
Suasana Perusahaan Macquarie-Group
Baru beberapa bulan memimpin di Macquarie-Group, perusahaan raksasa itu sudah semakin berkembang dengan sangat pesat. Bahkan saat ini Mey juga dalam tahap perencanaan untuk membangun sebuah Universitas Internasional yang akan di beri nama MACQUARIE-UNIVERSITY hal itu membuat para pesaing bisnis semakin membenci Mey karena ide cemerlangnya yang sudah merambah masuk sampai ke dunia pendidikan.
Dengan bemodalkan ijazah Sekolah Menengah Atas yang dimilikinya ia mampu menumbangkan semua pemimpin senior yang ada. Sebenarnya ayah Devid sudah membayar orang hebat untuk mengajarkan puterinya materi-materi jenjang Sekolah Menengah Atas serta mendapatkan sejenis sertifikat belajar (Paket).
Sebagai seorang awam yang terjun ke dunia bisnis tentulah sangat tidak gampang apalagi dengan pendidikan yang minim seperti Mey, tapi itu semua tidak menjadi hambatan baginya.
Sesibuk apapun Mey, ia tetap ingat bahwa dirinya adalah seorang ibu beranak satu dan soal anak itu adalah poin utama dalam hidupnya, sehingga sesibuk apapun Mey pastilah ia akan menyisahkan waktu pada puteri kecilnya.
Kebiasaan Mey setiap pagi sebelum ke kantor adalah mengantar puteri kecilnya ke sekolah, walaupun ada adik angkatnya Novi yang selalu stay menjaga Maggie di sekolah.
Seperti hari ini, Mey mengantar Novi dan meggie terlebih dahulu ke sekolah sebelum ke kantor, dan sudah pasti Renolah yang menjadi sopir pribadi mereka. Jika sudah ada Maggie, Reno dan Novi, sudah pasti Novilah sasaran empuk untuk mereka bully.
"Ta Novi, Om Leno ganteng tan?" tanya Maggie pada Novi yang duduk di depan bersama Reno sementara Mey dan Maggie di tempat duduk belakang.
"Tuh, dengar kata Maggie menurut kamu aku ganteng tidak?" tanya Reno yang memuat wajah Novi seketika memerah.
Mey yang sudah tahu arah pembicaraan mereka akan kemana, memilih bungkam dan membuang mukanya kearah luar untuk menikmati jalanan kota itu padahal telinganya lagi menyimak setiap pembicaraan mereka sambil tersenyum samar.
"Biasa saja" jawab Novi singkat
"Yeee ta Novi jujul caja talu om Leno ganteng, iya tan om Leno?" ucap Maggie mengejek
Reno semakin di atas awan saat sekutu kecilnya tetap setia membelanya.
"Ade benar, om Reno memang ganteng. Ka Novi saja yang matanya katarak" ucap Reno penuh kemengan
Novi hanya memutar bola matanya maslas.
"Om Leno, temalin ada om ganteng mau tenalan cama ta Novi" ucap Maggie polos.
Reno yang sedari tadi sudah di atas awan seakan terhempas jatuh sampai ke dasar bumi, sampai dia yang sedari tadi mengemudi mendadak rem.
"Om Leno nebelin, jidat ade tebentul kulsi" ucap Maggie ketus sambil memegang jidatnya yang terbentur sandaran kursi depannya.
Mey yang sejak tadi diam sambil menyimak pembicaraan mereka seketika pecah ketawanya. Sementara Reno masih belum puas dengan pembicaraan Maggie tadi soal gadis incarannya diganggu pria lain.
"Ade, siapa yang mau kenalan sama ka Novi terus kenalannya dimana?" tanya Reno penuh selidik sambil menatap tajam Novi. Yang ditatap tidak merasa bersalah, sementara Maggie yang ditodong dengan pertanyaan semakin memuncak emosinya karena jidatnya yang memerah.
"Jangan tana-tana, kepala ade macih cakit" jawabnya semakin cetus. Mey semakin terbahak sampai memegang perutnya karena sakit.
"Mommy juga nebelin, teltawa di atas pendelitaan ade" ucap Maggie memarahi mommynya. Novi yang sejak tadi mengatub bibirnya yang sudah berkedut tapi sebisa mungkin ia tahan karena takut kena semprot juga dari keponakannya ini.
Reno yang tidak mendapat jawaban dari Maggie semakin stres.
Dua orang itu sampai ke tempat tujuan yakni sekolahnya Maggie, Reno langsung melajukan mobil tanpa pamit sama Novi. Pria yang biasa cerewet itu sekarang menjadi pendiam membuat Mey antara kasihan dan lucu dengan tingkah asistennya ini.
"Ren, kamu kena sejak tadi diam saja?" ucap Mey memancing
"Jangan sampai cinta membuat kamu tidak fokus kerja hari ini ya!" ancam Mey
"Terus aku harus bagaimana Mey" ucap Reno yang akhirnya mau mengakui apa penyebab perubahan sikapnya.
"Ya diungkapkan dari pada menderita kamu nantinya" ucap Mey sok bijak
"Memangnya kamu sudah pernah mengungkapkan perasaan cinta kamu sama daddynya Maggie?" ucapan Reno Skakmat, membuat Mey langsung terdiam.
"Maaf Mey aku tidak bermaksud untuk mengungkit itu" ucap Reno menyesal karena perkataannya membuat wanita yang sudah dianggapnya sebagai saudara ini langsung terdiam dan wajahnya berubah pucat.
"Tidak apa-apa ko Reno" ucap Mey apa adanya
"Aku memang tidak pernah punya kesempatan untuk mengungkapkan itu, karena aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bertatapan langsung dengannya. Jangankan bertatapan muka, melihatnya di rumah saja hampir tidak pernah sejak adanya Maggie" ucap Mey terus terang soal perjalanan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Reno yang sejak tadi menyimak curahan hari Mey menjadi ibah,
(Pria jenis apa yang dinikahi oleh Mey, wanita yang begitu sempurnah diabaikan, memangnya gadis yang dia suka seperti apa ya, apa jangan-jangan dia suka yang belakangnya bolong lagi) Reno membatin sambil terkikik geli seandainya suami dari saudaranya ini jatuh cinta sama kutilanak
"Reno, kamu lagi membayangkan apa? jangan anah-aneh ya!" ucap Mey yang tidak tahu apa isi kepala Reno
Keduanya tiba di kantor, Mey melangkah masuk dengan diikuti oleh Reno dari belakangnya dengan menjinjit tas yang berisi perlengkapan kantor.
*****
Hari ini Aldrich tiba di Australia untuk meeting dengan pemimpin Perusahaan Macquarie-Group yang baru untuk membahas tentang apa yang sudah pernah dibahas dengan tuan Devid waktu itu.
"Sebentar ada meeting saat jam makan siang nanti dengan tuan Aldric" ucap Reno serius
"Baiklah, kamu tolong siapkan berkas yang nanti mau dibawa dan kirim filenya ke e-mailku" ucap Mey
"Baik" ucap Reno dan setelah itu mohon undur diri dari atasannya itu
setetlah beberapa jam kemudian, Reno dan Mey melangkah pergi meninggalkan Kantor saat jam makan siang, mereka menuju ke senuah Restoran yang sudah di pesan sebagai tempat meeting mereka.
Setibanya di sana mereka melangkah menuju ruang VIP, Aldrich sudah tahu ia akan bertemu dengan siapa tapi tidak dengan Mey karena dia bahkan belum mengenal siapa pemilik nama Aldrich Scott itu, padahal mereka sudah pernah bertemu di kantornya sebelum pergantian pemimpin tapi tidak saling mengenal. Aldrich baru mengenal Mey saat di acara waktu itu.
Mey dan Reno melangkahmasuk ke ruangan itu dengan Mey yang penasaran dengan punggung pria tegap yang membelakaningi mereka saat ini.
mereka terus melangkah semakin dekat hingga pria itu mulai menyadari kehadiran mereka sehinnga pria itu langsung berdiri menyambut mereka dengan tersenyum ke arah Mey dan Reno. Mey yang melihat pria yang asing itu hanya tersenyum kaku sambil membalas jabatan tangan Aldrich
"Aldrich"
"Mey"
ucap mereka saling memperkenalkan diri dan mengambil tempat untuk duduk.
****
-Bersambung-