
Hari ini, Rockzy benar-benar datang menjemput Ria dan keduanya pun berangkat ke desa tempat kelahiran Ria.
Sepanjang perjalanan, keduanya habiskan dengan bercerita tentang kehidupan masing-masing agar saling mengenal satu sama yang lain karena maklumlah, Rockzy adalah pria tercuek di kelas sewaktu mereka masih kuliah sehingga ia tidak akrab dengan siapapun. Mungkin dengan Maggie seorang tapi itupun di luar kampus karena mereka diminta untuk tidak saling kenal jika bersama sehingga banyak orang yang tidak tahu soal itu termasuk Roberth yang pernah cemburu kepada Maggie dan Rockzy.
"Sejak kapan sih kamu berubah" tanya Ria.
"Maksudnya?" tanya Rockzy
"Ya, secara dulu kan kamu orang yang cuek dan dingin di kelas" ucap Ria mem flashback tentang kehidupan Rockzy di masa kuliah.
"Aku rasa biasa aja?" jawabnya santai sambil terus mengemudi.
"Nggak, kamu berubah apalagi semalam. Kamu sangat berubah saat berbicara sama papa" ucap Ria menerangkan.
"Ya seperti itulah, masa sama orang tua aku harus cuek?" jelasnya sambil tersenyum kecil hingga Ria pun tidak tahu kalau dia tersenyum.
"Makanya" jawab Ria singkat.
"Kenapa kamu berakhir kerja di perusahaan keluarga Roberth?" tanya Rockzy penasaran.
"Ini semua bantuan Maggie dan Roberth" jelas Ria.
"Kenapa?" tanya Rockzy lagi.
"Dulu, aku hampir putus kuliah, aku diberhentikan dari tempat kerjaku di cafe. Saat itu, ayah juga butuh biaya untuk membeli obat sedangkan aku juga butuh biaya untuk kos dan kehidupan sehari-hari. Aku menelepon Maggie untuk pamit kembali ke kampung, karena dia adalah sahabatku dari kecil jadi aku tidak mungkin pergi tanpa berita. saat itu juga dia melarang ku untuk pulang kampung sehingga mereka minta aku bekerja pada perusahaan Roberth" jelas Ria.
Rockzy bisa menangkap sesuatu dari penjelasan tersebut, kenapa tidak dikasih masuk ke Royal-Adipaty. Rockzy tahu, Maggie sangat menjaga jati dirinya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, keduanya tiba di sebuah desa yang terletak di pinggir pantai. Desa yang cukup maju karena banyak para turis di sana dan ada juga beberapa villa yang mewah ada di sana serta rumah makan dan juga toko sembako.
Mau dibilang desa tempat Ria lahir bukan desa tertinggal tapi desa yang cukup maju hanya rumah warga saja yang masih sangat sederhana termasuk rumah Ria yang kelihatan sudah sangat tua jika terlihat dari atapnya hingga dindingnya.
Ria menunjukkan rumah bekas tempat tinggal Maggie dan mommynya yang sangat kecil dan kedai mereka yang saat ini sudah menjadi sebuah cafe yang lumayan, cafe itu saat ini dikelolah oleh opa Veron dan oma Nur serta Hotel yang ada di samping cafe. Ternyata itu adalah hotel yang dibangun oleh Alfa kusus untuk Puteri semata wayangnya.
Keduanya melanjutkan lagi perjalanan sekitar seratus meter lebih dan tibalah mereka di sebuah rumah sederhana.
Ria turun lebih dahulu sementara Rockzy masih menepi mobilnya.
"Ayah.... ayahhh!!!! aku pulang yah!" seru Ria dari balik pintu yang tertutup rapat seperti tidak berpenghuni.
"Uhuk uhuk uhuk, sabar nak?" ucap seseorang dari dalam rumah.
Clek
Pintu terbuka, pria itu terkejut karena puterinya datang bersama seorang pria tampan walaupun ia tahu puterinya adalah gadis desa yang lumayan cantik.
"Ayah, Maria rindu sama ayah. Maaf ya, Maria kerja sampai lupa jenguk ayah" ucap Ria yang sudah masuk dalam dekapan pria tua itu tanpa ragu walaupun penampilan pria itu cukup kusut.
"Tidak apa-apa sayang, asal kamu sehat selalu. Ayah baik ko?" jawab pria itu sambil mengusap pucuk rambut puterinya yang masih nyaman bersandar di dadanya.
"Siapa ini sayang?" tanya ayah Ria yang merasa penasaran dengan pria muda yang dibawa puterinya itu.
"Kita masuk dulu ya?" ajak Ria sambil menuntun sang ayah dan memberi kode kepada Rockzy untuk ikut masuk.
Mereka bertiga duduk di beberapa kursi kayu yang tersusun rapi di sana.
"Maaf ayah, aku Rockzy kekasihnya Ria" ucap Rockzy sambil memberi salam kepada calon ayah mertuanya itu.
Ayah menatap keduanya bergantian, entah apa yang ada di dalam pikirannya.
"Iya ayah, Maria sama Rockzy adalah sepasang kekasih. Kami juga dulu satu kelas saat kuliah." jelas Ria.
"Kami datang untuk minta restu, karena aku mau mempersunting Ria secepatnya ayah" ucap Rockzy.
Ayah kembali melayangkan pandangannya kepada Ria.
"Nak, kita orang miskin" hanya itu yang terucap dari bibir pria tua itu.
"Aku tidak melihat dari hartanya ayah, aku hanya menginginkan isteri yang selalu mendampingiku." ucap Rockzy yang mengerti akan kekhawatiran pria tua itu.
"Bagaimana keluargamu, orang tuamu pasti menginginkan kamu bisa mendapatkan gadis yang lebih dari Maria" ucap Ayah Ria.
"Sebelumnya aku minta maaf ayah, maaf karena aku sudah membawa Ria untuk bertemu dengan papaku sebelum ijin pada Ayah. Papa yang menginginkan kami untuk cepat bersama." ucap Rockzy.
"Kamu lihat kan? keadaan kami seperti apa? ayah hanya ingin Puteri papa bahagia walaupun hidup sederhana. Jika kalian saling mencintai, jangan saling menyakiti di kemudian hari. Ayah tidak melarang hubungan kalian yang penting saling mengerti satu sama lain" ucap ayah menasehati.
"Iya ayah, aku mengerti. aku harap ayah bisa merestui hubungan kami" ucap Rockzy lagi.
"Kapan kalian akan menghalalkan hubungan kalian" tanya ayah.
"Secepatnya ayah. jika semua persiapan sudah beres, kami akan kembali menjemput ayah di sini" ucap Rockzy.
"Baiklah, tapi ayah tidak punya apa-apa untuk membantu persiapan kalian" ucap ayah dengan wajah sedihnya.
"Ayah jangan pikirkan itu, aku akan mengatur semuanya dan pastinya bersama Ria agar membantu memilih yang sesuai" jelas Rockzy.
Rockzy keluar untuk mengambil barang bawaan yang mereka beli untuk ayah Ria, mulai dari pakaian, camilan hingga kebutuhan ayah lainnya.
"Apa kamu benar mencintainya nak?" tanya ayah.
"Ayah, walaupun waktu kuliah kami tidak begitu akrab tapi di orang baik. Aku baru dekat dan menjalin hubungan dengannya beberapa bulan lalu dan ia mengajakku bertemu papanya. Papanya juga orang baik" jelas Ria jujur karena itu yang dia rasakan dan lihat.
"Baiklah, ayah hanya ingin kamu bahagia" ucap ayah.
Sepasang ayah dan anak itu terus berbincang hingga Rockzy selesain mengangkat barang bawaan mereka.
Ria menata barang-barag itu di belakang dan sebelumnya ia membuat minum kepada dua pria beda usia itu sehingga mereka menikmatinya sambil berbincang sedangkan Ria melanjutkan beres-beresnya.