
Keesokan harinya tuan Devid dan keluarganya sibuk mempersiapkan acara ulang tahun Maggie yang ke 4. Maggie banyak maunya diulang tahunnya ini.
📹Halo tuan Devid, bagaimana? (Tanya tuan Alberth saat telepon tersambung)
📹Apa maksud kamu dan isterimu mengabaikan teleponku selama ini hah? jika kamu tidak menginginkan cucuku, aku tidak memaksa. (Sambar tuan Devid yang marah besar pada tuan Alberth)
📹Maaf tuan Devid, kami hanya tidak ingin Maggie tahu tentang keadaan daddynya yang sekarang karena itu akan menambah kesedihannya. (Jawab tuan Alberth melemah)
📹Setidaknya aku tahu hal ini. Bagaimana mungkin kamu memisahkan mereka dengan cara seperti ini.
📹Maafkan kami.
📹Dimana Rumah Sakit yang merawat Alfa
📹Royal Brompton Hospital
📹Baik
Sambungan telepon kedua orang mantan besan itu akhirnya berakhir. Tuan Devid kembali ke tempat dimana anak cucunya berkumpul melakukan pekerjaan mereka.
"Opa, tapan ade tetemu daddy?" tanya Maggie karena hari semakin sore tapi belum ada tanda-tanda mereka akan bertemu daddynya, sementara esok adalah hari ulang tahunnya.
"Nanti sayang" ucap Mey
"Ade mau daddy ada diulang tahun ade mom," ucapnya merajuk dan Mey hanya menatap ke arah ayahnya seolah bertanya bagaimana ini ayah?
Tuan Devid tidak bisa menjawab karena jam besuknya sudah lewat jadi baru bisa esok lagi mereka pergi ke sana.
Maggie yang tidak mendapat respon dari para orang tua itu memilih pergi ke kamar dan tidur dengan menutup seluruh badannya.
Mey akhirnya menyusul puterinya karena ia tahu jika sudah seperti ini maka anaknya akan menangis di sana dan itu sangat menyakiti batinnya.
"Ade, esok saja ya ketemu daddynya" ucap Mey sambil mengusap punggung puterinya yang tidur membelakanginya.
"Daddy pasti masih siap kejutannya buat ade" ucap Mey. Gadis kecil itu langsung bangun saat mommynya bilang kejutan untuknya
"Betul mom?" tanyanya memastikan
"Betul sayang" ucap Mey tersenyum karena mood puterinya telah kembali.
Ibu dan anak itu akhirnya bercerita di kamar hingga malam menjelang baru keduanya membersihkan diri dan keluar dari kamar untuk makan malam.
Keluarga ini kembali menikmati makan malam mereka dengan tenang tanpa ada yang bersuara seperti biasanya.
"Esok pagi kita akan ke Rumah Sakit" ucap ayah Devid tenang.
Mey, Novi dan Maggie malah dibuat bingung karena kenapa harus ke Rumah Sakit.
"Apa ayah sakit?" tanya Novi penasaran
"Tidak, kita akan ke sana untuk bertemu dengan seseorang sebelum kita melakukan kegiatan yang lain termasuk acara ulang tahun ade" jawab ayah
Deg
Mey tersentak kaget.
Jangan sampai mas Alfa masih sakit? batin Mey
"Opa! tenapa halus te Lumah Cakit? Ade tan mau tetemu daddy" ucap Maggie dengan wajah masamnya.
"Iya sayang nanti kita juga akan ketemu daddy" jawab opa membuat gadis kecil itu kembali tersenyum ceria.
Keesokan harinya, tuan Devid dan keluarganya bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit. Maggie tidak tahu jika orang yang akan mereka kunjungi adalah orang yang ia rindukan selama ini.
Setelah bersiap-siap, sopir pribadi tuan Devid telah menunggu untuk mengantar mereka ke tempat tujuan mereka.
Merekapun pergi meninggalkan apartemen itu menuju ke Rumah Sakit yang telah diberi tahukan oleh tuan Alberth.
Seperti biasa, Maggie adalah anak yang aktif dan akan membuat suasana jadi suka cita.
Perjalanan yang menyenangkan dan dihiasi dengan tingkah konyol gadis kecil itu akhirnya sampailah mereka di salah satu Rumah Sakit terbesar yang termasuk dalam jajaran Rumah Sakit Internasional itu.
Keluarga itu turun dan melangkah masuk ke lobi Rumah Sakit dan di sana ada security yang menjaga dan untukengarahkan mereka ke Resepsionis.
“Mari tuan, silahkan lapor diri dulu ke Resepsionisnya” ucap salah seorang Security Rumah Sakit itu.
“Terima kasih” jawab tuan Devid.
Mereka melangkah menuju Resepsionis dan memberitahukan maksud mereka.
“Ada yang bisa kami bantu, tuan?” ucap seorang Resepsionis kepada tuan Devid dan keluarganya.
“Apa ada pasien yang bernama Alfaro Putra Adipaty?” tanya tuan Devid
Deg
Mey menegang saat ayahnya menyebut nama pasiennya.
“Baik tuan, tunggu sebentar” ucap gadis yang adalah resepsionis itu sambil melihat daftar nama pasien yang ada beserta ruang inapnya.
“Tuan,, pasien berada di ruang VVIP 1, silahkan menuju ke lantai atas.” Ucap gadis itu sekali lagi.
“Terima kasih” ucap tuan Devid sambil menuntun anak cucunya menuju ruang tersebut yang berada di lantai paling atas.
Mey dan Novi terdiam sejak tadu dengan pikiran masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan. Sementara Maggie yang tidak mengerti dan bahkan tidak begitu mendengar ucapan opanya tadi, tidak sedikitpun mengurangi rasa bahagianya.
Saat tiba di lantai paling atas, mereka kembali diarahkan menuju ruang yang dimaksud, karena bagian Resepsionis telah menelepon terlebih dahulu kepada petugas yang berada di lantai itu.
Gadis kecil yang sejak tadi anteng di samping opanya langsung berteriak memanggil orang yang baru saja dia lihat setelah sekian lama tidak bertemu.
“Oma Latna!!!” seru Maggie sambil melepaskan genggaman tangannya dari sang opa, dan berlari ke arah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
“Ma mmaggie? Cucu oma?” Sambut oma Ratna dengan tubuh yang sudah bergetar hebat karena setelah sekian lama akhirnya hari ini ia bisa bertemu kembali dengan cucunya yang sudah semakin besar dan pintar dan yang paling mengharukan adalah saat anak kecil itu masih mengingat dengan jelas wajah dan nama mereka.
Wanita itu merentangkan kedua tangannya menyambut cucunya yang langsung melompat masuk ke dalam dekapannya.
Oma Ratna menangis tersedu-sedu sambil memeluk cucunya erat. Betapa bersyukurnya ia bisa kembali memeluk gadis kecil itu. Sementara tuan Alberth tercekat dan tidak mampu berbicara saat melihat mantan besan dan mantan menantunya yang kini berdiri di depannya.
Tanpa ragu, tuan Alberth melangkah kearah Mey dan memeluk wanita yang adalah ibu dari cucunya itu.
“Maafkan Alfa nak” ucap tuan Alberth yang sudah meneteskan air mata.
“Ia pah” ucap Mey yang sudah menangis dalam pelukan sang mantan mertuanya.
Sementara di dalam sana, beberapa dokter tengah berusaha menyelamatkan salah satu nyawa yang sudah kaku dan tidak ada pengharapan lagi.
“Apa yang terjadi Alberth?” tanya Ayah Devid kepada papa Alberth.
“Alfa kritis dan kejang-kejang, saat ini sementara di tangani oleh dokter di dalam. Sebenarnya sudah tidak ada harapan jika alat alat dicabut, tapi Ratna mempertahankannya” ucap papa Alberth dengan mata berkaca-kaca. Sementara mama Ratna yang menangis sejak tadi tanpa melepas cucunya dari gendongannya, melangkah mendekati mantan menantunya dan memeluknya dan lagi-lagi mereka menangis.
Novi mengambil alih Maggie yang sejak tadi diam dan bingung melihat para orang tua itu pada menangis.
“Ta Novi, tenapa olang-olang ini menangis? Libet ya jadi olang dewasa?” ucap Maggie santai. Novi yang biasanya heboh jika soal berdebat denga gadis kecil ini, tapi kali ini dia diam bahkan dia ibah melihat Maggie yang tidak tahu apa-apa jika daddynya tengah berjuang antara hidup dan mati.
Jika saja kamu tahu yang sebenarnya de, ka Novi tidak membayangkan bagaimana jadinya kamu nanti. Orang yang kamu rindukan, orang yang kamu harapkan untuk mendampingi kamu untuk acara ulang tahun kamu malam ini ternyata sudah berada diujung maut.
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk memberi semangat kepada author ya, dengan cara memberi VOTE, LIKE n COMEN🙏