
Sejak Mey kembali bekerja, si kembar lebih betah bersama oma dan opa sehingga banyak kali mereka tidur bersama kedua orang tua itu.
Seperti malam ini, Alfa dan isterinya tidur tanpa anak-anak karena mereka sudah tidur sejak tadi di kamar opa.
"Sayang, aku akan ke Indonesia dua hari lagi" ucap Alfa dengan nada sendu, ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
Sejak ia kembali rujuk sama Mey, mereka tidak pernah berpisah dalam waktu yang lama. Kalaupun Alfa mengunjungi papa dan mamanya di London, paling sehari atau dua hari. Tapi kali ini ia merasa berat karena memang ia sendiri tidak tahu entah sampai kapan perusahaan Royal-Adipaty yanng berada di Indonesia sedang goyang.
"Lalu kenapa kamu sedih? kan sudah biasa kamu pergi ke London kan?" sanggah Mey santai.
"Tapi kali ini beda sayang. Kalau ke London palingan satu atau dua hari. Kalau ini, aku juga tidak tahu kapan kembalinya? Perusahaan sedang dalam masalah." ucap Alfa sambil membawa sang isteri masuk dalam dekapannya.
"Kamu bisa sering-sering mengunjungi kami kan? jangan belagak kaya orang miskin deh" ucap Mey berusaha menepis rasa galaunya.
"Apa kamu tidak merindukanku? kamu tidak merindukan kerja sama kita setiap malam" ucap Alfa menggoda isterinya, ia tahu jika isterinya pura-pura kuat di depannya.
"Daddy, apaan sih?" rajuk Mey dengan bibir yang maju ke depan seperti Maggie jika sedang ngambek.
"Hehehe kenapa wanitaku dan anak gadisku jika ngambek bibirnya moncong ke depan ya?" ucap Alfa sambil mgusap bibir sang isteri dengan gemas.
"Ya karena mereka adalah anak sama mommy" ucap Mey dengan bibir yang masih sama.
"Betul dan aku sangat bersyukur memiliki mereka. Maaf pernah menyia-nyiakan kalian berdua" ucap Alfa dengan berkaca-kaca.
Pria beranak tiga itu akan melow jika mengingat kesalahan terbesarnya yaitu menelantarkan isteri dan anaknya.
"Jangan dungkit lagi daddy, apa yang sudah kita kubur dalam-dalam. Asalkan tidak ada kesalahan kedua dan berikutnya, jika ada maka aku akan memilih hidup bersama ketiga anakku saja." ucap Mey tegas.
"Kamu percaya sama aku kan? terlepas dari masa laluki, aku minta tetap untuk percaya padaku" ucap Alfa membelai wajah sang isteri.
"Ya mau tidak mau aku harus percaya padamu karena sepertinya ketiga anakmu sudah membuat kubu sendiri untuk melawanmu" ucap Mey sambil cekikikan.
Anak-anak memang sering membuat daddy mereka naik darah. Jika Alfa yang menyuruh mereka tidak akan menuruti tapi jika itu Mey maka mereka akan melakukan.
"Mungkin itu bentuk balas dendam mereka untuk kejahatanku di masa lalu. Tapi aku yakin mereka sangat mencintaiku. Puteriku yang selalu berdebat denganku tapi jika aku dalam bahaya maka dia orang pertama yang panik" ucap Alfa membayangkan sang anak yang bulat itu.
"Jangan terlalu lelah bekerja ya? sisakan waktu bersama anak-anak. Aku akan cepat menyelesaikan masalah perusahaan dan kembali secepatnya, i love you" ucap Alfa pada isterinya.
"Iya daddy, love you to" Percakapan mereka diakhiri dengan olah raga malam, apalagi kini mereka tidur tanpa anak-anak.
*
*
*
"Ijinkan aku membawa mereka, sampai mereka merasa tenang. Dan aku minta tuan Arjo secepatnya menyelesaikan masalah hatimu dengan kebencian dimasa lalumu. Kembalinya Novi dan bundanya ada di tanganmu" ucap Reno dan keluar dari ruang itu dengan menarik dua koper milik Novi dan bunda.
Aku hanya memberi waktu untuk orang-orang egois seperti kalian untuk merenung kesalaha. Tidak ada orang yang sabar lebih lama dengan keegoisan kalian. Batin Reno yang sebenarnya jengkel dengan kedua pria tadi.
Reno akhirnya kembali dengan membawa dua koper itu membuat Novi merasa lega, sedangkan bunda tidak mampu merespon baik dengan bahasa tubuh maupun dengan kata-kata.
"Ka, terima kasih selalu ada dimasa terpuruknya kami sekalipun. Maaf jika aku pernah berpikir buruk tentang kamu." ucap Novi senduh.
"Jangan lagi mewek, sekarang yang dipikirkan adalah kamu harus mulai hidup baru" ucap Reno diangguki Novi.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya bunda yang walau bagaimanapun ia kawatir karena sudah puluhan tahun pria itu bergantung pada mereka.
"Fisiknya baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya" jawab Reno singkat. Ia tidak mau bunda memberi cela untuk kedua pria itu semakin melukai mereka.
Novi akhirnya merangkul sang bunda dan mengekori Reno.
"Ka, kita mau kemana? Biarkan kami kembali ke rumah Di Indonesia" ucap Novi.
"Sekarang kamu sama bunda dalam tanggung jawabku, walaupun kamu aku kembalikan ke Indonesia tapi tidak akan kembali ke rumah karena itu akan memudahkan mereka mendapati kamu" ucap Reno tenang. Novi mengalah.
Di tempat lain.
"Aku akan memilih mati jika hidupku serumit ini" ucap ayah Veron dalam isak tangisnya.
Deg
Arjo tercekat mendengar ucapan ayahnya, seolah-olah kehadirannya tidak ada nilainya, dan kepergian dua wanita itu yang jadi masalah.
"Maaf jika aku hanya membawa beban untuk ayah. Sebaiknya seperti ini apalagi antara ayah dan mereka tidak ada ikatan" ucap Arjo membuat sang aya mendongak menatapnya.
"Apakah kamu belum bisa melepas rasa egoismu itu?" tanya ayah yang mulai marah.
"Ayah, cukup! aku sudah membiarkan ayah menghabiskan waktu bersama mereka" ucap Arjo yang ikut marah.
Sang ayah diam dan merasa kepalanya mulai berat, pria tua itu kembali tak sadarkan diri.
Dengan panik Arjo menekan tombol darurat sehingga beberapa saat kemudian dokter dan para perawat mulai berlarian ke ruang ayah Veron.
"Tuan, mohon menunggu di luar" ucap salah seorang perawat kepada Arjo.
Pria itu berjalan keluar dan mengambil ponselnya menghubungi sang opa.
📱Bagaimana nak?
📱Opa, aku sudah bertemu ayah, aku akan membawanya kembali.
📱Baiklah nak, akhirnya kamu bisa bertemu ayahmu.
Obrolan mereka selesai. Arjo tidak menceritakan apa-apa pada opa, ia hanya memberitahukan tentang pertemuan dengan sang opa.
Arjo semakin panik saat dokter mengatakan jika ayah Veron kembali koma. Pria itu semakin sulit membawanya pergi jika keadaanya seperti itu, tapi atas bantuan opanya sehingga ayah Veron berhasil di bawa kembali ke Indonesia.
.
.
Dua bulan sudah berlalu, Novi dan bunda kini mulai terbiasa dengan keadaan, hidup tanpa ayah Veron. Apalagi pria itu seolah hilang kabar dari keduanya.
Saat ini keduanya tinggal di sebuah Apartemen yang dibeli Reno dua bulan lalu.
Novi mulai mengerti dengan pekerjaan Reno sehingga ia tidak menuntut walaupun pria itu jarang sekali meghubunginya.
"Bun, apa aku boleh mencari pekerjaan?" tanya Novi pada sang bunda.
"Nak, bertanyalah pada nak Reno, jangan buat dia marah, kasihan dia harus menghendel banyak kerja dan kamu merepotkannya lagi" ucap bunda menasehati puterinya.
"Tapi aku malas setiap hari seperti ini bun" ucap Novi.
"Kalau begitu telepon dia" perintah bunda.
BERSAMBUNG