The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 139 : Pecahnya Pertempuran!



Kala itu, kedua puluh anggota Regu Penyelamat, melihat dentuman dahsyat dari atas langit. Ledakan itu menghujam cepat—terbidik mengarah ke tengah kawah, yang pada lokasi tersebut terdapat Arley—tengah berdiri menatap ledakan api.


Tiba-tiba, melompatlah Arley menuju sumber ledakan. Sehabis kejadian itu, tak ada lagi yang mengetahui kondisi sang remaja berambut merah.


Sejenak, pertarungan antara Regu Penyelamat, menghadapi Komandan Utama Pasukan Raja Iblis, sempat tertunda. Mereka semua menengadahkan kepala menuju gelombang ledakan.


Dari pecahnya ledakan tersebut, terciptalah bunga api—mekar dengan tampilan begitu indah. Kejadian itu tercipta tepat di tengah-tengah langit ibu kota『Lebia』.


Setelah hempasan ledakan berakhir, Eadwig yang pertama kali menyadari sesuatu hal. Tampak melihat Arley tengah merangkak keluar, dari dalam lubang yang terbentuk hasil dari ledakan barusan.


Namun, belum puas dirinya melihat kondisi Arley. Melesatlah kesepuluh iblis yang sedang mereka lawan tadi, pulang kembali menuju tengah lubang kawah.


Tampaknya mereka akan mengeroyok Arley dengan cara licik.


Mengetahui akan hal tersebut, Eadwig ingin berteriak memperingatkan Arley. Tapi, tampaknya rencana sang pangeran, tak perlu ia lakukan.


Dengan gesitnya Arley berpindah tempat seperti sambaran petir. Mata Eadwig tak mampu melihat pergerakan sahabatnya itu. Benar-benar seperti orang yang berbeda dari saat terakhir kali dirinya menemui sang remaja.


“Ada apa dengan Arley!? Mengapa pergerakannya menjadi gila seperti itu?!” tanya sang Pangeran Negeri Simbad kepada Aurum, Rubius, juga Amylia.


Tak ada balasan dari ketiga sahabatnya tersebut. Tatapan bingung sajalah yang mampu mereka balaskan.


Benar-benar suatu kejadian yang cukup aneh.


Kembalilah mereka ke atas udara. Setelah Kesepuluh iblis itu lelah menyerang Arley, Ifrit memerintahkan mereka untuk kembali mendampingi dirinya.


Terucaplah pertanyaan yang ingin mereka tanyakan. Demikian Arley menjawabnya dengan jawaban setengah matang.


Sejujurnya, Arley pun tak tahu harus menjawab dengan kalimat apa. Sang remaja hanya menjawab jika dirinya adalah Arley, dan ia datang untuk menyelamatkan Uskup Steven dan Kakek Marlin.


Mendengar jawaban Arley, seorang kakek tua berbadan kecil membentak Arley dengan peringatan keras pada dirinya. “Jangan bercanda manusia kerdil!” pekik sang kakek dengan bengisnya.


“Yari …! Tahan emosimu.” Ifrit menjulurkan tanganya sembari ia mencoba untuk menenangkan perasaan sang iblis berbadan cebol tersebut.


Dalam hati, Arley menjawab, “Hoi … bukan kah kau yang manusia kerdil …!?” Kemudian Arley mengernyitkan dahi, demi menahan emosinya.


Belum lama percakapan mereka tersendat. Bergegaslah Eadwig dan regu penyelamatnya, hadir untuk mensuport Arley secara eksklusif. Mereka berlari sekuat tenaga dari atas atas kawah, demi menghampiri sang remaja berambut merah.


“Arley!” pekik Eadwig yang sudah tak jauh dari tempat Arley berdiri.


“Oh~ Akhirnya kalian datang juga.” Sambut Arley kepada rombongan yang Eadwig bawa.


Lantas, mereka semua langsung masuk ke dalam posisi siap tempur. Enam belas orang langsung berbaris memanjang untuk memperkuat pertahanan pertama.


Sedangkan Eadwig, Aurum, Rubius, Juga Amylia. Berkumpul bersama Arley pada bagian belakang mereka.


“Kau tidak apa-apa sobat?!” tanya Rubius dengan cemas.


“Ehm. Umm, aku baik-baik saja~ sepertinya,” Sekilas Arley memperhatikan tubuhnya yang sudah kembali sembuh seperti sedia kala.


Induk penyebabnya adalah: Regenerasi pada tubuh Arley, entah mengapa naik menjadi berlipat-lipat ganda. Tidak heran, jika luka yang baru saja tergores pada kulitnya bisa langsung sembuh tak berbekas.


Setelah Amylia memperhatikan dengan saksama, barulah ia menyadari jika jubah putih Arley, telah berubah menjadi hitam legam.


“A-arley … sejak kapan kau mengganti baju …?” Pertanyaan itu terucap dengan perasaan curiga.


Tentu saja Eadwig juga langsung tersentak selepas dirinya menyadari jika warna baju Arley telah berubah menjadi hitam pekat. Persis seperti kejadian saat pertandingan pertama Arley, ketika dirinya menghabisi Maximus.


“Benar kau tak apa-apa kan Arley!?” Eadwig dengan cemasnya memegang pundak sang sahabat, demi memastikan hal tersebut.


“Eh? Ahh! Aku juga baru sadar jika bajuku telah berbuah warna!” Dengan polosnya Arley menjawab pertanyaan itu.


Terlintas pada benak Eadwig, dirinya benar-benar dibuat heran dengan perilaku Arley.


Kala itu, tampaknya Arley baru saja membentuk kepribadian ganda pada dirinya. Eadwig hanya bisa berharap jika sahabatnya itu tidak akan kenapa-napa sebab perubahan bajunya itu.


“Tampaknya kalian cukup menikmati pembicaraan santai itu. Sudah lupakah kalian dengan keberadaan kami?” tanya sang wanita berambut Croissant, pada Arley dan rekan-rekannya.


Kaki Arley melangkah maju—berjalan melewati pertahanan depan, sambil mengernyitkan alisnya tajam ke bawah.


Lalu, dirinya mengangkat tongkat sihir berwarna cokelat, sembari ia mengancam kesebelas iblis yang mengaku sebagai utusan Raja Iblis.


“Kalian dari tadi hanya mengganggu aku saja! Sebenarnya apa tujuan kalian menyerang benua kami ini!?” pekik Arley yang tampak mulai kesal.


Meliriklah Ifrit menuju ke arah Utara kota. Setelah ia melihat ke sisi Utara cukup lama, seketika itu juga ia menyengirkan bibir sembari terbahak lepas.


“Ifrit! Aku sudah mendapatkan paket kita!” teriak seorang makhluk dari sudut Utara, yang suaranya begitu khas.


Muncul dari Arah Utara, individu seorang iblis dengan tubuh berwarna biru, tanduk lancip menjulang panjang, dan sayap hitam tertempel pada belikatnya. Terbang cepat menuju rombongan Ifrit dan kesepuluh komandan Iblis.


Dirinya membawa sebuah karung, berisi seorang wanita.


Ya, si『Incubus』ternyata belum wafat. Lebih tepatnya pura-pura wafat unutuk mengelabuhi Arley.


“『Incubus』itu masih hidup!?—” gumam arley dengan nada terkonsentrasi pada kupingnya sendiri.


“Gorarararara!” Sekali lagi Ifrit melepaskan gelak tawanya untuk memeriahkan kemenangan prematur mereka. “Kawan-kawan! Inilah waktunya untuk kita membuka Pembatas kekuatan!” Perintah sang iblis merah kepada seluruh rekannya.


Seketika itu juga, seluruh iblis yang tadinya menutup wajah mereka dengan jubah hitam. Langsung melepaskan jubah tersebut dan menampakkan diri asli mereka.


Sontak, jubah yang mereka gunakan tadi, langsung jatuh ke atas bumi dengan dentuman yang begitu dahsyat.


Usut punya usut, ternyata baju yang mereka kenakan terbuat dari serat besi dan di lenturkan degan metode khusus. Tujuannya agar kedua belas iblis terebut tetap bisa menyegel kekuatan asli mereka, agar tidak bergejolak liar selama misinya belum di selesaikan.


Tampak dengan jelas, jika kedua belas iblis tersebut bukanlah monster biasa. Mereka semua adalah perwakilan dari berbagai macam ras yang sempat di jelaskan pada buku ‘Marlin S.J.’


Kala itu, ras yang tampak pada barisan mereka adalah: "Elf", "Incubus", "Jin", "Golem", "Dwarf", "Pixy", "Sirens", "Orc", "Goblin", "Lamia", "Half Dragon", dan "Succubus".


Terpukau dengan munculnya makhluk mytologi, Arley cukup tertarik dengan penampakan mereka semua. “Wah, ternyata pasukan kalian lengkap juga …!” celetuk Arley dengan keringat mengucur deras pada dahinya.


Menggeliat. Arua hitam muncul dari dalam tubuh kedua belas iblis tersebut. Raut wajah Arley kembali menajam, Kemudian bibirnya kembali tersenyum gila, seperti menikmati kondisi yang seharusnya ia takuti ini.


“Hahahaha …! Tampaknya aku akan menikmati pertarungan ini untuk yang kedua kalinya!” ujar sang remaja, demi ambisi gilanya. “Pasukan! Bersiap dalam posisi menyerang!” pekik Arley untuk mengingatkan rekan-reakannya.


“Siap!” sahut mereka semua secara serentak. Keluarlah berbagai macam senjata dari tempat penyimpanannya. Senjata yang sangat tajam dan juga mematikan.


Sangat berbeda dengan perkakas yang mereka gunakan saat di turnament kemarin.


Demikian juga, dari sudut pasukan Raja Iblis. Mereka semua tersenyum sadis degan dendam kesumat—tertanam pada hati mereka.


Disodorkannyalah tongkat sihir Arley mengarah ke atas lubang kawah. Lantas, dirinya juga mempersiapkan kuda-kuda tempur untuk menghadapi serangan yang akan datang.


Seketika itu juga, seluruh Iblis meluncur turun—menyerang seluruh komplotan Arley, guna mengakhiri segalanya.


“HiyaaaaAAaaaAA!” teriak kedua belah pihak untuk memulai peperangan yang sesungguhnya.


Mampukah mereka semua menahan gempuran Pasukan Raja Iblis!?


Bersambung~


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!