The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 253 : Pertemuan Cipi & Loise (Part 4)



Pintu telah terkunci rapat,  suasana di aula rumah mewah itu terdengar ramai, bahkan bisa di dengar sampai ke dalam ruangan pelayanan ini.


Menyadari jika kondisi mereka tidak akan diketahui oleh siapapun, Anggi kemudian membantu Loise untuk mengangkat Cipi ke kamar mandi.


“Anggy, bantu aku mengangkat anak ini masuk ke kamar mandi,” ucap Loise yang kemudian mengalungkan tangan kiri cipi pada lehernya.


“Siap, Nyonya Loise.” Lantas, Anggy pun langsung bergerak cepat untuk melaksanakan tugasnya.


Kali ini, tangan kanan CIpi yang di angkut oleh Anggy, dan saat itu, mereka berdua mengantar Cipi ke dalam kamar mandi yang bersuhu hangat itu.


Badan CIpi berkeringat hebat, akan tetapi, suhu tubuhnya sangat dingin. Mungkin ini sebab dirinya menerima shock yang berlebihan saat mendapatkan trauma tersebut.


Perlahan-lahan, Cipi disandarkan pada pinggir kolam air panas itu. Seluruh pakaiannya langsung dibuka kembali, dan dilemparkan ke dalam penampung pakaian kotor—terbuat dari rotan muda.


“Anggy, tolong bersihkan kasur tidurku. Urusan Cipi, biar aku yang merawatnya.”


“Baiklah, Nyonya Loise”


Kala itu, Anggy lagsung berlari keluar dan mematuhi perintah majikannya.


Sepi sunyi … Cipi tak bisa bersuara banyak, namun dirinya berhasil menikmati hangatnya pemandian air hangat.


Di lain sisi, tampak Loise terduduk lemas di atas lantai. Ia berusaha membersihkan bagian privat tubuhnya dengan Shower yang tertanam di atas dinding. Shower itu ia lepaskan dari tempat gantungannya, dan ia siramkan ke seluruh tubuh dalam kondisi bergetar hebat.


Cipi yang tak sengaja mendengarkan suara Loise menahan sakit, saat itu juga merubah peralihan wajahnya untuk menatap ke lokasi tempat di mana Loise duduk terlemas dengan kedua kakinya yang tak dapat berdiri lagi.


“K-Kak L-Loise ….”


Pada saat itu, Cipi tak bisa melontarkan satu kalimat hiburan apa pun. Dirinya hanya bisa memandangi Louise yang terus memeluk dirinya dengan penuh rasa jijik.


Kondisi ini bertahan cukup lama, mungkin ada sekitar setengah jam, mereka tetap berada di konidisi ini, sebelum akhirnya Loise beranjak dari tempat ia terduduk, dan memasuki kolam pemandian yang sama dengan Cipi.


Di saat Loise memasuki kolam itu pun, Cipi juga tak bisa berkata apa-apa. Ia bahkan tak mampu memandang wajah Loise pada saat itu.


Selalu teringat dalam pikirannya, moment saat cipi diperlakukan keji oleh kedua bangsawan korup tersebut.


Namun, di saat Cipi berusaha melawan traumanya, tiba-tiba Loise memeluk Cipi dengan perasaan hangat, dan memberitahukannya sebuah informasi yang amat penting.


“Cipi … aku baik-baik saja, jika hanya segini, aku akan bisa menahannya sampai diri ini sudah tidak laku lagi,” ujar Loise kepada sang remaja berambut coklat tersebut. “selain itu, Cipi … aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu, akan tetapi, mari kita pindah ke kasur tidurku saja ya. Tubuh ini sudah tak kuat untuk bergerak banyak, aku cemas, jika berendam lama-lama di kolam ini, aku tak akan bisa bergerak lagi.”


Lantas, Cipi menganggukkan kepalanya, dan tak lama kemdian, Anggy datang di waktu yang tepat.


“Nyonya, semuanay sudah saya ganti!” ucap Anggy dengan wajah yang penuh keringat.


“Baiklah, terima kasih banyak, Anggy.” Lantas, saat itu Loise baru saja di bantu berdiri oleh Cipi.


Melihat kejadian ini, Anggy langsung menghampiri Loise, dan membantu Cipi untuk membawa sang majikannya menuju kamar tidurnya.


***


Mereka telah keluar dari kamar … dan cipi sangat terkejut, saat ia meliha seluruh perabotan telah berganti warna.


Pada Awalnya, seluruh gorden memiliki warna merah, namun saat ini, segalanya telah berganti warna menjadi putih.


Tidak itu karpet di bawah lantai, ata pun sprei kasur yang tadinya sempat di gunakan Loise untuk bekerja.


Segalanya sudah sangat berubah, bahkan beberapa bagian lokasi telah berubah posisi menjadi hampir tak di kenali.


“Dengan begini, kamu bisa melupakan hal-hal yang terjadi tadi, Cipi.” Walaupun kondisi Loise tamapk lebih buruk dari pada Cipi, namun, dirinya masih saja mementingkan kondisi Cipi terlebih dahulu.


Tersenyumlah Cipi ketika ia mendapatkan perlakuan yang sangat manis seperti ini. Seluruh perlakuan ini, tak pernah terbayangkan oleh Cipi sebelumnya.


Ia seperti merasa, jika dirinya mendapatkan seorang ibu yang sangat memperhatikan, dan mencintai dirinya.


Di saat itu pun, akhirnya Loise di gotong menuju ke atas kasurnya.


“Cipi, sini~” Lantas, Loise pun memanggil Cipi, untuk mendekat ke arahnya, dan mendengarkan apa yang akan Loise ceritakan.


Tanpa ragu-ragu, Cipi pun mendekati Loise dan melakukan apa yang Loise perintahkan.


“Cipi, apakah kau tahu masa lalumu?” tanya Loise kepad Cipi.


Akan tetapi, jawaban dari Cipi sangatlah simple. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Loise dengan penuh rasa bingung.


“Aku tak pernah tahu … Kak Alan tak pernah menceritakannya kepadaku,” jelas Loise kepada Cipi.


“Baiklah, aku akan menceritakan segalanya ….” Setelah itu, Loise meulai menceritakan kisah hidup Cipi, yang kejadiannya tak begitu lama, dari tragedi yang sempat menimpa dirinya dan kakak tirinya.


Beberapa jam berlalu saat kisah ini di ceritakan. Tak ada yang mengganggu apa lagi memotong Loise saat ia bercerita.


Cipi hanya terdiam, dan memandangi Loise sambil menahan tangisannya. Ia tak percaya jika dirinya adalah anak dari seorang aristokrat yang telah menjadi korban atas apa yang Varko lakukan selama ini.


Namun, dirinya bisa kembali tersenyum, sebab Loise saat itu menjelaskan, bahwa Alan dan dirinya adalah keluarga baru baginya.


Setelah penjelasan tentang masa lalu Cipi yang panjang telah usai, kala itu, Loise sempat memikirkan suatu hal yang mengganjal hatinya.


“Ngomong-ngomong … kenapa kau memanggil Kakak tiriku dengan panggilan Kakak juga? Bukankah pautan umut kalian terlalu jauh?” tanya Loise kepada Cipi.


Saat itu, Cipi masih mengelap wajahnya dengan baju baru yang ia kenakan, sedangkan kain lamanya, telah dibuang oleh Loise karena sudah tak layak pakai lagi.


“Dahulu, Kak Alan sempat menyuruhku untuk memanggilnya sebagai Kakak. Ia tak ingin ada orang yang mengira jika usia kami sangatlah berjauhan,” jawab Cipi atas pertanyaan Loise.


Sejenak, Loise termenung dalam pikirannya. Lalu, ia mendapatkan sebuah firasat yang tak dirinya duga.


“Mungkin kah …?!” Di saat Loise mengingat sesuatu, ia sempat mengingat wajah dari wanita yang melahirka Cipi, yaitu Panna Cladea. “Tapi … masa, sih …?!”


Cipi yang tak tahu menahu akan hal ini, dirinya hanya termenung sabil memiringkan kepalanya dengan gelisah.


Lantas, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tak teraja mereka sudah berbicara dalam waktu yang lama.


Demikian, kondisi rumah mewah ini pun berubah menjadi sepi. Seluruh penghuninya memilih untuk tidur dan tak memedulikah segala hal pada pagi hari. Benar-benar seperti hewan nocturnal.


***


Cipi pun berhasil keluar dari rumah itu atas bantuan Anggy. Tak ada yang mencurigai mereka, sebab, penjagaan sangatlah longgar akibat tak ada yang sadar sebab hampir seluruh penjaga telah mabuk hebat.


Menyikapi hal ini, Cipi pun langsung berlari dan kembali ke rumahnya. Saat itu, tempat tinggal Cipi berada di salah satu bar, yang menyiapkan penginapan padanya.


Lokasinya berada di dekat pintu masuk kota [Rapyysta], bagi para pengembara, mereka sangat senang memilih penginapan ini, karena mudah untuk masuk dan sangat gampang utuk keluar.


Cipi yang sudah mendapatkan jati dirinya, saat itu bertekat untuk mengasah kekuatan dalam dirinya. Setelah kembali pulang kerumahnya, Cipi langsung saja mengambil tongkat sihir yang dirinya dapatkan saat Dirinya bersama Alan sempat menyelesaikan sebuah Misi yang harus membantai beberapa penyihir.


Mulai pada saat itu, Cipi terus melatih kekuatannya, sambil menunggu kembalinya Alan kepada dirinya.


“Menurut Kak Loise … Kak Alan akan kembali dalam beberapa hari lagi, dan jika ia berhasil menyelesaikan misi kali ini, maka kak Loise akan bisa di bebaskan!” gumam Cipi yang saat itu tengah berlatih di sebuah hutan terdekat dengan kota [Rapysta].


Namun … semua ini tidaklah segampang itu ….


Satu minggu semenjak Cipi berhasil kembali ke penginapannya …. Saat itu, Cipi sangatlah terkejut ketika dirinya menemukan Alan telah kembali ke penginapan mereka.


Padahal, Cipi baru saja pulang dari latihan sorenya, dan saat ia menemukan Alan telah berada di dalam kamar mereka … tentu saja Cipi merasa sangat bahagia.


Akan tetapi … ekspresi yang Alan tampilkan saat itu, tapaklah begitu absurd dan mengkhawatirkan.


Wajahnya dibanjiri oleh air mata, kelopak matanya menghitam tampak seperti sangat kelalahn, selain itu juga, tubuhnya penuh luka dan menanggung beban yang amat berat.


“K-kak Alan …?!” Ketika itu, Cipi pun menegur Alan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ….


Namun Alan tak menceritakan apa pun kepada Cipi. Ia hanya menghapus air matanya, dan langsung meninggalkan kamar itu setelah dirinya mengusap rambut Cipi dengan lembut.