
Roberth tiba di mansion utama keluarga Adipaty. Ia turun dari mobilnya dengan membawa bunga yang baru saja dia beli di jalan tadi. Dengan wajah ceriah dan senyum yang mengembang, Roberth menuju pintu utama dan membunyilan bel rumah mewah tersebut.
Setelah beberapa kali membunyikan, pintupun terbuka dari dalam. Pria ini bahkan sudah tidak menahan rasa bahagianya lagi, ia berharap yang membuka pintu itu adalah orang yang dia rindukan.
Saat pintu terbuka dengan sempurna ternyata sang art yang berdiri di sana. Namun senyum pria itu masih tetap terpancar.
"Bi, Maggienya ada ya?" tanya Roberth sopan.
"Mmm tuan muda Roberth, nona muda telah pergi tiga hari yang lalu" jawab sang art Hati-hati.
"Hah? pergi kemana bi?" tanya Roberth dengan senyum yang mulai pudar dan diganti dengan raut wajah kecewanya.
"Nona muda sudah kembali ke California, tuan" jelas art.
"Kembali?" tanya Roberth memastikan.
"Iya tuan" jawab wanita itu sambil mengangguk kepalanya penuh semangat.
"Baiklah aku pulang bi" ucap Roberth sambil berbalik dan pergi dari mansion tersebut.
Kasihan nak Roberth, pasti dia sangat sedih karena tidak mendapatkan non Maggie. Semoga jodoh membawa kalian kembali bertemu. Amin
Batin wanita itu sambil mendoakan cucu majikannya dengan sang kekasih.
Roberth pergi dengan perasaan hampa. Pria itu sangat kecewa karena apa yang sudah dia rencanakan berantakan begitu saja.
Bahkan aku sudah memberitahukan kepada kamu untuk menungguku beberapa hari saja tapi kamu tidak mau melakukannya untukku. Aku minta maaf karena sudah mengabaikanmu selama ini tapi aku harap kamu mau menungguku sedikit lebih lama. Batin Roberth frustrasi karena berpikir gadis itu tidak menghargai apa yang sudah dia ucapkan.
Trying trying trying
📞Halo
📞Tuan.....
📞Baik aku ke sana sekarang.
Pria itu akhirnya menancap gas menuju ke Rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari salah seorang anak buah yang ia tempatkan untuk berjaga-jaga di sana.
Sepanjang perjalanan ia masih terus memandang bunga yang baru saja dia beli dan kekasihnya yang pergi tanpa pamit.
"Huh.. Kenapa semua jadi berantakan" gumam pria itu.
Ia akhirnya tiba di tempat parkir Rumah sakit dan turun dari mobilnya. Setelah tiba di ruang di mana gadis itu di rawat, ia melihat kedua anak buahnya yang masih ada di sana.
"Bagaimana?" tanya Roberth to the point
"Dokter menyampaikan untuk segera di operasi gumpalan darah yang membeku di bagian kepalanya" jawab sang anak buahnya.
"Baiklah, kalian tetap di sini, aku akan mendatangi dokter" ucap Roberth dan beranjak dari sana.
Pria itu mendatangi dokter yang dimaksud yakni dokter yang menangani sang gadis tersebut.
Tok tok tok
"Masuk" Roberth pun masuk setelah mendengar suara yang mempersilahkan dari dalam.
"Tuan muda Roberth, akhirnya anda datang" ucap dokter yang memang sudah mengenal anak muda itu.
"Aku mendapatkan telepon dari mereka yang menjaganya." ucap Roberth.
"Iya tuan muda, dia harus segera dioperasi agar tidak berakibat fatal pada otaknya" jelas sang dokter untuk segera mengambil tindakan lanjut.
"Baik tuan muda, kami akn melakukan yang terbaik. Namun kami membutuhkan tanda tangan dari penanggung jawab dalam operasi ini" tanya sang dokter.
"Jika berkasnya sudah siap, aku sendiri yang akan menandatangani" ucapnya sekali lagi dengan penuh keyakinan.
"Baik, kami akan segera menyiapkannya." jawab sang dokter sambil menyiapkan berkas tersebut.
Urusannya dengan dokter telah selesai, pria itu kembali keluar dan bergabung bersama anak buahnya.
Ia bahkan tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun karena sejak pikirannya hanya kepada sang kekasih. Ia juga sejak tadi sudah melakukan panggilan berulang kali namun nomor sang kekasih bahkan tidak aktif sejak semalam ia hubungi.
Apakah dia lelah menungguku yang terus sibuk dengan perushaan sehingga ia memilih kembali ke California? Tapi bukannya aku sudah memberitahukan kalau ini adalah urusanku yang terakhir, kenapa dia malah pergi begitu saja? Roberth terus berperang dengan pikirannya sendiri.
...****************...
Keesokan harinya, opa Gaston membawa Maggie masuk ke salah satu ruangan yang belum pernah ia masuk selama berada di sana dan ini pertama kalinya. Keduanya terlibat perbincangan yang cukup serius hingga Maggie pun mulai menanyakan apa saja tugas yang harus ia lakukan mulai sekarang sebagai seorang pimpinan.
"Opa, apa yang harus aku lakukan?" tanya Maggie kepada opa Gaston soal tugasnya sebagai seorang ketua mafia yang masih awam.
Saat ini keduanya sedang berada di ruang rahasia sang opa, bahkan Rockzy pun belum pernah masuk ke ruangan itu kecuali oma Ratna dan Alfa.
"Persiapkan dirimu, mulai malam ini kamu akan menjalani meditasi selama 21 hari dan kamu harus menahan diri dari segala hal." jelas opa.
"Seperti" tanya Maggie
"Kamu akan makan sehari sekali. Tidak memegang ponsel. Tidak menemui siapapun. tidak keluar dari ruangan ini hingga 21 hari ke depan" jelas opa soal apa saja yang harus dilakukan.
Maggie sempat terkejut namun ia kembali menormalkan perasaannya. Ia ingin semuanya berjalan dengan baik, mengingat sang kekasih yang tidak mengangkat ponselnya beberapa hari lalu, ia memaklumi jika pria itu sibuk dan pasti tidak akan menghububginya.
"Baiklah opa, apakah masih ada lagi persyaratan yang lainnya?" tanya Maggie lagi.
"Cukup itu dulu" jawab opa enteng.
Gadis itu pamit kembali ke kamarnya. Ia bertemu dengan daddy di ruang tengah saat pria itu dan mamanya tengah berbincang seputar keluarga.
"Apakah kamu bisa sayang?" tanya Alfa yang punya felling kalau sang opa baru saja membicarakan sesuatu yang serius dengan puterinya.
"Pasti bisa dad" jawab Maggie mantap.
"Daddy akan kembali siang ini, kamu baik-baik saja kan daddy tinggal" ucap Alfa lebay.
"Cih, daddy lebay. Bilang aja lagi mau kangen-kangenan sama mommy" ucap Maggie menvibir daddynya yang langsung ditertawakan oleh sang mama.
"Biarin, kan isteriku mau ngapain aja bebas" balas Alfa tidak mau kalah.
"Dad, abang sama ade sudah punya pacar ya?" tanya Maggie penasaran karena setiap kali telepon sama kedua adiknya, Daffi selalu ingin mengatakan jika sang abang tengah didekati oleh gadis.
"Mana ada yang mau sama manusia kulkas kaya abang? palingan puterinya Reno yang mau ngejar-ngejar dia" ucap Alfa ikut bergosip soal puteranya yang satu itu.
"Maksudnya dad?" tanya Maggie penasaran.
"Tuh puterinya si Reno sampai hari ini masih gila-gila sama abang, padahal ada Daffi yang begitu baik padanya" ucap Alfa lagi.
"Ike masih ngejar Daffa? dan belum ada perubahan sampai hari ini?" tanya Maggie tidak habis pikir.
"Tidak bisa dibiarin. Orang kaya abang harus diberi pelajaran" ucap Maggie geram. Gadis itu menampilkan wajah seriusnya seperti sedang merencanakan sesuatu sehingga beberapa saat kemudian dia tersenyum sendiri seperti orang gila membuat kedua orang tua itu merinding.
BERSAMBUNG