
"Hai sayang, siapa gadis cantik ini?" tanya seorang wanita yang baru masuk dengan gaya elegannya membuat Ridho semakin emosi karena belum berhasil membawa Daddy dari gadis kecil ini tapi sekarang sudah muncul lagi Nina di sana.
.
.
.
Ridho menatap Nina tanpa menjawab.
"Aku Puteri dari Daddy Alfa" jawab Maggie polos membuat Nina tercekat.
"Jadi kau gadis yang merusak hubunganku dengan Alfa?" ucap Nina geram karena semua harta yang jatuh ke tangannya pada hal waktu itu ia masih sangat kecil
"Oh ya? kan itu daddyku, justru Tante yang merusak keharmonisan keluarga kecil kami" balas Maggie cuek.
"Kau harus mati di tanganku biar Daddymu tahu arti kehilangan yang sebenarnya" ucap Nina sambil mendekat menjambak rambut Maggie, gadis itu hanya menatapnya sinis karena merasa kesakitan di kulit kepalanya.
Dengan cepat Ridho mencegat wanita itu agar tidak semakin menyakiti gadis itu.
"Jangan pernah kau macam-macam dengannya karena ada salah satu pengkhianat yang ada di sini dan bisa saja kita dalam bahaya. Cukup kita jadikan dia sebagai sandera untuk membawa daddynya ke sini" ucap Ridho tegas dan penuh penekanan.
"Cih payah" cibir Maggie kepada ucapan Ridho tadi
"Aku belum puas menyiksanya, lepas!" teriak Nina seperti orang kesurupan sementara Ridho berusaha menahannya agar tidak kembali menyakiti gadis itu.
"Kau anak sialan, sudah sepantasnya kau mati agar kedua orang tuamu ikut menderita hahaha" ucap Nina diiringi tawa yang menakutkan.
"Tidak ada dalam kamus keluarga Adipaty jika mati dengan cara yang murahan. Justru kamulah yang harus mati" ucap Maggie terus menantang Nina membuat wanita itu kembali mengamuk.
"Dasar anak sialan. Nyawamu bahkan sudah dalam bahaya tapi masih keras kepala." geram Nina.
"Itulah aku, gadis keras kepala yang berhasil merebut kembali Daddy dari wanita nggak berakhlak sepertimu" ucap Maggie tak kalah pedas dengan Nina.
Perdebatan terus berlanjut antara Maggie dan Nina.
*****
Alfa yang sudah lepas landas meninggalkan negara dimana ia dan keluarganya tinggal tanpa memberitahukan kepada sang isteri dan kedua puteranya tentang apa yang dialami oleh puterinya barusan.
"Semoga kamu baik-baik saja nak, Daddy akan segera tiba dan menghancurkan siapa saja yang sudah berani menyentuhmu" gumam Alfa penuh emosi.
Pria itu bahkan tidak menutup matanya sedikitpun sepanjang penerbangan dari Australia menuju ke Indonesia.
"Tuan, perjalanan kita masih lama, beristirahatlah sedikit" ucap salah seorang anak buahnya yang ikut ke negara itu.
"Aku tidak apa-apa. Beristirahatlah agar kita segera bergerak begitu sampai nanti" ucap Alfa tenang. Saat ini ia hanya memikirkan bagaimana caranya bisa menyelamatkan puterinya. Ia bahkan lupa menghubungi kedua orang tuanya namun ia akan menghubungi nanti jika tiba.
*****
Oma Ratna sudah lebih dahulu tiba di Indonesia langsung menuju ke salah satu hotel untuk menginap karena dia lebih nyaman jika berkerja tanpa ada yang tahu.
"Bertahanlah dan tunggu sampai Oma tiba ya sayang?" gumam Oma sambil menatap foto cucu kesayangannya yang tertera dilayar ponsel cantiknya.
"Ahhh keseruan dimulai" ucap Oma sambil mendudukan bokongnya di ranjang hotel tersebut.
"Halo?" tanya Oma begitu mengangkat ponselnya yang berdering sejak tadi.
"Nyonya, kami sudah bersiap di dekat lokasi tempat nona muda disekap" ucap seorang pria yang adalah anak buah Oma Ratna.
"Baiklah, tunggu sampai aku memberi perintah untuk melakukannya" ucap Oma Ratna.
"Baik nyonya" ucap sang anak buah sebelum sambungan telepon terputus.
Oma Ratna mulai melacak posisi sang cucu dan dilihat dari alarm yang ada di bagian permata antingnya ternyata cucunya itu baik-baik saja sehingga membuat Oma tidak terburu-buru.
Beberapa saat pun berlalu, saat ini hari mulai senja dan itu artinya cucunya sudah disekap hampir seharian penuh.
Oma benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang untuk menyelamatkan sang cucu.
*****
"Om mana makanannya, pikir aku nggak lapar ya?" gerutu Maggie kepada Ridho dan para anak buahnya.
"Heh anak sialan, enak sekali kau minta makan segampang itu" bentak Nina kepada Maggie.
"Heh nenek lampir, kalau nggak bermodal jangan sok-sokan mau sekap orang" gerutu Maggie tidak mau kalah.
"Okelah nanti daddyku ganti uangmu yang penting beri aku makan" teriak Maggie kepada mereka.
Nina yang emosi langsung mendekat dan menampar gadis itu hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Cih beraninya hanya sama anak kecil yang diikat" cibir Maggie tidak ada rasa takut sama sekali.
"Jangan harap kau bisa kembali bertemu dengan keluargamu" ucap Nina sambilemekan kedua sisi rahang gadis itu dengan kuat membuat Maggie meringis kesakitan.
Gadis itu menatap wanita itu dengan tatapan membunuh, sehingga terjadilah tatap menatap antara keduanya.
Beberapa saat kemudian masuklah salah seorang anak buah Ridho membawa sebuat kantong yang berisi makanan kepada Maggie.
"Ini,makanlah" perintah Ridho.
"Om yakin tidak ada sianida di dalam makanan ini" tanya Maggie penuh teliti.
"Kamu makan saja kenapa ribet banget sih?" ucap Ridho geram.
"Om, aku membantu nyawa om untuk tidak jadi jaminan jika keluargaku mendapatiku tidak baik-baik saja" ucap Maggie tenang namun penuh makna.
Setelah berucap demikian, Maggie kembali tenang.
"Tadi katanya lapar, kenapa Sekang dilihat saja makannya?" tanya.
"Om ini gimana sih? masa aku disuruh makan padahal aku masih terikat." ucap Maggie lagi.
Ridho akhirnya memberi perintah kepada salah seorang anak buahnya untuk melepaskan tali yang terikat di tangan gadis itu.
Maggie yang merasa punya kesempatan namun ia harus mengisi kembali tenaganya dulu dengan makan makanan yang tadi dibelikan oleh para anak buah Ridho.