
"Kamu ingin tahu siapa aku dan kenapa aku ada di sini Ronal?" ucap oma Ratna santai.
"Jadi oma kenal sama opa Lonal? kalo gitu kita temanan dong?" sambung Maggie polos.
"Kau membunuh saudara tirimu sendiri dan keluarganya lalu kau mengambil semua hartanya dan sekarang kau menyerang keluarga adik kandungnya. Cuih dasar pecundang!" cibir oma.
"Oh rupanya kau tahu siapa aku jadi tidak perlu aku berlama-lama menunjukan siapa aku sebenarnya." ucap pria itu dan langasung menyerang oma. Semua anak buah tetap diam tanpa menurunkan senjata mereka.
Maggie yang melihat ke arah kursi kebesaran yang sudah kosong akhirnya berjalan dengan santai ke sana lalu duduk dan menyilang kakinya seperti seorang ratu kerajaàn.
"Hei kenapa kau duduk di situ" bentak salah seorang anak buah Ronal.
"Yeee gimana sih, tamu secantik kaka tak dipelsilahkan duduk sih?" ucap Maggie memelas.
"Biarkan saja, dia bukan anak sembarangan kalau sampai di bawa ke tempat berbahaya seperti ini" bisik yang satu kepada temannya sehingga mereka kembali diam.
Pertarungan terus berlangsung. Oma yang sekali kena tendangan dilengan kiri karena fokusnya terbagi untuk mengawasi sang cucu membuat ratu singa itu mulai menunjukan taringnya yang sebenarnya.
"Hahaha oke juga ilmu bela dirimu sebagai seorang wanita" ucap pria itu bangga karena berhasil memberi pukulan untuk oma Ratna.
"Iyalah, omakan pemimpin geng Mala salvatluca" ucap Maggie membuat tawa Ronal mendadak hilang.
"Ja ja di kau kah itu?" ucap pria itu gugup dan gemetar.
Maggie yang melihat ketegangan itu memanfaatkan kesempatan dengan mengeluarkan senjata apinya tanpa sepengetahuan mereka semua.
Dalam sekejap mata, para pengawal yang tadi berdiri dengan senjata lengkap itu sudah tumbang ke tanah.
"Cih libet amat, kelamaan beltalung" gerutunya karena sudah malas mengulur waktu.
Ronal semakin terkejut melihat kenyataan yang luar biasa, para anak buahnya mati di tangan gadis kecil yang sejak tadi berdebat dengannya. Gadis kecil itu ternyata bukan anak sembarangan, dia adalah anak yang ajaib.
Ronal yang ketakutan langsung berlari keluar sedangkan Maggie dengan santai turun dari kursi yang tadi dan melangkah dengan pistol di tangannya mengikuti Ronal yang sesekali jatuh karena takut.
Dalam sekejap mata pula gadis kecil itu berubah menjadi malaikat maut. Matanya tajam dan rahangnya mengeras dan terus melangkah mengikuti Ronal yang sudah tidak tahu arah lagi ke mana ia pergi.
Bertepatan dengan saat itu, semua musuh sudah kalah namun ada beberapa anak buah oma yang sakit parah bahkan empat dari mereka yang meninggal.
Alfa dan lainnya yang mendengar bunyi tembakan di dalam, langsung bergegas ke sana namun saat tiba di halaman gedung itu ternyata seorang gadis kecil tengah menatap pria yang adalah bos penjahat itu dengan tatapan mematikan, sedangkan pria itu sedang terduduk di lantai jubin yang terbentang luas.
Maggie mengeluarkan ponsel cantiknya dan menyalakan aplikasi rekaman layar.
"Siapa yang membunuh kaka pelempuan opa Sandlo?" tanya maggie membuat pria itu gemetaran karena saat ini ucapannya direkam.
"Jawab!!" bentak Maggie membuat pria itu terkejut.
Gadis berusia 6 tahun itu benar-benar menjelma menjadi iblis. Tangan sebelah kanan memegang pistol sedangkan tangan kirinya memegang ponselnya untuk merekam.
"A a ku.." jawab Ronal gemetar hanya karena seorang anak kecil yang tadinya berbicara layaknya anak kecil tapi kini berubah dalam sekejab.
"Aku? apa opa Lonal yakin sendili membunuh meleka?" tanya Maggie membuat Ronal panik karena jika ia menyebut teman-temannya itu maka ia tetap tidak akan selamat.
"Lebih baik aku mati" ucap Ronal tegas.
"Oh tidak opa. nyawa opa hanya kaka yang bisa mencabutnya" ucap Maggie santai membuat Alfa merinding.
"Ahhh gini aja deh, opa sayang jujul nanti kaka janji olang jahat itu tidak akan menyentuh opa kalena kaka akan membawa opa ke rumah kaka di sana sangat indah. Iyakan oma, lumah di London yang di belakang itu masih kosong kan?" ucap Maggie memelas. Itu adalah jurus jitunya merayu orang.
Ucapan yang manis dan lembut tapi mematikan bagi orang-orang yang tahu soal rumah itu. Siapa lagi kalau bukan oma dan yang lainnya.
"Baiklah, ......" Ronal akhirnya menyebutkan nama-nama para pembunuh orang tua Reno tanpa tahu jika ia sudah masuk dalam perangkap gadis kecil itu.
Reno yang mendengar daftar nama-nama pembunuh orang tuanya itu menjadi sangat marah namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena jika Maggie yang menangani masalah maka tidak seorangpun yang bisa ikut campur sebelum ia menyelesaikan hingga tuntas.
"Baiklah opa Lonal yang baik hati dan tidak sombong, pelmainan akan dimulai dali malam ini. Bye.. dad kaka udah ngantuk ayo kita pulang." ucapnya langsung berbalik dan para anak buah oma langsung mengamankan Ronal dan seperti kata Maggie bahwa tempatnya ada di London jadi malam itu juga Ronal langsung dikirim ke sana.
Alfa seperti orang bodoh yang hanya menuruti perintah puterinya dan mengekori dua wanita beda usia itu hinhga tiba di mobil.
Alfa mengambil alih kemudi dan oma serta kaka duduk di kursi belakang. Alfa mengemudi tanpa bersuara karena pikirannya masih melayang untuk perkataan terakhir puterinya yang mengatakam permainan dimulai dari malam ini.
Oma dan Maggie tertidur di mobil saat pulang. Alfa membiarkan agar mereka beristirahat sejenak karena sudah jam segini untuk anak kecil lainnya pasti tidak akan bertahan.
Alfa akhirnya membawa mobil sang oma mulai memasuki jalan tol setelah menempuh jalan rusak yang cukup jauh. Alfa akhirnya membawa mama dan puterinya ke rumah mertuanya tapi dalam keadaan tertidur sepertinya dua jiwa wanita itu telah menyatuh sehingga keduanya sama-sama meneriaki Alfa.
"No....." teriak keduanya yang begitu kompak. Alfa yang terkejut mendadak langsung menginjak rem sehingga mobil langsung berhenti.
"Kenapa ma, kaka? kamu mimpi buruk ya?" tanya Alfa yang memang berpikir seperti itu.
"Belimimpi apaan. Kita itu nginap di hotel kenapa daddy bawa kita ke mansion?" gerutu Maggie sambil menatap daddynya dengan tajam.
(Kok mereka tahu? bukannya lagi ngorok ya?) batin Alfa.
"Ya bilang dong jangan pake teriak begitu" Alfa pun ikut menggerutu.
"Yee makax kalau jadi sopil itu sebelum penumpang naik mobilnya di tanya dulu, neng mau ke mana gitu." ucap Maggie memberi contoh membuat sang daddy mengangkat kedua pundaknya merasa geli dengan ucapan sang puteri.
"Emang kamu pikir daddy ini sopir hah?" ucap Alfa geram.
"Milip" jawab Maggie santai membuat oma terkekeh gemas sedangkan Alfa semakin emosi.
"Ayo jalan" perintah sang mama membuat Alfa kembali melajukan mobilnya ke tujuan mereka.
BERSAMBUNG