
Maggie yang tidak menahan malunya lagu langsung berlari meninggalkan Roberth di parkiran menuju ke kelas mereka. Pria itu terkekeh melihat gadis dinginnya itu begitu malu karena diperlakukan dengan sangat mesra olehnya.
Maggie jalan dengan langkah yang cepat hingga tiba di depan kelasnya, ia akhirnya menetralkan nafasnya dan melangkah masuk ke dalam kelas dengan santai.
Maggie heran karena semua mata menatap kearahnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian namun ada yang bangga karena satu-satunya dia adalah gadis yang mampu membuat pria dingin itu bertekuk lutut.
Maggie menuju ketempat duduknya dan mendudukan bokongnya di sana. Baru saja ia memperbaiki cara duduknya, seorang gadis sudah berdiri dan bersandar di mejanya dengan kedua tangannya yang dilipat di dada.
"Hai cewek miskin, berapa tarif perhari yang dibayar oleh Roberth jika sekali jalan sama lo?" tanya Sela dengan nada mengejek.
Maggie tidak menggubris dan terus mencari sesuatu di dalam tasnya dan seolah-olah ia tidak mendengar gadis itu berbicara.
"Hei kamu budek ya?" bentak sela tepat di depan Maggie.
"Oh kamu ngomong sama aku ya? kanapa nggak bilang dari tadi?" ucap Maggie dengan tampang bodohnya seolah tak tahu jika yang diajak bicara oleh Sela adalah dirinya.
"Heh jangan ngeles untuk menghindari pertanyaanku" ucap Sela lagi dengan nada tinggi.
"Emang Lo siapa? teman juga nggak, terus kenapa aku harus pertanyaan Lo?" ucap Maggie sinis.
"Heh, satu kampus juga udah tahu kalau lo itu suka godain pria kaya buat ngangkat derajat Lo yang rendahan itu" ucap Sela geram.
"Heran ya, ada orang kaya yang rendahan, kenapa? karena dia itu suka bangat mencampuri urusan orang lain, apalagi urusan orang-orang miskin, rendahan nggak sih?" ucap Maggie yang ikut berdiri mensejajarkan dirinya dengan Sela.
Ria menarik ujung bajunya namun tidak dipedulikan oleh gadis itu.
"Jangan bangga kuliah di sini karena lo bakalan ditendang keluar dari kampus ini" ucap Sela sombong.
"Lakukan jika Lo mampu" ucap Maggie sambil merapikan kerak baju Sela dan pergi meninggalkan kelas tersebut.
Roberth yang melihat gadisnya yang tidak mudah mengalah sejak kecil itu semakin bangga.
Hanya satu yang berubah dari kamu sayang, sudah nggak matre lagi hahaha. Batin Roberth terkekeh karena gadisnya itu dulu suka koleksi barang branded tapi sekarang bahkan semua yang melekat di tubuhnya adalah barang yang murahan kecuali ponsel cantiknya.
Maggie melewati Roberth dengan senyum penuh kemenangan sedangkan pria itu mengangkat sempolnya sebagai pujian kepada gadisnya.
"Siapa gadis ini sebenarnya sehingga bisa membantah ucapanku" gumam Sela sambil kembali ke tempat duduknya.
Mira, Vira dan Adel datang mendekat dan memberi semangat kepada sahabat mereka yang tadi kalah telak disambar Maggie.
"Sudahlah beb, orang kaya dia tinggal dijentik aja udah lewat ko?" ucap Vira sambil menjentik jarinya.
"Iya beb, kenapa kamu nggak pakai kekuasaan papamu aja sih?" kompor Adel kepada Sela.
Mereka terus mengobrol saling mendukung untuk menjatuhkan Maggie.
Di tempat lain,
Maggie tengah menikmati kesendiriannya di taman kampus sambil memainkan benda pipihnya.
"Waaaa, kamu ngapain sih di sini sendirian?" ucap Rockzy mengagetkan Maggie.
"Cih, ganggu aja" gerutu Maggie sambil memperbaiki posisi duduknya karena pria itu sudah duduk di sampingnya.
"Banyak yang aku pikirkan dan aku ingin memberimu tugas" ucap Maggie memelas.
"Giliran butuh aja kamu jinak sama aku" ucap Rockzy meledek gadis itu.
"Jadi kamu mau bebas dari tugas opa? enak aja aku blokir semua kartumu biar jadi gembel" gerutu Maggie kepada pria itu.
"Oke kasih tahu apa yang harus aku lakukan tapi ingat jangan tugas yang aneh-aneh ya?" ancam Rockzy.
"Aku mau kamu menyelidiki kehidupan gadis yang bernama Sela and the geng. Aku minta secepatnya dan tidak ada penolakan" ucap Maggie tegas.
"Siap nona bos, tapi ingat setelah ini kamu juga punya tugas untukku dan tidak ada penolakan" ucap Rockzy langsung pergi.
"Hei tugas apa yang mau kamu kasih ke aku hah?" teriak Maggie namun hanya dibalas lambaian tangan oleh Rockzy tanpa berbalik.
"Sial, suka bangat ambil keuntungan dariku. Pasti nih mau kuras hartaku, enak saja aku harus mengorbankan masa hidupku untuk bisa menguasai harta Daddy, mommy sama opa, Oma bahkan opa Gaston eh dia malah seenaknya mau nguras aku." gerutu Maggie yang tidak sadar jika ada seseorang yang sudah berdiri di belakangnya.
"Ternyata gadisku tidak pernah berubah ya? masih tetap matre sejak dulu" ucap Roberth sambil mengitari bangku taman yang di duduki oleh Maggie lalu duduk tepat di samping gadis itu.
"Iya dan siap-siap hartamu aku ambil juga." ucap Maggie santai. Awalnya dia sempat terkejut karena sejak kapan pria itu ada di sana.
"Nggak apa-apa. Ambil aku sekalian" ucap Roberth santai membuat Maggie melototkan mata kepadanya namun pria itu hanya terkekeh.
"Siapa pria yang tadi sama kamu di sini? bukannya dia pria yang satu kelas sama kita?" tanya Roberth penuh selidik. Sebenarnya pria itu sempat cemburu karena gadisnya didekati oleh pria lain namun ia ingin tahu sendiri dari gadis itu siapa pria itu sebenarnya.
"Dia Rockzy" jawab Maggie singkat.
"Iya aku tahu, yang aku tanyakan ada apa dia ada di sini dan kalian sedang bicarakan apa?" tanya Roberth lagi penuh selidik.
"Biasa aja kenapa sih? kita itu lagi ada proyek bareng dan harus diselesaikan bersama" jelas Maggie ngaur membuat pria itu semakin bingung apa maksudnya.
"Bukannya kalian tidak saling kenal di dalam kelas kenapa kalian begitu akrab di luar?" tanya Roberth.
"Aduhh susah ya jelasin sama orang yang kelewat cerdas, nggak ngerti- ngerti juga" gerutu Maggie.
"Dengar ya, tapi kamu harus jaga rahasianya kalau nggak aku sendiri yang akan membunuhmu" ucap Maggie penuh ancaman.
"Iya" jawab Roberth singkat karena tak sabar untuk mengetahui apa dibalik semuanya ini.
"Rockzy adalah anak yang diangkat opa Gaston sejak bayi dan sudah dianggap anak sendiri. Rockzy juga orang yang diutus opa untuk membantuku dan menjagaku di negara ini, dan kita sudah sepakat untuk tidak saling kenal saat berada di banyak orang. Sampai di sini kamu mengerti?" ucap Maggie.
"Iya, tapi aku harap dia cukup melakukan tugas yang lain karena tugas menjagamu, aku yang ambil alih" ucap Roberth tegas.
"Tergantung jika kamu siaga atau tidak" jawab Maggie.
"Jadi kamu meragukanku?" tanya Roberth.
"Tidak karena kamu adalah penjaga hatiku" ucap Maggie penuh gombal membuat Roberth mati kutu.
BERSAMBUNG