
Not Edited!
Segalanya berubah menjadi gelap gulita. Pandangan Rubius tak mampu melihat sekitarnya, hanya lambaian angin yang mampu ia rasakan, menyentuh kulit wajahnya dengan begitu lirih.
“Ahh … apakah aku sudah mati …?” pikirnya dengan gelisah. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sangat dirinya kenali.
“Rub** … Rubiu* …! RUBIUS!” panggil suara itu dengan begitu intens. Kepala Rubius secara otomatis bergerak mendongak ke posisi atas. Ketika ia mengerakkan kepalanya\, ternyata Pengelihatannya tidaklah buta\, hanya saja pandangannya tertutupi oleh kain yang menyingkap wajah sang remaja berambut hitam tersebut.
Terjatuhlah kain yang menutupi wajahnya tadi, Kain tersebut adalah kain jubah berwarna merah darah. Ya, Kain itu adalah kain yang Eadwig selalu gunakan kemanapun ia pergi. Eadwig saat ini sedang berdiri di depan Rubius, karena jarak mereka terlalu dekat, Kain jubahnya sempat menyingkap pandangan Rubius. Hal inilah yang membuat pandangan RUbius tertutup.
“E-eadwig …?” ucap Rubius dengan perasaan yang campur aduk.
“Ah Syukurlah kau masih bernyawa! Aku kira kau telah melepaskan nyawamu sebelum diri ini tiba!” Senyuman Eadwig yang menenagkan hati siapapun yang memandangnya, kali ini benar-benar efektif di mata Rubius. Rasa kekhawatirannya secara instan, langsung lepas dari dalam lubuk hati terdalamnya.
“K-kenapa …?! Bukankah kau …?!” beribu pertanyaan langsung masuk kedalam benak Rubius, tetapi jawaban yang paling pas adalah, karena Eadwig adalah orang yang tidak mudah mati.
“K-Korfe!?” Menyadari jika pertarungan belum usai, Rubius langsung menggerakkan badannya untuk melihat kondisi dari si naga hitam.
Tak ada perubahan dari tubuh sang naga hitam, dirinya masih berdiri pada tempat yang sama. Hanya saja ekspresi Korfe terlihat semakin cemberut dengan kedatangan Eadwig di depan dirinya.
Meliriklah Rubiuis secara tak sengaja menatap tangan kanan Eadwig. Padanay terdapat pedang raksasa yang dirinya dapatkan dari hadiah tournament mereka.
“Pedang ini …,” tanya rubius.
“Rubius … maafkan aku karena datang terlambat. Setelah kedua pedangku patah, aku pergi menuju pusat ibu kota, untuk mencari pedang pusaka ini.”
Puas mendengar ucapan Eadwig, senyuman di wajah Rubius kembali memenuhi wajahnya. “Syukurlah kalau begitu,” cakap Rubius sambil kembali berdiri pada kedua kakinya.
“Hey, Rubius. Tadi aku sempat melihat sebuah ledakan yang amat dahsyat. Apakah kau yang merapalkannya!?” Ketika Eadwig menanyakan pertanyaan itu, Dirinya kembali membentuk kuda-kuda bertempur.
“Ya … aku melakukannya secara tidak sengaja. Mungkin karena adrenalin. Tapi, iblis di depan kita ini, adalah monster yang sangat berbahaya … setelah menerima serangan langsung dari sihir terakhirku, yang bahkan meluluhlantakkan seluruh bangunan yang berdiri tegap di lokasi ini. dirinya berhasil meregenerasi tubuhnya yang sudah hancur lebur.” Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh RUbius.
“Jadi … kau tidak tahu cara membunuh pak tua yang satu ini …?” Sekali lagi Eadwig bertanya kepada sahatabnya itu.
Namun, Rubius hanya menggelengkan kepalanya sambil menelan ludah yang telah mengumpul pada mulutnya.
“Dari tadi kalian hanya berbicara dengan semaunya. Apakah kalian berdua sudah siap menjemput kematian?” Wajah Korfe kembali mengkerut, tampak jelas jika dirinya sudah tak betah dengan kondisi saat ini.
Eadwig yang sudah menggenggam sebilah pedang pusaka, tampak lebih tenang di bandingkan sebelumnya. Dirinya lebih percaya diri. Tersenyumlah sang pangeran negeri [SImbad] itu dengan senyumannya yang terlihat kejam.
“Hey Pak tua, Sudahkah kau puas dengan pertarungan sebelumnya?” Eadwig mulai memancing pembicaraan kepada Korfe. Ia mencoba mencari celah untuk mengetahui bagaimana cara membunuh iblis yang satu ini.
Namun, Tiba-tiba mood Korfe malah semakin memburuk.
“Hentikan … aku tahu kalian ingin mencari cara agar tubuhku ini bisa di musnahkan dari dunia. Tapi maaf, bahkan aku sendiri tak tahu cara menghancurkan tubuhku yang terkutuk ini … jika kalian tahu cara untuk membunuhku, maka aku akan secara cuma-cuma memberikan nyawaku kepada kalian.” Jelas Korfe dengan begitu rinci.
“Kalau begitu—” Sempat ingin memperlama pembicaraan, tiba-tiba ucapan Eadwig langsung di potong oleh Korfe.
“Percuma! Dengan kekuatan seperti itu, apa pun yang kalian rencanakan, akan membuahkan hasil yang sia-sia!” Bentak Korfe yang kala itu mulai kembali membidikkan tangan kanannya mengarah ke tempat Eadwig serta Rubius berdiri. “Aku sudah muak dengan dunia ini! Kalau aku tidak bisa mati! Lebih baik aku musnahkan seisi planet ini!”
Rubius langsung merinding ketika melihat aura ungu keluar dari dalam tubuh Korfe. Kali ini berbeda, bukan asap hitam yang menjalar darinya, tampak seperti radiasi yang menguap dari dalam tubuh sang naga hitam, tapi berwarna ungu yang begitu gelap.
“Eadwig … berhati-hati. Dia akan melakukan sesuatu …!” ucap Rubius untuk memperingatkan sahabatanya.
“Aku tahu … aura itu bukan aura biasa.” Balas Eadwig yang juga mengucurkan keringat dingin sebab tensi yang memanas.
“Kalau begitu … hal terbaik yang bisa kita kerjakan saat ini adalah; lakukan … atau mati …!”
“Ya! Aku setuju, kawan!” ucap Eadwig dengan begitu semangat.
Lantas, dengan begitu kuat Eadwig melompat menuju ke arah Korfe. Dengan beraninya ia menjejakkan kaki, demi menujahkan bilah pedangnya itu ke tubuh sang naga hitam. Sedangkan Rubius, dari kejauhan dirinya mensuport Eadwig jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi.
Secepat angin Eadwig berlari menyamping ke sebelah kiri Korfe, sesampainya ia di sana, Eadwig kemudian menebaskan pedangnya dari kejauhan, ia hanya memanfaatkan serangan jarak jauh untuk memprovokasi sang naga hitam.
Gelombang tebasan merambat dengan cepat, udara yang begitu tajam langsung mengenai targetnya dengan akurat. Korfe yang tak ada niatan untuk menghindar, mengorbankan tangan kirinya untuk menahan serangan yang Eadwig lajukan.
Lepaslah angan kirinya dari tubuh sang pak tua tersebut. Namun, tiba-tiba saja tangan kirinya tumbuh kembali bagaikan buntut cicak.
“Ugh! Bagaimana cara memusnahkan makhluk yang satu ini!” gumam Eadwig dalam hati. Ia hampir kehabisan akal untuk membunuh Korfe.
Lalu, dari kejauhan, Rubius menghirup udara untuk mengembalikan energi [Mana] yang sudah terkuras hampir habis dari dalam tubuhnya. Rasa nyeri harus ia tahan demi mengumpulkan cukup energi.
Setelah dirinya siap, Rubius pun ikut dalam pertarungan yang sedang berlangsung.
“Water Ripper!”
Rapal Rubius, yang ketika itu melontarkan sabetan pedang air, menuju leher Korfe, tanpa welas asih. Serangan Rubius berhasil mengenai targetnya, akan tetapi, Korfe yang ketika itu menyadari serangan yang Rubius lakukan tidaklah banyak berpengaruh pada dirinya, hanya melirik lesu dengan kekecewaan yang semakin terbangun.
Memanfaatkan kondisi yang sedang bergulir saat ini, Eadwig tidak menyia-nyiakan waktunya. Saat itu juga Edwig langsung melakukan serangan jarak jauhnya, ia mengeraskan seluruh otot pada dirinya, dan seketika itu juga ia menebaskan semua jurus yang pernah ia pelajari.
Berteriaklah Eadwig sebelum ia mengeluarkan kombo jurusnya.
“Wind Slash! Grand Cross! Deadly Slahs!”
Secara bertubi-tubi Eadwig menyabetkan pedangnya, dan semua serangan itu mengenai musuh yang ia incar. Lalu serangan terakhir pun ia lancarkan.
“IMPACT EXPLOSION!”
Pekik Eadwig, yang ketika itu dirinya langsung melompat tinggi ke udara, lalu dengan ia memasukkan seluruh energi[Mana] yang terkumpul pada dirinya kedalam bilah ‘Great Sword-nya’ tersebut, sampai pada Akhirnya, pedang raksasa Eadwig bergetar dan menimbulkan cahaya dari dalamnya, yang hal ini merupakan manifestasi dari keinginan Eadwig untuk menghancurkan Korfe.
Dengan seluruh kekuatannya yang tersisa, Eadwig menghantamkan pedangnya ke-kepala Korfe yang saat itu telah terjatuh ke tanah.
Meledaklah seluruh dataran ibu kota [Lebia] bagian Barat, dan menyebabkan gempa bumi yang singkat.
Rubius hampir terjatuh ketika serangan Eadwig menghantam bumi, dan menyebabkan goyangan yang begitu dahsyat pada dataran di sekitarnya.
“Apakah berhasil?!” ucap Rubius yang ketiak itu hanya memandang dari kejauhan. Lagi, Rubius hanya mampu menelan ludahnya, sebab tenggorokannya yang serak.
Perlahan kabut asap mulai berkurang. Ketika itu, lagi-lagi mata Rubius di buat terpelongo ketika dirinya melihat kepala Eadwig, di genggam kencang bagaikan bola basket, hanya dengan genggaman tangan kanannya.
“Aaggh!” pekik Eadwig yang mencoba menahan sakit, sebab kencangnya keraman tangan sang iblis naga. Rasa yang Eadwig derita saat itu; seperti dengan hanya sedikit tambahan kekuatan saja, kepalanya akan berubah menjadi telur yang terjatuh dari ketinggian.
“Sudah aku bilang bukan … semua yang kalian lakukan tidak akan berpengaruh terhadapku ….” Kembali, aura ungu kehitam-hitaman muncul dari sekujur tubuh Korfe.
Rubius kembali terdiam saat Eadwig menerima penderitaan. Akan tetapi, kali ini ia menyadari jika dirinya tidak bertindak, maka nyawa Eadwig akan menjadi taruhannya.
“Lepaskan Eadwig!” teriak Rubius sembari ia berlari tanpa memedulikan rasa sakit pada tubuhnya. Dengan cepat ia melesat dan membidik kepala Korfe dengan niatan membunuh.
Namun, sebelum Rubius tuntas menunaikan hajatnya, Korfe yang sudah kepalang kesal, langsung saja melemparkan tubuh Eadwig kepada Rubius yang saat itu belum siap menerimanya.
Menghantamlah tubuh mereka berdua, dan seketika itu juga RUbius dan Eadwig langsung terseret di tanah secara bersamaan.
“Kalian berdua menjadi menyebalkan … aku sudah muak dengan ini semua …,” ucap Korfe yang kala itu, tiba-tiba dari sekujur tubuhnya, muncul sisik-sisik hitam bagaikan sisik naga yang tebal.
Rubius dan Eadwig, yang menyaksikan hal tersebut tepat di depan matanya. Langsung terpelongo tak bisa berbicara.
“Akan aku tunjukkan kepada kalian, seberapa kuatnya diriku ini jika sedang dalam kondisi serius.” Cakap Korfe, yang ketika itu, dengan cepat tubuhnya berubah menjadi naga hitam, namun bertubuh manusia.
Dengan hata lain, Half-Dragon.
Bagaimana nasib Rubius dan Eadwig kedepannya?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------