Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
76. Cerita Indonesia 3



“Opa….opa tolong” teriak Maggie dari pintu kamar yang ditempati sang opa.


“Kenapa sayang?” ucap opa dengan paniknya karena berpikir sesuatu yang buruk terjadi pada sang cucu sehingga pagi-pagi sudah teriak-teriak sambil menggendor pintu kamarnya.


Tanpa menjawab sang opa, gadis kecil itu masuk ke kamar opanya dan duduk santai di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel sang opa yang sejak tadi tersimpan di atas bantal.


“Ade kenap?” tanya opa yang melihat cucunya yang baru beberapa menit yang lalu teriak histeris tapi sekarang malah sudah cekikikan menonton kartun di youtub yang ada di ponsel opanya.


Cucu ajaib, mana ada orang ketakutan yang bisa tertawa hanya dengan menonton kartun dipagi hari?Hmmm sepertinya sudah terjadi perang di kamar sebelah. Batin opa yang sudah hafal dengan sikap cucunya.


Gadis kecil itu berguling ke sana ke mari sambil cekikikan dengan ponsel opanya yang belum terlepas dari genggamannya. Mey dan Alfa yang melewati kamar opa mendengar suara cekikan dari dalam kamar itu, Mey akhirnya membuka pintunya dengan perlahan dan menengok ke arah dalam kamar, matanya menangkap sosok puteri kecilnya yang malah keasyikan dengan sang opa di sana.


Mey menggeleng kepalanya heran dengan sang anak. Alfa yang penasaran ikut melihat ke dalam dan lebih syok lagi ia yang baru tahu tingkah anaknya itu.


“Apa dia memang seperti ini?” tanya Alfa pada Mey


“Belum seberapa” jawab Mey santai


“Ikut siapa sih?” tanya Alfa


“Mana aku tahu? Anak kamu memang ratu drama sejak kecil” ucap Mey


Sungguh ajaib puteriku, bisa mengobrak-abrik dunia dalam sekejab. Batin Alfa tersenyum


Ayah yang melihat anak dan calon menantunya malah asyik mengobrol di depan pintu yang sedikit terbuka itu mendekati mereka.


“Apa yang kalian bahas di sini?” tanya ayah sambil membuka pintunya lebar.


“Tolong…tolong…” teriak Maggie sambil berlari ke arah sang opa dan bersembunyi dibalik punggung opanya.


Opa hanya terkekeh dengan tindakan cucunya yang spontan saat melihat mommynya.


“Cih, siapa juga yang mau mencarimu?” cibir Mey ke arah puterinya.


“Yee, olang lihat setannya” ucap Maggie asal membuat opa terbahak-bahak sedangkan Alfa bingung, setan apa yang yang dilihat puterinya.


“Ya kamu setannya. Pagi-pagi sudah berantakin kamar.” Ucap Mey lagi


“Ade belantakin bial mommy ada keljanya” ucapnya santai sambil kembali naik ke tempat tidur opanya dan lanjut menonton.


Alfa semakin dibuat bengong dengan tingkah dua orang kesayangannya yang tidak pernah akur itu. Baru sehari penuh hidup dengan dua orang ini, ia sudah merasa terhibur dengan tingkah konyol puterinya dan emosi Mey gara-gara anaknya itu.


Drama pagi hari itupun berakhir karena mereka semua bersiap untuk datang ke makam ibu Mery


*****


“Iya ini rumahnya oma sayang” ucap Mey,


“Kok lumah oma tidak ada pintunya” ucap Maggie polos membuat Novi hampir terbahak ditengah rasa sedih opa yang lagi berjongkok tepat di bagian kepala makam isterinya.


Sayang, maaf aku baru ke sini lagi setelah sekian tahun.


*Berbahagialah di sana sayang, tunggu aku sampai saatnya tiba. Terima kasih sudah meninggalkan seorang puteri untuk menemaniku di usia tuaku. Kamu lihatkan? Aku membawa mereka semua datang ke sini. Puteri kita sudah menikah dan sudah memiliki seorang puteri lagi. Walaupun pernikahannya sempat bermasalah tapi semua akan baik-baik saja. Aku mencintaimu sayang.* Batin ayah dengan mata berkaca-kaca sambil menunduk sehingga tidak dilihat oleh anak, cucu dan menantunya.


“Bu, maaf baru kali ini aku datang. Aku meminta restu dari ibu untuk menikahi puteri ibu dalam waktu dekat. Maaf karena aku pernah mengecewakan mereka, aku janji akan membahagian mereka mulai sekarang” ucap Alfa sambil berjongkok di samping makam ibu mertuanya.


“Ibu, aku datang lagi. Aku merindukan ibu, lihat bu aku datang dengan membawa cucu ibu, dia sangat pintar…”


“Iya oma ade sudah pintal kalna ade lajin belajal, tapi ade tidak pensiun sekolah” sambung Maggie saat mommynya belum selesai berbicara. Gadis kecil itu menyampaikan keluh kesahnya kepada sang oma karena statusnya yang masih anak paud jika di Indonesia. Ia kembali mengingat opanya pernah bicara jika sudah pensiun kerja.


Mey mendongak menatap puterinya yang berdiri di sampingnya. Bibir Alfa, opa dan Novi sudah berkedut-kedut menahan tawa sedangkan gadis kecil itu sama sekali tidak merasa bersalah ia juga ikut berjongkok dei samping opa sambil mengusap nisan omanya. Mey tidak lagi berbicara, ia mengakhirinya karena anaknya yang suka sembarangan itu.


“Ayo kita pulang sayang” Ajak opa pada anak, cucu dan menantunya.


“No, mom ade mau foto di lumah oma” ucap anak kecil itu yang tidak mau beranjak dari makam sang oma. Mau tidak mau Alfa mengeluarkan ponselnya dan mangambil gambar sang anak yang mulai mengeluarkan semua bentuk gayanya.


Ziarah mereka ke makam mendiang ibu Mery akhirnya sudah dan sekarang mereka berlanjut ke restoran untuk makan siang karena sudah saatnya makan siang.


Kali ini mereka tidak bisa berkunjung ke pantai, lebih tepatnya orang tua Novi karena waktu mereka sangat mepet ada di Indonesia, mereka harus kembali untuk persiapan pernikahan Alfa dan Mey yang tinggal hitung hari saja.


*****


Malam harinya mereka sudah kembali ke mansion keluarga Alfa. Mereka juga mempersiapkan semuanya karena esok mereka harus kembali ke negara tuan Devid.


“Sayang, ini cincinnya” ucap Alfa sambil menyodorkan kotak perhiasan yang masih utuh dengan semua perhiasan yang dulu diberi oleh mama Ratna pada Mey dan juga cincin nikah mereka waktu itu. Alfa tidak ingin membuat Mey kecewa lagi sehingga semalam saat ia berpindah kamar ia lebih dahulu datag ke kamar bi Ani dan bertanya soal perhiasan yang pernah ia suruh untuk di taruh ke gudang, ternyata bi Ani menyimpan semuanya di kamarnya.


Mey berkaca-kaca dan mengambil cincin tersebut dan menyematkan ke jarinya tapi sayang cincinnya sudah tidak muat di jarinya lagi. Wajah wanita itu mendadak murung membuat Alfa panik.


“Kenapa sayang” ucap Alfa ikut duduk di tempat tidur tepat di samping calon isterinya itu.


“Cincinnya tidak muat lagi di jariku” ucap Mey sambil memayunkan bibirnya membuat Alfa terkekeh. Walaupun statusnya sudah beranak satu tapi Mey tetaplah wanita yang masih sangat muda yang kadang tingkah kekanak-kanakannya masi sering muncul, seperti saat ini ia bertingkah seperti anak kecil yang kecewa dengan sesautu yang tidak lagi ia gunakan.


“Nanti kita beli lain yang sama dengan ini” bujuk Alfa sambil mengusap pucuk kepalanya, membuat Mey mengangguk mengiyakan seperti anak kecil membuat Alfa semakin gemas dan membawanya masuk dalam pelukannya.


-bersambung-


crazy up ya readers, sehari akan up 3 bab jadi jangan lupa dukung semangat author dengan meninggalkan jejak


LIKE, KOMEN, VOTE DAN VAFORIT.