Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
98. Periksa Kandungan



Alfa dan keluarga kecilnya akhirnya meninggalkan orang-orang di sana menuju ke rumah sakit, setelah melewati perdebatan yang menggelikan itu.


Setibanya di parkiran Rumah sakit, Alfa menuntun anak isterinya menuju ruang dokter kandungan yang sudah dihubungi oleh mama Ratna sebelumnya.


"Tuan Alfa?" ucap asisten dokter Ana.


"Iya, dokter Ana ada?" tanya Alfa.


"Ada di dalam tuan. Silahkan masuk." ucap asisten dokter Ana sambil membuka pintu ruang itu untuk ketiga orang tersebut.


"Selamat pagi dokter" ucap Alfa.


"Mari tuan Alfa, nyonya.. silahkan duduk" ucap dokter Ana.


"Kaka juga doktel" ucap Maggie yang tidak disebutkan namanya.


"Iya nona muda" ucap dokter Ana salah tingkah dengan teguran Maggie.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya fokter Ana setelah ketiga orang itu duduk.


"Doktel cantik, peliksa pelut mommy ya? dede bayinya satu apa dua?" ucap Maggie terlebih dahulu sebelum kedua orang tuanya. Gadis kecil itu membiat dokter Ana tersenyum dengan tingkahnya.


"Baiklah, ayo nyonya silahkan berbaring terlebih dahulu." ucap dokter Ana kepada Mey.


Alfa menuntun isterinya ke arah brankar rumah sakit dan membantunya naik ke atas.


Dokter Ana mulai dengan tugasnya. Wanita berusia 25 tahun itu menutupi Mey dengan kain dan menyibakkan dresnya sehingga menampilkan perut buncitnya yang putih dan mulus. Alfa dan Maggie setia berada di samping Mey.


Dokter Ana memberi gel di atas perut Mey dan meletakkan transducer dibagian perut Mey. Dengan perlahan, fokter Ana mulai menggerakan transducer ke kiri dan ke kanan.


"Nah ini janinnya tuan, ada dua janinnya" ucap dokter Ana.


"Daddy, kaka mau lihat" ucap Maggie sambil merentangkan tangannya minta digendong.


"Itu adik-adiknya" ucap Alfa yang sudah mengankat puterinya ke dalam gendongannya.


"Mana dad?" tanya Maggie yang tidak mengerti dengan mana yang disebut janin, karena kelihatan aneh.


"Nih, ini adiknya" ucap dokter Ana sambil menunjukkan tepat di depan layar.


"Ko' adiknya kaya gitu ya?" tanya Maggie yang heran.


"Dulu kaka juga begitu..." ucap Alfa.


"Tapi kaka cantik dad" ucap Maggie yang tidak mau disamakan dengan makluk aneh itu.


Perdebatan terus berlanjut hingga Mey turun tangan untuk menjelaskan tapi tetap saja gadis kecil itu kelihatan tidak puas.


"Apa sudah bisa lihat jenis kelaminnya do?" tanya Alfa.


"Bulan depan sudah bisa lihat" ucap dokter Ana menjelaskan.


"Baiklah dok" jawab Alfa sambil membetulkan dres isterinya ketika sudah menurunkan sang puteri.


"Tapi doktel, kami sudah kembali ke Austlalia kalau bulan depan" ucap Maggie yang tahu jika bulan depan baru bisa melihat jenis kelamin kedua adiknya.


"Nanti bisa diperiksa di sana." ucap dokter Ana.


"Tapi kaka sukanya sama doktel saja, doktel kan cantik nanti nulal ke adik-adik" ucap Maggie asal.


What's??? kenapa anakku jadi pandai merayu sih? untung dia terlahir perempuan. Batin Alfa tidak habis pikir dengan anaknya sendiri.


Dokter Ana hanya tersenyum sekaligus gemas dengan gadis kecil tersebut.


"Terima kasih dokter, kami permisi ya" Pamit Mey pada dokter Ana.


Rasanya aku pengen cepat punya anak yang gemasin begitu. Batin dokter Ana sambil menghayal ingin punya anak padahal masih jomblo.


Keluarga kecil Alfa hilang dibalik pintu ruangan dokter Ana meninggalkannya yang larut dalam hayalannya.


*****


"Apa aku telepon saja ya?" ucap Reno pada diri sendiri sambil memutar-mutar ponsel yang ada di tangannya.


Pria itu mencari nomor kekasihnya namun merasa berat untuk menelepon.


Sms yang sudah diketik bahkan dihapus berulang kali. Merasa bersalah, merasa tidak nyaman, bahkan malu bercampur jadi satu.


Reno kini mengurung diri dalam kamar padahal hr ini weekend. Ia memikirkan bagamana jika sebentar lagi ia harus menjemput ayah Devid dan keluarganya yang hari ini pulang ke negara ini.


Bagaimana jika sebentar ia bertemu dengan Novi, apa yang harus dia lakukan.


Tanpa terasa, pria itu akhirnya tertidur setelah melewati pikiran rumitnya.


Ia baru terbangun saat sudah hampir sore. Saat melihat ke jam dinding ternyata tinggal satu jam, ia harus menjemput rombongan tuannya.


Dengan cepat-cepat ia bersiap dan datang ke bandara untuk menjemput mereka.


Deg


Jantung Reno serasa ingin berhenti saat tidak menihat kekasihnya di sana. Ingin bertanya namun tidak punya keberanian untuk itu.


Pria itu dengan terpaksa menahan semua rasa penasaran dan rasa ingin tahunya.


"Om Leno, ka Novi tak ke sini. Ka Novi sudah pulang ke Indo. Katanya takut oma Nul caliin." ucap Maggie menjelaskan tanpa ditanya, saat mereka sudah ada du dalam mobil.


Reno kembali tercekat saat mendengar ucapan gadis kecil itu. Perjalanan pulang menuju mansion Smith, seperti biasa dihiasi dengan suara Maggie yang banyak ceritanya.


"Opa, kaka mau tidul" serunya.


Bisa cape juga kamu sayang. Pikir kamu akan terus bertahan. Batin Alfa yang sedang menahan tubuh isterinya yang tertidur dalam pelukannya.


"Oke, sini opa pangku" ucap tuan Devid sambil menepuk pangkuannya membuat Maggie yang sejak tadi berkeliaran di dalam mobil menurut dan duduk di pangkuan sang opa hingga akhirnya tertidur.


Perjalanan itu akhirnya sepi setelah gadis kecil itu tertidur dan hanya ketiga orang pria itu yang larut dengan pikiran mereka masing-Masing.


Setelah memakan waktu satu jam, tibalah mereka di mansion. Alfa menggendong sang isteri menuju ke kamar mereka.


"Ayah, aku antar isteriku dulu nanti aku balik lagi" ucap Alfa saat melihat sang mertua yang kesusahan untuk membawa si gembul masuk.


"Biar aku saja tuan" putus Reno sambil mengambil alih gadis kecil itu.


"Bawa ke kamar ayah ya nak!" ucap Ayah Devid pada Reno agar cucunya dibawa ke kamarnya saja.


Semakin berat aja anak-anak daddy sama mommy. Sehat-sehat di dalam sana ya sayang? jadilah anak yang kuat dan pintar seperti kaka kalian, walaupun kadang membingungkan tapi dia kaka kalian yang luar biasa. Batin Alfa sambil melangkah menaiki anak tangga satu per satu.


Setibanya di kamar, Alfa dengan perlahan meletakkan tubuh isterinya di atas tempat tidur. Wanita hamil itu sama sekali tidak terusik.


Melihat posisi tidur sang istri yang menggemaskan karena terlihat seperti bayi, membuat alfa terkekeh dan gemas.


Pria itu membetulkan selimut di tubuh sang isteri dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Reno yang setelah membawa Maggie ke kamar ayah Devid langsung pamit pulang karena hari yang mulai sore.


Pria itu pergi meninggalkan mansion Smith dengan hati yang bergejolak ketika mengetahui kenyataan jika sang kekasih telah kembali ke kampung halamannya, ditambah lagi tidak ada kabar sama sekali.


BERSAMBUNG