Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
129. Ijin Pergi Sementara



Kehidupan keluarga Alfa semakin hari semakin bahagia. Ayah Devid yang sudah tidak sendiri lagi dan ditambah si kembar yang semakin aktif. Maggie sudah tidak lagi sedih karena ditinggal sahabatnya, ia mulai menjalani hari-harinya dengan baik dan mulai berteman baik dengan teman lainnya di dalam kelas.


Setiap pagi, daddy dan mommynyalah yang selalu memgantarnya, diusia baby twins yang memasuki bulan ke 8, Mey kembali mengambil keputusan untuk bekerja lagi. Sebenarnya Alfa tidak mau mengijinkannya tapi karena Reno mulai sibuk dengan dunianua sendiri dan apalagi ia sudah mulai berjuang untuk merebut kembali perusahaan papanya karena itu Alfa mulai kewalahan jika mengurus dua perusahaan sekaligus.


"Pap pap pap" celoteh Daffi di atas ranjang saat melihat daddynya asyik menata rambut di depan cermin. Sedangkan Mey masih mandi.


"No, bukan papa tapi daddy" protes Alfa yang tidak mau dipanggil papa.


"Pap pap pap" celoteh anak kecil itu lagi. Sementara kembarannya masih anteng tidurnya.


"Hei, sudah daddy bilang, D A D D Y daddy bukan papa" ucap Alfa megeja cara panggil anak-anak untuk dirinya. Bertepatan dengan itu masuklah Maggie yang sudah rapi dan membawa serta tas sekolahnya.


"Cih, posesif" gerutu Maggie dengan sinis. Namun Alfa tidak peduli dengan gerutuan puterinya.


"Pap pap" Daffi kembali berceloteh dengan semangatnya karena melihat sang kaka masuk san duduk di sofa kamar itu.


"Pa pa pa" Tabah Daffa yang baru bangun dan langsung ikut ramai membuat Alfa tidak suka.


""Abang, dede... jangan panggil papa tapi daddy seperti kaka. Kalau masih manggil papa, daddy pindahin kamu ke kartu keluarga opa David dan opa Alberth" protes Alfa kembali pada kedua puteranya sambil bercakak pinggang, mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan Alfa sehingga keduanya malah cekikikan sambil berpelukan di ranjang.


"Cih anak siapa sih? diajarin malah ketawa" gerutu Alfa.


"Hah? apa daddy bilang, jadi daddy tidak mengakui abang sama dede sebagai anak daddy?" genaplah sudah penderitaan daddy karena pertandingan yang tidak seimbang alias 4 lawan 1.


"No mommy, bukan begitu maksudny" ucap Alfa salah tingkah.


"Cih, dasal tidak pengeltian sama anak kecil, suka maksa kehendak." cibir Maggie yang sejak tadi asyik belajar di Ipednya.


"Hei kaka, apa yang kamu katakan?" tanya Alfa melotot ke arah Maggie untuk menghindari singa betina yang baru keluar dari kamar mandi.


"Makanys dad, jangan posrsif, bialin kalau abang sama dede manggilnya papa, toh nanti besal bisa di kasih tahu" jelas Maggie.


"Tidak bisa nanti kebiasaan" protes Alfa tidak terima baik.


"Yee makanya daddy itu koleksi dili juga, dulu diajalin opa sama oma yang baik tak nulut, gililan ada masah nangis sama opa oma" ejek Maggie membuat Alfa bungkam.


Sial. Puteriku selalu punya stok kelemahanku, tunggu pembalasan daddy ya princess. Batin Alfa sambil tersenyum seperti orang gila.


"Dasar OGB" sindir Maggie.


"Apa itu?" tanya Alfa yang tidak mengerti bahasa anak-anak.


"Orang Gila Baru" ucap Maggie santai sementara Alfa sudah hampir meledak.


"Hai anak-anak mommy, mau mandi?" tanya Mey yang selesai bersiap.


"Mom mom mom" kedua baby itu ramai berceloteh menyebut mommy.


"Cih giliran mommynya mereka nurut. Tanpa daddy kamu tidak bisa ada sekarang. Daddy yang kerja keras siang malam" gerutu Alfa sambil ikut duduk di sofa memainkan ponselnya dengan kesal.


Mey melotot pada suaminya yang sering tidak memfilter bahasa-bahasanya.


"Nanti dimandiin sama oma ya sayang" ucap Mey sambil membersihkan ileran anak-anak menggunakan tisu basa. Lalu melepas popok mereka dan membersihkan juga area pangkal mereka dengan tisu basa juga. Mey kembali mengenakan celana yang bersih kepada dua jagoannya.


"Daddy gendong Daffi ke bawah" ujar Mey pada suaminya.


Daffi yang super aktif sudah bergerak tak karuan di atas kasur karena kembarannya sudah di ambil alih mommynya.


"Ayo kaka, turun sarapan dulu" ajak Mey pada puterinya.


Alfa melototi Daffi karena tidak bisa diajak kerja sama, namun bayi itu cuek saja.


*


*


Di Jepang


Novi dan Reno tiba di halaman Rumah sakit ternyata bunda masih menangis di sana, keadaan wanita paruh baya itu sangat lemah. Berbulan-bulan menjaga orang sakit, ditabah lagi luka batinnya maka genaplah sudah.


"Bunda, maafin Novi" ujar gadis itu dan langsung memeluk bundanya.


"Kamu sudah kembali nak? kamu tidak meninggalkan bunda kan?" tanya bunda dengan suara lemah.


"Tidak akan bun, aku akan membawa bunda ke manapun aku pergi" ucap Novi tegas.


"Baiklah aku masuk ke dalam dulu." pamit Reno ingin menemui ayah Veron dan Arjo.


"Terima kasih nak, sudah membawa Noviku kembali" ucap bunda lirih dengan air mata yang semakin deras mengalir.


"Tidak usah berterima kasih bun. Tentu aku harus membawanya kembali karena aku juga akan rugi jika dia menghilang" ucap Reno sekaligus menggoda kekasihnya dan hal itu mampu membuat kedua ibu dan anak itu kembali tersenyum.


"Baiklah, aku masuk. Tunggulah sampai aku kembali" ucap Reno swkali lagi dan diangguki oleh Keduanya.


Reno kembali ke ruang di mana ayah dari kekasihnya di rawat.


Tok tok tok


"Masuk" seruan dari dalam. Reno masuk mendapati Arjo sedang menenangkan sang ayah yang baru sadar.


"Nak Reno, tolong bawa Novi dan ibunya kembali, aku mohon" ucap pria itu dalam tangis pilunya.


"Tenanglah ayah, aku akan mengusahakannya. Tapi sebelumnya aku mohon maaf, ijinkan aku membawa mereka untuk menenangkan diri" ucap Reno berusaha menjelaskan.


"Jangan nak, aku sudah sangat bergatung kepada mereka. Aku tidak mau lagi berpisah dengan mereka." ucapnya semakin pilu menangisnya. Sebenarnya Reno ibah dengan pria lemah itu. Sebagai seorang ayah, ia harus adil dalam memberi kasih sayang tapi ternyata ia salah besar dalam tindakannya. Bukan kasih sayang semata yang diharapkan seorang anak tapi diakui itu yang penting.


"Ayah, aku mengerti perasaan ayah. Aku juga mengerti jika saat ini ayah dilema dengan keadaan, aku sudah mendengar semuanya tadi saat aku akan masuk namun mendengar yang tidak seharusnya aku dengar.


Sebagai seorang pria lajang pun aku merasa tidak adil, ayah berusaha bertanggung jawab pada Novi tapi jika ayah tidak mengakuinya sebagai anak apakah itu adil? ayah bertanggung jawab kepada bunda karena menghamilinya, tapi apakah adil jika hidup dalam satu atap tanpa status? biarkan mereka menenangkan diri untuk sementara, mereka aman di tanganku.


Aku akan membujuk keduanya untuk kembali jika ayah sudah mau mengambil keputusan untuk memberi mereka status yang jelas.


Dan aku harap ayah berjuang untuk sembuh dulu agar ketika ayah hidup lagi bersama mereka, ayah tidak lagi menyusahkan mereka, sehingga mereka tidak merasa bahwa ayah hanya memanfaatkan mereka" ucap Reno panjang lebar, bahkan dalam ucapannya itu Arjo merasa tersindir karena datang disaat ayahnya sudah mulai pulih.


BERSAMBUNG