The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 271 : Akhir Dari Peperangan.



Saat itu … satu persatu, para prajurit mulai menceritakan masalah mereka. Ada yang bercerita jika istri mereka sempat dijual oleh Verko, ada juga yang berkata, jika anak mereka tak sengaja meninggal sebab peliharaan dari salah satu bangsawan ini.


Semuanya memiliki muatan yang sangat kelam, dan Arley tahu … jika ini terus di lanjutkan, maka, para bangsawan yang tak bersalaha pun akan di samakan dengan para bangsawan korup ini.


Dari sini … Arley mulai memendamkan rasa kebenciannya.


“Tenang! Tenang wahai prajurit sekalian!” teriak Arley, yang ketika itu mencoba untuk menenangkan para prajurit yang mulai berubah menjadi liar.


“Kehadiran kami di sini bukan untuk mendoktrin kalian! Di dunia kebangsawanan, juga ada bangsawan yang baik hati dan berbudi luhur! Kalian harus bisa membedakan mana bangsawan yang baik dan mana bangsawan yang busuk seperti ketiga orang ini!”


Setelah penjelasan singkat dari Arley, ketenangan pun kembali terjadi. Mereka semua berubah opini, atas karakteristik Arley yang sangat karismatik dan penuh wibawa. Setidaknya, itulah yang mereka lihat dari cara Arleu berbicara.


“Kalian datang ke kota kami ini, juga karena perintah ceroboh dari ketiga bangsawan ini, bukan? Ingat, kota kami adalah kota yang harmonis, sebelum Pria hidung belang ini datang dan merusak segalanya. Dan bukan hanya di kota kami! Tapi di kota kelahirannya pun, pria ini sudah berbuat kerusakan!”


Para prajurit itu pun menganggukkan kepalanya, terlihat seperti mereka setuju dengan apa yang Arley perkatakan.


“Wahai para prajurit sekalian, aku berbicara seperti ini, bukan untuk memberikan kehancuran di muka bumi ini … melainkan, aku ingin perdamaian yang adil! Untuk itu, aku hanya ingin menghukum Verko seorang saja!”


Berteriaklah seluruh prajurit karena mereka mereasakan rasa belas kasihan dari Arley.


Lalu, Arley menarik Verko dan memisahkannya dari kedua bangsawan yang lainnya. Lantas, tiba-tiba Alan mengambil alih percakapan Arley.


Tentu saja Arley cukup terkejut, namun ia menilai jika apa yang Alan akan sampaikan akan bernilai positif.


“Hey, kalian berdua … kalau tidak salah, kalian berasal dari keluarga Gordon bukan?” tanya Alan kepada kedua bangsawn tersebut.


Ketika itu, mereka berdua mengangguk dengan sangat kencang, dan air mata mereka tak berhenti bergulir.


“Ahh … begitu ternyata. Kau tahu? Istri kalian berdua, sempat di jual oleh Verko, loh.” Setelah Alan memberitahu sebuah informasi kepada kedua bangsawn itu.


Mata mereka langsung melotot, dan mereka memandang tajam ke arah Verko. Alan yang menilai jika kedua bangsawan ini hanya di peralat saja oleh Verko, saat itu langsung melepaskan ikat mulut mereka agar kedua orang ini bisa berkata-kata.


“Apakah kau berkata jujur!?” tanya salah seorang bangsawan bebanad jangkut itu.


Lantas, Alan merogon kantung jubahnya, kemudian, ia mengeluarkan sebuah buku, yang isinya adalah katalog, wanita-wanita yang Verko pernah sewakan.


“Sebentar~” saat itu, Alan membuka buku katalog berwarna hitamnya itu. Ukurannay tidaklah besar, mungkin hanya seukuran dengan sebuah kartu nama. “Ah, ini dia!”


Kemudian, Alan memberikan foto kedua istri mereka, dan saat itu juga, kedua pria itu langsung berpindah pihak kepada Arley dan Alan.


Arley pun mengacungkan jempolnya ke arah Alan, dan dengan begini, dirinya tak perlu mengotori tangannya untuk membunuh Verko.


Alan hanya bisa tersenyum, tapi, dendam di dalam dirinya masih belum bisa terbayar lunas walaupun Verko telah mati.


Cara satu-satunya agar ia bisa menghilangkan dendamnya itu, adalah dengan cara membunuh Verko dengan kedua tangannya sendiri.


Namun, saat ini ia mengendurkan niatannya itu, dan lebih memilih untuk memberikan Verko ke pihak yang berwajib. Dirinya tak ingin, jika rantai kebusukan ini akan terus berputar sampai ke masa-masa yang akan datang.


“Terima kasih, aku sekarang bisa melihat keburukan dari orang ini.” ucap salah seorang bangsawan yang ikatan pada tubuhnya telah di buka oleh Arley.


“Dan untukmu anak muda, perkataanmu sangat menyentuh kami. Aku sekarang paham … jika tindakan kami sangatlah tidak manusiawi, dan karena itu ….” Lalu, secara tiba-tiba, kedua bangsawan ini merundukkan kepala mereka di depan bala tentara mereka. “Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya, atas apa yang telah kami perbuat selama ini.”


Tubuh para prajurit itu pun langsung bergetar. Mereka tak menyangka, jika bos yang sudah mereka anggap sebagai setengah dewa, mau merundukkan kepalanya di hadapan mereka.


“Dan kau … Verko, kami akan menyelidiki segala kebusukanmu. Kau ini … hanya bertingkah baik saja di depan kami, tapi ternyata … kau memang bukan manusia.”


Pada malam hari itu … secara ajaib, sebuah pertempuran berhasil dihentikan dengan cara yang unik. Dalam sejarah pertempuran, baru kali ini, hanya ada satu orang korban yang meninggal di dalam pertempuran besar.


Namun, walau pun demikian, Arley merasa cukup menyesal sebab ia harus mengotori tangannya demi menyelamatkan berjuta-juta nyawa laininya.


Alan yang melihat Arley meratapi tubuh salah seorang bangsawan yang ia kalahkan, saat itu menghampiri Arley dan berusaha menenangkannya.


“Arley … kau tak salam menghukumnya. Pria ini bernama Grozam, dia adalah pria pertama yang menjadi pihak penyelamat dalam membantu Verko. Jika pria ini tidak terbunuh, bisa-bisa Verko akan terbebas kembali,” ucap Alan yang memberikan senyuman tulusnya kepada Arley.


Lalu, Arley menatap Alan dengan penuh kesungguhan.


“Benarka itu, Alan?!” tanya Arley.


Setelah mendengarkan penjelasan Alan, si remaja berambut merah itu pun merasa cukup legah. Tetapi, hari ini ARley benar-benar merasakan kelelahan yang tiada taranya. Selain ia bertindak di luar karakternya, ia juga harus menyimpan perasaan yang tak karuan, hanya untuk menghukum pria bernama Verko itu.


Namun, saat ini beban itu terasa sedikit menghilang. Semuanya sebab perkataan Alan yang cukup menyegarkan.


“Terima kasih, Alan—”


Lantas … ketika ketenangan cukup merasuk kedalam hati Arley. Tiba-tiba sebuah kejadian yang di luar dugaan terjadi pada diri Alan.


“AAalllaaaann!” Ketika itu, saking depresinya Verko, sebab ia tak memiliki bantuan lagi. Dirinya pun menaruh dendam dengan Alan, sebab, semua rencanya bisa di hentikan, sebab Alan sudah merencanakan semuanya sejak tujuh belas tahun yang lampau.


“UAagh!” Saat itu, sebilah pedang tertancap di tubuh Alan. “S-sialan kau … VOOORRKEEE!”


Perlahan, darah mengucur keluar dengan lebatnya.


“Ahahaha! Rasakan itu Alan! Jika aku akan mati saat pulang nanti, setidaknya kau akan mati sekarang!” Dengan brigasnya, Verko ketika itu malah semakin menusukkan pedang yang ia curi dari salah satu prajurit yang berada di sana.


Saat kejadian ini terjadi, tak ada yang berani bergerak secara sembarangan, karena, bisa saja Verko menyerang jantung Alan.


“Ingat saat pertama kali kau datang ke Kasino-ku, hah, Alan?! Saat itu … tubuh adikmu adalah yang terbaik dari seluruh gadis yang pernah aku coba, makanya, sampai saat ini, dia adalah istri dengan kualitar terbaik nomor dua!”


Mendengar ucapan Verko. Seketika itu juga, Alan langsung naik pitam. Dirinya sudah tak memedulikan lagi rasa sakit pada tubuhnya.


“SIIAAALAAAAN!” Sembari ia berteriak kencang, Alan ketika itu langsung menarik bilah pisaunya, dan ia menancapkan pisaunya itu, tepat di wajah Verko.


Dan seketika itu juga, Verko tergeletak di atas tanah sambil menahan sakit pada wajahnya. Tubuhnya menggeliat, tapi suaranya tak keluar.


“Alaan!” Arley yang kembali bisa bergerak setelah shock yang ia terima. Ketika itu juga ia menghampiri Alan dan menangkapnya.


“A-alan!? Kau baik-baik saja kan?!” dengan kondis yang cukup panik, Arley cukup bingung dengan apa yag ia harus lakukan.


“Ya, hahaha … aku tak menyangka jika ia bisa meloloskan diri.” Dan saat itu, Alan merasa jika waktunya telah tiba. “A-arley … tolong cabutkan perang ini …,” pintanya sambil memegangi baju Arley.


Arley pun mengangguk, lalu, ia mencabut pedang Alan, dan segera mengecek kantung hewannya untuk mengobati luka Alan.


Akan tetapi, ketika Arley sedang sibuk mencari obat untuk Alan, ketika itu, Alan malah mengambil pedang yang sempat menusuk tubuhnya, dan ia berjalan mendekati Vorke.


“Kau … ternyata kau belum puas untuk membuat kerusakan, ha?” gumam Alan, yang ketika itu merasa sudah tak bisa mengampuni Vorke lagi.


Dan saati itu, dengan disaksikan ratusan ribu orang. Alan dengan ganasnya menusuk tubuh Vorke dengan kejam. Di mulai dari bagian alat reproduksinya, sampai bagian jantungnya.


Tidak ada yang menyangkal Alan, sebab mereka juga merasakan hal yang serupa dengan apa yang Alan rasakan.


Namun … Arley merasak cukup gagal untuk menjaga kewarasan Alan.


Di malam yang mendung itu … hujan tiba-tiba turun dan membasahi seluruh dataran benua [Horus] secara rata.


Arley pun berjalan mendekati Alan, dan di tangan kanan Arley, dirinya sudah memegang obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit berdarah.


Namun … entah mengapa, Arley mengetahui, jika Alan, pasti akan menolak obat itu jika ia berikan secara paksa.


Saat itu, Arley dan Alan di kerumini oleh ratusan ribu prajurit, sedangkan jutaan lainnya masih berada di barisan terdepan tanpa tahu harus berbuat apa.


Pandangan Alan mulai kabur, dan pada satt itu … Arley tanpa berbicara sepatah kata, langsung saja menuangkan obat berwarna hijau itu langsung ke dalam mulut dan berhujung ke dalam tenggorokan Alan.


Akan tetapi, dugaan Arley tepat sasaran. Ketika itu, Alan langsung saja memuntahkan cairan itu secara paksa.


“Kau … sudah muak dengan kehidupan, ya, Alan …?” tanya Arley, yang ketika itu, wajahnya telah di basahi oleh air hujan. Demikian, sebenarnya di balik tumpahnya air hujan pada wajah Arley, dirinya menyembunyikan butiran air mata yang amat lebat berkucur di wajahnya.


Alan pun tersenyum kecil, lalu, ia menutup matanya sambil menghembuskan napas yang panjang ….