
Not Edited !
Di pagi yang segar, Tampak lima orang sedang memasak sesuatu, untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan.
Kali ini, menu sarapan mereka adalah: Meat Steak, Diamond Bear. Sebenarnya, daging beruang ini, jika tidak diolah secara benar, maka akan menghasilkan Aroma yang sangat tidak sedap. Akan tetapi, betapa beruntungnya Arley, sebab saat ini, ada seorang Chef handal, yang akan memasak untuk mereka berempat.
Orang ini bernama, Glovia Frinda. Ia adalah salah satu anggota dari, Party, yang Rogue bentuk. Party ini ia beri nama, Clover, sebagai sebuah harapan agar mereka tetap mendapat keberuntungan di mana pun dan kapan pun.
Party Clover, memiliki tiga anggota, yaitu: Dyu Rogue, Glovia Frinda, dan Roy Hade. Rogue merupakan seorang Adventurer, juga Merchenary. Lalu, Glovia Frinda, dirinya adalah siswi dari akademi [Vennsylvedenburg Imperial Magic School]. Selain pintar dalam ilmu sihir, Glovia juga sangat bertalenta dalam hal masak-memasak. Dan yang terakhir, Roy Hade, ia dalah Siswa dari [Vennsylvedenburg Imperial Knight School], yang itu berarti, Roy merupakan salah seorang calon perwira, bagi kerajaan [Palanita].
Sang monster telah dikuliti dengan sempurna, ada beberapa trik khusus untuk menguliti, si Diamond Bear, ini. Cara paling mudahnya adalah, sebelum menguliti si beruang satu ini, di wajibkan untuk menyiram air panas pada bagian yang akan di kuliti. Jika tidak, maka pisau yang di guanakan akan tumpul, atau bahkan bengkok.
Daging telah di pisahkan dari organ dan beberapa material penting lainnya. Saat pengkulitan di laksanakan oleh Roy, keempat orang lainnya hanya bisa menonton hal ini terjadi.
“Apa kau yakin tidak mau menerima upahnya? Padahal kan kau yang membunuh monster ini, Arley.” Saat itu, Rogue ingin menawarkan Arley, hadiah dari Quest yang Party mereka ambil. Hal ini sudah diperundingkan sebelumnya.
“Tidak, ini kan Quest kalian, jadi kalianlah yang harus mengambil hadiahnya. Lagi pula … aku tidak terlalu tertarik dengan harta, jadi, kau bisa ambil semuanya,” ucap Arley, yang saat ini menolak keras permohonan langsung dari Rogue.
“Tapi … aku merasa tak enak untuk memakan uang ini ….” Kali ini, malah Rogue yang merasa pundung, sebab permohonan pemberian rasa terima kasihnya ditolak oleh si remaja berambut merah. “bagaimana mungkin, aku bisa memakan hasil kerja keras, dari orang yang menyelamatkan nyawa kami. Ayolah, Arley, aku mohon ambil saja hadiahnya.”
“Tidak-tidak, aku tak bisa.” Tegas Arley sekali lagi.
Demikian, Rogue pun menemui jalan buntu, ia memilih menyerah dan kembali berdiskusi dengan kedua temannya. Sedangkan Varra, ia mendekati Arley, dan dirinya bertanya, mengapa Arley bersi keras menolak hadiah itu. “Kau yakin, Arley? bukan kah ini sebuah kesempatan bagus? Hadiahnya cukup besar loh!” tanya Varra, sambil ia merayu Arley untuk mengambil hadiahnya itu.
“Varra, seharusnya kamu yang paling menyadari, mengapa aku mengambil sikap ini.” Namun, jiwa Arley tak goyah, malah ia memarahi Varra atas pikiran, mengambil kesempatan di dalam kesempintannya, itu. “Yang pertama, aku tak suka memanfaatkan keadaan. Dan yang kedua, mereka lebih membutuhkan dana itu, untuk kehidupan mereka, bukan?.” Jelas Arley kepada Varra. “Bukankah Rogue berasal dari tempat yang sama denganmu?”
Varra pun tersentuh dengan kalimat Arley. Ia sedikit tersenyum, dan merasa bangga atas jawaban Arley. “Ya, aku tahu, dan aku sepakat dengan penjelasanmu tadi.” Saat itu pun, perundingan usai.
Nah, waktunya kembali ke bagian masak-masak.
Daging sudah dipisah, kulit dan material mahal lainnya sudah di bungkus dalam kantung dimensi. Saat ini, percikan minyak mulai merebak ke seluruh penjuru hutan. Glovia, dengan perlahan-lahan ia menaruh sebuah potongan daging, tepat di atas tungku masak, yang telah mendidi minyak goreng padanya.
Berdeciklah minyak yang tertimpa oleh daging monster itu. Suara berdesirnya membuat siapa saja yang berada di tempat itu, rasanya ingin segera menyantap daging monster ini sesegera mungkin. Aroma gurih mulai menghinggapi di setiap penciuman mereka-mereka yang ada di sini. Gemuruh perut pun akhirnya terdegar.
Tidak berlama-lama, Steak ini hanya di masak dalam waktu lima menit saja! Berbeda dengan daging pada umumnya yang di masak dalam jangka waktu dua sampai tiga menit, Daging berunag ini, harus di masak selama lima menit agar bagian dalamnya masak secara sempurna.
“Silahkan!” ucap Glovia, yang langsung menyediakan satu piring besar, dengan sebuah daging berukuran jumbo di atasnya. Lantas, daging itu ia potong lima, dan secara brutal, keempat daging tersebut langsung hilang dari atas piring. “Woow! Pelan-plan guys! Kita masih punya banyak stok, santai saja!”
Melihat nafsu maka nyang luar biasa, Gloria pun memilih untuk memasak satu potong daging Diamond Bear lagi, yang kali ini ukurannya dua kali lebih besar di bandingkan sebelumnya. Untungnya, tungku masak yang Varra bawa, berukuran cukup besar untuk memasak daging seberat dua kilo.
Dengan cepat daging kolet pertama telah lenyap. Tak putus sampai di situ, daging keloter kedua pun tiba. Namun, kali ini mereka berempat memakannya secara perlahan-lahan, selain perut mereka sudah terisi setengah, mereka juga ingin menikmati rasa dari daging yang super langkah ini.
Glovia sudah usai memasak, ia melipat celemeknya, dan bersegera duduk di samping api unggun. “Selamat makan.” Disantapnyalah daging beruang yang tersisa di atas piring lebar tersebut.
Beberapa saat kemudian, acara sarapan pagi telah usai. Tapi mereka berlima tidak langsung bubar barisan. Mereka memilih untuk berbicara sejenak, sebelum Party Clover, kembali ke kota [Dorstom].
“Ngomgon-ngomong, kenapa kalian berdua bisa berada di hutan ini, Arley, Varra?” tanya Roy kepada kedua remaja itu.
Varra dan Arley pun bertukar pandangan, lalu Arley menjawab pertanyaan dari Roy. “Kami ke hutan ini untuk mencari pucuk daun Herb. Quest yang kami terima, memberikan request agar bisa mengumpulkan 10.000 pucuk daun Herb,” cakapnya, sambil memakan sebuah apel hijau, yang di dapat saat ia mencari kayu bakar tadi.
“Eh? Herb?” Lantas, Glovia sedikit terkejut, ia tahu jika Quest herb adalah Quest yang biasa di ambil oleh Adventurer Class Bronze. “Kenapa kalian memilih Quest ini?”
Lagi-lagi, Arley dan Varra saling bertatapan mata, dan kali ini Varra-lah yang menjawab pertanyaan Gloia. “Em, karena kami masih, Class Bronze?” ucapnya, yang tiba-tiba, membuat situasi menjadi hening dan kaku.
Rogue, Glovia, dan Roy, mereka langsung membelalakkan matanya, dan saat itu juga mereka bertiga berteriak secara serempak. Mereka benar-benar terkejut dengan apa yang mereka dengar.
“K-kalian Class Bronze?!” tanya Rogue yang tak mempercayai hal itu.
“Y-ya, begitulah. Kami berdua, baru saja menjadi Adventurer selama dua hari,” jawab Arler sambil ia merogoh kantung pada jubahnya, dan ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna coklat. “ini buktinya.”
Saat itu, ketiga orang itu pun langsung membaca keterangan yang ada di kartu identitas Guild Arley. Mereka membacanya dengan sangat terperanga dan bertanya-tanya.
“A-arley … kau ini sebenarnya siapa?” ucap Rogue yang ingin sekali tahu identitas asli Arley.
Varra yang mendengar pertanyaan itu, sedikit merasa canggung, sebab pertanyaan itu terasa begitu canggung jika ditanyakan kepada Arley. Meliriklah Varra melihat ekspresi wajah Arley, namun Arley hanya tersenyum sambil kembali menghabisi apelnya.
“Aku hanya Adventurer biasa, kok. Kami memilih Quest ini, sekiranya untuk menghabiskan waktu saja. Tapi ternyata waktu yang kami habiskan cukup singkat. Mungkin nanti siang kami akan segera pulang ke kota [Dorstom],” imbuh Arley.
“Tidak, bukan itu … aku tahu kalau kau seorang Adventurer, tapi … bagaimana bisa kau sekuat ini? apakah karena latihan! Atau kau adalah anak seorang bangsawan?!” Rogue tampak sedikit gusrah, sebab ia ingin segera tahu rahasia di balik kekuatan Arley.
Namun, tiba-tiba Glovia menyikut Rogue, sebab pertanyaannya sudah di luar batas. “Sst! Rogue! Kau tidak sopan!” bisiknya dengan penuh kewaspadaan.
Rogue pun langsung tersentak, ia tak menyadari jika pertanyaannya itu akan membuat Arley semakin tersudut. “A-ah, maafkan aku!” seketika itu juga, Rogue merundukkan kepalnya sebagai tanda minta maaf.
Arley hanya membalas Rogue dengan senyuman. Lalu ia bangkit dari duduknya, dan bersegeralah ia membereskan tenda penginapan mereka. “Baiklah, waktunya beres-beres, dan menyesuaikan Quest!” Dengan penuh semangat, Arley merenggangkan sekujur tubuhnya, dan ia pun langsung mencabut tenda yang telah ia pasang.
Di lain sisi, Rogue beserta rekan Party-nya, tampak tak enak hati jika mereka meninggalkan Arley bersama Varra, setelah apa yang mereka berdua lakukan kepada mereka bertiga.
“Rogue, sebaiknya kita bantu mereka berdua.” Glovia pun memberikan sarannya kepada Rogue. “Aku rasa, kita bisa mengumpulkan Herb yang mereka cari, agar kita bisa kembali bersma-sama,” jelasnya.
“Aku setuju, jika di biarkan seperti ini, kita seperti tidak bersyukur, dengan apa yang telah mereka berdua perbuat, untuk kita!” tambah Roy, denga begitu semangatnya.
Rogue pun menganggukkan kepalanya, saat itu juga, mereka bertiga langsung berdiri dari duduknya, dan bergegas pergi menjadi Herb yang Arley butuhkan.
“Arley! Kami pergi sebentar ya!” ujar Rogue, yang tampak berlari bersama kedua rekannya, dan mengilang ke dalam hutan rimbun.
“Jangan Khawatir, mereka sudah dewasa, dan pastinya mereka tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama lagi, bukan?” jelas si remaja, sambil ia menggulung tali tenda.
Setelah kedua remaja ini membereskan tenda mereka, tiba-tiba Rogue bersama Party-nya datang kembali dengan wajah gembira. “Arley! Arley!” panggil Rogue dari kejauhan.
Teriakan itu pun di sambut oleh kedua remaja ini, mereka secara relfkes langsung menoleh ke sumber suara.
“Hey, Arley, ikutlah bersama kami!” ujar Rogue dengan begitu gembira, dan sangat bersemangat.
“Rogue? Ada apa? Apakah kalian menemukan, Diamond Bear lagi?!” Lantas, Arley langsung menembak konklusi secara prematur.
“E-eh?! B-Bukan! Pokoknya, ikut dulu saja dengan kami!” Rogue pun memaksa Arley untuk ikut bersama mereka bertiga.
Berlarilah Varra bersama Arley, mengikuti kemana Rogue dan Party-nya, pergi ke tempat yang mereka ingin tunjukkan kepada kedua remaja ini. Dan tak begitu jauh dari lokasi mereka beristirahat tadi, terdapat sebuah sungai, yang di pinggirannya tumbuh begitu banyak Herb secara liar.
“Uwah!” Varra pun terkejut ketika ia melihat bertumpuknya tumbuhan Herb yang mereka berdua tengah cari itu.
Demikian pula Arley, ia tersenyum tipis sambil mengeluarkan sedikit keringat dingin, saat matanya melihat ladang Herb di depan matanya.
“I-ini banyak sekali …,” gumam Arley yang saat itu hanya bisa terperanga.
“Luar biasa, kan?! Ahahah!” Saat itu, Rogue bersama kedua rekannya, meras cukup senang, sebab mereka bisa memberikan kebermanfaatan untuk Arley. “kami pun tidak tahu, jika di tempat ini akan tumbuh Herb sebanyak ini. Sepertinya, saat ini memang lagi musimnya, tumbuhan Herb tumbuh bebas di seluruh penjuru hutan.”
“Terima kasih, kalian semua.” Arley yang merasa sangat terbantu oleh hal itu, dirinya langsung melemparkan senyum sempurnanya kepada Rogue. Gigi putih Arley terpajang lebar dan memberikan kesan yang amat bersahabat bagi mereka bertiga.
“Ya! Tentu saja, Arley!” jelas Rogue. “Mulai saat ini, jika kau butuh bantuan, kami akan selalu meluangkan waktu!”
Kemudian, Rogue mengeluarkan kalung, dengan Emblem Silver-nya dari dalam baju. “Arley, kau punya kalung seperti ini kan?” tanya Rogue yang ingin melakukan sesuatu terhadap Arley.
“Hm? Ah, ya, aku punya.” Arley pun juga mengeluarkan kalung itu dari balik baju besinya. Tampak Emblem berwarna Bronze, dari kalung milik Arley.
Tak berlama-lama, Rogue langsung menempelkan kalung miliknya, ke Emblem punya Arley. Terdapat sedikit percikan cahaya di antara keduanya.
“Wow! Apa yang kau lakukan?” Arley cukup terkejut saat Rogue melakukan hal itu. Tapi tentunya, Rogue memiliki alasan mengapa ia menempelkan kedua kalung ini.
“Ah, apakah kau sudah mendapat penjelasan mengenai fungsi dari Emblem ini?” tanya Rogue, yang ketika itu memasukkan kembali kalungnya ke dalam baju.
“Ya, tentu. Ini, Emblem of Pride, kan? Kalung yang akan mencatat seluruh detail perjalanan seorang Adventurer,” imbuh Arley.
“Benar sekali, dan mengapa aku memintamu untuk menyentuh embelm ini? itu karena, bagi kita seorang Adventurer, untuk menjadi seorang sahabat, kita perlu melakukan hal itu. Data persahabatan kita akan tercatat di Data Base Guild. Dan jika kita nantinya kita akan bersama-sama mengerjakan Quest, maka Party Request bisa kita jalankan.” Ketika itu, Rogue menjelaskan tata cara membentuk Party secara detail.
“Hee~ jadi ini seperti ritual kecil, untuk para Adventurer, ya?”
“Yup, kurang lebih seperti itu!”
Kemudian, di saat Arley telah selesai berbicara dengan Rogue, datanglah Varra yang membawa begitu banyak pucuk Herb. “Arley! aku sudah mengumpulkan sisanya!”
Kala itu, Arley lagsung menurunkan tas Ranselnya, dan ia pun menarik bungkusan kain, tempat untuk menaruh pucuk-pucuk daun tersebut. Mereka berdua pun tak perlu menghitung jumlah Herb yang di butuhkan lagi, dengan kasat mata, mereka dapat mengetahui, jika Quota yang pihak Peminta inginkan, sudah mencapai Target.
Dengan terselesaikannya Quest ini, Arley bersama Party Clover. Memilih untuk kembali ke kota [Dorstom] bersama-sama. Mereka keluar dari hutan ini, dan segera berjalan menuju ke kota mereka.
Tidak hanya itu, betapa beruntungnya mereka berlima, saat sebuah kereta dagang melintas di hadapan mereka, kelima orang ini pun membayar sang pemilik kereta untuk mengangkut mereka berlima kembali ke kota [Dorstom].
Demikian, petualangan Arley di hutan [Terrapin], berakhir dengan bahagia.
Bersambung !
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------