Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Roberth vs Daffa



...Jangan lupa like, Komen dan dukungan lainnya🙏...


Ikuti juga novel author yang berjudul



Kau Yang Memintaku Pergi


Terpaksa Menikahi Putera Majikan Ayah.



...Happy Reading...


Di sini keluarga Alfa sekarang. Mereka datang ke Restoran yang dibangun khusus untuk Maggie sebagai kenangan kalau dia pernah tinggal di daerah tersebut waktu kecil.


Semua pelayan menunduk hormat kepada keluarga tersebut yang sedang berjalan masuk ke salah satu ruangan VIP yang sudah disiapkan untuk makan malam mereka.


"Di mana Abang?" tanya Alfa saatereka semua duduk namun putera sulungny tidak ada bersama mereka.


"Tadi katanya nanti nyusul, masih telepon temannya" jelas Daffi kepada semua yang sudah duduk.


Maggie kembali diam sejak bertemu dengan Roberth. Para orang tua mengerti dengan perasaan gadis itu namun apa mau dikata, mereka hanya memberi ruang untuk Maggie menata hatinya sendiri dan apa yang harus dia lakukan.


Beberapa pelayan datang denganbawa buku menu kepada keluarga Alfa, dan masing-masing mereka mengambil untuk memesan sesuai keinginan. Tapi tidak dengan Daffi yang selalu bergantung pada mommynya.


"Mom, punyaku juga" seru pria remaja itu sambil mengotak-atik ponselnya.


"Kebiasaan" cibir Mey pada puteranya. Puteranya selalu makan apapun yang dipesan atau dimasak oleh mommynya, sama dengan Maggie kecuali Abang, lebih mandiri dan melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya sendiri.


"Sejak kapan ada restoran sama hotel di daerah ini?" tanya Maggie yang melihat ada banyak perubahan di daerah pantai tersebut.


"Ini hadiah buat Puteri Daddy yang sudah berhasil jauh dari keluarga selama tujuh tahun" ucap Alfa


"Maksudnya?" tanya Maggie yang belum mengerti arah pembicaraan sang Daddy.


"Hotel dan Restoran ini di bangun sejak lama bahkan sebelum kaka pergi ke Kalifornia. Daddy bangun ini semua kusus buat Kaka yang sudah berhasil membuat Daddy sadar dari alam maut" jelas Mey.


"Berarti Kaka semakin kaya" ucap Maggie membanggakan dirinya sendiri.


"Cih" cibir sang adik.


.


.


.


Di sisi lain.


Daffa kembali ke kedai di mana tempat minumnya tadi.


"Hai nak? apakah kamu melupakan sesuatu?" tanya Oma Nur.


"Oma, aku Daffa adiknya ka Maggie" ucap Daffa.


"Apa aku bisa bertemu dengan ka Roberth?" lanjut Daffa bertanya kepada Oma Nur.


"Boleh nak, sebentar ya Oma panggilkan" jawab Oma sambil melangkah ke arah belakang dan Daffa tetap berdiri di sana untuk menunggu.


Beberapa saat kemudian muncul Oma Nur bersama Roberth yang dalam keadaan berantakan.


"Bagaimana de?" tanya Roberth langsung pada intinya.


"Duduklah dulu biar Oma buatkan minum" tawar Oma Nur.


"Nggak usah Oma, aku cuma sebentar karena yang lain pasti sedang mencariku" ucap Daffa sambil duduk di sana.


Suasana agak ramai sehingga Daffa kembali berdiri dan meminta Roberth untuk mencari tempat yang agak sepi.


Akhirnya Roberth membawa Daffa ke bagian belakang yang memang sepi


"Apa yang mau kamu bicarakan" tanya Roberth dingin.


"Apakah penting untuk aku menjawabnya?" ucap Roberth.


"Jika kamu mencintainya maka terimalah dia dengan semua keadaan yang ada padanya" ucap Daffa.


"Maksudnya? apa dia sudah memiliki anak tanpa suami?" tebak Roberth.


"Kamu pikir kakakku sehina itu?" bantah Daffa karena pria itu berpikir terlalu jauh.


"Lalu apa?" tanya Roberth yang belum puas.


"Kamu tahu? kakakku dipisahkan dari keluarga kami sejak usia 11 tahun dan sebelumnya juga dia sudah disembunyikan dari publik sejak kami lahir" jelas Daffa yang pergi begitu saja.


Roberth mencoba memecahkan teka-teki yang disampaikan oleh adik dari gadis itu. Ia bingung karena ada apa dengan gadis itu sehingga susah ditebak.


"Aku tidak peduli apapun masa lalumu, asal kamu mau menerimaku dan memberi setitik harapan untukku, maka aku akan berjuang" gumam Roberth saat Daffa sudah pergi dan menghilang dari pandangannya.


.


.


.


"Dari mana bang, lama sekali tahu nggak. Aku sudah lapar tapi masih menunggu sampai semua sudah pada dingin." gerutu Daffi kepada kembarannya yang baru saja duduk.


"Oke mari kita makan" ucap Mey menyudahi Omelan si bungsu.


Mereka akhirnya menikmati hidangan di atas meja itu dengan tenang tanpa ada yang berbicara.


Setelah menyelesaikan makanan di piring masing-masing, mereka masih lanjut dengan pembicaraan ringan dengan masih tetap duduk di sana.


"Apa yang Kaka rasakan selama menjalani tugas dari opa Gaston? apakah berat?" tanya Oma Ratna membuka pembicaraan malam ini.


"Nggak sih Oma, biasa aja cuma aku sama sekali belum tahu apa yang harus aku lakukan karena opa sama sekali belum memberitahukan seperti apa musuh kita dan siapa yang menjadi musuh kita" jelas Maggie.


"Mereka akan menunjukkan siapa mereka sebenarnya, Kaka cukup berhati-hati karena yang mereka incar sekarang Kaka. Mereka tahu jika Daddy Alfa punya anak perempuan yang dulu sempat dipublikasikan namun menghilang secara tiba-tiba, karena itulah yang mereka semakin giat mencari tahu" jelas Oma.


Saat sedang bersantai sambil menikmati malam indah bersama keluarga, tiba-tiba ada sebuah pesan video yang masuk ke ponsel Maggie.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari kantong bajunya kemudian membuka isi pesan tersebut, darahnya langsung mendidih saat melihat dan mendengar didlrinyalah menjadi bahan pembicaraan satu kelas.


Beberapa waktu kemudian video yang sama dikirimkan ke grup kampus sehingga menjadi heboh dalam waktu yang sangat singkat.


Maggie menahan nafas panjang, ia ingin pulang malam ini juga tapi mengingat setelah tujuh tahun berpisah, kini ia baru kembali menikmati hari-hari bersama orang tuanya.


"Ada apa nak?" tanya Mey gusar saat melihat wajah puterinya berubah saat melihat ponselnya. Mereka tidak tahu apa yang dilihatnya karena gadis itu menggunakan headset.


"Ada yang mau mencari gara-gara sama Kaka" ucap Maggie tenang.


"Siapa yang mencari masalah sama Kaka?" tanya Oma Ratna penuh penekanan.


"Teman kelasku oma, mungkin dia merindukanku karena aku tidak masuk kuliah beberapa hari ini." jawab Maggie lagi dengan nada yang tenang.


"Apa motifnya?" tanya Oma.


"Palingan gara-gara cowok lah?" jawab Daffi membuat semua menatapnya tajam.


"Dasarnya memang dia nggak suka Kaka sejak hari pertama masuk kuliah, apalagi Kaka berteman sama gadis sederhana" ucap Maggie.


"Semua tergantung Kaka jika itu tidak mendatangkan bahaya" putus Oma yang tahu jika cucunya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Ayo kita pulang, angin malam nggak baik untuk tubuh tua kalian" ucap Maggie menatap ke arah para orang tua itu.


"Enak saja bilang Daddy tua" gerutu Alfa tidak terima dikata tua.


"Dad, jangan menyangkal untuk jadi tua, dosa loh" cibir Maggie kepada sang Daddy.


"Cihh kenapa dia belum juga berubah?" ucap Alfa menyerah dengan tingkah puterinya yang masih tetap sama walaupun sudah beranjak remaja.


Keluarga itu akhirnya pergi meninggalkan Restoran tersebut dan kembali ke villa tempat mereka menginap saat ini.