
Di mansion utama tuan Devid, pria tua itu sedang duduk santai di luar menikmati suasana malam yang dihiasi oleh bintang-bintang dan bulan purnama yang begitu terang.
Bi Ani yang tahu bahwa sang tuan besar rumah ini berada di luar, berniat membuatkan minum untuk pemilik rumah tersebut.
"Permisi tuan, ini saya buatkan minum" ucap bi Ani sambil meletakan minuman itu di atas meja taman yang ada di dekat tuan Devid.
"Terima kasih bu" tuan Devid.
"Saya permisi tuan" ucap bi Ani sambil hendak melangkah masuk kembali.
"Duduklah dulu bu, ada yang ingin aku bicarakan" ucap tuan Devid mencegah wanita itu. Dengan langkah yang kaku, bi Ani berbalik dan duduk di kursi yang ada di seberang meja dekat tuan Devid.
Pria tua itu tidak langsung berkata, ia diam sejenak dan menatap ke atas langit, dan setelah itu memperbaiki duduknya yang tadi menyamping menjadi menghadap ke arah bi Ani.
"Apa kamu sudah lama bekerja untuk keluarga Adipaty?" tanya tuan Devid mengawali pembicaraan mereka.
"Iya tuan, saya bekeja saat tuan muda baru berusia 12 tahun" jawabnya apa adanya.
"Suami kamu?" tanya tuan Devid lagi.
"Suami saya sudah meninggal beberapa bulan setelah puteri saya" ucapn bi Ani dengan raut wajah yang sedih.
Deg
Ternyata kami punya beban hidup yang sama, aku bersyukur masih punya Mey. Batin tuan Devid
"Sejak kapan mereka meninggal?" tanya tuan Devid yang penasaran dengan hidup wanita yang ada di depannya.
"Sayamenikah saat usia saya 20 tahun, satu tahun kemudian saya melahirkan puteri saya, namun sayangnya dia kembali saat usianya baru 4 bulan karena gangguan pernapasan. Dan 7 bulan kemudian suami saya menyusul, sehingga saat itu juga saya mengambil keputusan untuk mencari kerja dan puji Tuhan saya mendapatkan majikan yang sangat baik." cerita singkat wanita itu tetang masa-masa kelamnya di waktu usianya yang masih terbilang muda. dan memang bi Ani masih sangat muda karena antaranya dan Alfa hanya beda 10 tahun.
"Berat ya? kehilangan orang-orang yang kita cintai. Katanya kamulah yang menemukan puteri saya pertama kali" ucap tuan Devid kembali bertanya soal keadaan puterinya waktu itu.
"Iya tuan. Saya menemukannya saat akan pergi berbelanja sayuran di pasar. Saat itu Mey masih sangat belia, dia melintasi jelanan sendiri tanpa tahu tujuannya akan kemana sehingga ia hampir di dilecehkan oleh beberapa preman, beruntung saat itu pak Agus, salah seorang sopir pribadi keluarga Adipaty yang juga menguasai ilmu bela diri jadi saya memintanya untuk menolong Mey" cerita bi Ani.
Deg
Jantung tuang Devid kembali stop saat mendengar nasib puterinya yang menderita berlapis-lapis. Mey bahkan tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya.
"Terima kasih. Aku sangat berhutang budi kepadamu, jika tidak ada kamu, aku tidak tahu bagaimana nasib puteriku waktu itu." ucap Tuan Devid.
"Tidak apa-apa tuan, saya memang sudah menganggap Mey seperti anak saya sendiri dan Maggie seperti cucu saya sendiri." ucapnya tenang.
Tuan Devid bahkan tahu soal cerita Maggie yang mengatakan jika dia punya nenek yang sangat menyayanginya dan Mey juga mengaku bahwa bi Ani adalah ibu angkatnya sehingga ia selalu memanggil dengan sebuta ibu.
Kamu wanita yang baik hati, aku sangat bersyukur puteriku bertemu denganmu saat itu. Disaat aku tidak ada di masa sulitnya, kamulah yang menemaninya melewati masa-masa itu. Batin tuan Devid sambil menatap bi Ani dengan tatapan yang cukup dalam.
"Kalau begitu saya permisi tuan" ucap bi Ani sambil berdiri.
"Hmmm" jawab pria paru baya itu dengan daheman.
Wanita itu kembali masuk, dan bertepatan dengan keluarga kecil Alfa pun baru masuk.
"Ibu antar minum untuk tuan besar di taman" ucap bi Ani.
"Ayah belum tidur?" tanyanya lagi.
"Iya sejak tadi tuan berada di sana" jelas bi Ani.
"Oma, kaka mau tidul sama oma" ucap maggie yang mengucak matanya sejak tadi karena mengantuk.
"Baiklah, oma simpan ini dulu ya?" ucap bi Ani sambil menuju dapur menyimpan nampan yang tadi dipakai untuk membawa minumnya tuan Devid.
Alfa dan Mey sudah menuju ke kamar mereka untuk menidurkan kedua bos kecil sedangkan Maggie masih menunggu oma Ani di ruang tengah.
Setelah memastikan kedua puteranya tertidur dengan nyaman, Mey melangkah ke kamar mandi untuk cuci muka dan ganti pakaian setelah itu ia keluar dan langsung menuju pintu kamar untuntu kembali keluar.
"Sayang, kamu mau ke mana? kalau marah jangan keluar dari kamar dong?" ucap Alfa memelas.
"Cihh bocah gede" cibir Mey sambil membuka pintu dan melangkah keluar. Alfa dibuat panik karena berpikir malam ini Mey akan tidur di kamar lain sehingga dengan cepat ia mengejar isterinya keluar.
"Oke sayang kalau begitu biar aku yang tidur di kamar tamu, bagaimana jadinya kalau si kembar bangun dan mencari kamu?" ucap Alfa panik sambil mengeratkan pelukannya di perut sang isteri dari belakang.
"Mas, lepasin" teriak Mey dan dengan kasar melepaskan kedua tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
"Jangan kaya anak kecil deh, siapa juga yang mau pergi dari kamar? kalaupun yang pergi itu kamu, enak aja aku harus keluar dari kamarku sendiri. Aku mau ketemu ayah, jadi kamu masuk dan jaga-anak-anak. Awas kalau berkeliaran meninggalkan anak-anak." uacap Mey sambil melototkan matanya pada sang suami.
Alfa yang sudah salah sangka kepada isterinya menjadi malu sendiri dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mey melangkah pergi meninggalkan suaminya yang salah tingkah.
"Cih kenapa aku malu-maluin bangat ya? Akhh kenapa aku harus malu? emang dia isteriku ya aku harus tahu dia kemana?" Gerutu Alfa pada diri sendiri sanmbil kembali masuk ke kamar mereka.
Pra itu mengkah ke arah box bayi untuk melihat kedua puteranya.
"Hai putera papa berdua, ingat ya kalau besar nanti kamu harus ada di timnya daddy agar kita bisa melawan mommy sama kaka. Enak saja mereka mau berkuasa atas kita para laki-laki, itu suatu penghinaan" ucap Alfa pada dua bos kecil yang tertidur pulas.
Alfa akhirnya menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih, karena malam semakin larut jadi ia membersihkan diri sebelum tidur sambil menunggu sang isteri.
Di kamar Maggie
"Oma, aku lindu mau ke Indonesia" ucapnya mengutarakan isi hatinya.
"Nanti kalau si kembar sudah besar baru kaka minta sama daddy dan mommy untuk berlibur ke sana" ucap oma Ani.
"Aku lindu teman-teman di pantai, aku lindu juga ka Novi" ucapnya dengan wajah sedih.
Sejak pulangnya Novi waktu itu dari London, tidak pernah ada kabar lagi. Alfa dan Mey tahu keberadaan Novi hanya mereka mau gadis itu bisa hidup tenang. Dan masalah jodoh biarkan yang di atas yang mengatur.
BERSAMBUNG