
📞Halo kaka
📞Ya dad
📞Di mana kaka Sekarang?
📞Rumah sakit Z.
📞Hah? Jadi benar kaka yang membawa opa pergi?
📞Iya dad.
📞Oke daddy sama yang lain nyusul ya?
📞Iya dad.
Sambungan telepon berakhir dan Alfa, Oma Ratna, Rockzy, Vicky dan Reno pun mulai bergerak menuju Rumah sakit sedangkan Roky dan Riko mengamankan anak buah lain yang luka untuk dibawa ke rumah sakit.
"Dok, bagaimana keadaan opaku?" tanya Maggie begitu melihat dokter yang menangani sang opa keluar dari ruangan opanya.
"Keadaannya cukup memprihatinkan dan luka-lukanya sudah dijahit tapi sekarang beliau masih dalam masa kritis. Doakan saja semoga beliau bisa sadar dalam waktu dekat, jika tidak kami tidak akan memjamin keselamatannya" jelas sang dokter.
"Lalu apa yang harus dilakukan dokter?" tanya Maggie panik.
"Sepertinya beliau punya penyakit lain dan tidak diobati secara teratur, jadi jalan Satu-satunya harus melakukan operasi" jelas dokter.
"Baik dokter, lakukan yang terbaik. Aku akan segera menguris administrasinya" ucap Maggie.
"Baik nona, akan kamis siapkan semuanya dan kita akan melakukan operasi esok pagi nanti dan juga kami akan memindahhkannya terlebih dahulu ke ruang ICU" ucap dokter lagi dan hanya dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
Maggie tidak menemui sang opa karena akan dipindahkan ke ruang ICU. Setelah memastikan sang opa di pindahkan, ia melangkah pergi untuk mengurus administrasi sekaligus pembayaran biaya rumah sakit.
"Opa maaf, kaka tinggal sebentar" gumam gadis itu dan langsung pergi begitu saja.
Gadis itu pergi meninggalkan Rumah sakit dengan kecepatan diatas rata-rata, gadis itu melajukan mobilnya ke salah satu tempat yang orang lain tidak tahu.
"Aku akan mengejarmu sampai ke ujung bumi sekalipun" gumamnya sambil menaikan laju mobilnya.
.
.
.
"Loh, dimana kaka?" tanya Oma saat mereka tiba di Rumah Sakit dan datang ke tempat yang diberitahukan oleh Maggie.
"Mungkin lagi mengurus administrasi" jawab Alfa
Setelah beberpa lama, tidak ada tanda-tanda Maggie muncul dan bertepatan dengan itu ada seorang dokter dan dua orang perawat yang melintas di sana.
"Dok, mau tanya apa dokter melihat seorang gadis yang tadi berjaga di sisi?" tanya Oma Ratna.
"Oh yang tadi membawa pasien yang dianiaya itu ya?" tanya dokter.
"Iya" jawab Oma Ratna singkat.
"Oh, sepertinya tadi ia lagi pergi bu" jelas dokter.
"Hah? pergi?" ucap Oma kaget.
"Iya bu" jawab sang dokter.
"Baik dok, Terima kasih"
Setelah dokter dan para perawat itu pergi, Oma Ratna kembali bertanya kepada Alfa.
"Sebenarnya kaka ke mana lagi sih?" ucap Oma.
"Mungkin kelaparan kali ma. Mama kan tahu kalau dia harus mekan jika menyelesaikan satu pekerjaan.
" Tapi setidaknya dia menunggu sampai kita tiba, main pergi-pergi aja. Kalau ada apa-apa gimana" gerutu Oma Ratna.
'"Oke mama Tenang ya, kalaupun mama mau menceramahinya setidaknya tunggu sampai dia datang, oke?" ucap Alfa sambil menenangkan sang mama karena sudah bosan mendengar ceramahan wanita itu.
.
.
Di tempat lain, Maggie telah tiba di salah satu rumah entah rumah siapa tapi ia punya tujuan datang ke sana. Rumah yang seperti tidak berpenghuni itu ditutupi oleh kegelapan karena lampu yang tidak dinyalakan.
Malam sudah semakin larut dan gadis itu memilih untuk masuk setelah menjauhkan mobilnya sekitar 50 meter dari gerbang itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Saat mendorong gerbang ternyata tidak dikunci jadi dengan gampang ia masuk. Tidak ada yang mustahil bagi seorang Maggie walaupun pintu itu terkunci sehingga dengan gampang ia masuk ke dalam rumah tersebut.
"Kenapa banyak nyamuk sih? kalau nggak ada niatan tinggal di rumah ini ya setidaknya dipelihara biar tidak banyak nyamuknya" gerutunya sambil menepuk-nepuk nepuk nyamuk yang berkeliaran di sana.
Setelah menunggu sekitar hampir setengah jam, ia mulai mendengar ada orang yang masuk sehingga dengan cepat ia mematikan cahaya ponselnya.
Seorang pria masuk dan menarik nafasnya lega entah apa yang terjadi di luar sana. beberapa saat kemudian ia pun mencari stop kontak untuk menyalakan listrik di ruangan itu. Begitu lampunya menyalah, alangkah kagetnya pria itu begitu melihat seorang gadis tengah duduk manis dengan berpangku di sofa yang ada di ruangan itu.
"Hei, siapa kau??" ucap El dengan suara yang agak tinggi saking kagetnya.
"Hai om El, apa kabarmu?" ucap Maggie dengan senyum mengembang.
"Siapa kau sehingga mengenal namaku?" tanya El sambil mewanti-wanti.
"Apakah benar om tidak mengenali suaraku om?" ucapnya dengan posisi seperti semula.
Deg
El tercekat, suara ini baru saja ia dengar beberapa jam yang lalu.
"Aku tidak mengenalimu, dan kenapa kau ada di rumah puteraku?" ucapnya penuh emosi.
"Baiklah jika om tidak mengenaliku tapi untuk aku berada di sini karena urusan kita belum selesai" ucap Maggie
"Apa maksudmu?" tanya pria itu bingung.
"Ya aku datang untuk membuatmu membayar tuntas apa yang sudah kau lakukan kepada opaku" ucap Maggie penuh penekanan dengan sorot mata mematikan.
"Siapa opamu?" tanya El berusaha untuk menyangkali apa yang ada di dalam pikirannya itu.
"Oh, rupanya kau mengidap penyakit amnesia ya? Setelah kau hampir melenyapkan nyawa opaku lalu sekarang kau pura-pura lupa?" teriak Maggie yang begitu emosi dengan pria yang ada di depannya sekarang.
"Oh rupanya kau cucu dari pria tua itu? dan apa tadi kau bilang? hampir melenyapkan nyawa? jadi pria itu menghilang dari ruangan itu karena kau?" ucap El yang juga ikut emosi.
"Kau lupa cara kerja seorang pemimpin Mara Salvatrucha? bukannya kau penasaran dan ingin bertemu dengannya" ucap Maggie dengan nada cibiran.
"Aku sudah bertemu dengannya dan aku akan menghabisinya dilain waktu. Wanita itu telah menjatuhkan harga diriku" ucapnya menggebu-gebu.
"Oh, rupanya kau salah orang. Jadi yang kau maksud omaku? Hahaha bertanding sama wanita tua saja kau bahkan tidak mampu, lalu dimana letak kearoganmu dan julukan yang disematkan kepadamu sebagai pembunuh berdarah dingin?" ucap Maggie terus mengejaknya.
Kaka, kamu dimana? opa kejang-kejang dan harus segera dioperasi.
Pesan singkat yang diterima Maggie dari nomor sang daddy. Hal itu membuat darahnya tiba-tiba memuncak.
"Dan malam ini kau harus membayar tuntas untuk segalanya. Aku Maggie Pradania Adipaty akan menghantarmu ke neraka" ucapnya pelan namun penuh penekanan dan menusuk.
"Kurang aja kau anak kecil. Aku akan membuatmu seperti opa sialanmu itu" uca El yang langsung menyerang Maggie.
Perkelahian pun terjadi di rumah yang katanya adalah milik putera El, dan mungkin milik Ovidio yang sudah tertangkap polisi itu.
Rupanya keahlian bela dirinya lebih tinggi dari wanita tadi. Tidak, aku harus secepatnya terlepas dari dia jika tidak, rencana balas dendamku dan membebaskan puteraku bisa gagal. Batin El di sela-sela perkelahiannya.
Beberapa kali El terkena tendangan maut dari Maggie sehingga membuat tekadnya untuk lari semakin tinggi.
Ia berlari keluar dan dikejar oleh Maggie namun karena diluar sangat gelap sehingga gadis itu kehilangan jejaknya.
"Lihat saja, aku akan membunuhnya jika menemukannya" geram Maggie.
Setelah beberapa saat mencari-cari pria itu dan tidak menemukannya akhirnya Maggie pun memutuskan untuk kembali ke Rumah sakit.
Bersambung