Always be Happy!
.
.
.
See you on the next chapter !
.
.
.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
.
.
.
.
.